Di suatu pagi yang biasa-biasa aja saya ber-sms-an dengan seorang teman ekonom terkenal yang tulisannya sering menghiasi surat kabar nasional. Kemudian dia meminta saya mendengarkan wawancaranya di satu stasiun radio pagi itu juga. Karena satu dan lain hal, yang alasannya tidak menarik, saya hampir tidak pernah mendengarkan siaran radio sejak beberapa tahun lalu. Akhirnya karena ingin menyenangkan teman, saya bersusah payah mencari stasiun radionya dan baru dapat setelah sekitar 25 menit. Mungkin ada yang bertanya-tanya kok bisa sekian lama, lagi-lagi alasannya tidak menarik untuk diungkapkan.
Singkat kata, saya mendengarkan pembicaraan di radio ini. Ada tiga panelis yang semuanya ekonom tapi berbeda employer, dua orang ekonom di swasta dan yang satunya anggota legislative. Mereka membicarakan mengenai kebijakan pemerintah yang terakhir yang menurut mereka kurang dapat mempengaruhi kondisi ekonomi. Terus terang saya tidak terlalu paham secara menyeluruh tentang apa yang mereka diskusikan. Mereka bicara mengenai NPL di bank pemerintah yang tidak jelas penyelesaiannya.
Setelah setua ini, saya menyadari bahwa persoalan ekonomi berujung di persoalan bukan ekonomi. Menurut pendapat saya yang premature ini, kebijakan ekonomi hanya mempunyai efek jangka pendek. Sedangkan kalau mau ekonomi yang sehat dengan pertumbuhan tinggi yang konsisten dalam jangka waktu lama, yang harus diperbaiki adalah masalah-masalah non ekonomi. Dan tentu saja ekonom yang baik, cukup rendah hati untuk mengatakan bahwa mereka tidak bisa memberikan solusi masalah-masalah non ekonomi.
Analoginya mungkin seperti memberikan solusi untuk seorang pemuda pemalas yang nggak punya tujuan hidup yang jelas tapi maunya semuanya serba enak dan hidupnya dari jadi tukang catut keluarga. Solusi jangka pendeknya adalah misalnya ngasih duit untuk modal usaha, memang setelah itu ada kegiatan ekonomi. Nggak lama duitnya habis. Solusi berikutnya ngasih dia kerjaan dari kenalan babe. Nggak lama dia keluar karena nggak betah disuruh lembur sedikit oleh bosnya. Terus dikawinkan sama pacarnya, karena orang tunya berpikir kalau udah kawin dia akan punya tanggung jawab. Yang terjadi, malah sesudah kawin minta tambahan honor ke ortu. Dan terus punya anak dan ada persoalan baru lagi, dan terus tambah anak dan ada persoalan baru lagi. Dan anaknya besar, dan bikin persoalan karena kena narkoba. Maka tenggelamlah generasi penerus dari si bapak yang sangat sayang pada anaknya ini. Mungkin Indonesia tidak separah itu, tapi akan menjadi separah itu kalau masyarakatnya tidak berubah.
Teman saya ini memberikan poin-poin yang sangat bagus diungkapkan dengan nada berapi-api karena semangat yang membara. Sampai-sampai saya sms dia agar menahan emosinya, karena biasanya kalau terlalu bersemangat omongan jadi tidak terkontrol dengan baik. Dia bicara mengenai Indonesia yang dikaruniai banyak hal, banyak orang pandai, sumber daya alam melimpah ruah, dan ternyata ada duit misterius tersimpan di SBI sebesar Rp140 trilyun. Duit ini milik pemerintah pusat dan daerah yang mengangur tidak diapa-apakan.
Dia bicara mengenai RRC yang pertumbuhannya tinggi secara konsisten selama bertahun-tahun. Dia juga bicara mengenai India yang mulai menggeliat perekonomiannya. Teman saya bilang orang kasih alasan RRC bisa tumbuh sedemikian fantastis karena pasar domestiknya yang sedemikian besar. Saya jadi ingat dulu ada yang kasih excuse Indonesia tidak bisa semaju Singapura karena Singapura penduduknya sedikit. Dia juga bicara tentang Vietnam yang mulai catching up.
Dia menggugat pemerintah Indonesia yang tidak jelas performancenya dan tidak bisa membawa bangsa ini menuju ekonomi yang diharapkan. Suatu penutup pembicaraan yang sudah jadi rutinitas. Ekonom yang anggota legislative menimpali bahwa memang saat ini kita kebanyakan NPL, yaitu non performing leaders. Juga komen yang umumnya dilakukan siapapun yaitu menyalahkan orang lain kecuali diri sendiri. Dia tidak sadar bahwa dia adalah salah satu leader itu. Dan saya juga ternyata mengidap penyakit yang sama, nyalahin orang. Orang Indonesia juga manusia …….. (dan nyanyilah saya lagunya serieus yang terkenal itu).
Beberapa jam setelah acara radio, teman saya nelpon saya dan menanyakan pendapat saya mengenai performancenya di radio show itu. Saya bilang komen anda bagus, malah sangat bagus. Tapi anda seperti berteriak di terminal yang sangat ramai orang, mungkin seperti terminal saat beberapa hari sebelum lebaran. Jadi mungkin ada yang dengar tapi nggak ada yang peduli. Ada yang terbirit-birit mengejar bis yang hampir berangkat. Ada yang di telinganya ketutup walkman (kalau nggak salah sekarang ipod ya, maklum udah tua). Ada yang sibuk nelpon dengan HPnya. Ada tukang obat jualan pake speaker TOA (ini terminal separuh jaman dulu, separuh jaman sekarang). Ada kondektur dan tukang catut yang teriak mengenai tujuan bis-bis tertentu (blem, blem, blem maksudnya blok M, blok M dsb). Ada orang kurang waras yang mungkin bingung dengan kebingungannya. Ada copet yang sibuk mencari celah untuk menyelipkan tangannya. Ada tukang TTS yang colak-colek nawarin dagangannya. Wah, ini bisa nggak habis-habis menggambarkan situasi terminal. Pokoknya rame deh, percaya aja deh sama saya he he he…..
Kemudian dia bertanya apa alasannya. Dengan lagak seorang yang mumpuni saya bilang saat ini yang kita kurang adalah kredibilitas. Apa yang anda ungkapkan memang benar. Benar pula apa yang diungkapkan oleh ekonom yang anggota legislative itu. Benar pula orang-orang yang mengeluh mengenai nggak beresnya polisi, jaksa, pegawai pemda, pegawai departemen dsb. Tapi apakah saran anda, teman anda, saya, teman saya dijalankan oleh yang diberi saran. Tentu saja tidak.
Kenapa? Karena semua orang memberi saran orang lain untuk berubah tapi tidak termasuk yang memberi saran. Seperti orang yang sama-sama memble dan salah, saling menasehati. Masing-masing meminta yang diberi saran untuk memblenya berkurang dan jadi lebih baik. Dan masing-masing tidak mau berubah karena akan mengurangi kenikmatan hidupnya.
Sebenarnya saya kurang paham bener dengan kata kredibilitas yang saya kemukakan ini (tapi seperti biasa saya kemukakan dengan gaya dan penekanan yang meyakinkan). Untuk keperluan tulisan ini akhirnya saya cari di Microsoft word padanannya yaitu bahasa Inggrisnya credibility yang padanannya trustworthiness, reliability, integrity, authority, standing, sincerity.
Dari padanan di atas kata kredibilitas mencakup arti bisa dipercaya, bisa diandalkan, memiliki pengetahuan mengenai apa yang diungkapkan dan juga tulus. Jadi seorang penyaran (pemberi saran) yang kredibel adalah orang yang dengan tulus melihat diri sendiri dan sebelum memberi saran, dia telah mengerjakan apa-apa yang dia sarankan itu yang relevan dengan hidupnya. Kalau seorang ayah menyuruh anaknya shalat, padahal dia sendiri belum shalat, maka ayah ini bukan seorang yang kredibel dalam kasus shalat. Kalau seorang pemimpin meminta rakyatnya ikat pinggang penghematan ternyata setelah jadi pemimpin pinggangnya malah tambah lebar dan besar maka pemimpin ini bukan hanya tidak kredibel tetapi juga malah orang yang hipokrit (kalau pakai bahasa Indonesia umum kedengarannya jadi sangat kasar). Kalau seorang pengamat sibuk mengritik semua yang bisa dikritik, maka orang akan bilang, anda sudah dibayar untuk melakukan kritik. Atau kalau yang nggak dibayar, itu untuk menarik perhatian agar dapat kedudukan. Ya jadinya sami mawon.
Contoh yang sangat gampang dari pemimpin dan manusia yang kredibel adalah Nabi kita, Nabi Muhammad. Beliau menyarankan umatnya memberi kepada fakir miskin, yatim piatu dan yang kekurangan. Beliau memberikan keringatnya, darahnya, dagingnya dan hidupnya untuk orang-orang tersisih ini. Bahkan beliau tidak secara eksplisit menyarankan hidup sederhana (kalah nggak salah, tolong koreksi saya kalau salah) tapi hidupnya mungkin lebih susah daripada rakyatnya pada umumnya. Beliau menyarankan umatnya untuk tidak berKKN, beliau tidak memberi celah sedikitpun kepada anak dan menantunya Siti Fatimah dan Ali (seperti kutipan yang pernah saya tulis dalam milis ini, kalau masih ingat dan sempat baca). Beliau menyarankan untuk memperlakukan manusia tanpa memandang derajatnya, beliau sendiri mengangkat Zaid, budak yang beliau beli menjadi anak angkatnya (walaupun kemudian secara syariat dilarang).
Maka tidak heran, Nabi Muhammad sangat dipatuhi oleh umatnya saat itu. Dan contoh hidupnya menjadi teladan yang tiada ada habisnya. Dan umat Islam berjaya dari sejak Nabi masih hidup sampai beberapa abad kemudian.
Saya bukan seorang ustadz, hanya orang awam yang sangat mengagumi idolanya. Sehingga mohon maaf kalau pemaparan saya mengenai Nabi kita tidak terlalu akurat.
Jadi akhir kata saya bilang kepada teman saya yang ekonom ini, kalau komen anda mau lebih didengar jadilah pengamat ekonomi yang kredibel. Tapi jangan tanya ke saya bagaimana caranya, wong saya juga lagi mikirin bagaimana agar ucapan saya bisa lebih kredibel, paling tidak kepada anak saya yang mulai bisa dan berani ngeledek ayahnya dan mulai meniru kebiasaan buruk ayahnya.