Prof Dr Moh Arsyad Anwar
Nama saya Imam Rasyidi. Saya adalah kontraktor rumah tinggal. Website usaha saya: www.rii-kontraktor.com, email: irasyidi@yahoo.com, HP: 0816-997922, 021-70727840
________________________________________________________________________
Saya berbahagia menjadi alumni FEUI yang telah mensupply republik ini dengan orang-orang yang telah memainkan peranan penting di Indonesia. Saat ini FEUI bukan hanya mensupply dalam jumlah yang banyak negeri ini dengan teknokrat dan eksekutif, tapi juga politisi. Saya kira para tokoh ini telah dihargai publik dengan cukup baik. Dengan jabatan, kekuasaan, kepopuleran dan tentu saja kesejahteraan. Tapi sebagai almuni FEUI saya merasa ada orang-orang yang seharusnya mendapatkan penghargaan yang lebih baik yang kurang diketahui publik. Salah satunya adalah Prof Dr. Moh. Arsyad Anwar ini atau nama akrabnya. pak Arsyad.
Buat sebagian besar orang, Pak Arsyad bukanlah figure yang menarik. Orangnya terlalu kaku, pendiam, jarang bicara, kalaupun bicara hanya menyangkut topic-topik ekonomi yang tidak menarik. Kalaupun orang tercengang, dikarenakan oleh penguasaannya atas nomor-nomor klasifikasi industri (kalau nggak salah namanya ISIC atau SITC). Beliau hafal nomor-nomor ini seperti hafiz Al Quran yang hafal surat dalam Al Quran, yang diputar kaya apapun tahu nomor dan nama klasifikasinya.
Pak Arsyad tidak flamboyan dan tidak seterkenal Prof Dr. Dorodjatun Kuncoro-Jakti dan Prof. Dr. Sri-Edi Swasono, juga tidak sekharismatis dan segila kerja Dr. Iwan Jaya Azis. Gayanya khas termasuk senyumnya yang seperti geli tertahan.
Tapi buat saya Pak Arsyad sama menariknya dengan orang-orang di atas, malah menurut saya under appreciated. Buat saya pak Arsyad mencerminkan ilmuwan serius yang sangat hati-hati. Yang tidak mau berbicara sembarangan di luar bidang yang dia kuasai. Yang mencari akar masalah sampai ke dasar. Dan mau melakukan dirty work yang ekonom lain diserahkan saja ke BPS (Biro Pusat Statistik) atau orang yang melakukan survey.
Saya kagum dengan pengetahuannya akan data-data dasar dari BPS. Bahkan beliau tahu kelemahan dari hasil survey yang dibuat dan bisa memperkirakan seberapa jauh angkanya meleset. Harap diingat tulisan ini dibuat oleh orang yang sudah lebih dari satu decade meninggalkan dunia penelitian ekonomi.
Dalam berbahasapun beliau mencoba mencari padanan kata-kata dari istilah-istilah berbahasa Inggris. Ada beberapa kata ekonomi makro yang beliau buat terjemahannya yang sayangnya saya sudah lupa (kalau ada yang masih ingat, mohon bantuannya). Sementara ekonom lain, banyak sekali pakai istilah bahasa Inggris, padahal istilah Indonesianya ada. Malah seringkali saking banyaknya pakai istilah Inggris, anak saya suka heran melihat di TV orang berbicara, dia bilang orang yang ngomong itu pakai bahasa Inggris atau Indonesia. Walaupun sebenarnya saya juga sama aja sih, sok Inggris-inggrisan, sekali diajak bicara Inggris, corned beef dibilang kornet beef, dasar melayu.
Beliau tidak memakai model-model ekonometri yang canggih tapi mungkin hanya memakai kalkulator jaman dulu. Tapi saya lebih percaya prediksinya Pak Arsyad daripada yang lain.
Sampai saat ini saya belum melihat ada ekonom yang mengikuti jejak Pak Arsyad. Mungkin juga ada tetapi memang orang seperti Pak Arsyad agak susah dideteksi oleh orang awam yang tidak bergelut langsung di dunia penelitian ekonomi. Mudah-mudahan ekonom muda yang saya belum kenal ada yang bisa mencontoh Pak Arsyad. Tentu saja tidak semua ekonom harus seperti pak Arsyad. Tapi rasanya tidak lengkap kalau ekonom alumni FEUI jadi pengamat ekonomi popular, politisi dan birokrat tanpa dibarengi dengan amunisi yang mematikan yang disuplly oleh ekonom peneliti yang bekerja di belakang layar. Selayaknyalah kita menghargai para ekonom seperti ini dengan lebih proporsional.
Pak Arsyad merupakan tipikal ilmuwan yang saya kagumi. Sama seperti saya mengagumi Prof Sartono Kartosudirjo, sejarawan UGM yang tesisnya mengenai pemberontakan Banten. Pak Sartonolah yang mengungkapkan istilah asketisme intelektual. Suatu sikap ilmuwan yang tidak terobsesi dengan popularitas dan mencari kebenaran secara serius serta menghayati peran keilmuwanannya dengan baik.
Tulisan ini tentu saja bukan obituari, malah saya doakan semoga beliau panjang umur dan sehat selalu. Ini sekedar kenangan seorang mahasiswa akan dosennya dan sudah selayaknya kita mulai menghargai orang-orang yang seluruh usia produktifnya melakukan sesuatu yang serius. Seperti di luar negeri sana dimana orang-orang tua yang berjasa dihargai life time achievement award.
_______________________________________________________________
Saya adalah seorang lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang nyasar menjadi kontraktor rumah. Saya percaya bahwa dengan jujurpun kita bisa sukses. Malah mungkin sukses dunia akhirat. Karena itu moto usaha kontraktor rumah yang saya bangun bersama dua orang teman lainnya (salah seorang partner saya adalah insinyur sipil) adalah jujur, nyaman, hemat. Mudah-mudahan melalui usaha kontraktor rumah ini kami bisa sedikit berkontribusi untuk bangsa ini. Rumah yang sudah kami bangun tersebar di sekitar Jakarta, Bogor, Banten, Depok dan Bekasi. Hasil karya kami dapat dilihat di www.rii-kontraktor.com. Alamat email saya: irasyidi@yahoo.com. HP: 0816-997922 dan 021-70727840