imamrasyidi

December 18, 2006

debat supir

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 10:34 am

Dalam pergaulan di dunia konvensional maupun di dunia maya, saya lihat sering terjadi perdebatan ideologis yang berujung pada debat kusir dan sia-sia dan akhirnya hanya menimbulkan bekas kesebalan dan kebencian di kedua belah pihak yang berdebat. Sebenarnya maksud perdebatan ini awalnya adalah menjelaskan posisi ideology dari orang yang mengeluarkan pernyataan.

Sebenarnya apa sih yang ingin dicapai oleh dua pihak yang berdebat ini. Apakah menjelaskan bahwa ada sisi pandang lain dari peristiwa tertentu atau ingin mengajak orang yang di sebelah sana memeluk ideology yang masing-masing anut.

Seringkali orang yang berdebat gagal memahami maksud dari lawan debatnya. Akhirnya perdebatan itu tidak berujung pada saling pengertian atau yang satunya memeluk ideology lawan debatnya.

Menurut saya kalau kita ingin mengeluarkan pernyataan yang berujung pada keyakinan ideologis, maka kita harus benar-benar memperhatikan apakah lawan debat kita memahami apa yang kita ungkapkan. Kalau lawan debat kita tidak mau memahami apa yang kita ungkapkan, kitalah yang mencoba untuk memahami sisi pandang lawan debat kita.Ini bukan berarti kita kalah, tetapi ini (menurut saya lho) menunjukkan kedewasaan bahwa kita ingin mencari ujung dari persoalan yang didiskusikan.

Apabila ujungnya sudah menyangkut rasa dan bawaan lahir, ya sampe rambut botak tumbuh terus botak terus ….. juga nggak akan ketemu diskusinya. Yang ada malah saling ngotot dan debat supir (eh kusir, soalnya udah jarang kusir). Misalnya saya lebih suka mangga daripada duren, saya bilang duren nggak enak, baunya menyegat, kulitnya tajam, belahnya susah, kalau kebanyakan bisa mabuk duren, kadar kolesterolnya tinggi, dsb. Saya yakin yang suka duren mungkin sewot baca perkataan saya.

Menyangkut bawaan lahir misalnya orang yang lembut bilang kepada orang yang kasar. Jadi orang ya jangan kasar, ngomong sembarangan, nggak merhatiin mood orang, maunya enak sendiri, nggak punya etiket, dsb. Si kasar bicara mengenai orang yang lembut. Jadi orang kok klemar klemer, nggak macho, penuh aturan, terlalu perasa, nggak suka terus terang dsb.

Sama seperti rasa dan bawaan lahir seringkali masalah ideology juga sukar untuk diperdebatkan. Ada yang Syiah, Sunni, Wahabi, Salafi, Sufiisme, NU, Muhammadiyah, Al Irsyad, Persis dsb. Sebenarnya saya kurang paham benar perbedaan berbagai macam ideologi ini.

Di dunia ilmu ekonomi ada juga aliran-aliran yang berbeda misalnya strukturalis, neo klasik, sosialis, Keynesian dll (saya nggak pede nyebutin aliran dalam bidang ekonomi ini)

Masing-masing ngotot ingin memperlihatkan bahwa alirannyalah yang benar. Kalau ngotot untuk diri sendiri bahwa yang dianutnya benar. Tentu saja memang mesti begitu. Kalau tidak berarti tidak memiliki keyakinan dong. Tapi manakala ngotot berdebat dengan orang lain masalah keyakinannya. Saya khawatir yang timbul malah kesewotan di kedua belah pihak.

Menurut saya saat ini rasanya terlalu mewah kalau sampai kengototan kita menyebabkan perpecahan di antara kita. Sehingga sesama muslim bisa menjadi lebih benci dibandingkan ke agama lain (walaupun ke agama lain juga katanya kalaupun kita tidak suka jangan sampai kita memperlakukan mereka tidak adil).

Saat ini mestinya kita focus dengan permasalahan mendasar bersama yaitu ketidakadilan, keterbelakangan dan kemiskinan.

Di pemilu kemarin saya mencoblos partai yang kelihatannya paling bersih dari penyakit KKN yang melanda negri ini, walaupun secara ideologi saya tidak sependapat dengan mereka. Ideologi saya ada di partai-partai yang lainnya, tetapi partai-partai tersebut tidak menunjukkan syarat higienis yang memadai dari sisi kelakuannya.

Pada saat ini ribut mengenai ideologi rasanya belum pantas. Lebih pantas kita memprioritaskan hal-hal yang menjadi musuh bersama. Betul nggak sih?

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King