imamrasyidi

October 18, 2006

genuine curiosity

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 12:10 pm

Nama saya Imam Rasyidi. Saya adalah kontraktor rumah tinggal. Website usaha saya:  www.rii-kontraktor.com, email: irasyidi@yahoo.com, HP: 0816-997922, 021-70727840
_____________________________________________________________

Tulisan ini sifatnya spekulatif. Dalam argumen yang
saya kemukakan mungkin banyak yang belum dibuktikan,
jadi ini lebih banyak dugaan daripada mengungkapkan
teori yang sudah teruji. Paling tidak dari yang saya
tahu. Selain itu saya tidak berusaha mencari dengan
lebih serius informasi mengenai hal-hal yang saya
diskusikan di bawah ini. Namanya juga tulisan di blog
alias dumelan. Jadi reasoningnya bisa agak longgar
sedikit (atau malah banyak), dan data dan informasinya
juga bisa kurang akurat dan lengkap.

Anggap aja tulisan ini merupakan salah satu “angle”
dari banyak angle yang lain yang mungkin sama benernya
atau sama salahnya atau sebagian bener sebagian salah.

Saat ini Indonesia banyak menyertakan siswanya ke
dalam lomba-lomba fisika dan matematika internasional.
Tentu saja kita patut menghargai usaha-usaha
mengharumkan nama bangsa dan menaikkan standar
pendidikan di Indonesia ini. Usaha apapun dengan motif
yang baik patut kita hargai. Tapi mungkin jangan
sampai kita kehilangan daya kritis kita, agar motif
yang baik itu tidak sia-sia. Kritik yang tulus dengan
motif yang baik juga diperlukan sehingga inisiatif
awal tadi bisa menghasilkan sesuatu yang lebih optimal
lagi.

Saya tidak tahu apakah lomba semacam ini akan
benar-benar menghasilkan pemenang Nobel atau bahkan
akan menghasilkan ilmuwan sekelas internasional saja
sekalipun atau tidak. Saya belum pernah baca dan
mungkin karena usia lomba semacam ini belum lama
sehingga belum sampai mereka pada umur dapat pemenang
Nobel.

Tapi yang saya tahu, orang-orang jenius agak sukar
dideteksi dari sejak kecilnya. Mungkin cuma Mozart
yang dari kecilnya kelihatan jenius. Yang lainnya
seperti Einstein, Newton, Descartes, Wittgenstein
dllnya tidak kelihatan sebagai orang jenius sewaktu
mereka kecil. (Maaf yang saya bicarakan nama-nama yang
sangat terkenal, saya cuma membaca buku-buku popular
mengenai mereka).

Newton kecilnya kelihatan pemalas karena bosan dengan
pelajaran di sekolahnya. Descartes masa kecilnya tidak
terlalu jelas. Einstein malah sewaktu kecil mengalami
keterlambatan bicara, dan merupakan murid yang
biasa-biasa aja.

Saya terus terang memang agak kurang suka dengan
lomba-lomba kepandaian seperti ini atau mungkin lebih
tepatnya kalau anak kecil tidak usah terlalu serius
dilombakan dalam bidang apapun. Kalau lomba sebagai
“fun” aja mungkin tidak masalah atau malah baik. Tapi
kalau perlombaan serius menurut saya mungkin belum
waktunya. Takutnya nanti orang tuanya terjebak memaksa
anaknya untuk melakukan yang mereka tidak sukai. Masa
kecil sebaiknya dijadikan masa yang indah dimana anak
dibiarkan bereksplorasi pada batas-batas yang aman.
Seperti masa kecil saya yang indah tinggal di kampung
dengan kakek. Tentu saja masa kecil yang indah bukan
berarti harus tinggal di kampung.

Umumnya para jenius inimemiliki sikap genuine
curiosity, yaitu rasa keingintahuan yang jawabannya
beyond textbook. Maksud saya, kalau kita cukup puas
dengan menghapal dan mempelajari textbook. Apabila
mereka tertarik dengan sesuatu, mereka akan terus
mencari akar persoalannya, dimana itu berarti belum
ada yang pernah sampai ke titik itu.

Menurut saya perbedaan antara orang pandai di sekolah
dan orang jenius adalah orang pandai akan terlihat
pintar di banyak mata pelajaran. Orang jenius hanya
tertarik untuk menjawab satu pertanyaan saja. Apabila
jawabannya sudah ada, maka orang jenius akan terus
mencari jawaban sampai ke suatu titik dimana belum ada
orang lain yang belum sampai pada jawaban itu. Mungkin
ada beberapa jenis orang jenius, orang jeniusnya
jenius adalah  ilmuwan dalam ilmu murni seperti
Einstein tapi dan ada juga jenius yang menemukan
internet dan handphone dsb.

Salah satu penyebab dari genuine curiosity ini,
menurut dugaan saya, timbul dari sikap “ingin berguna”
bagi masyarakat. Sikap ini menyebabkan orang yang
menganutnya menjadi berfokus pada
pencapaian-pencapaian yang memberikan dampak secara
nyata bagi kemanusiaan. Orang-orang seperti ini lebih
tertarik pada pencapaian-pencapaian dalam hidup yang
lebih substansial dan bukannya superficial.

Biasanya orang-orang macam ini akan menghasilkan karya
yang original, paling tidak dalam aspek-aspek tertentu
dari karyanya. Orang macam Howard Schultznya Starbuck
menemukan cara hidup minum kopi di Amerika. Kalau kita
baca biografinya, salah satu motivasi terdalam dalam
berkarya menghasilkan Strarbuck adalah keinginannya
untuk membuat karyawan Starbuck, bahkan yang cuma
temporer sekalipun cukup sejahtera. Tidak seperti
ayahnya Mr Howard yang cuma supir truk dan diperlukan
secara tidak manusiawi oleh employernya.

Ada lagi penggagas Grameen Bank di Bangladesh (saya
lupa namanya)*, yang tadinya cuma jadi dosen dan
hatinya tergerak akan susahnya masyarakat bawah
mendapatkan kredit, bahkan dengan tingkat bunga yang
lebih mahal dari yang normal sekalipun. Di Indonesia
kalau kita baca pemenang kalpataru, pendekar
lingkungan itu lho, mereka memperlihatkan sikap ingin
berguna bagi masyarakat dan seringkali jadi bahan
cemoohan waktu mereka melakukan penghijauan lingkungan
atau penyelamatan binatang yang terancam punah.

Sikap hidup seperti inilah yang sebaiknya kita
tanamkan ke anak kita, daripada sibuk mempersiapkan
anak kita ikut lomba yang menguras tenaga. Banyak
orang tua yang sibuk mempersiapkan anaknya jadi artis
penyanyi, sinetron, bintang iklan dsb. Dan dalam
banyak kasus setelah dewasanya anak ini tidak sengetop
waktu kecilnya. Kita ingat Joshua, yang sekarang
sangat jarang nongol di TV. Waktu saya kecil ada Adi
Bing Slamet yang sekarang kelihatannya struggling
untuk tetap bisa eksis di dunia entertainment padahal
waktu kecilnya ngetopnya minta ampun. Untung dia masih
bisa reinventing perannya sendiri sehingga masih bisa
kepake di TV. Di luar negeri ada McCaulay Culkin, yang
sekarang banyak kena masalah.

Dulu juga ada dua bersaudara yang dalam usia sangat
muda bisa lulus SMA. Tapi tidak bisa diterima di
Universitas Negeri karena usianya terlalu kecil dan
akhirnya masuk ke Trisakti dan sekarang tidak jelas
beritanya.

Sampai saat ini saya belum menemukan child prodigy
yang pada usianya berkembang jadi seseorang yang bisa
menghasilkan karya yang orisinal dan bukan hanya
berhenti jadi orang pintar. Buat saya, kalau boleh
memilih, anak saya lebih baik jadi orang biasa saja
yang memiliki sikap ingin berguna daripada jadi orang
pintar yang memiliki karir luar biasa tapi tidak
terlalu peduli dengan masyarakatnya. Kalau boleh
meminta lebih mungkin anak saya jadi orang pintar yang
memiliki sikap ingin berguna sehingga bisa jadi orang
yang menghasilkan karya yang memiliki dampak positif
bagi kemanusiaan.

*Saya membuat tulisan ini beberapa bulan sebelum
Grameen Bank dan Muhammad Yunus mendapat Nobel
Perdamaian, tidak seperti sekarang yang udah ngetop
banget, sehingga wajar aja kalau saya lupa nama orang
ini pada waktu tulisan ini dibuat.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://imamrasyidi.blogsome.com/2006/10/18/genuine-curiosity/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King