akhir ilmu pengetahuan
Di koran Kompas minggu (saya lupa tanggalnya) ada resensi buku yang membahas bahwa abad ini adalah abad akhir dari ilmu pengetahuan, dalam arti tidak banyak yang tersisa lagi untuk diterangkan. Yang tersisa hanyalah persoalan-persoalan trivial.
Saya sendiri belum baca bukunya. Tapi di resensi itu dijelaskan bahwa abad ini sudah diketemukan oleh Darwin proses penciptaan manusia. Sementara masalah hukum alam semesta sudah diketemukan oleh Einstein (kita sebut aja Muksin, karena jaman saya muda kita memanggil orang yang berambut kribo dengan nama Muksin, itu tuh penyanyi dangdut jaman dulu).
Memang dua ilmuwan ini telah mendominasi ilmu pengetahuan sampai saat ini. Belum ada teori yang dapat mematahkan dengan meyakinkan teorinya Darwin. Demikian juga teorinya Muksin sedemikian kokoh berkibar di dunia fisika.
Khusus teori Darwin, saya berbicara secara mainstream artinya sebagian besar ilmuwan biologi meyakini teori ini. Dumelan saya ini akan saya batasi dalam ilmu fisika karena saya lebih tertarik dengan fisika dibanding biologi. Mungkin juga karena di SMA pengajaran biologi sangat tidak menarik, hanya berisi hapalan yang tidak merangsang minat.
Saya bisa paham mengapa ada orang yang sedemikian yakin tentang selesainya persoalan dua masalah besar tersebut. Karena memang saat ini sukar membayangkan teori yang lebih cangih daripada teori yang ada saat ini. Dan bahkan teori yang ada saat inipun banyak yang belum bisa dites karena peralatan yang ada belum mampu mengetesnya.
Tapi yang dilupakan adalah bahwa cukup lama diperlukan revisi ilmu fisika dari Newton (kita sebut aja Tata Dado alias TD karena jaman Newton kayaknya semua laki-laki pake wig) ke Muksin (sekitar 3 abad). Dan bahkan fisikanya TD masih dipakai oleh orang NASA saat ini, apalagi untuk ngitung yang sederhana.
Walaupun fisikanya TD masih bisa terpakai entah sampai kapan, karena untuk kebutuhan sehari sudah sangat akurat, tapi fisika TD dan Muksin berdiri di atas paradigma yang berbeda. Kalo nggak salah fisikanya TD secara sederhana berparadigma tarik menarik dua benda sedangkan Muksin saya mboten ngertos. Mungkin intinya adalah bahwa ruang melengkung dan waktu yang relatif. Sedangkan masalah gravitasi masih terpakai dalam arti bahwa adanya objek besar menyebabkan gerak benda yang melintasinya tidak melintas dalam garis lurus.
Selain itu juga terlupakan bahwa diperlukan 20 abad dari Aristoteles ke TD. Menurut Pak Aris, bumi itu diam dan yang lain memutari bumi. Baru Copernicus yang melihat bahwa mataharilah yang jadi pusat dan bumi mengitarinya. Pandangan Copernicus disempurnakan Kepler dan ditutup TD. Teori TD masih berguna sampai saat ini dan mungkin sampai perjalanan ruang angkasa menjadi hal biasa. Pada saat itulah teorinya Muksin akan lebih terasa manfaatnya. Dan saat itulah mungkin akan datang ilmuwan baru yang akan menyempurnakan teorinya Muksin. Bisa jadi namanya berbau melayu semacam Slamet, Ujang, Bokir, Buyung, Hasan, Bonar, Suebu, Wayan, Lamadupa, Latumahina, Wenas, Seda dsb.
Selain itu orang yang menyatakan tugas ilmu pengetahuan sudah hampir selesai itu lupa bahwa pertanyaan sederhana macam apakah semesta ini memiliki batas atau tidak? Ini pertanyaan yang jawabannya membingungkan. Kalau berbatas, terus di sebelah sana itu isinya apa? Surga, neraka, alam kubur atau apa? Kalau tidak terbatas terus bagaimana bisa yakin bahwa teori Muksin berlaku di semua bagian alam semesta ini? Belum lagi yang berfikir dari sisi agama yang meyakini bahwa yang tidak terbatas itu cuma yang Maha Sempurna.
Diskursus batas semesta di atas sifatnya filosofis dan bukannya fisika karena saya nggak bisa membayangkan bentuk fisiknya sama seperti dulu orang tidak bisa membayangkan bahwa bumi itu bulat dan kemudian bahwa bumi mengelilingi matahari.
Kalau yang di atas tadi persoalan yang didiskusikan berat sekarang ada nggak yang bisa memprediksi bahwa Inul yang nyanyinya biasa aja (saya sampai saat ini nggak tahu lagu asli Inul yang ngetop) dan goyangnya gampang ditiru bisa tiba-tiba ngetop malah jadi bahan kontroversi.
Jadi kesimpulannya kalau orang tersebut yakin tentang berakhirnya ilmu pengetahuan, kalau saya sebaliknya yakin ilmu pengetahuan tidak akan pernah berakhir karena ilmu Tuhan maha luas dan bahwa air lautan pun tidak akan cukup apabila dipakai sebagai tinta untuk menulis ilmu pengetahuan.
Mam, orang yang bilang ilmu pengetahuan sudah habis semua dikapling sampai nggak bersisa, baiknya kita sembayangin aja…. Sudah mati sebelum mati.
Ngelmunya gusti Allah itu pakai pena sebesar lautan aja nggak cukup, lha kok dianggap sudah selesai digali semua sama otak manusia yang seiprit?
Saya setuju, masih akan banyak lagi orang-orang yang sejago Muksin, Tata Dado dan Darwin untuk membuka kita dengan ngelmu-ngelmu baru. Kalau nggak, ya kasihan itu dewan penilai hadiah nobel ilmu pengetahuan. Bakalan nganggur.
Comment by hendro — May 16, 2006 @ 12:39 pm