imamrasyidi

August 19, 2006

Visi dan Kesabaran

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 11:54 am

Saya sering melihat banyak bisnis kecil yang bagus, dalam arti pelanggan terus mengalir, keuntungan terus didapat, tetapi bisnis ini tidak bisa membesar. Saya sering bertanya-tanya apa yang menyebabkan hal ini terjadi. Misalnya bengkel kecil yang terus kecil walaupun memiliki pelanggan yang loyal dan selalu ada mobil yang berobat. Saya melihat warung kecil yang enak dan murah terus kecil, walaupun pelanggannya lumayan banyak dan sangat setia, bahkan ada tukang nasi uduk langganan saya yang tidak berdagang selama empat bulan. Tapi ketika dia buka, pelanggannya akan datang lagi. Demikian juga dengan tukang nasi goreng langganan saya, seringkali tutup karena pulang kampung, tetapi ketika buka, dagangan selalu habis.

Ada lagi tukang alat listrik yang ceritanya bisa dibaca di artikel berjudul bisnis orang tionghoa. Walaupun sekarang dia sangat mapan, bahkan untuk ukuran manajer yang bekerja di perusahaan multinasional sekalipun.Tadinya dia tinggal di rukonya. Sekarang dia tinggal di Kota Wisata Cibubur, katanya karena anaknya ingin tinggal di rumah beneran, padahal dia suka-suka aja tinggal di rukonya. Dia juga memiliki tanah beberapa ribu meter di sekitar Cibubur yang harga tanahnya udah jutaan per meternya. Tapi bisnis orang ini saya lihat tetap seperti itu. Dan saya prediksikan akan tidak jauh berbeda dari sekarang.

Ada lagi toko material yang tadinya lahannya sewa dari orang kampung. Sekarang tanahnya sudah dia miliki sendiri, sekitar 2.000 m2. Dagangannya laku banget, bahkan pelanggannya sampai ke Cikarang. Tapi saya lihat bisnisnya ya mentok sebesar itu saja.

Sekarang apa yang menyebabkan suatu bisnis kecil bisa membesar seperti Kalbe Farma, Garuda Food (yang cuma jualan kacang), Melawai (yang punya optik dan apotik), Blue Bird, Kompas Gramedia, Star Buck (yang cuma jualam kopi), Dell (yang merakit computer mirip  seperti orang di Glodok), Microsoft (yang cuma diberi modal US$1,000 oleh ibunya) dll, sementara yang di atas saya sebutkan tetap kecil walaupun sehat?

Saya pikir mungkin visi yang membawa bisnis ini besar. Pengusaha yang memiliki visi akan bisnisnya bisa membayangkan akan seperti apa nantinya produknya diterima oleh masyarakat. Bill Gates membayangkan bahwa tiap rumah akan memiliki satu computer pada saat computer besarnya segede kamar mandi dengan kekuatan hanya sepersekian PC yang sekarang ada. Howard Schultz membayangkan orang akan datang ke Starbuck untuk menikmati kopi yang berkelas dan suasana yang cozy pada saat kopi hanya dikonsumsi sebagian kecil orang Amerika, itupun kopi yang tidak bermutu dan berharga murah.

Pengusaha yang tetap kecil menganggap produknya semata-mata sebagai komoditi yang saingannya banyak banget atau ketidakmampuan untuk mereplikasi bisnis di tempat lain. Tukang nasi uduk langganan saya tidak bisa membayangkan bahwa ada orang yang cuma jualan ayam goreng tapi bisa ada di banyak negara atau ada yang cuma bikin burger tapi bisa bikin iklan mahal di TV dan outletnya ada dimana-mana. Atau ada yang jualan kopi yang secangkirnya bisa Rp50,000.

Pengusaha kecil ini tidak memiliki visi mungkin karena tingkat pendidikannya sehingga mereka tidak memiliki referensi yang luas mengenai dunia bisnis.

Di pihak lain, banyak orang-orang berpendidikan perguruan tinggi seperti saya yang tadinya bekerja kemudian mencoba menjadi pengusaha, jarang yang berhasil terus jadi pengusaha karena keburu KO bisnisnya tidak jalan atau kehabisan bensin. Ada beberapa penyebab dari kegagalan ini.

Pertama, tidak focus pada satu bisnis. Seringkali saya ketemu orang yang dengan bangganya mengatakan saya punya bisnis batubara, jual asset property, bisnis pendanaan dari bank, mencari investor, bisnis rekanan pemerintah, jual beli kapal dll. Memang ada profesi yang namanya “dealer wheeler” yaitu orang yang bekerja jadi broker segala macam atau bahasa premannya “apa yang lu mau gue ada”. Di Indonesia memang ada orang yang sukses jadi broker seperti ini. Mungkin juga karena Indonesianya masih seperti ini. Dimana corporate governance masih lemah.

Tapi kebanyakan yang saya tahu, orang berprofesi seperti ini akan tumbang atau akan selama-lamanya menjabat profesi ini.

Kedua, terlalu cepat berganti bisnis. Ada orang yang pertama kali bertemu saya dia bilang bisnisnya restoran, ketemu yang kedua kali dia bilang bisnisnya jual beli property, yang ketiga telekomunikasi, keempat rekanan departemen perumahan rakyat dsb.

Menurut saya kalau kita terlalu cepat berganti bisnis maka kita tidak akan pernah bisa menguasai suatu bisnis. Ada orang yang tertimpa suatu masalah dalam bisnis yang baru digelutinya kemudian langsung berganti bisnis baru. Kemudian di bisnis berikutnya dia kena masalah lagi, berganti bisnis lagi. Jadi proses learningnya yang mahal itu langsung hilang begitu saja.

Selain itu teman, relasi, calon pelanggan, calon partner bisnis akan sukar mengingat produk yang anda jual atau profesi yang anda jalani karena tiap kali ketemu anda sudah pindah ke bisnis yang lain. Tapi kalau anda ketemu berkali-kali atau tiap menelpon anda masih pada bisnis yang sama maka kalau ingat bikin rumah maka orang akan ingat Imam (he he he jualan dikit). Karena seringkali orang tidak langsung membutuhkan produk atau jasa yang anda jual pada saat bertemu pertama kali, mungkin setahun, dua tahun, lima tahun bahkan sepuluh tahun kemudian baru orang tersebut membutuhkan jasa atau produk anda. Dan anda masih berbisnis yang sama.

Sehingga yang baik menurut saya, apabila kita ketemu suatu masalah dalam bisnis yang baru kita geluti jangan langsung kita menyerah. Kita pertanyakan apakah bisnis yang kita geluti memiliki potensi yang bagus? Apakah kesalahan ini sangat fatal sehingga menyebabkan tidak adanya order sama sekali dari pelanggan, atau menyebabkan proses produksi sama sekali berhenti?

Apabila dua pertanyaan ini bisa dijawab dengan baik. Maka kita teruskan di bisnis ini. Proses seperti ini akan terus kita alami sampai kita pada titik percuma untuk mempertanyakan hal ini dan lebih baik berkonsentrasi mencari order atau memperbaiki proses bisnis kita.

Ketiga nafasnya kurang panjang. Bisnis apapun, apalagi memulai sesuatu yang baru dimana kita sebelumnya tidak punya pengalaman, membutuhkan waktu untuk menarik calon pelanggan. Diperlukan beberapa tahun sampai bisnis anda dikenal orang banyak dan dibeli oleh orang yang memerlukan.

Tapi inti dari ketiga hal di atas menurut saya adalah kesabaran, ketekunan, kekuatan mental berkorban untuk sesuatu yang lebih besar. Seringkali orang-orang yang tadinya pegawai terbiasa bekerja dengan kecepatan tinggi, semuanya sudah tersedia dan hasilnya cepat terlihat. Orang yang langsung bekerja di perusahaan besar, tidak akan pernah mengalami persoalan dengan tidak adanya pekerjaaan yang jelas. Orang yang bekerja di perusahaan besar akan memiliki tanggung jawab yang cukup jelas. Selain itu revenue stream juga sudah sangat jelas.

Bagi orang yang memulai bisnis benar-benar dari nol akan sangat diuji kesabarannya. Seringkali cari pelanggan aja sudah sangat susah, sampai-sampai kita bingung mau ngapain lagi. Sama seperti si Engkoh penjual alat listrik yang bisa ketiduran di kursi panjang di depan tokonya karena seharian pembeli tidak datang. Akhirnya karena tidak tahan dengan tidak adanya aktivitas, kita jadinya mengeluarkan uang untuk hal-hal yang tidak perlu dan wara-wiri nggak jelas dan akhirnya nyangkut jadi “dealer wheeler”.

Kalau kita ingin sukses jadi Direktur Utama di suatu perusahaan besar mungkin yang diperlukan adalah IQ dan EQ yang tinggi. Maka kalau ingin sukses jadi pengusaha yang mulai dari nol dan tidak bisa atau tidak mau KKN, saya kira factor utamanya adalah SQ yang tinggi. SQ ini bisa berarti sabar quotient dan spiritual quotient. Sabar untuk mengikuti perkembangan bisnis yang sangat lambat (tentu saja lambat ini dikarenakan kita terbiasa dengan pendapatan yang besar waktu kita jadi pegawai) dan spiritual karena kita jadi lebih religius. Kenapa jadi lebih religius, karena menurut saya kalau kita jadi pengusaha karena mau jadi kaya raya, saya rasa “it’s not worth it”. Penderitaannya sungguh tidak sebanding dengan kekayaan yang kita kejar.

Apalagi kalau di kehidupan sebelumnya anda adalah seorang eksekutif yang memiliki anak buah yang selalu siap melayani anda, bos yang sangat memanjakan anda, pendapatan yang lumayan cukup untuk membiaya anak istri dan keluarga besar anda, olahraga yang hanya dinikmati kalangan berduit saja, segala macam fasilitas yang menunjang penampilan anda, bepergian ke luar negeri yang akhirnya bagi anda hanya jadi rutinitas saja, penghormatan yang selalu anda dapatkan kala anda bertemu relasi, teman dan keluarga besar anda dll dlll.

Memang yang optimal bagi kita-kita yang tadinya pegawai adalah mengelola bisnis yang sudah berjalan dan kita tinggal membesarkannya dengan diberikan stock option yang cukup besar. Masalahnya adalah susah mencari situasi yang seperti ini. Belum lagi kalau pemegang sahamnya tidak memiliki etika bisnis yang benar. Akhirnya kita jadi menyesali bekerja pindah dari perusahan yang bener ke perusahaan nggak beres. Kalaupun pemegang sahamnya orang yang integritasnya tinggi belum tentu temperamennya cocok dengan kita atau menghargai kita dengan cukup baik.

Akhirnya ujung-ujungnya kita mesti usaha sendiri. Tapi usaha sendiri kan susah banget, apalagi kalau kita belum pengalaman di bisnis yang kita masuki. Kesimpulannya mending jadi pegawai aja deh, pegawai di perusahaan besar, yang etika bisnisnya bagus dan jenjang karirnya jelas. Kecuali tentu saja anda nggak tahan lihat praktek bisnis di Indonesia yang penuh dengan kecurangan sehingga membuahkan ketidakadilan yang parah.


 

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King