imamrasyidi

September 26, 2006

harga beras dan kemiskinan

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 11:54 am

Saya baru baca dari majalah the Economist tanggal 14 September 2006 bahwa menurut World Bank harga beras di Indonesia terlalu tinggi dan salah satu factor penyebab kemiskinan: “A report on the subject being prepared by the World Bank argues that artificially high rice prices are much more to blame than the effects of the fuel-price increase. This is because most poor people spend a quarter of their earnings on rice, which has risen in price by more than a third in the past year. Keeping domestic rice prices higher than international prices by severely limiting imports makes little sense, the World Bank argues. It claims that 75% of the poor earn their living from agriculture but that at least 75% of the poor are net rice consumers.”

Kalaupun analisis ini benar saya tahu pasti SBY tidak akan membuat kebijakan yang menurunkan harga beras karena tentu saja beliau tidak senaif itu membuat kebijakan yang akan menyebabkan kegemparan di media massa. Para petani mungkin tidak akan marah dan hanya pasrah saja. Yang akan mengambil kesempatan paling-paling para politisi yang berusaha untuk “memihak para petani”.

Saya sendiri berpendapat ada hal yang lebih penting dan berperan besar untuk menurunkan tingkat kemiskinan di Indonesia yaitu …..korupsi. Bosen ah, mungkin ada yang bilang begitu. Saya tidak akan bosen mewacanakan ini. Mungkin saya mesti lebih kreatif lagi untuk membuat korupsi lebih disadari oleh masyarakat, atau paling tidak oleh yang baca artikel ini, sebagai musuh utama nomor 1 di Indonesia.

Mestinya SBY lebih kreatif menyadarkan masyarakat yang dipimpinnya untuk bersama-sama memerangi korupsi. Saya sangat yakin yang dapat untung dari korupsi hanya sebagian kecil dari orang di Indonesia. Jauh lebih banyak yang kena mudaratnya.

Buat sebagian besar masyarakat saat ini, korupsi seolah-olah tidak berpengaruh terhadap kehidupan keseharian mereka. Buat masyarakat bawah, dengan keterbatasan pendidikannya, sukar untuk mencerna bahwa koruptorlah yang menyebabkan mereka tetap miskin. Kalaupun menyadari, mereka bingung bagaimana menyikapinya. Lha wong mikirin makan sehari-hari aja udah puyeng.

Buat kelas menengah, hidupnya sudah cukup nyaman dengan segala kenikmatan dari kehidupan kelas menengah yaitu clubbing, rumah dan kendaraan yang adem dan kinclong, liburan yang selalu dinanti dsb. Pokoknya jangan sampai kenyamanan ini berlalu begitu saja.

Buat kelas elit yang menguasai perekonomian apalagi. Yah paling susah kalau negeri ini tidak stabil. Itu berarti pundi-pundinya tidak akan bertambah. Walaupun buat kalangan elit ini, kalau ada kerusuhan ya tinggal naik helicopter ke bandara atau naik pesawat pribadi dan tinggal di Singapur sana.

Secara fisik memang kelas menengah yang kenyamanannya akan terganggung apabila ada ketidakstabilan di negeri kita. Karena itu marilah para kelas menengah untuk lebih memperjuangkan Negara kita untuk bersih dari korupsi karena kalau kemiskinan semakin parah, kerusuhan social akan bisa terjadi lagi. Perusahaan besar dimana anda bekerja akan menutup usahanya karena situasi tidak kondusif.

September 15, 2006

karepe diem

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 11:50 am

Nama saya Imam Rasyidi. Saya adalah kontraktor rumah tinggal. Website usaha saya:  www.rii-kontraktor.com, email: irasyidi@yahoo.com, HP: 0816-997922, 021-70727840

_____________________________________________________________

Maksud saya carpe diem atau seize the day. Kalau
pernah nonton film lama kalau nggak salah judulnya
Dead Poet Society yang dibintangi Robin Williams, ada
istilah ini di film itu.

Saya tidak tahu persis maksud carpe diem ini. Tapi
buat saya ini berarti ajakan untuk menikmati hidup
saat ini. Banyak orang terjebak dengan luka dan
penderitaan masa lalu dan kecemasan akan masa datang
dan lupa untuk menikmati hidup saat ini, detik ini.

Menikmati hidup saat ini bukan berarti berperilaku
hedonis. Orang berperilaku hedonis mungkin karena
nafsunya yang tidak dapat dibendung, yang kita tahu
apa akibatnya kalau tidak bisa dikontrol. Mungkin
karena balas dendam dengan masa lalu yang susah
sehingga saat ini ingin menikmati dunia dan mungkin
juga ketakutan bahwa masa depan tidak akan lagi
diperoleh kenikmatan yang saat ini ada.

Yang saya maksudkan adalah lebih menikmati kekinian
dan mensyukuri bahwa saat ini kita bisa hidup. Bisa
makan dengan baik, sementara yang sakit walaupun
uangnya trilyunan tidak bisa menikmati enaknya
makanan. Masih memiliki panca indra, sementara tidak
diberikan penglihatan saja, kita akan rasanya susah
sekali. Masih memiliki keluarga, sementara yang
terkena tsunami kehilangan hartanya yang sangat
berharga yaitu anaknya, orang tuanya atau saudaranya.

Memang susah menikmati kekinian karena manusia umumnya
merasa kehilangan yang telah berlalu atau membayangkan
nikmatnya masa depan yang belum tentu tercapai.
Sebagai salah satu cara untuk dapat menikmati masa
kini coba anda bayangkan apabila anda yang sehat
tergeletak sakit atau tidak perlu tergeletak, cukup
dengan diberi sakit gatal yang susah hilangnya atau
susah buang air besar. Bagi yang punya penglihatan,
coba anda bayangkan bagaimana repotnya kalau anda
kehilangan penglihatan anda. Bagi yang berangan-angan
memiliki rumah mewah, coba bayangkan bagaimana rasanya
tidak punya tempat tinggal dan tinggalnya di gerobak
yang didorong kemana-mana.

Saya sering melihat banyak orang stress yang
berkelanjutan, padahal kita memiliki kesehatan yang
baik, keluarga yang juga sehat-sehat, pendapatan yang
sangat tinggi untuk ukuran orang Indonesia kebanyakan,
rumah yang relative mewah dan kendaraan yang dingin
dan nyaman yang bisa membawa kita ke tempat-tempat
yang menyenangkan.

Teman saya bilang happiness is only a state of mind.
Saya setuju pernyataan ini to certain degree.
Seringkali kebahagian adalah masalah bagaimana kita
mensikapi hidup dan bukan apa yang telah diberikan
hidup (Tuhan) kepada kita. Orang yang diberi
kelimpahan rezeki bisa menjadi lebih bahagia tapi bisa
juga bikin tambah cemas atau menjadi semakin gila
harta. Orang yang berkekurangan bisa tetap bahagia
tapi bisa juga jadi malapetaka yang merusakkan bukan
hanya dirinya tapi juga orang lain.

Seringkali manusia memang menjadi kehilangan
perspektif manakala kita menghadapi permasalahan
hidup. Kita menganggap kitalah yang paling susah,
mungkin kalau kita ditanya tidak mengaku tetapi dari
cara kita menjalani permasalahan hidup, seolah-olah
hidup kita sangat susah dan lupa bahwa banyak orang
yang hidupnya jauh lebih susah dari kita.

Memberi adalah merupakan salah satu terapi yang bisa
kita lakukan kala kita menghadapi permasalahan. Kata
istri saya memberi kita lakukan di kala banyak dan
sedikit, di kala lapang dan sempit. Memberi kepada
orang yang benar-benar membutuhkan. Memang seringkali
yang diminta belum tentu yang dibutuhkan. Selain itu
juga seringkali orang yang meminta belum tentu yang
paling butuh bantuan.

Saya jadi ingat waktu saya dulu sekolah di Bristol.
Saya lihat ada beberapa tuna wisma yang sebenarnya
tidak perlu mengemis di trotoar. Mereka masih usia
produktif malah ada yang mungkin berusia 20 tahunan.
Saya ingat salah satunya bernama John. Saya tahu
namanya karena kalau uangnya sudah terkumpul, dia akan
datang ke toko kelontong langganan saya. Dia akan
membeli minuman alcohol. Dan saya lihat memang dia
tidak pernah sober.

Suatu saat waktu saya sedang belanja, dia datang
membeli minuman keras kesukaaannya. Kemudian dia
menanyakan harga minuman keras tersebut. John bilang
kok harganya naik terus. Penjaga toko, seorang nenek
yang suka melucu menjawab: “Di dunia ini tidak ada
yang turun kecuali hujan”.

Orang macam John adalah contoh orang yang meminta yang
bukan paling butuh bantuan. Kalaupun dia meminta bukan
uang yang seharusnya kita berikan, mungkin dibawa ke
psikiater atau ke ahli agama untuk diberi pencerahan.

Memang susah mencari orang yang benar-benar
membutuhkan kelebihan yang kita miliki. Kelebihan
bukan hanya harta tetapi juga kepandaian dan wawasan.
Bukalah mata anda lebar-lebar, konsentrasikan
pendengaran anda dan investasikan waktu dan perasaan
anda untuk bergaul dan sedikit mendalami problem orang
yang kesusahan. Dengan cara ini mungkin anda akan bisa
menyalurkan bantuan dengan lebih akurat.

Manakala kita bisa menemukan orang-orang seperti itu,
maka rasanya apa yang kita berikan menjadi air dingin
yang mengguyur di kala panas bukan saja orang yang
diberi bantuan tetapi juga si pemberi bantuan. Kita
akan merasakan kenikmatan yang tenang manakala si
penerima bantuan membalas kepada kita dengan
memberikan sodaqohnya berupa senyuman tulus. Dan
kenikmatan kita akan semakin berlipat ganda manakala
yang diberi bantuan mampu menjalani hidupnya dengan
lebih baik lagi.

Marilah kita mengambil ibroh dari masa lalu, menikmati
kekinian dan jangan lupa berinvestasi untuk masa
depan.

_______________________________________________________________

Saya adalah seorang lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang nyasar menjadi kontraktor rumah. Saya percaya bahwa dengan jujurpun kita bisa sukses. Malah mungkin sukses dunia akhirat. Karena  itu moto usaha kontraktor rumah yang saya bangun bersama dua orang teman lainnya (salah seorang partner saya adalah insinyur sipil) adalah jujur, nyaman, hemat. Mudah-mudahan melalui usaha kontraktor rumah ini kami bisa sedikit berkontribusi untuk bangsa ini. Rumah yang sudah kami bangun tersebar di sekitar Jakarta, Bogor, Banten, Depok dan Bekasi. Hasil karya kami dapat dilihat di www.rii-kontraktor.com. Alamat email saya: irasyidi@yahoo.com. HP: 0816-997922 dan 021-70727840

September 4, 2006

Lebanon, Palestina, Israel dan Kita

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 11:59 am

Saat ini Israel kembali mengusik perasaan kaum muslim di seluruh dunia. Reaksinya seperti biasa kutukan datang dari kaum muslim. Bagi seorang muslim, memang keterlaluan kalau tidak merasakan kegeraman atas kelakuan Israel terhadap muslim di Palestina dan Lebanon. Tapi buat saya berhenti pada kegeraman tidak menyelesaikan masalah walaupun memang masalahnya baru akan selesai pada jangka panjang malah mungkin sangat panjang. Tapi kalau kita berhenti pada geram, maka permasalahan ini akan terus berlanjut sampai cucu kita bercucu lagi. Alangkah sedihnya nasib kaum muslim, padahal dulu berjaya dan jadi penguasa dunia.

Kalau saya bilang ini seperti anak kecil yang marah ke orang dewasa kemudian mencoba memukul orang dewasa tersebut. Buat orang dewasa ini kemarahan dan pukulan anak kecil itu jadi lelucon yang lucu. Bisa reaksinya pura-pura kesakitan, mengelak dengan mudah sambil terus meledek atau diam aja dipukul karena memang nggak sakit.

Sebenarnya ini sama dengan kita marah ke Australia.Dimana setelah dibujuk mau dikasih bantuan diam lagi. Ya seperti anak kecil marah karena tidak diajak pergi oleh orang tuanya, kemudian waktu orang tua ini pulang dibelikan es krim, marahnya hilang lagi.

Kenapa situasinya bisa seperti ini. Jawabannya karena kita tidak punya kekuatan teknologi, ekonomi maupun ilmu pengetahuan. Kemudian kenapa kita tidak punya kekuatan itu semua. Jawabannya merupakan kajian para ilmuwan sejarah Islam yang sampai saat ini belum juga tuntas.

Buat saya jawabannya sederhana, pertama karena korupsi masih merajalela dan kedua hal yang lain-lainnya. Jawaban yang kedua saya rasa susah buat kita untuk menyamakan persepsi. Tapi jawaban pertama rasanya sudah menjadi kesimpulan umum.

Mengutuk tindakan Israel menurut saya merupakan jawaban jangka pendek dari tindakan sewenang-wenang Israel dan sekutunya. Tapi kalau kita cuma mengutuk maka kelakuan kita seperti anak kecil di atas. Menurut saya apabila kita terlalu terpaku dengan jangka pendek maka kita akan susah terus, apabila kita terpaku dengan jangka panjang, mungkin kita tidak bisa melihat esok hari.

Sebagai muslim kita mesti seperti Robinson Crusoe yang akhirnya bisa keluar dari kungkungan pulau dimana dia terdampar. Dia melakukan itu dengan cara menyeimbangkan antara kepentingan jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek harus makan hari itu juga. Jangka panjang harus investasi untuk bisa merdeka keluar dari kungkungan pulau dimana dia terdampar.

Jawaban jangka panjang dari solusi seperti ini adalah bahwa kita harus jadi penguasa dunia. Topik kejayaan Islam memang bisa jadi topic yang menyeret kita pada perbedaan pendapat. Jawaban standar dari persoalan ini adalah bahwa kita harus kembali kepada Quran dan Hadis. Saya rasa pernyataan ini harus dielaborasi dengan lebih spesifik sehingga umat menjadi lebih jelas dengan apa yang harus dilakukan untuk menjadi bagian masyarakat dunia yang memiliki bargaining power yang lebih tinggi dari sekarang.

Tapi baiklah saya tidak mau bikin persoalan jadi ruwet. Kita bikin sederhana saja. Berantas korupsi, kembalikan duit rakyat untuk membuat sekolah yang bagus, jalan yang bisa menjangkau sampai pelosok desa, listrik dan telepon ada di desa terpencil sekalipun, rumah sakit murah untuk semua lapisan masyarakat dan kebutuhan dasar lainnya. Seandainya kita turut bersatu padu berkonsentrasi pada ini semua maka umat Islam di Indonesia akan bisa lebih maju, pintar dan akhirnya bisa lebih berperan dalam perdamaian dunia.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King