imamrasyidi

October 4, 2006

remeh temeh

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 2:55 am

Nama saya Imam Rasyidi. Saya adalah kontraktor rumah tinggal. Website usaha saya:  www.rii-kontraktor.com, email: irasyidi@yahoo.com, HP: 0816-997922, 021-70727840
_____________________________________________________________
Sekali-kali sebagai refreshing enak juga kalau yang kita omongkan hal-hal yang nonsense dan remeh temeh. Saya kadang-kadang ingin bisa bercanda seperti dulu dengan teman-teman masa kecil dan teman SMA dengan gaya bercanda orang Betawi. Yang diobrolkan nggak jelas juntrungannya. Kalau saya tulis disini kedengarannya sangat sarkastis. Sebernarnya mirip dengan sinetron atau lawakan orang Betawi yang ada di TV. Mirip Benyamin almarhum kalau lagi bercanda. Buat yang sophisticated mungkin tidak suka dengan bercanda gaya kampungan seperti ini. Tapi buat kami ini salah satu cara menertawakan hidup.

Saya mulai dengan gaya berjalan saya. Ada yang bilang gaya berjalan saya aneh yaitu dengan kaki yang miring ke arah luar atau ke arah kanan dan kiri. Gaya berjalan saya sunguh tidak gaya dan tidak macho atau tidak gagah. Sebenarnya gaya berjalan ini bukan karena kaki saya ada kelainan atau memang dari lahir seperti ini. Kalau nggak salah ingat saya mulai berjalan seperti ini sejak akhri SD atau awal SMP.

Gaya seperti ini diilhami oleh seorang anak yang usianya satu atau dua tahun di bawah saya. Anak ini tetangga saya di kampung kakek saya. Anak ini kelihatannya agak kurang waras. Dia berjalan seperti malas dan tidak menghabiskan tenaga. Saya lihat kok kelihatannya enak juga ya berjalan seperti itu. Akhirnya jadilah saya tiru gaya berjalannya.

Saya memang senang dengan sesuatu yang efisien dan tidak menghabiskan tenaga. Yang lainnya misalnya saya suka menyebut angka uang dengan bahasa Tionghoa. Menurut saya bahasa ini sungguh efisien dan tidak banyak memakai suku kata. Misalnya kalau Rp500 (lima ratus rupiah) cuma disebut gopek. Coba bandingkan dengan bahasa Indonesianya terdiri dari empat suku kata (lima ratus) sedangkan bahasa Tionghoanya cuma dua suku kata. Ada lagi Rp10.000 (sepuluh ribu rupiah) ada lima suku kata sedangkan bahasa Tionghoanya ceban yang cuma dua suku kata.

Saya sebenarnya ingin bisa yang lebih canggih lagi misalnya Rp7.500 dalam bahasa Tionghoanya saya tidak tahu. Ingin belajar, tapi kelihatannya tidak ada yang berminat mengajari saya.
Suatu saat saya belanja onderdil mobil. Yang memiliki toko seperti biasa orang Tionghoa. Saya kalau belanja ke orang Tionghoa seringkali juga disapa dengan Koh. Mungkin karena kulit saya yang agak putih dengan mata yang sayu mengantuk.

Si Engkoh pemilik toko menyebutkan harga dalam bahasa Indonesia (saya lupa tepatnya harganya), kemudian saya tawar dengan bahasa Tionghoa, kemudian dia jawab lagi lakban. Saya agak bingung berapa sebenarnya lakban itu. Kebetulan di sebelah saya ada yang belanja juga, orang jawa. Si Mas ini rupanya mencium gelagat ketidakmengertian saya dan kemudian dia nyeletuk ngeledek, lakban itu sejenis isolasi. Saya jadi malu ketahuan bloonnya.

Saya menyukai masakan asli Indonesia. Makanan favorit saya soto mie dan nasi uduk. Pernah pula saya punya portal internet dengan nama sotomie.com, saya buat dengan tiga orang teman yang lain waktu jaman internet boom. Isi portal ini adalah resep masakan dan tempat-tempat makan kaki lima yang enak. Sayangnya sekarang sudah tidak mengudara.

Di lain pihak karena waktu saya yang cukup luang saya juga suka nonton acara masak dengan host Jamie Oliver. Padahal saya nggak terlalu suka makanan barat, tapi lihat masakan si Jamie ini kok kayaknya sangat menggiurkan. Padahal kalau acara masak orang melayu kelihatannya cara masaknya kurang menarik dan hasil masaknya kurang menggiurkan. Mungkin karena hostnya membawakannya dengan menarik dan kameramennya pandai mengambil angle.

Saya takut ketinggian. Rasanya dulu tidak separah ini. Sungguh aneh ya, kontraktor rumah kok takut ketinggian. Mungkin mirip Barbara Streisand yang tidak suka tampil live menyanyi. Wah gaya amat ya, kontraktor rumah skala mikro membandingkan diri dengan penyanyi tingkat dunia. Itulah gaya bercanda masyarakat bawah. Kalau nggak mampu, mimpi kan nggak bayar.

Saya suka musik jazz, walaupun tidak hobi-hobi amat. Kalau sempat aja dengerin. Paling suka saya rekaman jazz yang namanya Jazz in the Pawnshop. Kalau nggak salah ini grup berasal dari Swedia. CDnya hilang dan saya cari nggak ketemu. CD ini dikasih teman saya yang orang Tionghoa Malaysia, tukeran dengan buku yang saya punya. Permainan grup ini benar-benar menggiurkan. Mereka memainkan lagu-lagu standar.

Tapi saya juga hapal lagu-lagunya Oma Irama dan hampir semua filmnya saya tonton waktu saya kecil. Ini namanya mobilitas social dalam selera musik. Agar kelihatan lebih sophisticated lagi saya coba mendengarkan musik klasik, wah kalau musik ini memang susah saya menyukainya. Mungkin kalau yang ini cuma untuk orang-orang yang dari kecilnya di lingkungan yang gemah ripah loh jinawi. Kalau saya kan waktu kecil tinggalnya di lingkungan yang gemah ripah lo lagi lo lagi.
Sekian dulu ah. Lain kali kalau suntuk kita terusin lagi ya.
_______________________________________________________________
Saya adalah seorang lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang nyasar menjadi kontraktor rumah. Saya percaya bahwa dengan jujurpun kita bisa sukses. Malah mungkin sukses dunia akhirat. Karena  itu moto usaha kontraktor rumah yang saya bangun bersama dua orang teman lainnya (salah seorang partner saya adalah insinyur sipil) adalah jujur, nyaman, hemat. Mudah-mudahan melalui usaha kontraktor rumah ini kami bisa sedikit berkontribusi untuk bangsa ini. Rumah yang sudah kami bangun tersebar di sekitar Jakarta, Bogor, Banten, Depok dan Bekasi. Hasil karya kami dapat dilihat di www.rii-kontraktor.com. Alamat email saya: irasyidi@yahoo.com. HP: 0816-997922 dan 021-70727840

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King