imamrasyidi

August 27, 2006

Prof Dr Moh Arsyad Anwar

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 11:59 am

Nama saya Imam Rasyidi. Saya adalah kontraktor rumah tinggal. Website usaha saya:  www.rii-kontraktor.com, email: irasyidi@yahoo.com, HP: 0816-997922, 021-70727840
________________________________________________________________________

Saya berbahagia menjadi alumni FEUI yang telah mensupply republik ini dengan orang-orang yang telah memainkan peranan penting di Indonesia. Saat ini FEUI bukan hanya mensupply dalam jumlah yang banyak negeri ini dengan teknokrat dan eksekutif, tapi juga politisi. Saya kira para tokoh ini telah dihargai publik dengan cukup baik. Dengan jabatan, kekuasaan, kepopuleran dan tentu saja kesejahteraan. Tapi sebagai almuni FEUI saya merasa ada orang-orang yang seharusnya mendapatkan penghargaan yang lebih baik yang kurang diketahui publik. Salah satunya adalah Prof Dr. Moh. Arsyad Anwar ini atau nama akrabnya. pak Arsyad.

Buat sebagian besar orang, Pak Arsyad bukanlah figure yang menarik. Orangnya terlalu kaku, pendiam, jarang bicara, kalaupun bicara hanya menyangkut topic-topik ekonomi yang tidak menarik. Kalaupun orang tercengang, dikarenakan oleh penguasaannya atas nomor-nomor klasifikasi industri (kalau nggak salah namanya ISIC atau SITC). Beliau hafal nomor-nomor ini seperti hafiz Al Quran yang hafal surat dalam Al Quran, yang diputar kaya apapun tahu nomor dan nama klasifikasinya.

Pak Arsyad tidak flamboyan dan tidak seterkenal Prof Dr. Dorodjatun Kuncoro-Jakti dan Prof. Dr. Sri-Edi Swasono, juga tidak sekharismatis  dan segila kerja Dr. Iwan Jaya Azis. Gayanya khas termasuk senyumnya yang seperti geli tertahan.

Tapi buat saya Pak Arsyad sama menariknya dengan orang-orang di atas, malah menurut saya under appreciated. Buat saya pak Arsyad mencerminkan ilmuwan serius yang sangat hati-hati. Yang tidak mau berbicara sembarangan di luar bidang yang dia kuasai. Yang mencari akar masalah sampai ke dasar. Dan mau melakukan dirty work yang ekonom lain diserahkan saja ke BPS (Biro Pusat Statistik) atau orang yang melakukan survey.

Saya kagum dengan pengetahuannya akan data-data dasar dari BPS. Bahkan beliau tahu kelemahan dari hasil survey yang dibuat dan bisa memperkirakan seberapa jauh angkanya meleset. Harap diingat tulisan ini dibuat oleh orang yang sudah lebih dari satu decade meninggalkan dunia penelitian ekonomi.

Dalam berbahasapun beliau mencoba mencari padanan kata-kata dari istilah-istilah berbahasa Inggris. Ada beberapa kata ekonomi makro yang beliau buat terjemahannya yang sayangnya saya sudah lupa (kalau ada yang masih ingat, mohon bantuannya). Sementara ekonom lain, banyak sekali pakai istilah bahasa Inggris, padahal istilah Indonesianya ada. Malah seringkali saking banyaknya pakai istilah Inggris, anak saya suka heran melihat di TV orang berbicara, dia bilang orang yang ngomong itu pakai bahasa Inggris atau Indonesia. Walaupun sebenarnya saya juga sama aja sih, sok Inggris-inggrisan, sekali diajak bicara Inggris, corned beef dibilang kornet beef, dasar melayu.

Beliau tidak memakai model-model ekonometri yang canggih tapi mungkin hanya memakai kalkulator jaman dulu. Tapi saya lebih percaya prediksinya Pak Arsyad daripada yang lain.

Sampai saat  ini saya belum melihat ada ekonom yang mengikuti jejak Pak Arsyad. Mungkin juga ada tetapi memang orang seperti Pak Arsyad agak susah dideteksi oleh orang awam yang tidak bergelut langsung di dunia penelitian ekonomi. Mudah-mudahan ekonom muda yang saya belum kenal ada yang bisa mencontoh Pak Arsyad. Tentu saja tidak semua ekonom harus seperti pak Arsyad. Tapi rasanya tidak lengkap kalau ekonom alumni FEUI jadi pengamat ekonomi popular, politisi dan birokrat tanpa dibarengi dengan amunisi yang mematikan yang disuplly oleh ekonom peneliti yang bekerja di belakang layar. Selayaknyalah kita menghargai para ekonom seperti ini dengan lebih proporsional.

Pak Arsyad merupakan tipikal ilmuwan yang saya kagumi. Sama seperti saya mengagumi Prof  Sartono Kartosudirjo, sejarawan UGM yang tesisnya mengenai pemberontakan Banten. Pak Sartonolah yang mengungkapkan istilah asketisme intelektual. Suatu sikap ilmuwan yang tidak terobsesi dengan popularitas dan mencari kebenaran secara serius serta menghayati peran keilmuwanannya dengan baik.

Tulisan ini tentu saja bukan obituari, malah saya doakan semoga beliau panjang umur dan sehat selalu. Ini sekedar kenangan seorang mahasiswa akan dosennya dan sudah selayaknya kita mulai menghargai orang-orang yang seluruh usia produktifnya melakukan sesuatu yang serius. Seperti di luar negeri sana dimana orang-orang tua yang berjasa dihargai life time achievement award.

 

_______________________________________________________________

Saya adalah seorang lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang nyasar menjadi kontraktor rumah. Saya percaya bahwa dengan jujurpun kita bisa sukses. Malah mungkin sukses dunia akhirat. Karena  itu moto usaha kontraktor rumah yang saya bangun bersama dua orang teman lainnya (salah seorang partner saya adalah insinyur sipil) adalah jujur, nyaman, hemat. Mudah-mudahan melalui usaha kontraktor rumah ini kami bisa sedikit berkontribusi untuk bangsa ini. Rumah yang sudah kami bangun tersebar di sekitar Jakarta, Bogor, Banten, Depok dan Bekasi. Hasil karya kami dapat dilihat di www.rii-kontraktor.com. Alamat email saya: irasyidi@yahoo.com. HP: 0816-997922 dan 021-70727840

 

August 19, 2006

Visi dan Kesabaran

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 11:54 am

Saya sering melihat banyak bisnis kecil yang bagus, dalam arti pelanggan terus mengalir, keuntungan terus didapat, tetapi bisnis ini tidak bisa membesar. Saya sering bertanya-tanya apa yang menyebabkan hal ini terjadi. Misalnya bengkel kecil yang terus kecil walaupun memiliki pelanggan yang loyal dan selalu ada mobil yang berobat. Saya melihat warung kecil yang enak dan murah terus kecil, walaupun pelanggannya lumayan banyak dan sangat setia, bahkan ada tukang nasi uduk langganan saya yang tidak berdagang selama empat bulan. Tapi ketika dia buka, pelanggannya akan datang lagi. Demikian juga dengan tukang nasi goreng langganan saya, seringkali tutup karena pulang kampung, tetapi ketika buka, dagangan selalu habis.

Ada lagi tukang alat listrik yang ceritanya bisa dibaca di artikel berjudul bisnis orang tionghoa. Walaupun sekarang dia sangat mapan, bahkan untuk ukuran manajer yang bekerja di perusahaan multinasional sekalipun.Tadinya dia tinggal di rukonya. Sekarang dia tinggal di Kota Wisata Cibubur, katanya karena anaknya ingin tinggal di rumah beneran, padahal dia suka-suka aja tinggal di rukonya. Dia juga memiliki tanah beberapa ribu meter di sekitar Cibubur yang harga tanahnya udah jutaan per meternya. Tapi bisnis orang ini saya lihat tetap seperti itu. Dan saya prediksikan akan tidak jauh berbeda dari sekarang.

Ada lagi toko material yang tadinya lahannya sewa dari orang kampung. Sekarang tanahnya sudah dia miliki sendiri, sekitar 2.000 m2. Dagangannya laku banget, bahkan pelanggannya sampai ke Cikarang. Tapi saya lihat bisnisnya ya mentok sebesar itu saja.

Sekarang apa yang menyebabkan suatu bisnis kecil bisa membesar seperti Kalbe Farma, Garuda Food (yang cuma jualan kacang), Melawai (yang punya optik dan apotik), Blue Bird, Kompas Gramedia, Star Buck (yang cuma jualam kopi), Dell (yang merakit computer mirip  seperti orang di Glodok), Microsoft (yang cuma diberi modal US$1,000 oleh ibunya) dll, sementara yang di atas saya sebutkan tetap kecil walaupun sehat?

Saya pikir mungkin visi yang membawa bisnis ini besar. Pengusaha yang memiliki visi akan bisnisnya bisa membayangkan akan seperti apa nantinya produknya diterima oleh masyarakat. Bill Gates membayangkan bahwa tiap rumah akan memiliki satu computer pada saat computer besarnya segede kamar mandi dengan kekuatan hanya sepersekian PC yang sekarang ada. Howard Schultz membayangkan orang akan datang ke Starbuck untuk menikmati kopi yang berkelas dan suasana yang cozy pada saat kopi hanya dikonsumsi sebagian kecil orang Amerika, itupun kopi yang tidak bermutu dan berharga murah.

Pengusaha yang tetap kecil menganggap produknya semata-mata sebagai komoditi yang saingannya banyak banget atau ketidakmampuan untuk mereplikasi bisnis di tempat lain. Tukang nasi uduk langganan saya tidak bisa membayangkan bahwa ada orang yang cuma jualan ayam goreng tapi bisa ada di banyak negara atau ada yang cuma bikin burger tapi bisa bikin iklan mahal di TV dan outletnya ada dimana-mana. Atau ada yang jualan kopi yang secangkirnya bisa Rp50,000.

Pengusaha kecil ini tidak memiliki visi mungkin karena tingkat pendidikannya sehingga mereka tidak memiliki referensi yang luas mengenai dunia bisnis.

Di pihak lain, banyak orang-orang berpendidikan perguruan tinggi seperti saya yang tadinya bekerja kemudian mencoba menjadi pengusaha, jarang yang berhasil terus jadi pengusaha karena keburu KO bisnisnya tidak jalan atau kehabisan bensin. Ada beberapa penyebab dari kegagalan ini.

Pertama, tidak focus pada satu bisnis. Seringkali saya ketemu orang yang dengan bangganya mengatakan saya punya bisnis batubara, jual asset property, bisnis pendanaan dari bank, mencari investor, bisnis rekanan pemerintah, jual beli kapal dll. Memang ada profesi yang namanya “dealer wheeler” yaitu orang yang bekerja jadi broker segala macam atau bahasa premannya “apa yang lu mau gue ada”. Di Indonesia memang ada orang yang sukses jadi broker seperti ini. Mungkin juga karena Indonesianya masih seperti ini. Dimana corporate governance masih lemah.

Tapi kebanyakan yang saya tahu, orang berprofesi seperti ini akan tumbang atau akan selama-lamanya menjabat profesi ini.

Kedua, terlalu cepat berganti bisnis. Ada orang yang pertama kali bertemu saya dia bilang bisnisnya restoran, ketemu yang kedua kali dia bilang bisnisnya jual beli property, yang ketiga telekomunikasi, keempat rekanan departemen perumahan rakyat dsb.

Menurut saya kalau kita terlalu cepat berganti bisnis maka kita tidak akan pernah bisa menguasai suatu bisnis. Ada orang yang tertimpa suatu masalah dalam bisnis yang baru digelutinya kemudian langsung berganti bisnis baru. Kemudian di bisnis berikutnya dia kena masalah lagi, berganti bisnis lagi. Jadi proses learningnya yang mahal itu langsung hilang begitu saja.

Selain itu teman, relasi, calon pelanggan, calon partner bisnis akan sukar mengingat produk yang anda jual atau profesi yang anda jalani karena tiap kali ketemu anda sudah pindah ke bisnis yang lain. Tapi kalau anda ketemu berkali-kali atau tiap menelpon anda masih pada bisnis yang sama maka kalau ingat bikin rumah maka orang akan ingat Imam (he he he jualan dikit). Karena seringkali orang tidak langsung membutuhkan produk atau jasa yang anda jual pada saat bertemu pertama kali, mungkin setahun, dua tahun, lima tahun bahkan sepuluh tahun kemudian baru orang tersebut membutuhkan jasa atau produk anda. Dan anda masih berbisnis yang sama.

Sehingga yang baik menurut saya, apabila kita ketemu suatu masalah dalam bisnis yang baru kita geluti jangan langsung kita menyerah. Kita pertanyakan apakah bisnis yang kita geluti memiliki potensi yang bagus? Apakah kesalahan ini sangat fatal sehingga menyebabkan tidak adanya order sama sekali dari pelanggan, atau menyebabkan proses produksi sama sekali berhenti?

Apabila dua pertanyaan ini bisa dijawab dengan baik. Maka kita teruskan di bisnis ini. Proses seperti ini akan terus kita alami sampai kita pada titik percuma untuk mempertanyakan hal ini dan lebih baik berkonsentrasi mencari order atau memperbaiki proses bisnis kita.

Ketiga nafasnya kurang panjang. Bisnis apapun, apalagi memulai sesuatu yang baru dimana kita sebelumnya tidak punya pengalaman, membutuhkan waktu untuk menarik calon pelanggan. Diperlukan beberapa tahun sampai bisnis anda dikenal orang banyak dan dibeli oleh orang yang memerlukan.

Tapi inti dari ketiga hal di atas menurut saya adalah kesabaran, ketekunan, kekuatan mental berkorban untuk sesuatu yang lebih besar. Seringkali orang-orang yang tadinya pegawai terbiasa bekerja dengan kecepatan tinggi, semuanya sudah tersedia dan hasilnya cepat terlihat. Orang yang langsung bekerja di perusahaan besar, tidak akan pernah mengalami persoalan dengan tidak adanya pekerjaaan yang jelas. Orang yang bekerja di perusahaan besar akan memiliki tanggung jawab yang cukup jelas. Selain itu revenue stream juga sudah sangat jelas.

Bagi orang yang memulai bisnis benar-benar dari nol akan sangat diuji kesabarannya. Seringkali cari pelanggan aja sudah sangat susah, sampai-sampai kita bingung mau ngapain lagi. Sama seperti si Engkoh penjual alat listrik yang bisa ketiduran di kursi panjang di depan tokonya karena seharian pembeli tidak datang. Akhirnya karena tidak tahan dengan tidak adanya aktivitas, kita jadinya mengeluarkan uang untuk hal-hal yang tidak perlu dan wara-wiri nggak jelas dan akhirnya nyangkut jadi “dealer wheeler”.

Kalau kita ingin sukses jadi Direktur Utama di suatu perusahaan besar mungkin yang diperlukan adalah IQ dan EQ yang tinggi. Maka kalau ingin sukses jadi pengusaha yang mulai dari nol dan tidak bisa atau tidak mau KKN, saya kira factor utamanya adalah SQ yang tinggi. SQ ini bisa berarti sabar quotient dan spiritual quotient. Sabar untuk mengikuti perkembangan bisnis yang sangat lambat (tentu saja lambat ini dikarenakan kita terbiasa dengan pendapatan yang besar waktu kita jadi pegawai) dan spiritual karena kita jadi lebih religius. Kenapa jadi lebih religius, karena menurut saya kalau kita jadi pengusaha karena mau jadi kaya raya, saya rasa “it’s not worth it”. Penderitaannya sungguh tidak sebanding dengan kekayaan yang kita kejar.

Apalagi kalau di kehidupan sebelumnya anda adalah seorang eksekutif yang memiliki anak buah yang selalu siap melayani anda, bos yang sangat memanjakan anda, pendapatan yang lumayan cukup untuk membiaya anak istri dan keluarga besar anda, olahraga yang hanya dinikmati kalangan berduit saja, segala macam fasilitas yang menunjang penampilan anda, bepergian ke luar negeri yang akhirnya bagi anda hanya jadi rutinitas saja, penghormatan yang selalu anda dapatkan kala anda bertemu relasi, teman dan keluarga besar anda dll dlll.

Memang yang optimal bagi kita-kita yang tadinya pegawai adalah mengelola bisnis yang sudah berjalan dan kita tinggal membesarkannya dengan diberikan stock option yang cukup besar. Masalahnya adalah susah mencari situasi yang seperti ini. Belum lagi kalau pemegang sahamnya tidak memiliki etika bisnis yang benar. Akhirnya kita jadi menyesali bekerja pindah dari perusahan yang bener ke perusahaan nggak beres. Kalaupun pemegang sahamnya orang yang integritasnya tinggi belum tentu temperamennya cocok dengan kita atau menghargai kita dengan cukup baik.

Akhirnya ujung-ujungnya kita mesti usaha sendiri. Tapi usaha sendiri kan susah banget, apalagi kalau kita belum pengalaman di bisnis yang kita masuki. Kesimpulannya mending jadi pegawai aja deh, pegawai di perusahaan besar, yang etika bisnisnya bagus dan jenjang karirnya jelas. Kecuali tentu saja anda nggak tahan lihat praktek bisnis di Indonesia yang penuh dengan kecurangan sehingga membuahkan ketidakadilan yang parah.


 

August 12, 2006

keramahan yang tulus

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 12:01 pm

Nama saya Imam Rasyidi. Saya adalah kontraktor rumah tinggal. Website usaha saya:  www.rii-kontraktor.com, email: irasyidi@yahoo.com, HP: 0816-997922, 021-70727840
_________________________________________________________

Suatu saat saya harus ketemu klien di rumahnya di daerah Jakarta Selatan. Saya sudah berkali-kali ke rumah klien saya di daerah ini. Sebelum mencapai rumah klien saya ini, ada sebuah mesjid besar dan bagus dengan disain tropis, sehingga matahari terik seperti apapun di dalam mesjid yang tidak berAC ini rasanya nyaman aja karena sirkulasi udaranya yang bagus, apalagi di daerah ini masih lumayan banyak pohonnya.

Sekali-sekali kalau saya datangnya terlalu cepat maka saya mampir ke mesjid untuk shalat kemudian saya duduk-duduk menunggu waktu janjian tiba.

Saat itu saya janji ketemuan klien saya sekitar pukul 07.30 malam, tapi baru jam 07.00 malam saya sudah sampai ke daerah tujuan saya di Jakarta Selatan ini. Akhirnya seperti biasa saya mampir ke mesjid ini sambil menunggu waktu isya datang dan ternyata disana juga sudah menunggu teman saya, seorang arsitek yang juga akan menemui klien saya. Saya lihat di mesjid ini sedang dilangsungkan pengajian bapak-bapak. Pengajian ini selesai pas memasuki waktu isya.

Saya memang agak terheran-heran sedikit karena yang mengikuti pengajian kalau dilihat adalah berasal dari penduduk di kampung sekitar daerah itu dan tidak kelihatan wajah-wajah parlente dan orang kantoran. Padahal sepanjang jalan menuju rumah klien saya ini rumahnya besar-besar dan bagus-bagus.

Setelah shalat isya akhirnya saya dan teman saya duduk-duduk di teras masjid. Saya tidak bisa langsung berangkat karena hujan deras yang mengguyur sehingga walaupun saya mengendarai gerobak kesayangan, saya tetap akan kehujanan karena derasnya hujan.

Rupanya bapak-bapak yang barusan mengaji sebelum shalat isya masih tetap berkumpul bahkan mereka menyiapkan makanan untuk disantap. Saya berusaha untuk tidak terlihat memperhatikan, takut dianggap ingin ikut makan. Saya tidak ingin mengganggu keakraban mereka.

Eh ternyata saya diajak makan bareng. Saya berusaha menolak dan berusaha sibuk mengobrol dengan teman saya ini. Tapi berkali-kali mereka menawari kami ikutan makan bareng. Akhirnya, karena takut dianggap sombong, saya menerima tawaran mereka. Wah ternyata enak juga, makan sukun pakai parutan kelapa ditambah teh manis hangat.

Saya mengucapkan terima kasih banyak karena telah ikut menikmati hidangan. Tapi kalau dipikir-pikir sekarang, rasanya saya kurang sopan terhadap bapak-bapak ini karena saya dan teman saya tersebut sibuk ngobrol berdua dan hanya basa-basi sedikit dengan bapak-bapak ini.

Saat itu sempat terlintas di pikiran saya betapa ramahnya orang-orang ini. Orang-orang ini adalah orang asli daerah itu. Padahal saat ini banyak berita-berita yang kurang enak menyangkut masyarakat di ibukota kita ini. Tapi sambutan mereka terhadap saya dan teman saya sedemikian tulus dan ramah tanpa menanyakan darimana orang tua kami berasal.

Kemudian saya berpikir akankah saya akan memperlakukan mereka seramah itu manakala ada orang yang tidak kelihatan parlente mampir ke mesjid dimana saya tengah asyik mengobrol dengan teman kelas menengah saya. Mungkin tidak. Saya akan kurang memperdulikan tamu yang mampir tersebut. Mudah-mudahan saya diberi kekuatan oleh Yang di Atas untuk dapat memperlakukan manusia tanpa melihat yang dimilikinya. Amiiin

__________________________________________________________ 

Saya adalah seorang lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang nyasar menjadi kontraktor rumah. Saya percaya bahwa dengan jujurpun kita bisa sukses. Malah mungkin sukses dunia akhirat. Karena  itu moto usaha kontraktor rumah yang saya bangun bersama dua orang teman lainnya (salah seorang partner saya adalah insinyur sipil) adalah jujur, nyaman, hemat. Mudah-mudahan melalui usaha kontraktor rumah ini kami bisa sedikit berkontribusi untuk bangsa ini. Rumah yang sudah kami bangun tersebar di sekitar Jakarta, Bogor, Banten, Depok dan Bekasi. Hasil karya kami dapat dilihat di www.rii-kontraktor.com. Alamat email saya: irasyidi@yahoo.com. HP: 0816-997922 dan 021-70727840

August 5, 2006

Melayu dan Tionghoa

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 7:23 am

Topik mengenai melayu dan tionghoa merupakan masalah sensitive. Orang jarang mau mendiskusikan secara terbuka dan terang-terangan. Apalagi mendiskusikannya antara si melayu dan si tionghoa.

Sejak kecil saya sendiri memiliki teman akrab orang tionghoa. Ayah saya sendiri memiliki kawan akrab orang tionghoa, sehingga di keluarga kami pergaulan melayu tionghoa ini bukanlah persoalan. Bahkan di waktu kecil, waktu saya masih SD, saya punya kawan orang tionghoa namanya Apay (saya tidak akan pernah lupa nama ini) yang membela saya dari orang yang tubuhnya lebih besar dari saya. Saya juga punya kawan SD yang namanya Tan Eng Hok yang sering main ke rumah saya. Mungkin ibu saya masih ingat nama-nama yang saya sebutkan di atas. Di lain pihak waktu saya SMP, ada anak tionghoa (nggak usah disebutkan namanya ya) yang badungnya minta ampun, bahkan sampai dikeroyok oleh murid-murid di SMP saya, dan ajaibnya dia tidak kelihatan kesakitan.Jadi menurat saya, dimanapun ada yang baik dan jahat. Ada yang bisa dijadikan teman dan tidak.

Tentu saja teman saya yang melayu lebih banyak dari yang tionghoa, saya rasa itu normal aja.

Kalau membicarakan melayu dan tionghoa ini yang paling cepat terlintas adalah bahwa orang tionghoa menguasai perekonomian Indonesia. Kalau kita lihat profesi pedagang dan pengusaha mayoritas adalah orang tionghoa. Sementara melayu menguasa profesi tentara, pegawai negri, dan tentu saja buruh kasar.

Menurut saya apabila masyarakat kita ingin lebih sehat, situasi seperti ini harus diperbaiki. Si melayu mestinya lebih banyak yang jadi pengusaha dan pedagang sementara si tionghoa juga dibuka untuk menjadi tentara dan pegawai negeri sehingga mereka tidak terkonsentrasi menjadi pedagang dan pengusaha.

Sebenarnya secara umum kalau saya lihat apapun etnisnya, lebih suka orang memilih menjadi pegawai. Saya punya teman orang tionghoa yang dilarang ayahnya untuk jadi kontraktor bangunan seperti ayahnya. Saya juga punya teman orang tionghoa yang ayahnya memiliki bengkel mobil tapi anaknya lebih memilih kerja di pasar modal. Ada juga yang ayahnya memiliki usaha tekstil anaknya kerja di bank.

Ada memang hal-hal sensitive yang harus dikaji kebenarannya yaitu adanya anggapan bahwa orang tionghoa seringkali menghalalkan segala cara dalam bisnisnya. Orang tionghoa dianggap suka berKKN dengan pejabat sehingga ekonomi kita jadi rusak seperti ini. Buat saya sebenarnya ini terjadi karena yang jadi pengusaha kebanyakan ya orang tionghoa, sehingga probabilitas pengusaha yang KKN ya orang tionghoa. Seandainya lebih banyak orang melayu yang pengusaha, tentunya probabilitas pengusaha yang KKN ya orang melayu.

Selain itu pejabat memilih orang tionghoa sebagai partner KKN mungkin dengan alasan bahwa kalaupun mereka jadi pengusaha besar, toh tidak akan menyaingi kekuasaaan si pejabat ini. Seandainya orang tionghoa memiliki akses yang sama untuk jadi pejabat, mungkin pejabat yang melayu ini agak indifferent untuk memilih partner KKNnya.

Yang juga harus disalahkan dalam hal KKN juga si pejabatnya ini, bukan hanya pengusaha tionghoa. Tidak adil kalau kita hanya menyalahkan pengusaha tionghoa saja. Si pejabat yang melayu ini kok enak-enakan KKN. Coba kalau pejabatnya tidak bermental korup, tentunya partnership busuk yang merugikan rakyat ini tidak akan terjadi.

Saya rasa diperlukan keterusterangan yang bersahabat untuk membicarakan masalah sensitive melayu dan tionghoa ini. Agar kita sebagai bangsa yang rakyatnya banyak bisa lebih hidup makmur yang berkeadilan dan memiliki kekuatan untuk ikut mendamaikan dunia.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King