imamrasyidi

May 22, 2008

masak

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 8:04 am

Saat ini banyak acara masak dan kuliner disiarkan stasiun TV. Saya juga kadang-kadang suka nonton acara masak ini. Tapi saya paling suka nonton acara masak yang dibawakan oleh Jamie Oliver. Itu lho yang ada di TV berlangganan.

Entah mengapa cara membawakan acaranya sungguh menarik. Seolah-olah laki-lakipun tetep manly dan mungkin sexy kalau bisa memasak dan menghidangkannya untuk keluarganya, teman-temannya, teman-teman sekolah anaknya, para petugas pemadam kebakaran bahkan orang yang tidak dikenalnya. Rasanya saya ingin seperti si Jamie ini. Selain itu masakan yang dibuatnya terlihat enak, dengan sajian menarik tapi tidak berlebihan. Istri saya mungkin heran melihat saya menonton acara masak si Jamie ini dari awal hingga akhir.

Sayangnya saya lebih suka nonton daripada mempraktekkan apa yang saya tonton. Memang mungkin orang berbakat menyebabkan melakukan sesuatu kelihatan lebih mudah dari yang sebenarnya. Atau memang saya banyak maunya tapi juga lebih banyak lagi malesnya.

Saat ini dengan kesibukan rumah tangga yang sedemikian tinggi, peran ibu dalam hal masak memasak ini kelihatan menurun. Banyak ibu yang bekerja di luar rumah bahkan sekarang banyak perempuan yang memiliki penghasilan lebih tinggi dari suaminya dan menyumbang ke kas keluarga mungkin juga lebih tinggi dari suaminya.

Dengan demikian peran masak ditransfer ke pembantu atau rumah makan. Tentu saja ini tidak masalah. Malah dari sisi produktivitas per se bisa jadi ini lebih baik. Karena kalau sang ibu yang lawyer, dengan dua anak dan seorang suami, masak di rumah selama satu jam paling banter menghasilkan nilai tambah Rp50rb - Rp200 rb. (Itupun tidak masuk perhitungan PDB). Sementara ibu ini kalau praktek di kantor mungkin jauh lebih besar dari itu.

Tapi yang mungkin dilupakan adalah bahwa dengan memasak, seorang ibu (atau sekali-sekali bapak) telah membentuk pilihan rasa kepada anak-anaknya. Kalau sang ibu memasak untuk anaknya maka kemungkinan besar sang anak akan menggemari apa yang ibunya sediakan di rumah. Dan ini akan berlangsung selama seumur hidup anaknya. Dengan demikian sang ibu bukan hanya mewariskan gen di tubuhnya tetapi juga meninggalkan jejak dalam lidah sang anak.

Selain itu, orang tua yang memasak untuk anaknya telah memilihkan untuk anak-anaknya makanan yang sehat bagi tubuh sang anak. Bukan hanya mie instan, makanan dengan bahan pengawet, MSG, pewarna buatan dan kadang-kadang unsur tidak halal dalam bahan-bahan yang dibeli.

Tentu saja bagi ortu yang sibuk bekerja tidak realistis untuk memasak untuk anaknya tiap hari. Mungkin hanya sekali sehari di pagi hari atau malam hari atau sekali dalam beberapa hari atau sekali dalam seminggu. Bisa juga memasak merupakan rekreasi keluarga dimana semua anggota keluarga terlibat. Kalau saya sih paling banter cuma jadi asisten nyonya, mengulek cabe atau mengiris bawang atau cuma memetik cabe, daun kemangi atau jahe dll (yang ditanam istri saya, saya cuma bantu menyirami sekali-sekali) yang tersedia di halaman rumah kami yang cuma secuil itu.

Dulu saya sering bingung dengan ibu saya yang selalu terlihat rindu dengan anak-anaknya. Setelah saya punya anak saya baru paham apa yang ibu saya rasakan. Memang seringkali kita tidak mengerti apa yang diberitahu ortu kita, seberapapun menerangkannya, karena ini tidak menyangkut logika tetapi rasa yang tidak kita pahami sebelum kita mengalaminya.

Karena ibu saya memang ibu rumah tangga maka tentu saja beliau memasak untuk anak-anaknya. Dan you know what, apabila saya datang ke rumah ortu saya dan ibu saya menyediakan masakan untuk kami, saya akan makan dengan lahap. Saya tidak menyadari hal ini sampai istri saya agak nyindir sedikit dengan mengatakan bahwa saya makannya lahap banget. Hmmmm, akhirnya nyonya saya jadi belajar masakan sunda yang saya sukai tanpa saya suruh. Padahal dia orang padang yang tidak pernah makan oncom sebelumnya. Tentu saja saya juga jadi lebih menggemari masakan padang daripada sebelumnya karena nyonya saya ini.

Masakan ini juga bisa jadi senjata ortu yang rindu dengan anak atau cucunya dengan mengatakan bahwa kebetulan ada makanan yang disukai anaknya tersebut tanpa perlu dengan terus terang meminta cucunya segera diantar ke rumah sang nenek. Kalau sekarang mungkin ortu macam ortu saya akan bilang: "Besok datang ya ke rumah, kebetulan ibu akan masak semur jengkol dan sambel goreng pete kesukaanmu."

Kalau nanti mungkin kita akan bicara ke anak kita seperti ini: "Besok datang ya ke rumah, ibu akan belikan ayam goreng paman kolonel dan burger badut duduk kesukaanmu."

Setelah anda baca tulisan ini jangan sampe juga anda jadi terpaksa untuk masak untuk orang terkasih di rumah. Kata istri saya masakan akan terasa enak apabila dimasak dengan cinta. Jadi masaklah dengan cinta, maka makanan akan terasa lezat, menyehatkan dan menjadi bahan bakar bagi anggota keluarga untuk berkarya di bumi Allah yang luas ini.

April 21, 2008

ORANG BIASA

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 4:23 am

Saya orang biasa
Bukan selebriti
Bukan orang sukses
Pokoknya bukan siapa-siapa

Saya orang biasa
Yang bermimpi kaya
Dan diperlakukan bak keluarga raja
Ah ada-ada aja

Saya orang biasa
Terima aja deh kenyataannya
Paling nggak masih dikasih nyawa
Oleh Yang Maha Kuasa

Saya orang biasa
Sukanya berwacana
Tapi giliran diminta kerja
Ya yang lain aja

Saya orang biasa
Maunya jadi pemimpin
Suruh sini suruh sana
Ya kelaut aja

Saya orang biasa
Males berkorban dan sedikit menderita
Maunya nunggu ratu adil
Yang entah kapang datangnya

Saya orang biasa
Berasal dari keluarga sederhana
Tapi sekarang seperti kacang
Lupa akan kulitnya

Saya orang biasa
Tapi banyak yang susah luar biasa
Tapi saya kok
Anteng-anteng aja

Saya orang biasa
Semboyan saya
Sedikit bekerja
Banyak bicara

Saya orang biasa
Seneng pete, jengkol dan sebagainya
Sayangnya baunya ruaaar biasa
Jadi ya makan yang lain aja

Saya orang biasa
Maunya dimengerti orang
Dimengerti bos, tetangga, teman
Dan terutama nyonya saya

Saya orang biasa
Inginnya dihargai orang
Tanpa mesti berbuat banyak
Emangnye ane siapa

Saya orang biasa
Beristrikan orang biasa
Yang suka ngomel
Dan sekali-sekali manja

Saya orang biasa
Yang pelit mengungkapkan cinta
Kepada Ibu
Anak-anaknya

Saya orang biasa
Yang mencintai istrinya
Layaknya kaos oblong robeknya
Nyaman dipakai tapi biasa aja

Saya orang biasa
Maunya dicintai istri (istrinya)
Seperti Fahri Ayat-ayat Cinta
Ya mana bisa

Saya orang biasa
Mimpinya dapat istri macam Siti Khadijah
Yang sabar luar biasa
Yang menjadi penyejuk hati
Dan kaya pula

Saya orang biasa
Suami dan bapak yang merasa
Sudah memberikan segalanya
Kepada istri dan anak-anaknya

Saya orang biasa
Yang sebenarnya adalah
Suami dan bapak yang rada egois
Dan mau enaknya aja

Saya orang biasa
Ya jangan minta yang luar biasa
Ya tau diri aja

Saya orang biasa
Kalau bisa terima keadaan
Ya bahagia juga

Saya orang biasa
Bagaimana dengan anda?
Piiiis (maksudnya peace)

March 31, 2008

guruku (dosenku)

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 6:12 am

Terpengaruh oleh acara Kick Andy yang menampilkan
penulis Laskar Pelangi dan ibu Muslimah, guru yang
memberikan inspirasi kepada penulis buku ini (saya
lupa nama tepatnya, Andrea Harefa kalau nggak salah
ya?), saya jadi terkenang guru-guru saya waktu di FEUI
duluuuu (sekarang kan angkatan saya udah masuk
angkatan jadul). Di bawah ini sedikit kenangan itu.

Sebagai orang yang berasal dari keluarga sangat
sederhana, menjadi mahasiswa FEUI adalah suatu
pengalaman luar biasa. Tidak terbayang sebelumnya
bahwa FEUI adalah perguruan tinggi yang begitu banyak
menghasilkan menteri berpengaruh bahkan sampai saat
ini. Saat SMA saya cuma ingin jadi direktur (ternyata
gampang, bikin akte perusahaan langsung deh jadi
presiden direktur) dan saya pikir fakultas ekonomi
adalah pabriknya.

Cinta saya sebenarnya di fisika, tapi saya liat masuk
fisika paling banter jadi guru SMA. Sementara saya
ingin menyenangkan orang tua. Jadilah masuk ke pabrik
direktur yang ternyata malah juga produsen menteri.

Setelah tahu FEUI yang hebat ini, orang tua saya jadi
bermimpi anaknya suatu saat jadi menteri. Sementara
itu sampai hari ini saya tidak pernah bercita-cita
jadi bedinde eh pembantu … (siapa hayo?) yang paling
dicita-citakan oleh banyak orang itu (nggak tau besok,
namanya juga manusia.

Selama jadi mahasiswa FEUI, memang banyak orang-orang
terkenal yang menghiasi hari-hari kuliah. Tapi
sebenarnya ada guru-guru yang tidak banyak dikenal
orang luar yang cukup memberikan kesan mendalam pada
saya.

Salah satunya adalah almarhum Bapak Suntoro Isman.
Menurut saya beliau adalah benar-benar seorang guru
sejati yang prioritas utamanya adalah mencerdaskan
muridnya. Buat orang lain mungkin Pak Sun (demikianlah
kami dulu menyapa beliau) bukanlah karakter yang
menarik karena beliau tidak populer di media massa.
Buat saya almarhum adalah guru yang menantang kita
untuk berpikir dan bertanya. Cara mengajarnya
sistematis dan cukup reflektif. Saya pikir saya murid
yang cukup rajin bertanya di kelas karena cara beliau
mengajar yang cukup mengundang.

Suatu saat setelah ujian semester, secara kebetulan
kami berpapasan di jalan sekitar kampus FEUI Salemba.
Beliau bertanya dapat nilai apa saya semester tersebut
pada mata kuliah yang diasuhnya. Saya jawab saya dapat
nilai B. Beliau terkejut dan tidak percaya. Beliau
bilang seharusnya saya dapat nilai A, karena penilaian
akhir bukan hanya dari hasil ujian tapi juga dari
aktivitas di kelas. Saya tersenyum saja tidak tau
harus berkata apa. Secara jujur memang saya tidak
terlalu banyak pusing dengan nilai ujian. Selama lulus
dan tidak terancam DO, saya rasanya udah cukup. Waktu
lebih banyak saya habiskan untuk membaca buku-buku
yang saya suka dan memuaskan keingintahuan saya.

Dan benar saja nilai akhir mata kuliah Ekonomi
Pembangunan saya beliau rubah menjadi A. Tentu saja
bukan ini yang menyebabkan saya terus mengenang
beliau. Tapi sikapnya yang benar-benar concern untuk
membuat mahasiswanya paham akan apa yang beliau
ajarkanlah yang akan saya ingat. Beliau telah
memperlihatkan apa makna guru yang sebenarnya.

Guru (dosen) yang lainnya yang membekas di hati saya
adalah almarhum Bapak Tawang Alun. Beliau saat
mengajar saya sedang menjabat sebagai salah seorang
pimpinan LPEM sekaligus sebagai kepala biro di
Bappenas. Dengan kesibukan yang luar biasa beliau asih
bisa mengajar kami (muridnya saat itu hanya 2 orang,
saya dan seorang teman yang jarang menghadiri kuliah).

Yang membuat saya terkesan adalah sikap rendah hati
dan melayaninya yang luar biasa. Serigkali orang
sekaliber beliau, dengan gelar PhD dari USA dan tugas
yang sedemikian padat, akan memperlakukan mahasiswa
yang datang seperti gangguan yang sedikit menyebalkan.

Tidak demikian dengan Pak Tawang. Hari pertama saya
mengetuk pintu kamar kerjanya (kuliah diadakan di
ruang kerjanya karena mahasiswa cuma dua orang) saya
cukup takjub dapat sambutan diluar kebiasaan. Belaiu
menyapa saya dengan lembut dan berkata: "Ada yang bisa
saya bantu?" Seolah-olah saya adalah tamu yang siap
dilayani oleh beliau.

Kuliah yang diajarkan pak Tawangpun sangat
challenging. Ada bagian-bagian yang tidak bisa saya
lupakan sampai sekarang. Walaupun seringkali hanya
saya yang diajarkan, kualitas kuliah tidak menurun dan
beliau tidak pernah terlihat menganggap remeh murid
dan tugas sebagai dosen yang harus dilaksanakannya.

Setelah perkuliahan selesai dan ujian sudah
dilaksanakan, pak Tawang wafat tanpa sempat memberikan
nilai untuk kami sehingga akhirnya nilai yang
diberikan hanya C saja. Tentu saja saya tidak
menyesali nilai saya. Teladan pak Tawang jauh lebih
berharga dari nilai ujian.

Saya baru tahu belakangan bahwa beliau sudah sakit
parah beberapa lama tapi beliau tidak mau istirahat
karena toh katanya masih bisa bekerja dan beliau tidak
mau dianggap sebagai orang yang sudah meninggal.
Bahkan pak Rektor saat itu (Prof Iman Sujudi) sudah
meminta beliau istirahat tapi tidak diturutinya. Yang
luar biasa adalah selama mengajar kami, beliau sama
sekali tidak memperlihatkan diri sebagai orang yang
sedang sakit parah (dan kami muridnya benar-benar
tidak tahu bahwa beliau sedang sakit parah).
Subhanallah. Saat itu saya cuma berpikir bahwa
orang-orang baik memang mungkin lebih dulu dipanggil
Yang Maha Pencipta.

Saat jenazah beliau dishalatkan saya lihat banyak
menteri yang ikut menshalatkan. Di sekitar saya kalau
tidak salah ada pak Emil Salim dan pak Saleh Afiff dan
beberapa menteri lain yang saya kurang begitu ingat.
Padahal jabatan beliau baru kepala biro yang tidak
langsung melapor ke pak menteri.

Ada juga dosen lain yang cukup mengesankan seperti pak
Thee Kian Wie yang ahli sejarah ekonomi itu. Beliau
adalah ilmuwan yang sangat berdedikasi dengan bidang
yang dikajinya. Almarhum pak Sarjono Jatiman adalah
juga dosen yang menyenangkan. Beliau adalah sosiolog
yang ditugaskan mengajar pengantar sosiologi di FEUI.
Beliau cukup mampu membuat mata kuliah sosiologi
menjadi mata kuliah yang menarik. Dan yang terakhir
adalah Pak Selo Sumarjan. Keluguan dan
kesederhanaannya bisa mengecoh orang yang hanya
menganggap penting urusan penampilan, popularitas dan
kemuliaan duniawi. Beliau adalah sosok ilmuwan yang
sangat rendah hati.

Begitulah pengalaman saya dengan para guru di kampus
kita. Dedikasi, kesabaran dan teladan mereka akan saya
coba terus kenang dan mudah-mudahan apa yang telah
mereka ajarkan akan bisa diteruskan dan semoga amal
baik mereka dapat terus mengalir. Amiiiin.

February 12, 2008

Strategi Pemberdayaan Masyarakat Melalui Koperasi

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 9:32 am

Saat ini saya mendirikan Koperasi Simpan Pinjam
Syariah (KSPS) atau bahasa populernya baitulmal wa
tamwil (BMT) dengan tetangga di perumahan saya
tinggal. Orang seringkali mendirikan lembaga
pembiayaan usaha kecil sama dengan mendirikan bisnis
lainnya yaitu semata-mata ada peluang bisnis di sektor
pembiayaan usaha kecil ini. Tentu saja tidak masalah
dengan niat seperti ini. Sama dengan membuat bisnis
lainnya asalkan tidak melanggar hukum ya sah sah saja.
Memang peluangnya cukup baik apalagi ada sumber dana
murah yag diberikan dari keuntungan BUMN atau ada
kredit program dari departemen koperasi.

Tapi buat saya koperasi UMKM ini adalah juga sarana
untuk memberdayakan orang-orang kecil di lingkungan
sekitar kami tinggal. Memang mesti seimbang antara
motif sosial dan motif bisnis dari koperasi ini.
Karena kalau hanya motif sosial mungkin dananya cepat
habis dan kami tidak bisa secara berkelanjutan membina
para pengusaha lemah ini. Sementara kalau hanya motif
bisnis terus terang saya tidak tertarik ikut
organisasi koperasi UMKM ini. Saya toh sudah punya
usaha sendiri yang walaupun kecil tetapi terus
berkembang.

Dengan dua motif yang harus seimbang ini dan melalui
proses pemikiran dan pengalaman lapangan pada awal
beroperasinya koperasi maka saya berkesimpulan bahwa
strategi perkembangan koperasi kami adalah dengan
menaikkan taraf hidup dan perekonomian anggotanya dan
nasabahnya dan dengan sendirinya koperasi akan
berkembang. Bukan sebaliknya yaitu yang dipikirkan
hanya bagaimana agar dana yang dipinjamkan dapat
kembali dengan hasil yang sudah ditentukan.

Keadaan di lapangan menunjukkan bahwa ada dua golongan
nasabah. Golongan pertama adalah ibu-ibu yang umumnya
sukar diajak berpikir untuk membesar usahanya. Mereka
adalah peminjam yang meminjam just to survive the day
(bener nggak nih Inggrisnya?). Jadi golongan ini
adalah golongan gali lubang tutup hutang.

Golongan kedua adalah golongan yang meinjam untuk
benar-benar menaikkan kapasitas usaha kecil mereka.
Golongan ini jauh lebih sedikit dari golongan pertama
di atas. Mungkin cuma sekitar 1% - 5% saja.

Bagaimana menaikkan taraf hidup golongan pertama. Saya
merasa terlalu abstrak untuk mengatakan kepada ibu-ibu
ini tentang kepuasan pelanggan, pertumbuhan usaha,
marjin usaha, inovasi apalagi blue ocean strategy.
Saya pikir advis yang paling cocok untuk mereka adalah
untuk hidup hemat dan penetapan prioritas pengeluaran
yang baik agar putra-putri mereka dapat bersekolah
dengan baik.

Sebenarnya ibu-ibu ini mengingatkan saya pada ibu saya
yang berjuang keras untuk menyekolahkan anak-anaknya.
Saya ingin sekali mereka paham bahwa mereka dan
putra-putri mereka punya masa depan. Sebagai contoh
saya membuka diri kepada mereka. Saya katakan bahwa
ibu-ibu ini sama dengan ibu saya dulu yang harus
berpikir keras bagaimana esok hari dengan lauk apa
anak-anaknya makan (Mungkin sebagian dari ibu-ibu ini
malah lebih baik ekonominya daripada ibu saya dulu).

Saya juga menceritakan kisah saya di SMA yang tidak
bisa saya lupakan hingga saat ini. Pada saat kelas 3,
kalau tidak salah di SMA kita diadakan study tour ke
Yogya. Ibu saya hendak memaksakan diri berhutang dan
menjual barang-barang yang tidak seberapa yang dia
miliki. Saya tidak tega dan tidak mau menyusahkan
orang tua saya. Saya katakan ke ibu saya bahwa nanti
saya akan ke daerah-daerah di Indonesia bahkan ke Bali
dengan tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Saya
mengatakan ini untuk menghibur ibu saya agar beliau
tidak bersedih melihat anaknya tidak bisa ikut acara
tour itu. Dan kenyataannya beberapa tahun kemudian
saya bukan hanya pergi ke beberapa kota propinsi di
Indonesia bahkan bisa pergi ke beberapa kota besar
dunia dan tentu saja sepeserpun saya tidak
mengeluarkan uang pribadi.

Seandainya saya masih bekerja di perusahaan tsb
mungkin saya masih harus pergi ke kota-kota besar
dunia lainnya walaupun excitementnya sudah rada
menguap malah jadi rutinitas yang sedikit membosankan.
Sekarang sih saya cukup menikmati Ian Wright, Megan
McCormick, Justin Shapiro dan Samantha Brown berkelana
ke tempat-tempat eksotis di dunia melalui layar TV.
(Yah kalau nggak mampu lagi, kita harus bisa menghibur
diri sendiri. Kan mana mungkin pengusaha kelas nano
yang naik mobil yang cocok di udara dingin alias nggak
ada AC, bisa pergi ke LN, ke Bandung aja mesti
diitung-itung dulu).

Dan ternyata akhirnya mereka mulai mau bercerita
tentang keuangan mereka dimana ada seorang ibu yang
memiliki 4 anak yang katanya cuma berpenghasilan
Rp800.000 tapi pengeluarannya Rp2.000.000,-.

Saya katakan kepada mereka bahwa kata kuncinya adalah
hemat dan prioritas pengeluaran yang benar. Teman saya
sesama pengurus koperasi mengatakan bahwa mana mungkin
ibu-ibu ini bisa lebih menghemat lagi. Lha yang ada
aja nggak cukup. Yah mungkin untuk yang benar-benar
dhuafa atau yang miskin secara absolut skemanya
mungkin bukan pinjaman tapi bantuan, infak dll.

Ide hemat ini memang counterintuitive. Tapi saya cukup
tahu bahwa ini adalah solusinya karena saya melihat
orang tua saya dan orang-orang ekonomi lemah lainnya
yang sebenarnya bisa hidup lebih mudah seandainya
mereka mau berpikir mengenai penghematan dengan lebih
serius lagi dan membuat prioritas pengeluaran dengan
lebih baik.

Salah satu contoh misalnya adalah dengan mengurangi
naik angkot apabila jaraknya tidak cukup jauh, apalagi
saat ini ada kampanye 10.000 langkah. Saat ini orang
sedemikian manjanya bahkan yang ekonominya lemah juga
berpenyakit jantung dan darah tinggi. Saya katakan
bahwa seandainya mereka bisa menghemat Rp2.000/hari
maka dalam setahun mereka bisa membeli kambing seharga
Rp720.00. Kalau cukup mampu, kambingnya bisa untuk
kurban dan kalau tidak maka uangnya bisa dibelikan 2
ekor kambing betina muda dan diternakkan (di daerah
saya masih banyak lapangan rumputnya).

Saya bahkan memberi contoh kisah Robinson Crusoe yang
terdampar di pulau tak berpenghuni tapi akhirnya bisa
kembali ke Inggris dengan berhemat dan berinvestasi
secara militan.

Saya meras argumen saya kepada ibu-ibu ini belum cukup
meyakinkan, tapi saya pikir dengan kegigihan dan
kreativitas suatu saat (semoga Tuhan memberi saya
kesabaran) mereka akan terpersuasi.

Untuk golongan kedua yaitu golongan yang memiliki
potensi usaha bisa membesar saya coba menghadirkan
usahawan yang relatif berhasil dalam skala kecil untuk
dijadikan inspirasi bagi mereka yang masih berjuang
keras dari bawah. Saat ini saya baru bisa kasih contoh
seorang bapak yang belasan tahun lalu hanya seprang
sopir dan saat ini memiliki 8 mobil jemputan.

Bagaimana gambar besar dari dua golongan ini? Saya
pikir saya akan memaksa golongan ibu-ibu untuk
menabung di koperasi kami, minimal Rp5.000 setiap kali
mereka sekalian membayar angsuran. Sehingga lama
kelamaan mereka terbiasa untuk menyisihkan sedikit
uang belanja. Sedangkan golongan kedua yang akan
memakai dana dari golongan satu untuk investasi di
usaha mereka. Suatu saat dari golongan kedua akan
timbul pengusaha-pengusaha menengah dimana koperasi
kami memiliki saham di usaha mereka.

Begitulah strategi yang ada di kepala saya. PRnya
masih banyak, karena strategi ini belum tentu diterima
oleh pengurus koperasi kami yang lain. Memang setelah
beberapa lama saya rasa perjuangan di internal
pengurus sendiri sama sukarnya (bahkan mungkin lebih
sukardan menyebalkan) dibanding dengan mengurus
nasabah pengusaha lemah ini. Tapi itulah yang
membedakan visi dan mimpi. Visi memerlukan ketabahan,
kemauan bekerja keras, kreativitas, keseimbangan
jangka pendek dan jangka panjang, ketekunan, kemauan
berkorban, kerendah-hatian, keikhlasan, dan kegigihan.
Sementara mimpi memerlukan kemalasan, procrastination,
kemudahputusasaan, ketidakrealistisan, daydreaming,
pemanjaan ego, kecengengan dan pencarian kambing hitam
(terus terang aja ini semua juga penyakit kronis yang
sudah lama menghinggapi saya).

Semoga saya dan kita semua terbangun dari mimpi dan
gigih dalam mewujudkan visi. Amiiin.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King