SBY dan Rakyatnya
Sejak awal pemilihan presiden dengan system langsung, saya bukanlah penggemar SBY. Tapi saya selalu berusaha obyektif dalam menilai presiden kita ini. Dari dulu saya berusaha untuk selalu obyektif dalam menilai orang, bahkan kepada orang yang tidak saya sukai sekalipun.
Saat ini walaupun pemberantasan korupsi sudah jauh lebih maju dibandingkan jaman presiden Megawati, saya melihat bahwa SBY bisa berbuat lebih lagi. Beliau bisa memakai modal politik yang telah diberikan rakyat kepadanya dengan lebih efektif lagi.
Pemimpin yang sukses, apalagi skala presiden, adalah pemimpin yang mampu melihat permasalahan dengan jernih, menetapkan visi dan menginspirasi yang dipimpinnya untuk mengajak berbuat ke arah yang
divisikan.
Saat ini yang kurang dari SBY adalah menginspirasi kepada rakyatnya untuk memerangi korupsi dengan seluruh daya. Presiden kita yang pandai mengajak rakyat adalah Bung Karno. Beliau bisa membius rakyat dengan keahlian orasinya. Ini dikarenakan beliau mampu menangkap problem di masyarakat, berkomunikasi dengan bahasa rakyat dan mengkomunikasikan visi dan mimpinya kepada rakyat. Mungkin kelemahannya adalah dalam
eksekusi.
SBY adalah tentara yang organisatoris dan kurang memperlihatkan passion. Menurut saya saat Negara sedang pada posisi terpuruk, yang banyak dibutuhkan adalah pemimpin yang passionate mengajak rakyatnya untuk berbuat lebih. Kata orang passion ada hubungannya dengan faith atau keyakinan. Karena itu pula maka para agamawan berdakwah dengan penuh passion. Karena mereka memiliki derajat keimanan yang tinggi dengan apa yang diyakininya.
Untuk Negara-negara yang rakyatnya sudah tahap siap lepas landas seperti Korea, Taiwan, Malaysia bahkan Vietnam, Presiden yang lebih berperan sebagai manajer memang cocok. Tapi bagi Indonesia dan Philiphina yang dibutuhkan adalah pemimpin yang menginspirasi.
Saat ini yang dibutuhkan adalah memang gabungan dari Sukarno, Suharto dan Gus Dur. Presiden yang bisa menyemangati rakyatnya, pandai dalam menyetir perekonomian dan tidak lupa menyiapkan kultur kebhinekaan yang genuine dan bukan paksaan dari atas.
SBY kita ini saya rasa cukup menguasai perekonomian (kan doctor ekonomi dari IPB), cukup mampu mengorganisasikan birokrasi tanpa mengekang berlebihan dan dapat warisan dari pemerintahan sebelumnya dalam memberdayakan civil society, tapi sekali lagi kurang passionate dalam berbicara dengan rakyatnya.
Tentu saja SBY tidak akan bisa jadi Sukarno, dan memang jamannya juga sudah lain. Tapi seperti lagu Al Jerau bahwa: "I can be what I wanna and all I need is to get my bogey down, you can be what you wanna and all you need is to get your bogey down". Jadi siapapun bisa lebih baik kalau bogeynya berkurang, minimal par, dan lebih banyak lagi yang birdie bahkan eagle. He he he, kayak main golf aja. Maklum pemain professional yang main di course terkenal di seluruh dunia. Tapi mainnya nggak cape dan nggak keringetan dan cuma duduk sambil melototin layar monitor computer.
Maksud saya, kelemahan ini kan bisa diperbaiki tanpa beliau jadi orang lain. Mungkin beliau bisa sering-sering berbicara dengan rakyatnya secara langsung dan disiarkan oleh TVRI. Beliau juga punya staf komunikasi yang bisa membuat acara seperti ini tidak kelihatan seperti jaman Pak Harto yang lebih bersifat seperti anak-anak minta duit sama bapaknya. Padahal duitnya duit anaknya.
Wah, saya kok jadi pintar banget ya. Sampai-sampai presiden aja saya ajari. Yah namanya juga tulisan di blog. Tanpa perlu jadi ahli leadership, siapapun bisa jadi seolah-olah mumpuni. Selain itu juga kan kita rakyat, yang bakalan milih presiden dan pemimpin Negara lainnya. Betul nggak?