imamrasyidi

August 5, 2006

Melayu dan Tionghoa

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 7:23 am

Topik mengenai melayu dan tionghoa merupakan masalah sensitive. Orang jarang mau mendiskusikan secara terbuka dan terang-terangan. Apalagi mendiskusikannya antara si melayu dan si tionghoa.

Sejak kecil saya sendiri memiliki teman akrab orang tionghoa. Ayah saya sendiri memiliki kawan akrab orang tionghoa, sehingga di keluarga kami pergaulan melayu tionghoa ini bukanlah persoalan. Bahkan di waktu kecil, waktu saya masih SD, saya punya kawan orang tionghoa namanya Apay (saya tidak akan pernah lupa nama ini) yang membela saya dari orang yang tubuhnya lebih besar dari saya. Saya juga punya kawan SD yang namanya Tan Eng Hok yang sering main ke rumah saya. Mungkin ibu saya masih ingat nama-nama yang saya sebutkan di atas. Di lain pihak waktu saya SMP, ada anak tionghoa (nggak usah disebutkan namanya ya) yang badungnya minta ampun, bahkan sampai dikeroyok oleh murid-murid di SMP saya, dan ajaibnya dia tidak kelihatan kesakitan.Jadi menurat saya, dimanapun ada yang baik dan jahat. Ada yang bisa dijadikan teman dan tidak.

Tentu saja teman saya yang melayu lebih banyak dari yang tionghoa, saya rasa itu normal aja.

Kalau membicarakan melayu dan tionghoa ini yang paling cepat terlintas adalah bahwa orang tionghoa menguasai perekonomian Indonesia. Kalau kita lihat profesi pedagang dan pengusaha mayoritas adalah orang tionghoa. Sementara melayu menguasa profesi tentara, pegawai negri, dan tentu saja buruh kasar.

Menurut saya apabila masyarakat kita ingin lebih sehat, situasi seperti ini harus diperbaiki. Si melayu mestinya lebih banyak yang jadi pengusaha dan pedagang sementara si tionghoa juga dibuka untuk menjadi tentara dan pegawai negeri sehingga mereka tidak terkonsentrasi menjadi pedagang dan pengusaha.

Sebenarnya secara umum kalau saya lihat apapun etnisnya, lebih suka orang memilih menjadi pegawai. Saya punya teman orang tionghoa yang dilarang ayahnya untuk jadi kontraktor bangunan seperti ayahnya. Saya juga punya teman orang tionghoa yang ayahnya memiliki bengkel mobil tapi anaknya lebih memilih kerja di pasar modal. Ada juga yang ayahnya memiliki usaha tekstil anaknya kerja di bank.

Ada memang hal-hal sensitive yang harus dikaji kebenarannya yaitu adanya anggapan bahwa orang tionghoa seringkali menghalalkan segala cara dalam bisnisnya. Orang tionghoa dianggap suka berKKN dengan pejabat sehingga ekonomi kita jadi rusak seperti ini. Buat saya sebenarnya ini terjadi karena yang jadi pengusaha kebanyakan ya orang tionghoa, sehingga probabilitas pengusaha yang KKN ya orang tionghoa. Seandainya lebih banyak orang melayu yang pengusaha, tentunya probabilitas pengusaha yang KKN ya orang melayu.

Selain itu pejabat memilih orang tionghoa sebagai partner KKN mungkin dengan alasan bahwa kalaupun mereka jadi pengusaha besar, toh tidak akan menyaingi kekuasaaan si pejabat ini. Seandainya orang tionghoa memiliki akses yang sama untuk jadi pejabat, mungkin pejabat yang melayu ini agak indifferent untuk memilih partner KKNnya.

Yang juga harus disalahkan dalam hal KKN juga si pejabatnya ini, bukan hanya pengusaha tionghoa. Tidak adil kalau kita hanya menyalahkan pengusaha tionghoa saja. Si pejabat yang melayu ini kok enak-enakan KKN. Coba kalau pejabatnya tidak bermental korup, tentunya partnership busuk yang merugikan rakyat ini tidak akan terjadi.

Saya rasa diperlukan keterusterangan yang bersahabat untuk membicarakan masalah sensitive melayu dan tionghoa ini. Agar kita sebagai bangsa yang rakyatnya banyak bisa lebih hidup makmur yang berkeadilan dan memiliki kekuatan untuk ikut mendamaikan dunia.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King