bisnis orang tionghoa
Seringkali dalam menjalani hidup sebagai pengusaha lemah saya sering mengalami saat-saat depresi, kehilangan harapan dan rasanya semuanya buntu. Dan biasanya semangat datang dari tempat tak terduga.
Suatu saat saya mengalami situasi seperti ini. Secara tidak sengaja saya ngobrol dengan seorang Tionghoa pemilik toko peralatan listrik. Kebetulan saya beli lampu untuk di rumah yang kebetulan putus.
Saya liat toko ini laku banget. Padahal letaknya cukup terpencil dibandingkan toko-toko lain. Bahkan di komplek ruko ini, dekat rumah saya, kalau tidak salahada 3 atau 4 toko yang menjual peralatan listrik juga. Dan toko-toko itu jauh larisnya dibanding toko ini. Dan tentu saja dari kesemua toko peralatan listrik ini, cuma dia yang orang tionghoa.
Tentu saja ada alasan kenapa dia laris yaitu harga2nya jauh lebih murah dari toko2 lain.
Saya tanya ke si Engkoh ini dengan bercanda,"Koh kok enak amat lo jualan laku banget?
Engkoh:"Lo liatnya sekarang sih udah rame begini, coba lo liat beberapa tahun lalu, dagangan gue nggak laku."
Imam:"Ah masa Koh?"
Engkoh:"Iya, sampe 4 tahun pertama, bisnis gue susah banget. Gue dulu punya dua mobil, mobil gue abis gue jual buat makan. Kalau orang lain jual beli mobil, gue jual mobil doang".
Imam: "Gue pikir bisnis lo langsung rame Koh?"
Engkoh:"Ah elo! Waktu tahun-tahun awal dagang, kerja gue ngelamun nungguin pembeli di kursi panjang di depan toko gue. Gue kan dulu kerja di bank X (saya lupa nama banknya) yang sekarang udah dilikuidasi. Terus lagi gue ngelamun gitu, temen gue di bank dulu dateng ke toko ini. Dia kasihan lihat toko gue nggak ada yang beli. Dia ngajak gue gue kerja lagi dengan gaji RpX juta dan dikasih mobil dan uang bensin. Gue nggak mau. Gue penasaran sama bisnis gue. Gue pikir kalo udah 4 tahun bisnis gue akan lebih baik. Bener juga, setelah 4 tahun, dagangan gue mulai laris."
Memang toko si engkoh ini laris banget, sampai-sampai tokonya penuh dengan dagangan yaitu kabel listrik, pipa paralon untuk kabel, lampu-lampu dsb. Sehingga kalau mau masuk ke dalam tokonya, badan kita harus dimiringkan, saking penuh dagangannya berserakan.
Moral of the story: bisnis mesti sabar, nafas mesti panjang, harga dagangan mesti murah. Begitulah cara orang tionghoa berdagang.