harga beras dan kemiskinan
Saya baru baca dari majalah the Economist tanggal 14 September 2006 bahwa menurut World Bank harga beras di Indonesia terlalu tinggi dan salah satu factor penyebab kemiskinan: “A report on the subject being prepared by the World Bank argues that artificially high rice prices are much more to blame than the effects of the fuel-price increase. This is because most poor people spend a quarter of their earnings on rice, which has risen in price by more than a third in the past year. Keeping domestic rice prices higher than international prices by severely limiting imports makes little sense, the World Bank argues. It claims that 75% of the poor earn their living from agriculture but that at least 75% of the poor are net rice consumers.”
Kalaupun analisis ini benar saya tahu pasti SBY tidak akan membuat kebijakan yang menurunkan harga beras karena tentu saja beliau tidak senaif itu membuat kebijakan yang akan menyebabkan kegemparan di media massa. Para petani mungkin tidak akan marah dan hanya pasrah saja. Yang akan mengambil kesempatan paling-paling para politisi yang berusaha untuk “memihak para petani”.
Saya sendiri berpendapat ada hal yang lebih penting dan berperan besar untuk menurunkan tingkat kemiskinan di Indonesia yaitu …..korupsi. Bosen ah, mungkin ada yang bilang begitu. Saya tidak akan bosen mewacanakan ini. Mungkin saya mesti lebih kreatif lagi untuk membuat korupsi lebih disadari oleh masyarakat, atau paling tidak oleh yang baca artikel ini, sebagai musuh utama nomor 1 di Indonesia.
Mestinya SBY lebih kreatif menyadarkan masyarakat yang dipimpinnya untuk bersama-sama memerangi korupsi. Saya sangat yakin yang dapat untung dari korupsi hanya sebagian kecil dari orang di Indonesia. Jauh lebih banyak yang kena mudaratnya.
Buat sebagian besar masyarakat saat ini, korupsi seolah-olah tidak berpengaruh terhadap kehidupan keseharian mereka. Buat masyarakat bawah, dengan keterbatasan pendidikannya, sukar untuk mencerna bahwa koruptorlah yang menyebabkan mereka tetap miskin. Kalaupun menyadari, mereka bingung bagaimana menyikapinya. Lha wong mikirin makan sehari-hari aja udah puyeng.
Buat kelas menengah, hidupnya sudah cukup nyaman dengan segala kenikmatan dari kehidupan kelas menengah yaitu clubbing, rumah dan kendaraan yang adem dan kinclong, liburan yang selalu dinanti dsb. Pokoknya jangan sampai kenyamanan ini berlalu begitu saja.
Buat kelas elit yang menguasai perekonomian apalagi. Yah paling susah kalau negeri ini tidak stabil. Itu berarti pundi-pundinya tidak akan bertambah. Walaupun buat kalangan elit ini, kalau ada kerusuhan ya tinggal naik helicopter ke bandara atau naik pesawat pribadi dan tinggal di Singapur sana.
Secara fisik memang kelas menengah yang kenyamanannya akan terganggung apabila ada ketidakstabilan di negeri kita. Karena itu marilah para kelas menengah untuk lebih memperjuangkan Negara kita untuk bersih dari korupsi karena kalau kemiskinan semakin parah, kerusuhan social akan bisa terjadi lagi. Perusahaan besar dimana anda bekerja akan menutup usahanya karena situasi tidak kondusif.