imamrasyidi

July 20, 2006

Paman Saya Tentara

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 12:06 pm

Waktu kecil saya tinggal dengan kakek dan paman saya. Paman saya adalah tentara yang pada pensiunnya cuma sampai level Peltu (Pembantu Letnan Satu). Paman saya ini orang Palembang yang menikah dengan bibi saya, adiknya ibu saya. Seandainya para jendral berhati seperti paman saya, saya rasa Indonesia akan lain ceritanya.

Paman saya seorang yang jujur, bahkan terlampau jujur. Saya dulu tinggal di kampung di daerah Gunung Putri dekat dengan Cibinong, Bogor. Beliau berdinas di Kostrad yang bermarkas di Cilangkap, Cibinong. Dulu waktu belum ada jalan tol jagorawi, beliau naik bis dari Cilangkap sampai persis di depan rumah kakek saya. Waktu itu jarang sekali anggota tentara yang tinggal di kampung kami. Sehingga paman saya dikenal baik oleh awak bis yang dia biasa tumpangi. Kebetulan pemilik bis juga orang yang kampungnya bersebelahan dengan kampung kami.

Sekali-sekali saya pergi dengan paman saya untuk suatu keperluan dan berbarengan dengan dia pergi berdinas. Waktu itu saya masih berumur di bawah 7 tahun. Biasanya kalau tentara naik bis, tidak pernah bayar, atau kalau kondekturnya datang mau menagih ongkos, pura-pura nggak ngeliat kondektur itu. Sementara kondekturnya sungkan menagih.

Lain halnya dengan paman saya, hampir semua kondektur dan sopir bis di rute ini yang dia tumpangi mengenali paman saya ini. Dan tentu saja mereka tidak akan menagih ongkos dari paman saya ini. Dan seperti biasa paman saya akan memaksa memberi ongkos ke kondektur bis ini, bahkan kalau perlu uangnya dimasukkan langsung ke kantong baju sang kondektur. Demikian juga apabila paman saya naik angkot, saya rasanya tidak pernah melihat paman saya tidak bayar ongkos kendaraan. Kendaraan umum apapun yang dia naiki.

Saya tahu banyak tentara yang jadi centeng di proyek atau pabrik dan petantang petenteng mungut uang jago. Seingat saya, paman saya tidak pernah melakukan perbuatan tercela ini. Baru setelah pensiun, beliau mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kepala keamanan di suatu pabrik kimia. Itupun dipecat oleh sang pemilik, yang juga pensiunan tentara dengan pangkat Brigjen, karena membela anak buahnya yang dipecat dan tidak diberi pesangon dan difitnah oleh mantan anak buahnya yang dia dikeluarkan, seorang preman yang sok jagoan mengintimidasi karyawan lain.

Paman saya cukup banyak dikenal masyarakat karena beliau senang berorganisasi membina remaja di kampung kami. Beliau mengajak para pemuda untuk berolah raga seperti volley dan sepak bola. Bahkan walaupun paman saya pendek, mungkin di bawah 165 cm, beliau merupakan bek yang cukup disegani. Yang pasti bukan karena beliau tentara, karena memang main bolanya bagus.

Beliau suka mendamaikan orang yang berselisih. Dan apabila ada orang yang ketakutan karena diintimidasi preman kampung, akan datang ke rumah kami mengadukan masalahnya. Biasanya persoalannya akan selesai apabila paman saya turun tangan. Dan beliau tidak pernah meminta uang sepeserpun. Dan adakalanya yang datang orang yang susah ke rumah kami, maka paman saya justru mengeluarkan duitnya sendiri untuk mengongkosi orang ini. Dan saya tahu bibi saya biasanya agak sewot, karean berapa besar sih gaji tentara yang nggak ngobyek apapun.

Walaupun demikian paman saya orangnya tidak suka diam. Sehingga walaupun gajinya kecil, rumahnya selalu kelihatan asri. Saya ingat kala itu paman saya belum mampu membuat rumah yang dindingnya dari pasangan bata sehingga terpaksa dinding rumahnya terbuat dari bilik bambu. Tetapi oleh paman saya dinding gedek bambu jadi kelihatan unik karena beliau melapisnya lagi dengan bambu yang besar-besar dan bambu ini dipernis. Beliau sendiri yang mengerjakan itu semua.

Lain waktu pada saatnya gajian, dimana pada saat yang sama biasanya tentara akan diberi jatah beras, paman saya pulang tidak membawa beras sama sekali. Tentu saja bibi saya heran. Dia bertanya dikemanakan jatah berasnya. Paman saya menjawab bahwa dia memiliki teman yang anaknya banyak sementara jatah berasnya sudah dijual duluan, sehingga pada saat jatah beras dibagikan, dia tidak memiliki jatah beras lagi. Dan tentu saja paman saya yang baik hati ini memberikan semua jatah berasnya ke temannya tersebut. Tentu saja bibi saya sewot luar biasa, biasalah wanita, dia ngambek karena bingung mau beli pakai apa karena gajinyakan sudah dikapling-kapling. Dan yang lebih parah lagi, paman saya memberikan sebagian besar uang gajinya kepada temannya tersebut. Terjadilah perang Barata Yudha.

Ada juga rahasia kecil yang bibi saya mungkin sampai saat ini tidak tahu. Pada saat saya kelas 4 SD saya pindah ke Jakarta ikut dengan orang tua saya. Biasanya pada saat liburan sekolah, saya pasti pulang ke rumah kakek saya yang rumahnya bersebelahan dengan paman saya ini. Dan biasanya kalau selesai liburan saya pulang ke Jakarta maka paman saya akan memberikan uang jajan ke saya dengan pesan jangan bilang ke bibi kalau paman sudah memberi uang, sehingga akhirnya saya dapat jatah dobel. Dari bibi dan paman, bahkan juga dari kakek. Saya rasanya merasa sangat kaya.

Pada saat pemilihan Kades (Kepala Desa, di kota namanya Lurah), di desa Kades dipilih langsung oleh warganya. Banyak orang yang datang ke rumah kami mencalonkan paman saya untuk ikut pemilihan ini. Belum ada sejarah di kampung kami, Kades bukan asli dari kampung kami. Paman saya tidak mau, karena dia bilang dia tidak memiliki kekayaan sebesar Kades yang saat itu menjabat sehingga beliau tidak bisa menyumbang mesjid, olah raga atau yang lainnya sebesar Kades yang saat itu menjabat. Kita sebenarnya tahu darimana sebagian besar uang Kades itu berasal. Saat itu di desa kami sedang giat-giatnya dibangun banyak pabrik dimana tanahnya dibeli dari penduduk kampung dan mungkin dari tanah adat di kampung kami.

Tapi tetap paman saya tidak mau. Dia beranggapan seseorang harus memiliki cukup materi dahulu sebelum jadi Kades sehingga bisa menyumbang dengan baik dari kantng sendiri. Dan tentu saja, beliau tidak akan pernah bisa jadi Kades karena saya tahu gajinya pas-pasan. Kalau saat itu saya sudah cukup besar mungkin saya akan mencoba meyakinkan paman saya untuk tetap maju mencalonkan diri. Toh Nabi Muhammmadpun jadi kepala pemerintahan, padahal beliau tidak memiliki kekayaan. Bahkan tidurnyapun di tikar saja. Mohon maaf bagi yang bukan muslim, karena saya kurang tahu pemimpin lain yang sesederhana Nabi Muhammad. Mungkin bisa juga disebut Nelson Mandela yang bekas orang tahanan yang jadi presiden di Afsel atau Xanana Gusmao yang juga bekas tahanan Orba.

Kalaupun paman saya tidak dianggap sukses dalam hidupnya. Paling tidak dia secara tidak sadar sukses memberi contoh kepada saya dan mungkin anak-anaknya serta orang lain yang mengenalnya untuk selalu jadi orang jujur dan lurus. Dan mudah-mudahan saya juga mampu mencontohkannya kepada dua jagoan saya di rumah..

Begitulah sekelumit tentang paman saya, seorang tentara berpangkat peltu berhati jendral. Mudah-mudahan cerita ini bisa jadi contoh buat kita semua.


Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King