imamrasyidi

May 16, 2006

Sarjana Agama dan Orang Sholeh

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 1:11 pm

Saat ini kita lihat agama jadi komoditi ekonomi yang bisa dijual. Ada bisnis haji dan umroh, bisnis zikir, bisnis lancar baca Al Quran dalam waktu hanya beberapa jam, sampai saya dengar ada bisnis shalat khusu’.

Saya juga lihat ada ustadz yang ceramah dengan memakai baju dan aksesori dari perancang terkenal. Bahkan ada ustad yang katanya anaknya mengendarai mobil Ferrari (astagfirullah). Fenomena ini sangat membingungkan.

Menurut saya kita harus membedakan antara sarjana agama yang sebagian bergelar SAg dan orang sholeh. Sarjana agama adalah orang yang mendalami ilmu agama yang belum tentu sholeh seperti dokter yang belum tentu menjalani gaya hidup sehat. Ada dokter yang tidak suka olahraga, yang makannya sembarangan, yang merokok bahkan kecanduan narkoba.

Kita seringkali mengidentikkan sarjana agama (cendekiawan agama) dengan kesholehan. Banyak sarjana agama yang menggunakan ilmunya untuk mencari kekayaan sama seperti dokter terkenal yang mengenakan tarif mahal. Ada sarjana agama yang kliennya para artis, ada sarjana agama yang jadi broker politikus, ada sarjana agama yang jadi konsultan sinetron religius, dsb.

Kalau kita menganggap ilmu agama sebagai ilmu yang netral sama dengan ilmu hukum, bisnis, tata negara, musik dsb, tentu saja mencari kekayaan dari penguasaan ilmu agama sah-sah saja. Dengan demikian sarjana agama ini sebaiknya kita perlakukan sama dengan sarjana hukum, ekonomi, insinyur dsb. Dan memang ada sarjana hukum yang sholeh seperti Artidjo Alkostar, Lopa, Munir dll. Ada juga dokter yang sholeh yang setelah selesai PTTnya tidak tega meninggalkan daerah tugasnya. Dan mungkin juga ada insinyur yang jadi pimpro yang tidak mau korupsi dan terima sogokan.

Selain itu di Islam tidak mengenal istilah kependetaan dan semua muslim diwajibkan belajara agamanya. Menurut saya kesholehan dan ilmu seperti necessary dan sufficient condition di matematika waktu kita belajar dulu di tingkat 1. Kesholehan adalah necessary condition yang tidak bisa tidak harus dimiliki agar kita bisa disebut pengikut Muhammad. Sedangkan ilmu adalah sufficient conditionnya. Dalam arti makin berilmu seseorang makin tinggilah kemuliaannya.

Muhammad sendiri lebih dikenal sebagai orang jujur daripada orang pintar,. Pada waktu beliau baru mulai masa kenabiannya, beliau pernah mengundang orang Mekah ke rumahnya dan beliau bilang apakah orang Mekah percaya kalau beliau katakan ada musuh di balik bukit. Semua orang mengatakan percaya. Inilah bukti kejujurannya. Beliau juga orang yang sangat amanah sehingga pada waktu beliau hendak dibunuh kaum Quraisy, beliau masih sempat menitipkan ke Ali untuk mengantarkan uang titipan 3 orang yang harus Ali sampaikan. Dan sebelum Ali menyampaikan uang ini, Nabi tidak membolehkan Ali menyusul beliau.

Dan tidak seperti ustadz yang kaya raya dari berceramah itu, Nabi kita ketahui hidupnya sangat sederhana, sampai-sampai Umar menangis melihat pipi Nabi ada gambar bekas tikar karena Nabi tidur hanya beralaskan tikar. Waktu beliau meninggalpun, Nabi dikatakan memakai pakaian yang memiliki 7 (tujuh) tambalan.

Tentu saja kita tidak menuntut para sarjana agama ini hidup sesederhana Nabi, tapi juga tidak wajar apabila para sarjana ini hidup bermewah-mewahan. Yang paling ideal memang sarjana agama yang sholeh yang juga saya rasa masih banyak dan tidak terekspos. Mereka tidak mengenal istilah preferred customer, sama seperti Nabi yang ditegur Allah setelah bermuka masam kepada orang buta yang ingin mengenal Islam lebih jauh karena melayani orang terhormat yang datang kepadanya.

Saya sendiri tidak bisa langsung bersikap takzim yang tulus kepada sarjana agama yang baru saya kenal. Tapi saya akan sangat takzim kepada sarjana apapun yang saya lihat hidupnya penuh dengan kesholehan. Atau lebih tepatnya saya akan sangat takzim kepada siapapun, baik sarjana ataupun pemulung, yang kelakuannya sholeh (mungkin pernyataan ini lebih merupakan harapan daripada kenyataan, karena saya manusia biasa yang penuh dosa). Karena itu marilah kita mengapresiasi orang sholeh ini. Walaupun bukan berarti kita jadi tidak melayani customer kita yang banyak duit tapi nggak sholeh. Mungkin hal itu akan dibahas di lain waktu atau mugkin ada teman-teman yang mau membahas hal itu. Mulailah kita menyayangi orang sholeh ini, karena merekalah dunia yang kacau ini masih me

2 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://imamrasyidi.blogsome.com/2006/05/16/sarjana-agama-dan-orang-sholeh/trackback/

  1. Plz deh jgn mngclaim sprti itu ……… jgn trlalu mngclaim klo SAg itu buruk……… hanya oknum saja yg melakukan negatif kok, mnurut saya jgn trlalu mengexpos kata SAgnya soalnya itu trlalu tendensi deh ya……….. dan SAg itu ga salah / ga jelek kok dan jurusan itu salah satu cara mengenal Agama dan adapun prakteknya trgantung pribadi masing2 dan marilah kita mmbenahi diri dan jgn mencela satu sama lain……..baca surat al-asrs ( demi Masa ) watawa shoubil haqqi watawa shoubilshobri….

    Comment by adi — August 7, 2006 @ 3:46 am

  2. saya ingin kuliah fakultas dakwah dan mondok di ponpes hub 085227789330

    Comment by wiji wijayanto — February 22, 2008 @ 12:36 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King