imamrasyidi

July 27, 2006

vertu

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 11:46 am

Nama saya Imam Rasyidi. Saya adalah kontraktor rumah tinggal. Website usaha saya:  www.rii-kontraktor.com, email: irasyidi@yahoo.com, HP: 0816-997922, 021-70727840

__________________________________________________________

UAN baru saja lewat. Kelihatannya ada prioritas yang kurang jelas dalam kita mendidik anak. Orang sedemikian bernafsunya berlomba-lomba agar masa depan anaknya cerah secerah USD yang bank-bank mau terima, semengkilat mobil yang baru keluar dari pabriknya, dan seindah HP Virtue (atau Vertu atau …. soalnya saya nggak punya) yang harganya lebih mahal dari rumah RSSSS…….

Di bawah gumaman yang saya karang sendiri (mohon maaf redaksinya kedengaran menggurui, soalnya cuma  mengikuti template yang sudah ada) dan diilhami dari hadis Nabi:

 
Didiklah anakmu di rumah seolah-olah kamu akan meninggal dunia esok hari dan sekolahkanlah anakmu ke sekolah yang paling bagus yang kamu mampu seolah-olah anakmu akan menjadi orang paling penting di generasinya.

___________________________________________________________ 

Saya adalah seorang lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang nyasar menjadi kontraktor rumah. Saya percaya bahwa dengan jujurpun kita bisa sukses. Malah mungkin sukses dunia akhirat. Karena  itu moto usaha kontraktor rumah yang saya bangun bersama dua orang teman lainnya (salah seorang partner saya adalah insinyur sipil) adalah jujur, nyaman, hemat. Mudah-mudahan melalui usaha kontraktor rumah ini kami bisa sedikit berkontribusi untuk bangsa ini. Rumah yang sudah kami bangun tersebar di sekitar Jakarta, Bogor, Banten, Depok dan Bekasi. Hasil karya kami dapat dilihat di www.rii-kontraktor.com. Alamat email saya: irasyidi@yahoo.com. HP: 0816-997922 dan 021-70727840

July 22, 2006

bisnis orang tionghoa

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 12:47 pm

Seringkali dalam menjalani hidup sebagai pengusaha lemah saya sering mengalami saat-saat depresi, kehilangan harapan dan rasanya semuanya buntu. Dan biasanya semangat datang dari tempat tak terduga.

Suatu saat saya mengalami situasi seperti ini. Secara tidak sengaja saya ngobrol dengan seorang Tionghoa pemilik toko peralatan listrik. Kebetulan saya beli lampu untuk di rumah yang kebetulan putus.

Saya liat toko ini laku banget. Padahal letaknya cukup terpencil dibandingkan toko-toko lain. Bahkan di komplek ruko ini, dekat rumah saya, kalau tidak salahada 3 atau 4 toko yang menjual peralatan listrik juga. Dan toko-toko itu jauh larisnya dibanding toko ini. Dan tentu saja dari kesemua toko peralatan listrik ini, cuma dia yang orang tionghoa.

Tentu saja ada alasan kenapa dia laris yaitu harga2nya jauh lebih murah dari toko2 lain.

Saya tanya ke si Engkoh ini dengan bercanda,"Koh kok enak amat lo jualan laku banget?

Engkoh:"Lo liatnya sekarang sih udah rame begini, coba lo liat beberapa tahun lalu, dagangan gue nggak laku."

Imam:"Ah masa Koh?"

Engkoh:"Iya, sampe 4 tahun pertama, bisnis gue susah banget. Gue dulu punya dua mobil, mobil gue abis gue jual buat makan. Kalau orang lain jual beli mobil, gue jual mobil doang".

Imam: "Gue pikir bisnis lo langsung rame Koh?"

Engkoh:"Ah elo! Waktu tahun-tahun awal dagang, kerja gue ngelamun nungguin pembeli di kursi panjang di depan toko gue. Gue kan dulu kerja di bank X (saya lupa nama banknya) yang sekarang udah dilikuidasi. Terus lagi gue ngelamun gitu, temen gue di bank dulu dateng ke toko ini. Dia kasihan lihat toko gue nggak ada yang beli. Dia ngajak gue gue kerja lagi dengan gaji RpX juta dan dikasih mobil dan uang bensin. Gue nggak mau. Gue penasaran sama bisnis gue. Gue pikir kalo udah 4 tahun bisnis gue akan lebih baik. Bener juga, setelah 4 tahun, dagangan gue mulai laris."

Memang toko si engkoh ini laris banget, sampai-sampai tokonya penuh dengan dagangan yaitu kabel listrik, pipa paralon untuk kabel, lampu-lampu dsb. Sehingga kalau mau masuk ke dalam tokonya, badan kita harus dimiringkan, saking penuh dagangannya berserakan.

Moral of the story: bisnis mesti sabar, nafas mesti panjang, harga dagangan mesti murah. Begitulah cara orang tionghoa berdagang.


July 20, 2006

Paman Saya Tentara

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 12:06 pm

Waktu kecil saya tinggal dengan kakek dan paman saya. Paman saya adalah tentara yang pada pensiunnya cuma sampai level Peltu (Pembantu Letnan Satu). Paman saya ini orang Palembang yang menikah dengan bibi saya, adiknya ibu saya. Seandainya para jendral berhati seperti paman saya, saya rasa Indonesia akan lain ceritanya.

Paman saya seorang yang jujur, bahkan terlampau jujur. Saya dulu tinggal di kampung di daerah Gunung Putri dekat dengan Cibinong, Bogor. Beliau berdinas di Kostrad yang bermarkas di Cilangkap, Cibinong. Dulu waktu belum ada jalan tol jagorawi, beliau naik bis dari Cilangkap sampai persis di depan rumah kakek saya. Waktu itu jarang sekali anggota tentara yang tinggal di kampung kami. Sehingga paman saya dikenal baik oleh awak bis yang dia biasa tumpangi. Kebetulan pemilik bis juga orang yang kampungnya bersebelahan dengan kampung kami.

Sekali-sekali saya pergi dengan paman saya untuk suatu keperluan dan berbarengan dengan dia pergi berdinas. Waktu itu saya masih berumur di bawah 7 tahun. Biasanya kalau tentara naik bis, tidak pernah bayar, atau kalau kondekturnya datang mau menagih ongkos, pura-pura nggak ngeliat kondektur itu. Sementara kondekturnya sungkan menagih.

Lain halnya dengan paman saya, hampir semua kondektur dan sopir bis di rute ini yang dia tumpangi mengenali paman saya ini. Dan tentu saja mereka tidak akan menagih ongkos dari paman saya ini. Dan seperti biasa paman saya akan memaksa memberi ongkos ke kondektur bis ini, bahkan kalau perlu uangnya dimasukkan langsung ke kantong baju sang kondektur. Demikian juga apabila paman saya naik angkot, saya rasanya tidak pernah melihat paman saya tidak bayar ongkos kendaraan. Kendaraan umum apapun yang dia naiki.

Saya tahu banyak tentara yang jadi centeng di proyek atau pabrik dan petantang petenteng mungut uang jago. Seingat saya, paman saya tidak pernah melakukan perbuatan tercela ini. Baru setelah pensiun, beliau mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kepala keamanan di suatu pabrik kimia. Itupun dipecat oleh sang pemilik, yang juga pensiunan tentara dengan pangkat Brigjen, karena membela anak buahnya yang dipecat dan tidak diberi pesangon dan difitnah oleh mantan anak buahnya yang dia dikeluarkan, seorang preman yang sok jagoan mengintimidasi karyawan lain.

Paman saya cukup banyak dikenal masyarakat karena beliau senang berorganisasi membina remaja di kampung kami. Beliau mengajak para pemuda untuk berolah raga seperti volley dan sepak bola. Bahkan walaupun paman saya pendek, mungkin di bawah 165 cm, beliau merupakan bek yang cukup disegani. Yang pasti bukan karena beliau tentara, karena memang main bolanya bagus.

Beliau suka mendamaikan orang yang berselisih. Dan apabila ada orang yang ketakutan karena diintimidasi preman kampung, akan datang ke rumah kami mengadukan masalahnya. Biasanya persoalannya akan selesai apabila paman saya turun tangan. Dan beliau tidak pernah meminta uang sepeserpun. Dan adakalanya yang datang orang yang susah ke rumah kami, maka paman saya justru mengeluarkan duitnya sendiri untuk mengongkosi orang ini. Dan saya tahu bibi saya biasanya agak sewot, karean berapa besar sih gaji tentara yang nggak ngobyek apapun.

Walaupun demikian paman saya orangnya tidak suka diam. Sehingga walaupun gajinya kecil, rumahnya selalu kelihatan asri. Saya ingat kala itu paman saya belum mampu membuat rumah yang dindingnya dari pasangan bata sehingga terpaksa dinding rumahnya terbuat dari bilik bambu. Tetapi oleh paman saya dinding gedek bambu jadi kelihatan unik karena beliau melapisnya lagi dengan bambu yang besar-besar dan bambu ini dipernis. Beliau sendiri yang mengerjakan itu semua.

Lain waktu pada saatnya gajian, dimana pada saat yang sama biasanya tentara akan diberi jatah beras, paman saya pulang tidak membawa beras sama sekali. Tentu saja bibi saya heran. Dia bertanya dikemanakan jatah berasnya. Paman saya menjawab bahwa dia memiliki teman yang anaknya banyak sementara jatah berasnya sudah dijual duluan, sehingga pada saat jatah beras dibagikan, dia tidak memiliki jatah beras lagi. Dan tentu saja paman saya yang baik hati ini memberikan semua jatah berasnya ke temannya tersebut. Tentu saja bibi saya sewot luar biasa, biasalah wanita, dia ngambek karena bingung mau beli pakai apa karena gajinyakan sudah dikapling-kapling. Dan yang lebih parah lagi, paman saya memberikan sebagian besar uang gajinya kepada temannya tersebut. Terjadilah perang Barata Yudha.

Ada juga rahasia kecil yang bibi saya mungkin sampai saat ini tidak tahu. Pada saat saya kelas 4 SD saya pindah ke Jakarta ikut dengan orang tua saya. Biasanya pada saat liburan sekolah, saya pasti pulang ke rumah kakek saya yang rumahnya bersebelahan dengan paman saya ini. Dan biasanya kalau selesai liburan saya pulang ke Jakarta maka paman saya akan memberikan uang jajan ke saya dengan pesan jangan bilang ke bibi kalau paman sudah memberi uang, sehingga akhirnya saya dapat jatah dobel. Dari bibi dan paman, bahkan juga dari kakek. Saya rasanya merasa sangat kaya.

Pada saat pemilihan Kades (Kepala Desa, di kota namanya Lurah), di desa Kades dipilih langsung oleh warganya. Banyak orang yang datang ke rumah kami mencalonkan paman saya untuk ikut pemilihan ini. Belum ada sejarah di kampung kami, Kades bukan asli dari kampung kami. Paman saya tidak mau, karena dia bilang dia tidak memiliki kekayaan sebesar Kades yang saat itu menjabat sehingga beliau tidak bisa menyumbang mesjid, olah raga atau yang lainnya sebesar Kades yang saat itu menjabat. Kita sebenarnya tahu darimana sebagian besar uang Kades itu berasal. Saat itu di desa kami sedang giat-giatnya dibangun banyak pabrik dimana tanahnya dibeli dari penduduk kampung dan mungkin dari tanah adat di kampung kami.

Tapi tetap paman saya tidak mau. Dia beranggapan seseorang harus memiliki cukup materi dahulu sebelum jadi Kades sehingga bisa menyumbang dengan baik dari kantng sendiri. Dan tentu saja, beliau tidak akan pernah bisa jadi Kades karena saya tahu gajinya pas-pasan. Kalau saat itu saya sudah cukup besar mungkin saya akan mencoba meyakinkan paman saya untuk tetap maju mencalonkan diri. Toh Nabi Muhammmadpun jadi kepala pemerintahan, padahal beliau tidak memiliki kekayaan. Bahkan tidurnyapun di tikar saja. Mohon maaf bagi yang bukan muslim, karena saya kurang tahu pemimpin lain yang sesederhana Nabi Muhammad. Mungkin bisa juga disebut Nelson Mandela yang bekas orang tahanan yang jadi presiden di Afsel atau Xanana Gusmao yang juga bekas tahanan Orba.

Kalaupun paman saya tidak dianggap sukses dalam hidupnya. Paling tidak dia secara tidak sadar sukses memberi contoh kepada saya dan mungkin anak-anaknya serta orang lain yang mengenalnya untuk selalu jadi orang jujur dan lurus. Dan mudah-mudahan saya juga mampu mencontohkannya kepada dua jagoan saya di rumah..

Begitulah sekelumit tentang paman saya, seorang tentara berpangkat peltu berhati jendral. Mudah-mudahan cerita ini bisa jadi contoh buat kita semua.


July 12, 2006

kredibilitas

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 12:26 pm

Di suatu pagi yang biasa-biasa aja saya ber-sms-an dengan seorang teman ekonom terkenal yang tulisannya sering menghiasi surat kabar nasional. Kemudian dia meminta saya mendengarkan wawancaranya di satu stasiun radio pagi itu juga. Karena satu dan lain hal, yang alasannya tidak menarik, saya hampir tidak pernah mendengarkan siaran radio sejak beberapa tahun lalu. Akhirnya karena ingin menyenangkan teman, saya bersusah payah mencari stasiun radionya dan baru dapat setelah sekitar 25 menit. Mungkin ada yang bertanya-tanya kok bisa sekian lama, lagi-lagi alasannya tidak menarik untuk diungkapkan.

Singkat kata, saya mendengarkan pembicaraan di radio ini. Ada tiga panelis yang semuanya ekonom tapi berbeda employer, dua orang ekonom di swasta dan yang satunya anggota legislative. Mereka membicarakan mengenai kebijakan pemerintah yang terakhir yang menurut mereka kurang dapat mempengaruhi kondisi ekonomi. Terus terang saya tidak terlalu paham secara menyeluruh tentang apa yang mereka diskusikan. Mereka bicara mengenai NPL di bank pemerintah yang tidak jelas penyelesaiannya.

Setelah setua ini, saya menyadari bahwa persoalan ekonomi berujung di persoalan bukan ekonomi. Menurut pendapat saya yang premature ini, kebijakan ekonomi hanya mempunyai efek jangka pendek. Sedangkan kalau mau ekonomi yang sehat dengan pertumbuhan tinggi yang konsisten dalam jangka waktu lama, yang harus diperbaiki adalah masalah-masalah non ekonomi. Dan tentu saja ekonom yang baik, cukup rendah hati untuk mengatakan bahwa mereka tidak bisa memberikan solusi masalah-masalah non ekonomi.

Analoginya mungkin seperti memberikan solusi untuk seorang pemuda pemalas yang nggak punya tujuan hidup yang jelas tapi maunya semuanya serba enak dan hidupnya dari jadi tukang catut keluarga. Solusi jangka pendeknya adalah misalnya ngasih duit untuk modal usaha, memang setelah itu ada kegiatan ekonomi. Nggak lama duitnya habis. Solusi berikutnya ngasih dia kerjaan dari kenalan babe. Nggak lama dia keluar karena nggak betah disuruh lembur sedikit oleh bosnya. Terus dikawinkan sama pacarnya, karena orang tunya berpikir kalau udah kawin dia akan punya tanggung jawab. Yang terjadi, malah sesudah kawin minta tambahan honor ke ortu. Dan terus punya anak dan ada persoalan baru lagi, dan terus tambah anak dan ada persoalan baru lagi. Dan anaknya besar, dan bikin persoalan karena kena narkoba. Maka tenggelamlah generasi penerus dari si bapak yang sangat sayang pada anaknya ini. Mungkin Indonesia tidak separah itu, tapi akan menjadi separah itu kalau masyarakatnya tidak berubah.

Teman saya ini memberikan poin-poin yang sangat bagus diungkapkan dengan nada berapi-api karena semangat yang membara. Sampai-sampai saya sms dia agar menahan emosinya, karena biasanya kalau terlalu bersemangat omongan jadi tidak terkontrol dengan baik. Dia bicara mengenai Indonesia yang dikaruniai banyak hal, banyak orang pandai, sumber daya alam melimpah ruah, dan ternyata ada duit misterius tersimpan di SBI sebesar Rp140 trilyun. Duit ini milik pemerintah pusat dan daerah yang mengangur tidak diapa-apakan.

Dia bicara mengenai RRC yang pertumbuhannya tinggi secara konsisten selama bertahun-tahun. Dia juga bicara mengenai India yang mulai menggeliat perekonomiannya. Teman saya bilang orang kasih alasan RRC bisa tumbuh sedemikian fantastis karena pasar domestiknya yang sedemikian besar. Saya jadi ingat dulu ada yang kasih excuse Indonesia tidak bisa semaju Singapura karena Singapura penduduknya sedikit. Dia juga bicara tentang Vietnam yang mulai catching up.

Dia menggugat pemerintah Indonesia yang tidak jelas performancenya dan tidak bisa membawa bangsa ini menuju ekonomi yang diharapkan. Suatu penutup pembicaraan yang sudah jadi rutinitas. Ekonom yang anggota legislative menimpali bahwa memang saat ini kita kebanyakan NPL, yaitu non performing leaders. Juga komen yang umumnya dilakukan siapapun yaitu menyalahkan orang lain kecuali diri sendiri. Dia tidak sadar bahwa dia adalah salah satu leader itu. Dan saya juga ternyata mengidap penyakit yang sama, nyalahin orang. Orang Indonesia juga manusia …….. (dan nyanyilah saya lagunya serieus yang terkenal itu).

Beberapa jam setelah acara radio, teman saya nelpon saya dan menanyakan pendapat saya mengenai performancenya di radio show itu. Saya bilang komen anda bagus, malah sangat bagus. Tapi anda seperti berteriak di terminal yang sangat ramai orang, mungkin seperti terminal saat beberapa hari sebelum lebaran. Jadi mungkin ada yang dengar tapi nggak ada yang peduli.  Ada yang terbirit-birit mengejar bis yang hampir berangkat. Ada yang di telinganya ketutup walkman (kalau nggak salah sekarang ipod ya, maklum udah tua). Ada yang sibuk nelpon dengan HPnya. Ada tukang obat jualan pake speaker TOA (ini terminal separuh jaman dulu, separuh jaman sekarang). Ada kondektur dan tukang catut yang teriak mengenai tujuan bis-bis tertentu (blem, blem, blem maksudnya blok M, blok M dsb). Ada orang kurang waras yang mungkin bingung dengan kebingungannya. Ada copet yang sibuk mencari celah untuk menyelipkan tangannya. Ada tukang TTS yang colak-colek nawarin dagangannya. Wah, ini bisa nggak habis-habis menggambarkan situasi terminal. Pokoknya rame deh, percaya aja deh sama saya he he he…..

Kemudian dia bertanya apa alasannya. Dengan lagak seorang yang mumpuni saya bilang saat ini yang kita kurang adalah kredibilitas. Apa yang anda ungkapkan memang benar. Benar pula apa yang diungkapkan oleh ekonom yang anggota legislative itu. Benar pula orang-orang yang mengeluh mengenai nggak beresnya polisi, jaksa, pegawai pemda, pegawai departemen dsb. Tapi apakah saran anda, teman anda, saya, teman saya dijalankan oleh yang diberi saran. Tentu saja tidak.

Kenapa? Karena semua orang memberi saran orang lain untuk berubah tapi tidak termasuk yang memberi saran. Seperti orang yang sama-sama memble dan salah, saling menasehati. Masing-masing meminta yang diberi saran untuk memblenya berkurang dan jadi lebih baik. Dan masing-masing tidak mau berubah karena akan mengurangi kenikmatan hidupnya.

Sebenarnya saya kurang paham bener dengan kata kredibilitas yang saya kemukakan ini (tapi seperti biasa saya kemukakan dengan gaya dan penekanan yang meyakinkan). Untuk keperluan tulisan ini akhirnya saya cari di Microsoft word padanannya yaitu bahasa Inggrisnya credibility yang padanannya trustworthiness, reliability, integrity, authority, standing, sincerity.

Dari padanan di atas kata kredibilitas mencakup arti bisa dipercaya, bisa diandalkan, memiliki pengetahuan mengenai apa yang diungkapkan dan juga tulus. Jadi seorang penyaran (pemberi saran) yang kredibel adalah orang yang dengan tulus melihat diri sendiri dan sebelum memberi saran, dia telah mengerjakan apa-apa yang dia sarankan itu yang relevan dengan hidupnya. Kalau seorang ayah menyuruh anaknya shalat, padahal dia sendiri belum shalat, maka ayah ini bukan seorang yang kredibel dalam kasus shalat. Kalau seorang pemimpin meminta rakyatnya ikat pinggang penghematan ternyata setelah jadi pemimpin pinggangnya malah tambah lebar dan besar maka pemimpin ini bukan hanya tidak kredibel tetapi juga malah orang yang hipokrit (kalau pakai bahasa Indonesia umum kedengarannya jadi sangat kasar). Kalau seorang pengamat sibuk mengritik semua yang bisa dikritik, maka orang akan bilang, anda sudah dibayar untuk melakukan kritik. Atau kalau yang nggak dibayar, itu untuk menarik perhatian agar dapat kedudukan. Ya jadinya sami mawon.

Contoh yang sangat gampang dari pemimpin dan manusia yang kredibel adalah Nabi kita, Nabi Muhammad. Beliau menyarankan umatnya memberi kepada fakir miskin, yatim piatu dan yang kekurangan. Beliau memberikan keringatnya, darahnya, dagingnya dan hidupnya untuk orang-orang tersisih ini. Bahkan beliau tidak secara eksplisit menyarankan hidup sederhana (kalah nggak salah, tolong koreksi saya kalau salah) tapi hidupnya mungkin lebih susah daripada rakyatnya pada umumnya. Beliau menyarankan umatnya untuk tidak berKKN, beliau tidak memberi celah sedikitpun kepada anak dan menantunya Siti Fatimah dan Ali (seperti kutipan yang pernah saya tulis dalam milis ini, kalau masih ingat dan sempat baca). Beliau menyarankan untuk memperlakukan manusia tanpa memandang derajatnya, beliau sendiri mengangkat Zaid, budak yang beliau beli menjadi anak angkatnya (walaupun kemudian secara syariat dilarang).

Maka tidak heran, Nabi Muhammad sangat dipatuhi oleh umatnya saat itu. Dan contoh hidupnya menjadi teladan yang tiada ada habisnya. Dan umat Islam berjaya dari sejak Nabi masih hidup sampai beberapa abad kemudian.

Saya bukan seorang ustadz, hanya orang awam yang sangat mengagumi idolanya. Sehingga mohon maaf kalau pemaparan saya mengenai Nabi kita tidak terlalu akurat.

Jadi akhir kata saya bilang kepada teman saya yang ekonom ini, kalau komen anda mau lebih didengar jadilah pengamat ekonomi yang kredibel. Tapi jangan tanya ke saya bagaimana caranya, wong saya juga lagi mikirin bagaimana agar ucapan saya bisa lebih kredibel, paling tidak kepada anak saya yang mulai bisa dan berani ngeledek ayahnya dan mulai meniru kebiasaan buruk ayahnya.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King