Bang Mastur Alias Tango
Sekali waktu hiduplah seorang laki-laki yang bernama Mastur. Berhubung Mastur seorang yang disegani dan memiliki kekuasaan, maka sebagai tanda hormat semua orang memanggil namanya dengan tambahan Bang. Kekuasaan bukan berarti adalah orang yang berkuasa secara formal dan legal, tetapi Bang Mastur sangat mengerti seluk beluk hukum terutama aparat yang berhubungan dengan hukum. Aparat hukum itu sangat dekat dengan beliau, sehingga apapun persoalan yang dihadapi Bang Mastur dan kawan-kawannya serta klien-kliennya akan dengan mudah diselesaikan.
Bang Mastur menganut prinsip bisnis yaitu “apa lu mau gue ada”. Dia dan teman-temannya juga rekan bisnis untuk proyek pemerintah terutama departemen agama, departemen social, departemen pendidikan dan departemen kumdang.
Bang Mastur juga menjadi trustee di perguruan tinggi negeri terkenal di negeri ini. Dia juga menyalurkan proyek-proyek penelitian ke perguruan tinggi tersebut. Tentu saja Bang Mastur mendapat cipratan kick back yang diberikan direktur lembaga penelitian di perguruan tersebut untuk pegawai pemerintah yang bertanggung jawab atas proyek tersebut. Soalnya kan Bang Mastur yang jadi perantaranya.
Selain itu beliau juga sangat dekat dengan politisi yang menguasai negeri ini. Malah dia adalah pengurus di suatu partai yang sedang berkuasa di negeri ini. Dia menjadi bendahara partai tersebut.
Selain memiliki kekuasaan, Bang Mastur juga sangat terkenal atau bahasa sekarang beliau adalah selebriti. Ini disebabkan beliau juga adalah pemain sinetron yang serius. Artinya kita harus sangat serius mencoba memahami peran apa sebenarnya yang dia dimainkan.
Bang Mastur memiliki koleksi mobil mewah yang sangat banyak. Mungkin koleksinya lebih banyak daripada stok yang dimiliki oleh pengusaha importer mobil mewah sekalipun. Di tengah kemacetan Jakarta yang luar biasa beliau biasa mengendarai mobil jip untuk perang atau mobil sport yang maksimal larinya hanya 30 km perjam, sehingga mobil sportnya akhirnya cepat rusak karena tidak pernah lewat dari gigi 1. Itupun dengan menyewa aparat keamanan yang siap menyalakan sirenenya agar mobil-mobil butut yang dimiliki oleh orang-orang biasa segera menepi dan memberi jalan kepadanya.
Yang paling penting adalah bahwa Bang Mastur sangat suka berdansa tango. Beliau sangat suka memamerkan kemampuannya bertango di tempat-tempat sosialisasi kelas jet set dan berdansa dengan wanita-wanita cantik yang juga sangat menyukai Bang Mastur, tapi terutama yang mereka sukai adalah perhiasan-perhiasan yang dipakai oleh Bang Mastur yaitu cincinnya yang bertatahkan berlian seperti yang biasa dipakai Liberace pada saat bermain piano, arloji Patek Phillipe (bener nggak nih ejaannya) yang dia dapat dari lelang di balai lelang ternama di Singapura dan pakaian yang dia pesan langsung dari London dimana keluarga kerajaan Inggris biasa memesan pakaian.
Anehnya, walaupun beliau sangat suka dansa tango, beliau tidak mengenal istilah “it takes two to tango”. Karena dia tidak pernah kesulitan mencari pasangan untuk diajak berdansa. Tentu saja tidak akan kesulitan karena yang diajak dansanya akan mendapat bayaran secara tidak langsung.
Sebenarnya sebagian besar laki-laki ingin seperti Bang Mastur. Cuma mungkin tidak mampu dan atau tidak ada kesempatan. Tidak mampu karena tidak memiliki bakat self marketing yang canggih yang di dalamnya termasuk bicara yang lebih dari yang dia tahu, berjanji yang lebih dari dia mampu deliver, berkata yang lebih besar dari fakta yang dia miliki, dan menganggap dirinya lebih pintar dari yang sebenarnya. Tapi karena dia sedemikian yakinnya akan dirinya sendiri, orang-orang pun menjadi ikut yakin dengan apa yang dia yakini.
Suatu hari ada peristiwa yang mengubah hidup Bang Mastur. Istrinya yang taat beragama meminta cerai. Tentu saja si abang ini kaget bukan kepalang, karena selama ini kok istrinya kelihatan biasa-biasa aja. Lebih kaget lagi manakala Bang Mastur tahu apa alasan istrinya minta cerai. Istrinya bilang dia tidak mendapat nafkah batin yang layak. Seingat Bang Mastur, dia paling tidak seminggu sekali menafkahi batin istrinya terutama malam jumat. Tapi kemudian istrinya bilang lagi bahwa dia tidak benar-benar dinafkahi batin dengan baik atau bahasa rada gamblangnya dia tidak puas dengan nafkah batin tersebut. (Kalau mau lebih gamblang lagi, bisa hubungi saya aja deh, malu ah).
Selain itu istrinya bilang Bang Mastur terlalu asyik dengan dirinya sendiri dan tidak memperdulikan istrinya. Dia asyik dengan kekuasaan, ketenaran, kekayaaan dan pencapaian dunia yang telah dicapainya. Istrinya merasa Bang Mastur telah berubah dari seorang yang idealis dan yang sangat memperhatikan kelas bawah menjadi seseorang yang terobsesi dengan kenikmatan hedonis.
Inipun membuat Bang Mastur juga bingung. Bukankah dia sering memberikan sumbangan ke orang-orang yang membutuhkan. Dia perikirakan 30% dari pendapatan yang diperolehnya dia sumbangkan ke yang membutuhkan seperti memberikan sumbangan ke korban bencana yang diliput berbagai media tersebut. Memberikan sumbangan untuk rumah ibadah yang dia anut bahkan sumbangan untuk olah raga dimana dia menjadi salah satu ketua cabang olah raga nasional.
Istrinya bergeming dan bilang bahwa kalau Bang Mastur 100% kekayaannya didapat dari hasil curian dan yang dikembalikan cuma 30% berarti sisa barang curiannya kan dinikmati sendiri. Bahkan dia bilang seandainyapun barang curian tersebut dia kembalikan 100%. Dia tetap salah karena tujuan tidak boleh menghalalkan cara.
Istrinya ngotot minta cerai. Bang Mastur tidak bisa membujuk istrinya untuk menarik gugatannya tersebut. Akhirnya mereka bercerai.
Sejak bercerai Bang Mastur menjadi berubah. Dia menjadi banyak merenung dan menghindar dari teman-teman selebritinya. Bahkan saat ini dia tidak mampu berhubungan batin dengan TTMnya. Dia merasa TTMnya juga selama ini tidak puas dengan hubungan batin mereka tapi TTMnya berpura-pura seolah-olah dia puas. Akhirnya Bang Mastur hanya mampu melakukan swalayan dengan bantuan alat-alat mahal impor dari luar negeri. Sebenarnya secara esensial yang Bang Mastur lakukan saat ini sama dengan yang dia lakukan sebelumnya dengan makhluk hidup, walaupun secara teknis berbeda, karena toh makhluk hidup dia perlakukan seperti benda mati bahkan kepada istrinya sekalipun.
Selain itu Bang Mastur tidak pula berdansa tango lagi, karena dia merasa lawan dansanya tidak benar-benar menikmati dansanya. Lebih parah lagi, dia merasa bahwa yang melihat Bang Mastur berdansa seolah-olah mengolok-olok dansa Bang Mastur yang gerakannya tango tapi langgamnya congdut (keroncong dangdut, saya bukan mengolok-olok keroncong dan dangdut karena saya menyukai kedua jenis musik ini seperti orang Amrik yang menyukai musik country).
Bang Mastur benar-benar bingung dengan situasi yang dihadapinya. Sebelum kejadian ini dia sangat menikmati segala macam pencapaian yang telah dia dapatkan. Tapi saat ini dia benar-benar bingung. Haruskan dia meneruskan gaya hidupnya seperti dulu.dan tidak peduli dengan siapapun kecuali kenikmatan pribadinya? Ataukah merubah gaya hidupnya dan berusaha untuk berkumpul kembali dengan istrinya dan mencoba untuk kembali hidup idealis. Dia mencoba memahami apakah hidup idealis bisa membahagiakan. Apakah seperti istrinya bilang kebahagian yang lebih esensial adalah didapat dari menyeimbangkan antara membahagiakan diri sendiri dan membagiakan orang lain. Sama seperti kebahagian karena bisa puas dengan kenikmatan sendiri yang didapat dari berhubungan batin dengan istrinya sekaligus bisa merasa bahagia karena bisa membuat istrinya puas dengan hubungan batin tersebut. (Bahasanya jadi ribet nih, namanya juga sastra ngelantur).
Nah sekarang yang masih mau membaca kisah rekaan ini sampai disini bisa meneruskan sendiri kisahnya. Terserah milih yang mana. Andalah yang bisa memutuskan sendiri mau seperti apa jadinya Bang Mastur kita ini. Selamat memilih dan menjalani hidup anda (dan saya juga).
*Nama dan peristiwa hanyalah rekaan belaka, mohon maaf apabila ada nama atau kejadian yang mirip dengan cerita ini
Wah, kirain ada beneran yang namanya Mastur. Ternyata karya fiktif belaka. Tapi, sebagai plot cerita sudah OK, Mam. Silakan bisa dikembangkan menjadi novel. Siapa tahu bisa seperti novel “Ayat-ayat Cinta” yang meledak di pasaran. Sekaligus mengajari moralitas tanpa menggurui.
Gimana?
Imam:
Hmmm boleh juga Ndro. Asal dua syarat terpenuhi yaitu apakah novelnya bisa berkontribusi positif buat bangsa ini dan kedua Om Hendro mau bantuin bikin novelnya. Gimana juga?
Comment by hendrop — March 14, 2007 @ 12:39 pm
Kebetulan nama saya mastur. tapi tolong jangan diteruskan dengan menggunakan nama mastur lagi. Saya juga punya blog sendiri dengan nama zaeparmas.blogspot.com. terima kasih untuk perhatiannya
Comment by mastru — December 24, 2007 @ 9:29 am