FEUI dan Etika Bisnis
(Dumelan ini sebelumnya telah dimuat di milis keluarga sakinah yang berisi alumni FEUI yang muslim)
Menurut saya punya ekonom kaliber pemenang nobel memang membanggakan. Dan ini tentu saja akan mengharumkan nama Indonesia di dunia Internasional. Mungkin kalau sekarang ada ekonom muda yang rajin masukin artikel ke jurnal keren macam econometrica atau journal of mathematical economics (betul nggak ya, soalnya saya udah 10 tahun nggak liat bacaan seperti ini, sekarang mah liatnya majalah yang lebih down to earth alias majalah yang ngebahas yang deket persoalan tanah alias pondasi, heX3 ……, maklum kontraktor).
Baru 30 tahun kemudian dapat nobel. Padahal yang saya tahu, sebagian besar peraih nobel ada kaitannya dengan Universitas Chicago (kata Milton Friedman). Kalo nggak pernah sekolah disana, ya belajar, intern, atau pernah ngajar. Atau paling nggak lulusan ivy league lah.
Padahal kalo kita liat saat inipun FEUI bisa langsung berkontribusi lebih banyak. Yang saya maksudkan adalah bahwa FEUI kita tercinta bisa ikut berperan dalam upaya pemberantasan korupsi dari sisi soft side. Kalo hard sidenya adalah urusan KPK, polisi, jaksa, hakim dsb.
Sama seperti perusahaan yang hard sidenya duit, mesin, tanah dsb. Sedangkan soft sidenya adalah kultur perusahaan. Maksud saya adalah bahwa mahasiswa kita mesti dibekali dengan etika bisnis yang baik, bukan hanya ilmu bisnis, ilmu ekonomi atau ilmu akuntasi.
Sehingga waktu kerja atau berbisnis, paling tidak dibekali dengan dasar-dasar etika bisnis yang baik. Dan bisa memutuskan apakah kasus (maaf) fronting (yang tidak familiar dengan terminologi ini bisa lihat note di bawah) cukup etis atau tidak. Dan banyak sekali kasus-kasus yang terjadi di dunia kerja dan bisnis yang bisa dijadikan contoh kasus mahasiswa (baik S1 atau MM). Jangan sampai terjadi lagi orang seperti Jeffrey Winters bilang: “Lie No. 1: Technocrat (Berkeley Mafia) is clean.”
China mungkin akan mendahului kita untuk menghasilkan pemenang nobel karena banyak ekonomnya lulusan ivy league (paling nggak saya pernah kenal 1 orang ekonom China yang lulusan Harvard (economics) yang nilainya A semua).
Tapi mereka sudah mendahului kita dalam pertumbuhan ekonominya, padahal kekayaan alamnya secara per capita saya yakin lebih banyak Indonesia (nggak tau sekarang karena udah banyak yang habis dieksploitasi dan duitnya sebagian besar masuk ke kantong para ….). Ini karena ada presidennya bilang: “ Sediakan 1000 peti mati ………”
Maaf kalau saya bicara seperti ini karena musuh utama kemakmuran dan keadilan di Indonesia adalah KKN (dengan korupsi sebagai the uultimate disease nya). Bukan hutang negara, bukan harga minyak, bukan inflasi. Semua negara mengalami tingginya harga minyak, termasuk China yang growth rate nya tetap di atas 10%.
Mungkin ada pula yang bosan dengan omongan ini dan menganggap sebagai hal yang basi. Saya insya Allah tidak akan bosan membicarakan ini, paling tidak sampai Indonesia satu level korupsinya di bawah negara ASEAN core (bukan hanya inflasi yang ada corenya).
Saya punya keyakinan suatu negara akan maju kalau bisa melewati batas minimal ambang korupsi. Saya belum ketemu negara maju yang korupsinya parah. Saya yakin Islam adalah agama sukses dunia akhirat. Saya tidak punya otoritas bicara akhirat, tapi fakta di dunia adalah mayoritas umat muslim merupakan umat terbelakang, miskin dan didzolimi (baik oleh non muslim maupun muslim). Menurut saya penyebab utamanya adalah korupsi (paling tidak di Indonesia).
Kalau kita punya tata cara sangat detil mengenai doa makan, doa tidur, doa bercermin, doa berkendaraan, doa berhubungan suami istri (maaf yang belum menikah) bahkan doa meringankan tubuh alias BAB, kok kita tidak punya bahasan detil mengenai etika bisnis sehingga pak Jasa sampai bingung mencari jawaban atas pertanyaan yang ada di pikirannya.
Balik lagi ke FEUI, saya kira FEUI bukan hanya bisa mengajarkan cara mencari uang, juga sopan santun/rambu-rambu dalam mencari fulus. Jadi kalau pakai analogi sepak bola, bukan hanya mengajarkan bermain bola tapi juga bahwa bermain bola itu harus sportif (soalnya kalau ngandelin wasit, justru mereka yang paling korup). Ngomong-ngomong bola soalnya pak Dekan kita dulunya pemain bola di FEUI (coba aja cari foto jaman dulu).
Sekian dulu ah, nanti bosen nih. Mohon maaf kalau ada kata yang tak berkenan.
Note: Fronting adalah suatu transaksi jual beli dimana the ultimate buyer nya adalah orang/institusi yang tidak dibolehkan secara legal untuk melakukan transaksi pembelian tersebut.
Mam,
Dengan orientasi materialisme yang kuat dan kultur korupsi yang sudah begitu merajalela di segala aspek kehidupan, pelajaran etika bisnis akan menjadi sebatas teori yang tidak akan ada penerapannya. Betul sebagai satu langkah akan membantu, tapi ya itu tadi hanya satu elemen necessary but not sufficient. Memang sulit kita mau mulai dari mana. Saya kok cenderung berpikir, saat ini kita membutuhkan sosok pemimpin kuat. Macam Margareth Thatcher di Inggris dulu yang bisa membalik keadaan menjadi lebih baik, meskipun serba konservatif.
UI bisa melahirkan peraih Nobel? Amien. Sejauh fokus kembali menjadi universitas riset akan dijalankan. Tidak lagi terjerumus pada pragmatisme mengejar proyek-proyek buat para staffnya….
Imam:
Masalahnya pemimpin kuatnya siapa dan kapan datangnya? Jangan-jangan menungu Godot. Atau jangan2 kuatnya seperti Pak Harto. Apa kita mau lagi seperti itu. Mungkin kita-kita sendirilah yang berubah. Seperti antum yang pandai dan sholeh udah berada pada jalur yang benar dengan menuliskan kegelisahan antum untuk dibaca orang. Jadi intinya jangan mengharap dapat durian runtuh (pemimpin bener dan kuat), kita aja yang lebih kreatif berfikir dan bertindak dan agak sedikit berani mengambil risiko untuk kepentingan bangsa ini.
Comment by hendro — May 25, 2006 @ 2:48 pm