imamrasyidi

October 31, 2006

sahabat dan keluarga

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 12:07 pm

Keluarga dan sahabat mirip dengan pekerjaan dan
liburan. Kalau kita memiliki keluarga yang harmonis
seperti memiliki pekerjaan yang menyenangkan. Demikian
juga kalau kita memiliki sahabat yang baik mirip
dengan liburan yang menyenangkan.

Keluarga yang harmonis, dimana anggota keluarga
(terutama ayah dan ibu) saling pengertian, saling mau
berkompromi dan saling memberikan space untuk urusan
pribadinya, tentu saja ini adalah keluarga yang
diimpikan oleh semua orang normal yang berkeluarga.
Sementara, teman yang baik adalah teman yang mengisi
kelemahan kita atau saling berkontribusi pada bagian
yang teman kita tidak miliki. Ada sepasang sahabat
yang satunya jadi tempat curhat, tapi dia akan
bersedia mengantar kemanapun temannya mau pergi.
Adapula sepasang sahabat yang satunya cerewet yang
satunya pendiam, yang cerewet mengisi
kekuranginisiatifan si pendiam, sementara si pendiam
selalu bersedia diajak kemana di cerewet pergi. Ada
lagi sahabat yang satunya pintar yang satunya ngemong.
Si pintar sering jadi tempat bertanya, si ngemong
sering melayani di pintar.

Pola-pola hubungan keluarga dan sahabat seringkali
tidak sama, dan satu keluarga yang memiliki pola yang
satu akan merasa aneh melihat pola hubungan keluarga
yang lain. Ada satu keluarga dimana si Bapak sangat
sayang dan protektif terhadap istrinya. Si istri
sangat dimanja tapi di pihak lain si suami sangat
mendominasi keputusan dalam keluarga tersebut. Ada
keluarga lain dimana suaminya tidak secara ekspresif
menunjukkan sayang kepada istrinya, tapi
keputusan-keputusan di keluarga diambil secara
consensus. Masing-masing keluarga akan merasa aneh
dengan pola-pola hubungan yang lainnya. Sebenarnya dua
keluarga ini mungkin sama-sama harmonis atau sama
tidak harmonisnya.

Berkeluarga mirip dengan memiliki pekerjaan. Bisa jadi
kita rasanya nikmat berkumpul dengan anggota keluarga
atau mengerjakan pekerjaan kita di kantor tapi bisa
rasanya tidak betah berada di rumah dan bersama
keluarga atau tiap pagi rasanya berat sekali mau
berangkat ke kantor.

Bagi yang merasa kurang tepat memilih pasangan hidup
bisa mencari pasangan hidup yang lain yang lebih tepat
tapi bisa juga saling menyesuaikan diri karena tidak
ada pasangan hidup yang sempurna dan  sangat mengerti
perasaan kita. Lha wong yang punya perasaan juga
kadang nggak ngerti perasaannya sendiri. Walaupun
demikian pilihan ganti pasangan akan jadi lebih rumit
manakala kita sudah memiliki junior yang harus juga
diperhitungkan masa depannya.

Demikian pula pekerjaan, kalau kita merasa tidak
cocok, kita dapat mencari pekerjaan baru yang bisa
lebih cocok untuk kita, entah dari sisi gajinya,
suasana kerjanya, karirnya, dll. Tapi seringkali
ternyata pekerjaan baru malah lebih bikin kita tidak
betah. Ada teman saya yang pindah kerja berkali-kali
dan berkali-kali itu pula balik lagi ke tempat semula.
Untung perusahaan lamanya masih masih menerima
kehadiran dia. Dan akhirnya setelah tiga kali diterima
menjadi pegawai baru di tempat yang sama. Dia kapok
dan bersumpah tidak akan lagi pindah kerja ke tempat
lain.

Sama seperti liburan, bersahabat tidak terikat kontrak
seperti kita berumah tangga. Kalau kita liburan kita
bisa memilih tempat yang paling kita sukai. Mungkin
ada orang yang memiliki tempat favorit dimana hampir
tiap liburan pergi ke tempat yang sama. Tapi tempat
favorit bisa juga beberapa tempat. Sehingga bisa
bergantian kalau sudah terlalu sering ke tempat
tertentu.

Sama dengan sahabat, ada orang yang sahabat karibnya
satu, dua, tiga atau beberapa. Ada orang yang tidak
memiliki sahabat karib sama sekali dan lebih senang di
rumah saja berdedikasi kepada keluarga. Atau ada yang
tidak ada sahabat karib tapi temannya banyak.

Bagi yang memiliki sahabat karib, apalagi lebih dari
satu. Rasanya seperti memiliki tempat liburan favorit
yang bikin kangen. Kalau lagi bosan dengan suasana
panas, maka kita pergi ke gunung. Kalau lagi ingin
bermain pasir, maka kita pergi ke pantai. Sama dengan
sahabat, kadang kala kita ingin berdiskusi serius,
maka kita akan menelpon atau berkunjung ke teman yang
sukanya berbicara hal-hal yang serius. Tapi manakala
sedang suntuk, maka sahabat yang fun lah yang akan
kita datangi.

Menurut saya, memiliki sahabat menyeimbangkan jiwa.
Memiliki sahabat juga mendidik emosi kita untuk bisa
menerima kekurangan dan kelebihan orang. Selain itu
seringkali sahabat bisa lebih dekat daripada saudara
sekandung sekalipun.

Nabi Muhammad pun dikelilingi para sahabat yang
mencintainya dan Beliaupun mencintai mereka. Sahabat
Nabipun memiliki karakter yang berbeda-beda. Ada Abu
Bakar yang lembut dan sangat pengertian. Ada Umar yang
spontan dan gagah berani. Ada Ustman yang kaya dan
generous dan ada Ali yang cerdas dan bijaksana.

Bagi mereka yang memiliki keluarga yang harmonis dan
sahabat yang dapat berbagi, rasanya seperti memiliki
kekayaan yang tidak mau kita pertukarkan dengan
kekayaan duniawi manapun. Apalagi dibarengi dengan
pekerjaan yang menyenangkan dan tempat liburan favorit
yang selalu menanti kunjungan anda. Wah wah wah, bisa
bisa lupa akhirat ya……

October 18, 2006

genuine curiosity

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 12:10 pm

Nama saya Imam Rasyidi. Saya adalah kontraktor rumah tinggal. Website usaha saya:  www.rii-kontraktor.com, email: irasyidi@yahoo.com, HP: 0816-997922, 021-70727840
_____________________________________________________________

Tulisan ini sifatnya spekulatif. Dalam argumen yang
saya kemukakan mungkin banyak yang belum dibuktikan,
jadi ini lebih banyak dugaan daripada mengungkapkan
teori yang sudah teruji. Paling tidak dari yang saya
tahu. Selain itu saya tidak berusaha mencari dengan
lebih serius informasi mengenai hal-hal yang saya
diskusikan di bawah ini. Namanya juga tulisan di blog
alias dumelan. Jadi reasoningnya bisa agak longgar
sedikit (atau malah banyak), dan data dan informasinya
juga bisa kurang akurat dan lengkap.

Anggap aja tulisan ini merupakan salah satu “angle”
dari banyak angle yang lain yang mungkin sama benernya
atau sama salahnya atau sebagian bener sebagian salah.

Saat ini Indonesia banyak menyertakan siswanya ke
dalam lomba-lomba fisika dan matematika internasional.
Tentu saja kita patut menghargai usaha-usaha
mengharumkan nama bangsa dan menaikkan standar
pendidikan di Indonesia ini. Usaha apapun dengan motif
yang baik patut kita hargai. Tapi mungkin jangan
sampai kita kehilangan daya kritis kita, agar motif
yang baik itu tidak sia-sia. Kritik yang tulus dengan
motif yang baik juga diperlukan sehingga inisiatif
awal tadi bisa menghasilkan sesuatu yang lebih optimal
lagi.

Saya tidak tahu apakah lomba semacam ini akan
benar-benar menghasilkan pemenang Nobel atau bahkan
akan menghasilkan ilmuwan sekelas internasional saja
sekalipun atau tidak. Saya belum pernah baca dan
mungkin karena usia lomba semacam ini belum lama
sehingga belum sampai mereka pada umur dapat pemenang
Nobel.

Tapi yang saya tahu, orang-orang jenius agak sukar
dideteksi dari sejak kecilnya. Mungkin cuma Mozart
yang dari kecilnya kelihatan jenius. Yang lainnya
seperti Einstein, Newton, Descartes, Wittgenstein
dllnya tidak kelihatan sebagai orang jenius sewaktu
mereka kecil. (Maaf yang saya bicarakan nama-nama yang
sangat terkenal, saya cuma membaca buku-buku popular
mengenai mereka).

Newton kecilnya kelihatan pemalas karena bosan dengan
pelajaran di sekolahnya. Descartes masa kecilnya tidak
terlalu jelas. Einstein malah sewaktu kecil mengalami
keterlambatan bicara, dan merupakan murid yang
biasa-biasa aja.

Saya terus terang memang agak kurang suka dengan
lomba-lomba kepandaian seperti ini atau mungkin lebih
tepatnya kalau anak kecil tidak usah terlalu serius
dilombakan dalam bidang apapun. Kalau lomba sebagai
“fun” aja mungkin tidak masalah atau malah baik. Tapi
kalau perlombaan serius menurut saya mungkin belum
waktunya. Takutnya nanti orang tuanya terjebak memaksa
anaknya untuk melakukan yang mereka tidak sukai. Masa
kecil sebaiknya dijadikan masa yang indah dimana anak
dibiarkan bereksplorasi pada batas-batas yang aman.
Seperti masa kecil saya yang indah tinggal di kampung
dengan kakek. Tentu saja masa kecil yang indah bukan
berarti harus tinggal di kampung.

Umumnya para jenius inimemiliki sikap genuine
curiosity, yaitu rasa keingintahuan yang jawabannya
beyond textbook. Maksud saya, kalau kita cukup puas
dengan menghapal dan mempelajari textbook. Apabila
mereka tertarik dengan sesuatu, mereka akan terus
mencari akar persoalannya, dimana itu berarti belum
ada yang pernah sampai ke titik itu.

Menurut saya perbedaan antara orang pandai di sekolah
dan orang jenius adalah orang pandai akan terlihat
pintar di banyak mata pelajaran. Orang jenius hanya
tertarik untuk menjawab satu pertanyaan saja. Apabila
jawabannya sudah ada, maka orang jenius akan terus
mencari jawaban sampai ke suatu titik dimana belum ada
orang lain yang belum sampai pada jawaban itu. Mungkin
ada beberapa jenis orang jenius, orang jeniusnya
jenius adalah  ilmuwan dalam ilmu murni seperti
Einstein tapi dan ada juga jenius yang menemukan
internet dan handphone dsb.

Salah satu penyebab dari genuine curiosity ini,
menurut dugaan saya, timbul dari sikap “ingin berguna”
bagi masyarakat. Sikap ini menyebabkan orang yang
menganutnya menjadi berfokus pada
pencapaian-pencapaian yang memberikan dampak secara
nyata bagi kemanusiaan. Orang-orang seperti ini lebih
tertarik pada pencapaian-pencapaian dalam hidup yang
lebih substansial dan bukannya superficial.

Biasanya orang-orang macam ini akan menghasilkan karya
yang original, paling tidak dalam aspek-aspek tertentu
dari karyanya. Orang macam Howard Schultznya Starbuck
menemukan cara hidup minum kopi di Amerika. Kalau kita
baca biografinya, salah satu motivasi terdalam dalam
berkarya menghasilkan Strarbuck adalah keinginannya
untuk membuat karyawan Starbuck, bahkan yang cuma
temporer sekalipun cukup sejahtera. Tidak seperti
ayahnya Mr Howard yang cuma supir truk dan diperlukan
secara tidak manusiawi oleh employernya.

Ada lagi penggagas Grameen Bank di Bangladesh (saya
lupa namanya)*, yang tadinya cuma jadi dosen dan
hatinya tergerak akan susahnya masyarakat bawah
mendapatkan kredit, bahkan dengan tingkat bunga yang
lebih mahal dari yang normal sekalipun. Di Indonesia
kalau kita baca pemenang kalpataru, pendekar
lingkungan itu lho, mereka memperlihatkan sikap ingin
berguna bagi masyarakat dan seringkali jadi bahan
cemoohan waktu mereka melakukan penghijauan lingkungan
atau penyelamatan binatang yang terancam punah.

Sikap hidup seperti inilah yang sebaiknya kita
tanamkan ke anak kita, daripada sibuk mempersiapkan
anak kita ikut lomba yang menguras tenaga. Banyak
orang tua yang sibuk mempersiapkan anaknya jadi artis
penyanyi, sinetron, bintang iklan dsb. Dan dalam
banyak kasus setelah dewasanya anak ini tidak sengetop
waktu kecilnya. Kita ingat Joshua, yang sekarang
sangat jarang nongol di TV. Waktu saya kecil ada Adi
Bing Slamet yang sekarang kelihatannya struggling
untuk tetap bisa eksis di dunia entertainment padahal
waktu kecilnya ngetopnya minta ampun. Untung dia masih
bisa reinventing perannya sendiri sehingga masih bisa
kepake di TV. Di luar negeri ada McCaulay Culkin, yang
sekarang banyak kena masalah.

Dulu juga ada dua bersaudara yang dalam usia sangat
muda bisa lulus SMA. Tapi tidak bisa diterima di
Universitas Negeri karena usianya terlalu kecil dan
akhirnya masuk ke Trisakti dan sekarang tidak jelas
beritanya.

Sampai saat ini saya belum menemukan child prodigy
yang pada usianya berkembang jadi seseorang yang bisa
menghasilkan karya yang orisinal dan bukan hanya
berhenti jadi orang pintar. Buat saya, kalau boleh
memilih, anak saya lebih baik jadi orang biasa saja
yang memiliki sikap ingin berguna daripada jadi orang
pintar yang memiliki karir luar biasa tapi tidak
terlalu peduli dengan masyarakatnya. Kalau boleh
meminta lebih mungkin anak saya jadi orang pintar yang
memiliki sikap ingin berguna sehingga bisa jadi orang
yang menghasilkan karya yang memiliki dampak positif
bagi kemanusiaan.

*Saya membuat tulisan ini beberapa bulan sebelum
Grameen Bank dan Muhammad Yunus mendapat Nobel
Perdamaian, tidak seperti sekarang yang udah ngetop
banget, sehingga wajar aja kalau saya lupa nama orang
ini pada waktu tulisan ini dibuat.

October 11, 2006

Descartes dan Wittgenstein

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 12:27 pm

Descartes adalah filosof yang hidup hampir sejaman dengan Newton. Demikian juga Wittgenstein adalah filosof yang hidup hampir sejaman dengan Einstein. Descartes adalah filosof yang turut berkontribusi dalam matematika sedangkan Wittgenstein awalnya sangat tertarik dengan pondasi logis matematika. Wittgenstein juga bergaul akrab dengan Ramsey, Russel dan Whitehead, dimana para matematikawan ini sangat menghormati pendapatnya.

Menurut pendapat saya yang tidak berlatar belakang filsafat, fisika atau matematika, Descartes adalah filsuf yang sejajar dengan Newton dalam bidang fisika. Descarteslah yang membuat matematika menjadi bahasa dalam ilmu alam. Newtonpun membaca bukunya Descartes sebelum membuat penemuan-penemuannya yang terkenal.

Descartes juga menurut saya filsuf pertama yang meletakkan pemikiran filsafat secara paradigmatis. Dia tidak membahas persoalan-persoalan filsafat secara tersendiri dan masing-masing. Dia memulai dengan mempertanyakan segala sesuatu sampai pada suatu titik kesadaran terujung.

Saya sangat menikmati buku yang dikarangnya yang seperti menulis fiksi itu. Untuk mengerti karangan Descartes mungkin seperti kita mencoba memahami gambar 3D yang sampai sekarang saya tidak bisa melihatnya. Orang harus bisa memiliki sudut pandang tertentu.

Saya sangat mengidolakan Descartes sampai saya sekolah ke Bristol dan ketemu buku yang ditulis oleh filsuf yang namanya Ludwig Wittgenstein. Bukunya yang pertama yang berjudul Tractatus Logico Philosophicus sangat aneh baik dari sisi bahasa maupun editorialnya. Belum pernah saya lihat buku seperti itu.

Pemakaian bahasanya sangat austere. Lebih mirip karya puisi daripada karya filsafat. Sampai saat ini saya belum bisa memahami karya-karya Wittgenstein. Akhirnya saya beli buku-buku sekunder dan pengantar mengenai karya Wittgenstein. Itupun tetap saja susah dipahami. Koleksi buku saya oleh Wittgenstein dan tentang Wittgenstein dan idenya mungkin lebih banyak daripada dosen filsafat sekalipun. Sebenarnya sama dengan buku matematika Topolgy yang saya miliki. Tapi itu nanti saya tulis kemudian.

Menurut saya Wittgenstein sejajar dengan Eintein dalam ilmu fisika. Tetapi apresiasi kejeniusan Wittgenstein tidak sebanyak terhadap Einstein. Termasuk juga di Indonesia. Waktu saya mencoba ikut milis filsafat dan saya nanya mengenai Wittgenstein, eh hanya satu orang yang jawab. Itupun sepertinya saya lebih tahu dari yang jawab (mohon maaf kedengaran sombong, habis mau menyombongkan yang lain nggak bisa, kaya nggak, ngetop nggak, pintar juga nggak, lha cuma  pemborong kelas mikro yang masih dibawah kelas UKM).

Suatu saat kalau sudah tua, saya akan pension dan mencoba untuk belajar mengenai tokoh nyentrik ini. (Mungin kata nyentrik merupakan understatement). Sama seperti orang lain bercita-cita kalau sudah tua mau bertani, keliling dunia, koleksi mobil tua dsb.

Saking jeniusnya ini orang, orang macam Keynes (yang merupakan Einsteinnya ekonom) berkomentar: “Well, God has arrived. I met him on the 5.15 train”. Komentar ini ditulis Keynes dalam surat untuk Lydia Lopokova tertanggal 18 Januari 1929 mengenai kedatangan Wittgenstein ke Cambridge, setelah Wittgenstein berkelana ke beberapa negera Eropa dalam waktu cukup lama. Keyneslah yang jadi patronnya Wittgenstein. Dialah yang membiaya keperluan hidupnya kapanpun Wittgenstein memerlukan. Walaupun Keynes tidak melakukannya dengan cara vulgar karena pasti akan ditolaknya.

Sebenarnya tidak perlu Wittgenstein meminta uang kepada siapapun dan memang mungkin tidak pernah, karena dia adalah anak bungsu dari pengusaha besar industriawan Austria. Tapi setelah orang tuanya meningal dan dia diberi warisan yang sangat cukup, eh malah warisannya diberikan sebagian kepada para seniman di jamannya dan sebagian lagi ke saudara perempuannya. Malah dia hidup sebagai guru SD di pedesaan terpencil.

Tekniknya dalam berfilsafat sangat membosankan. Dia akan menjawab persoalan tertentu dengan cara mempertanyakannya dari segala sudut. Kalau Descartes memiliki teknik berfilsafat seperti laser beam yang terus maju sampai ke ujung bersoalan. Wittgenstein kebalikannya seperti memakai senapai mesin dan membidik sasarannya dari segala arah, utara selatan timur barat, atas bawah, kiri kanan, sampai susah mencari celahnya.

Bagi yang punya kecenderungan berfikir besar dan mengejar sampai ke dasar, cara berpikir Wittgenstein sungguh sukar diikuti karena keburu bosan dengan pemaparannya yang entah berujung kemana. Namun demikian pemikirannya sangat orisinal dan sangat tidak terduga.

Buku pertamanya sangat susah dimengerti karena sifatnya yang sangat personal. Buku itu ditulis kala dia dalam peperangan pada PD I. Kelihatannya dia tidak membayangkan bahwa bukunya dimaksudkan untuk dibaca banyak orang. Bahkan dua orang yang cukup dekat dengan dia dalam hal pemikirin dan pergaulanpun, yaitu Russel dan Frege, salah mengerti apa yang dia maksudkan dalam buku itu. Dan dalam surat yang dia tulis kepada Russel dia mengeluh: “It is very hard not to be understood by a single soul.”

Buku-buku berikutnya, yang sebagian didiktekan langsung dari otaknya kepada para muridnya di Cambridge, pun masih susah dipahami. Buku-buku inipun mensyaratkan kita untuk memahami konteks dan pergulatan pemikiran yang dia alami. Tapi saya tidak kecil hati karena bahkan muridnya yang hadir saat itu lebih sering tidak mengerti apa yang dia ungkapkan. Padahal murid-muridnya termasuk para calon filsuf berbakat, bahkan salah satunya matematikawan Alan Turing yang terkenal itu.

Saya sebenarnya ingin memberi nama anak saya Ludwig Muhammad yang merupakan campuran antara nama kebarat-baratan dengan nama Islam, tapi rupanya floor tidak setuju. Akhirnya waktu saya memiliki burung anis merah saya beri nama Ludwig dan sempat juga juara lomba sekali.

October 4, 2006

remeh temeh

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 2:55 am

Nama saya Imam Rasyidi. Saya adalah kontraktor rumah tinggal. Website usaha saya:  www.rii-kontraktor.com, email: irasyidi@yahoo.com, HP: 0816-997922, 021-70727840
_____________________________________________________________
Sekali-kali sebagai refreshing enak juga kalau yang kita omongkan hal-hal yang nonsense dan remeh temeh. Saya kadang-kadang ingin bisa bercanda seperti dulu dengan teman-teman masa kecil dan teman SMA dengan gaya bercanda orang Betawi. Yang diobrolkan nggak jelas juntrungannya. Kalau saya tulis disini kedengarannya sangat sarkastis. Sebernarnya mirip dengan sinetron atau lawakan orang Betawi yang ada di TV. Mirip Benyamin almarhum kalau lagi bercanda. Buat yang sophisticated mungkin tidak suka dengan bercanda gaya kampungan seperti ini. Tapi buat kami ini salah satu cara menertawakan hidup.

Saya mulai dengan gaya berjalan saya. Ada yang bilang gaya berjalan saya aneh yaitu dengan kaki yang miring ke arah luar atau ke arah kanan dan kiri. Gaya berjalan saya sunguh tidak gaya dan tidak macho atau tidak gagah. Sebenarnya gaya berjalan ini bukan karena kaki saya ada kelainan atau memang dari lahir seperti ini. Kalau nggak salah ingat saya mulai berjalan seperti ini sejak akhri SD atau awal SMP.

Gaya seperti ini diilhami oleh seorang anak yang usianya satu atau dua tahun di bawah saya. Anak ini tetangga saya di kampung kakek saya. Anak ini kelihatannya agak kurang waras. Dia berjalan seperti malas dan tidak menghabiskan tenaga. Saya lihat kok kelihatannya enak juga ya berjalan seperti itu. Akhirnya jadilah saya tiru gaya berjalannya.

Saya memang senang dengan sesuatu yang efisien dan tidak menghabiskan tenaga. Yang lainnya misalnya saya suka menyebut angka uang dengan bahasa Tionghoa. Menurut saya bahasa ini sungguh efisien dan tidak banyak memakai suku kata. Misalnya kalau Rp500 (lima ratus rupiah) cuma disebut gopek. Coba bandingkan dengan bahasa Indonesianya terdiri dari empat suku kata (lima ratus) sedangkan bahasa Tionghoanya cuma dua suku kata. Ada lagi Rp10.000 (sepuluh ribu rupiah) ada lima suku kata sedangkan bahasa Tionghoanya ceban yang cuma dua suku kata.

Saya sebenarnya ingin bisa yang lebih canggih lagi misalnya Rp7.500 dalam bahasa Tionghoanya saya tidak tahu. Ingin belajar, tapi kelihatannya tidak ada yang berminat mengajari saya.
Suatu saat saya belanja onderdil mobil. Yang memiliki toko seperti biasa orang Tionghoa. Saya kalau belanja ke orang Tionghoa seringkali juga disapa dengan Koh. Mungkin karena kulit saya yang agak putih dengan mata yang sayu mengantuk.

Si Engkoh pemilik toko menyebutkan harga dalam bahasa Indonesia (saya lupa tepatnya harganya), kemudian saya tawar dengan bahasa Tionghoa, kemudian dia jawab lagi lakban. Saya agak bingung berapa sebenarnya lakban itu. Kebetulan di sebelah saya ada yang belanja juga, orang jawa. Si Mas ini rupanya mencium gelagat ketidakmengertian saya dan kemudian dia nyeletuk ngeledek, lakban itu sejenis isolasi. Saya jadi malu ketahuan bloonnya.

Saya menyukai masakan asli Indonesia. Makanan favorit saya soto mie dan nasi uduk. Pernah pula saya punya portal internet dengan nama sotomie.com, saya buat dengan tiga orang teman yang lain waktu jaman internet boom. Isi portal ini adalah resep masakan dan tempat-tempat makan kaki lima yang enak. Sayangnya sekarang sudah tidak mengudara.

Di lain pihak karena waktu saya yang cukup luang saya juga suka nonton acara masak dengan host Jamie Oliver. Padahal saya nggak terlalu suka makanan barat, tapi lihat masakan si Jamie ini kok kayaknya sangat menggiurkan. Padahal kalau acara masak orang melayu kelihatannya cara masaknya kurang menarik dan hasil masaknya kurang menggiurkan. Mungkin karena hostnya membawakannya dengan menarik dan kameramennya pandai mengambil angle.

Saya takut ketinggian. Rasanya dulu tidak separah ini. Sungguh aneh ya, kontraktor rumah kok takut ketinggian. Mungkin mirip Barbara Streisand yang tidak suka tampil live menyanyi. Wah gaya amat ya, kontraktor rumah skala mikro membandingkan diri dengan penyanyi tingkat dunia. Itulah gaya bercanda masyarakat bawah. Kalau nggak mampu, mimpi kan nggak bayar.

Saya suka musik jazz, walaupun tidak hobi-hobi amat. Kalau sempat aja dengerin. Paling suka saya rekaman jazz yang namanya Jazz in the Pawnshop. Kalau nggak salah ini grup berasal dari Swedia. CDnya hilang dan saya cari nggak ketemu. CD ini dikasih teman saya yang orang Tionghoa Malaysia, tukeran dengan buku yang saya punya. Permainan grup ini benar-benar menggiurkan. Mereka memainkan lagu-lagu standar.

Tapi saya juga hapal lagu-lagunya Oma Irama dan hampir semua filmnya saya tonton waktu saya kecil. Ini namanya mobilitas social dalam selera musik. Agar kelihatan lebih sophisticated lagi saya coba mendengarkan musik klasik, wah kalau musik ini memang susah saya menyukainya. Mungkin kalau yang ini cuma untuk orang-orang yang dari kecilnya di lingkungan yang gemah ripah loh jinawi. Kalau saya kan waktu kecil tinggalnya di lingkungan yang gemah ripah lo lagi lo lagi.
Sekian dulu ah. Lain kali kalau suntuk kita terusin lagi ya.
_______________________________________________________________
Saya adalah seorang lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang nyasar menjadi kontraktor rumah. Saya percaya bahwa dengan jujurpun kita bisa sukses. Malah mungkin sukses dunia akhirat. Karena  itu moto usaha kontraktor rumah yang saya bangun bersama dua orang teman lainnya (salah seorang partner saya adalah insinyur sipil) adalah jujur, nyaman, hemat. Mudah-mudahan melalui usaha kontraktor rumah ini kami bisa sedikit berkontribusi untuk bangsa ini. Rumah yang sudah kami bangun tersebar di sekitar Jakarta, Bogor, Banten, Depok dan Bekasi. Hasil karya kami dapat dilihat di www.rii-kontraktor.com. Alamat email saya: irasyidi@yahoo.com. HP: 0816-997922 dan 021-70727840

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King