Descartes dan Wittgenstein
Descartes adalah filosof yang hidup hampir sejaman dengan Newton. Demikian juga Wittgenstein adalah filosof yang hidup hampir sejaman dengan Einstein. Descartes adalah filosof yang turut berkontribusi dalam matematika sedangkan Wittgenstein awalnya sangat tertarik dengan pondasi logis matematika. Wittgenstein juga bergaul akrab dengan Ramsey, Russel dan Whitehead, dimana para matematikawan ini sangat menghormati pendapatnya.
Menurut pendapat saya yang tidak berlatar belakang filsafat, fisika atau matematika, Descartes adalah filsuf yang sejajar dengan Newton dalam bidang fisika. Descarteslah yang membuat matematika menjadi bahasa dalam ilmu alam. Newtonpun membaca bukunya Descartes sebelum membuat penemuan-penemuannya yang terkenal.
Descartes juga menurut saya filsuf pertama yang meletakkan pemikiran filsafat secara paradigmatis. Dia tidak membahas persoalan-persoalan filsafat secara tersendiri dan masing-masing. Dia memulai dengan mempertanyakan segala sesuatu sampai pada suatu titik kesadaran terujung.
Saya sangat menikmati buku yang dikarangnya yang seperti menulis fiksi itu. Untuk mengerti karangan Descartes mungkin seperti kita mencoba memahami gambar 3D yang sampai sekarang saya tidak bisa melihatnya. Orang harus bisa memiliki sudut pandang tertentu.
Saya sangat mengidolakan Descartes sampai saya sekolah ke Bristol dan ketemu buku yang ditulis oleh filsuf yang namanya Ludwig Wittgenstein. Bukunya yang pertama yang berjudul Tractatus Logico Philosophicus sangat aneh baik dari sisi bahasa maupun editorialnya. Belum pernah saya lihat buku seperti itu.
Pemakaian bahasanya sangat austere. Lebih mirip karya puisi daripada karya filsafat. Sampai saat ini saya belum bisa memahami karya-karya Wittgenstein. Akhirnya saya beli buku-buku sekunder dan pengantar mengenai karya Wittgenstein. Itupun tetap saja susah dipahami. Koleksi buku saya oleh Wittgenstein dan tentang Wittgenstein dan idenya mungkin lebih banyak daripada dosen filsafat sekalipun. Sebenarnya sama dengan buku matematika Topolgy yang saya miliki. Tapi itu nanti saya tulis kemudian.
Menurut saya Wittgenstein sejajar dengan Eintein dalam ilmu fisika. Tetapi apresiasi kejeniusan Wittgenstein tidak sebanyak terhadap Einstein. Termasuk juga di Indonesia. Waktu saya mencoba ikut milis filsafat dan saya nanya mengenai Wittgenstein, eh hanya satu orang yang jawab. Itupun sepertinya saya lebih tahu dari yang jawab (mohon maaf kedengaran sombong, habis mau menyombongkan yang lain nggak bisa, kaya nggak, ngetop nggak, pintar juga nggak, lha cuma pemborong kelas mikro yang masih dibawah kelas UKM).
Suatu saat kalau sudah tua, saya akan pension dan mencoba untuk belajar mengenai tokoh nyentrik ini. (Mungin kata nyentrik merupakan understatement). Sama seperti orang lain bercita-cita kalau sudah tua mau bertani, keliling dunia, koleksi mobil tua dsb.
Saking jeniusnya ini orang, orang macam Keynes (yang merupakan Einsteinnya ekonom) berkomentar: “Well, God has arrived. I met him on the 5.15 train”. Komentar ini ditulis Keynes dalam surat untuk Lydia Lopokova tertanggal 18 Januari 1929 mengenai kedatangan Wittgenstein ke Cambridge, setelah Wittgenstein berkelana ke beberapa negera Eropa dalam waktu cukup lama. Keyneslah yang jadi patronnya Wittgenstein. Dialah yang membiaya keperluan hidupnya kapanpun Wittgenstein memerlukan. Walaupun Keynes tidak melakukannya dengan cara vulgar karena pasti akan ditolaknya.
Sebenarnya tidak perlu Wittgenstein meminta uang kepada siapapun dan memang mungkin tidak pernah, karena dia adalah anak bungsu dari pengusaha besar industriawan Austria. Tapi setelah orang tuanya meningal dan dia diberi warisan yang sangat cukup, eh malah warisannya diberikan sebagian kepada para seniman di jamannya dan sebagian lagi ke saudara perempuannya. Malah dia hidup sebagai guru SD di pedesaan terpencil.
Tekniknya dalam berfilsafat sangat membosankan. Dia akan menjawab persoalan tertentu dengan cara mempertanyakannya dari segala sudut. Kalau Descartes memiliki teknik berfilsafat seperti laser beam yang terus maju sampai ke ujung bersoalan. Wittgenstein kebalikannya seperti memakai senapai mesin dan membidik sasarannya dari segala arah, utara selatan timur barat, atas bawah, kiri kanan, sampai susah mencari celahnya.
Bagi yang punya kecenderungan berfikir besar dan mengejar sampai ke dasar, cara berpikir Wittgenstein sungguh sukar diikuti karena keburu bosan dengan pemaparannya yang entah berujung kemana. Namun demikian pemikirannya sangat orisinal dan sangat tidak terduga.
Buku pertamanya sangat susah dimengerti karena sifatnya yang sangat personal. Buku itu ditulis kala dia dalam peperangan pada PD I. Kelihatannya dia tidak membayangkan bahwa bukunya dimaksudkan untuk dibaca banyak orang. Bahkan dua orang yang cukup dekat dengan dia dalam hal pemikirin dan pergaulanpun, yaitu Russel dan Frege, salah mengerti apa yang dia maksudkan dalam buku itu. Dan dalam surat yang dia tulis kepada Russel dia mengeluh: “It is very hard not to be understood by a single soul.”
Buku-buku berikutnya, yang sebagian didiktekan langsung dari otaknya kepada para muridnya di Cambridge, pun masih susah dipahami. Buku-buku inipun mensyaratkan kita untuk memahami konteks dan pergulatan pemikiran yang dia alami. Tapi saya tidak kecil hati karena bahkan muridnya yang hadir saat itu lebih sering tidak mengerti apa yang dia ungkapkan. Padahal murid-muridnya termasuk para calon filsuf berbakat, bahkan salah satunya matematikawan Alan Turing yang terkenal itu.
Saya sebenarnya ingin memberi nama anak saya Ludwig Muhammad yang merupakan campuran antara nama kebarat-baratan dengan nama Islam, tapi rupanya floor tidak setuju. Akhirnya waktu saya memiliki burung anis merah saya beri nama Ludwig dan sempat juga juara lomba sekali.