imamrasyidi

May 26, 2006

pendidikan anak

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 9:26 am

Buat yang sudah punya keluarga tentunya masalah pendidikan anak adalah masalah yang sangat serius. Saat ini kita berlomba-lomba untuk menyekolahkan anak ke sekolah yang bagus yang seringkali identik dengan mahal yang hanya mampu dimasuki oleh kalangan yang berpendapatan lumayan tinggi. Fenomena keluarga muslim menyekolahkan anaknya ke sekolah private yang mahal memang fenomena yang mencolok


Ada hal yang terlupakan waktu kita menyekolahkan anak
kita ke sekolah mahal ini yaitu anak kita tidak tahu
bahwa ada kehidupan di dunia sekitar kita yang
berkekurangan. Di sekolah mahal itu biasanya berulang
tahun di tempat mahal, setelah liburan yang
diceritakan libur ke luar negri dsb. Maaf kalau saya
kedengarannya sinis. Sehingga anak kita akhirnya
terbawa ke kehidupan materialistis. Kehidupan seperti
ini selain kehidupan yang bukan diidealkan oleh
nilai-nilai agama kita tapi juga secara rasional
kehidupan seperti ini akan cukup berbahaya untuk anak
kita.

Sering saya lihat seorang anak yang keluarganya kaya tiba-tiba orang tuanya bangkrut atau  meninggal sehingga anak ini tidak bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan pasca kayanya. Bagi seorang anak yang tidak pernah mengenal naik kendaraan umum (pesawat terbang juga kendaraan umum, tapi tentu saja bukan ini maksud saya) akan mengalami gegar budaya yang sangat berat. Apabila anak ini tidak kuat mentalnya maka kejadian
berikutnya mudah untuk diprediksi. Situasi seperti ini tentu saja merupakan akibat dari orang tua yang kurang hati-hati.

Skenario lain, katakanlah orangtunya hidup sampai anak ini besar dan tua. Belum tentu anak ini dapat memperoleh kehidupan yang sama yang dialami oleh orang tuanya. Mungkin anak ini nasibnya tidak sebaik orangtunya. Sehingga tentu saja anak ini akan susah untuk beradaptasi dengan kehidupan dewasanya. Dan akhirnya anak ini akan mendapatkan subsidi terus menerus dari orang tuanya untuk menopang gaya hidupnya yang mahal. Dan anak-anak seperti ini akan mengalami kehidupan yang tidak mandiri, bahkan banyak kasus setelah orangtuanya meninggal dan meninggalkan warisan, warisan ini tidak lama habis.

Yang saya persoalkan sebenarnya bukan pendidikannya
itu sendiri tetapi adalah biasanya sekolah yang
dianggap baik biasanya mahal dan mahal identik dengan
lingkungan kaya, sehingga anak kita terisolasi dari
realitas masyarakat sekitarnya.

Menurut saya dalam mendidik anak prioritas utama
adalah bahwa anak kita menjadi anak yang baik baru
kemudian anak yang sukses secara materi. Menjadi anak
yang baik peran orang tua akan lebih penting daripada
sekolah. Orang tua yang menanamkan nilai-nilai
keadilan dengan memberikan contoh sehari-hari yang
dilihat anak sangat penting sekali.

Seringkali sebagai orang tua kita terlalu
mendelegasikan pendidikan anak kita ke sekolah. Di
sekolah yang lebih banyak dipelajari adalah pengasahan
otak. Kita lupa bahwa peran kita jauh lebih penting
daripada sekolah.

Seringkali kita bilang bahwa saya bekerja keras untuk
anak istri sehingga mereka bisa mendapatkan rumah yang
besar dan mobil yang mewah. Sebenarnya yang ingin
mendapatkan itu semua adalah terutama diri kita
sendiri dan mungkin pasangan kita, sedangkan anak kita
apalagi kalau masih kecil, mereka tidak terlalu
mengerti dengan kemewahan seperti itu. KItalah yang
mengajari mereka untuk memakai pakaian mahal, makan di
restoran mahal, liburan yang mahal dsb. Kalau kita
perhatikan anak-anak kecil, mainan yang murahpun
seperti kardus bekas TV atau barang elektronik lain
bisa menjadi mainan yang mengasikkan dengan imajinasi
mereka yang tinggi yang membayangkan kardus itu
sebagai rumah, mobil, perahu dsb.

Ada juga yang terlupakan waktu kita menyekolahkan anak
kita yaitu bahwa anak kita akan makin memerlukan biaya
yang makin besar semakin meningkat umurnya. Sehingga
ada juga orang tua yang kehabisan bensin sewaktu
mereka mau menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih
tinggi. Menurut saya yang prudent adalah pada waktu TK
SD dan seterusnya kemahalannya makin meningkat karena
toh makin susah kita mengajarinya di rumah. Sebenarnya
seandainyapun anak kita tidak sekolah TK, hal ini
tidak akan berakibat terlalu serius untuk kelanjutan
pendidikannya. Tentu saja ada kekecualian kalau orang
tuanya keduanya bekerja.

Menurut buku Milioner next door, mayoritas orang kaya
di Amerika (yang dimaksud kaya adalah orang yang
memiliki kekayaan minimum US$1 juta, bukan yang
mengendarai mobil mewah, rumah besar atau penghasilan
tinggi, karena belum tentu kekayaannya sebesar ini)
menyekolahkan anaknya sampai SMA di sekolah negri
bukan di private school yang mahal, tetapi setelah
masuk perguruan tinggi para orang tua ini mau
membayari sekolah yang mahal dan bagus, bahkan
sebagian besar membiaya sekolah S2nya, hal yang langka
di amerika.

Saya memang sering guyon kalau orang berlomba-lomba
menyekolahkan anaknya ke TK mahal, saya bilang
memangnya setelah lulus TK bisa paham rumus Einstein.

Mungkin yang paling ideal adalah sekolah di sekolah
mahal tetapi anak kita tetap mengenal kehidupan rakyat
biasa. Yang kita bicarakan disini tentu saja memang
gaya hidup orangtuanya tidak terjebak dalam gaya hidup
kemewahan, kalau ini yang terjadi ya mau di sekolahin
di sekolah negri pun karena anaknya biasa gaya hidup
mewah ya gak ada pengaruhnya.

Tentu saja saya tidak anti menjadi kaya, karena
Nabipun menyarankan kita untuk dapat meninggalkan
warisan bagi anak kita. Lantas kapan kita menikmati
kekayaan yang dengan susah payah kita dapatkan? Kalau
kita lihat contoh Nabi memang agak sukar karena Nabi
kita yang seorang sayyid Arabia, seorang Rasul, kepala
negara, kepala pemerintahan tidurpun hanya beralaskan
tikar. Tentu saja kita sukar sekali untuk mencontoh
sikap ini. Secara realistis saya kira bolehlah kita
menikmati kekayaan yang telah kita kumpulkan. Walaupun
demikian kita harus berhati-hati untuk menularkannya
ke anak kita, karena kalau anak kita terbiasa dengan
kehidupan serba gampang dan mewah, maka kitalah yang
paling patut dipersalahkan.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://imamrasyidi.blogsome.com/2006/05/26/pendidikan-anak/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King