imamrasyidi

April 26, 2007

strong government

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 10:57 am

Saya agak terganggu dengan ucapan Jusuf Kalla bahwa
tujuan utama kita bernegara adalah kemakmuran dan
bukan demokrasi. Dia memberikan contoh bahwa Singapura
dan China tidak demokratis tapi perekonomiannya maju
pesat. Sementara India demokratis tetapi ekonominya
begitu-begitu aja.

Perkataan ini kalau kita lihat sejenak kelihatannya benar
tapi kalau kita renungkan dengan baik ada kelemahan
yang dapat kita ajukan. Pertama, berapa banyak negara
di dunia yang demokratis tapi miskin dan berapa banyak
negara yang kuat tapi kaya dibandingkan dengan negara
demokratis dan kaya dan negara kuat tapi miskin.
Mayoritas negara Barat adalah negara demokratis dan
kaya dan banyak sekali pemerintahan yang otoriter dan
rakyatnya miskin. Jadi kalau kita main probabilita
maka probabilita yang dikemukan pak Jusuf Kalla jauh
lebih kecil daripada probabilita sebaliknya.

Kedua adalah pemerintahan yang terlalu mendominasi
yang dipimpin oleh rezim yang korup juga akan
menyebabkan kesengsaraan rakyat. Tentu saja banyak
sekali contohnya yaitu negara-negara yang terletak di
benua Afrika sana atau di Myanmar.

Kalau rezim yang berkuasa dalam pemerintahan yang
otoriter adalah rezim yang bersih dan amanah, mungkin
akan terjadi negara seperti Singapura dan Malaysia.
Tapi kalau yang berkuasa seperti rezim orde baru babak
akhir maka pertumbuhan ekonomi yang tinggi
berlandaskan pondasi yang tidak kuat sehingga dengan
serangan para spekulan valas rontoklah ekonomi kita.

Selain itu juga jangan lupa China sudah lama sekali
otoriter malah sekarang lebih lembut dari sebelumnya
tapi malah sekarang ekonominya lebih maju.Kita juga
tahu bahwa pemimpin China (siapa dan yang mana
orangnya saya lupa) ada yang mengatakan sediakan saya
1000 peti mati …. dst, yang intinya pemberantasan
korupsi akan diutamakan.

Ketiga, pemerintahan yang otoriter sebenarnya
mengasumsikan bahwa yang berkuasa lebih tahu dalam
segala hal daripada rakyat yang dipimpinnya. Dalam
negara yang demokratis, perdebatan adalah menu utama.
Oposisi bisa mendebat pemerintahan yang berkuasa.
Rakyat bisa juga mensuarakan idenya melalui
acara-acara di surat kabar, televisi, radio, internet
dsb. Kecuali yang berkuasa orang yang sangat sempurna
(yang tentu saja tidak) maka pemerintahan yang
otoriter secara teoritis akan menghasilkan negara yang
mediocre dan kalaupun maju cenderung tidak akan
menghasilkan kejayaan bangsa yang berlangsung lama.

Walaupun demikian okelah negara ini dipimpin
pemerintahan yang otoriter tapi apakah Bapak Jusuf
Kalla bisa menjamin bahwa Bapak tidak memanfaatkan
posisi Bapak untuk lebih melimpahruahkan kekayaan
Bapak?

dialog imajiner dengan koruptor soleh

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 10:14 am

Fenomena orang sholeh secara formal yang korupsi
sungguh membingungkan. Apa yang ada dipikiran mereka
manakala mereka naik haji dan umrah berkali-kali tapi
tetap bolak-balik korupsi. Di bawah ini ada dua dialog
imajiner dengan koruptor yang sholeh. Dua dialog ini
mewakili koruptor berIQ jongkok tapi tentu saja pandai
menyenangkan atasan. Sehari-hari beliau bertugas
sebagai pejabat BUMN. Satunya lagi koruptor yang
menjadikan agama sebagai sarana mencapai kenikmatan
duniawi dan bertuhankan materi. Sehari-hari beliau
sebagai pengusaha rekanan BUMN dan departemen
pemerintah. Kedua koruptor ini pandai bermasyarakat
dan dikenal dermawan. Yang pertama kita sebut koruptor
soleh 1 (KS1) dan kedua kita sebut koruptor soleh 2
(KS2).

Dialog dengan KS1

Wartawan:
Apakah benar bapak ini koruptor?

Koruptor Sholeh (KS1):
Ah, nggak. Mana buktinya? Paling-paling saya dapat
hadiah dari rekanan atau kalau saya perlu sesuatu
mereka biasanya cukup sensitive untuk membantu.

Wartawan:
Kalau bapak tidak menerima hadiah dari rekanan tsb,
apakah bapak masih akan memberikan proyeknya kepada
mereka?

KS1:
Ya, kita kan saling pengertian lah. Kalau rekanan
kurang pengertian, gimana dong?

Wartawan:
Bukankah ada cerita dimana Umar Ibnu Aziz bahkan
mematikan lampu, manakala dia menerima tamu pribadi?

KS1:
Itu kan jaman dulu. Jaman sekarang mana bisa Mas.
Semua ada harganya.

Wartwan:
Oooo gituuuu (dalam hatinya percuma meneruskan
wawancara dengan koruptor yang ijasah doktornya di
dapat dari suatu lembaga di Amerika tapi tidak bisa
ditelusuri letaknya).

______________________________________
Dialog dengan KS2

Wartawan:
Apakah bapak koruptor?

KS2:
Ya terserahlah. Semua orang juga begitu lah mas.
Jangan munafik deh. Saya nyumbang ke lingkungan saya
tinggal, nyumbang untuk organisasi olah raga, ke
partai politik, ke pesantren, bahkan untuk bikin rumah
ibadah.

Wartawan:
Kan korupsi tidak diperbolehkan agama pak?

KS2:
Ini kan darurat mas. Kalau saya nggak sogok sana sogok
sini mana bakalan saya dapat proyek besar. Sedangkan
proyek besar kan kebanyakan dari pemerintah.

Wartawan:
Sampai kapan bapak anggap situasi darurat ini
berlangsung dan setelah berapa besar usaha bapak
sampai memutuskan berhenti berkolusi?

KS2:
Saya nggak tau mas. Saya rasa selama situasinya masih
begini saya susah untuk tidak melakukan ini. Kalau
saya berhenti menyogok nanti orang lain yang akan
melakukannya?

Wartawan:
Ya biarkan aja pak. Kan bapak terkenal sebagai orang
yang taat beribadah. Itu jelas-jelas melanggar aturan
agama pak?

KS2:
Coba sampeyan bayangkan kalau proyek ini diambil oleh
orang yang agamanya lain dengan saya. Berarti
keuntungannya kan jatuh ke orang yang beragama lain
tsb. Nanti agama itu akan semakin ekspansif aja dong.
Dan banyak orang yang disumbang oleh orang tsb dan
akhirnya pengikut agama saya akan makin sedikit aja.
Iya nggak?

Wartawan:
Tapi kan pak, Rosul kita mengajarkan untuk tidak
menghalalkan cara untuk mencapai tujuan?

KS2:
Lagi-lagi ini darurat mas. Situasi sekarang kan beda.

Wartawan:
Bapak kok kelihatannya enak ya hidupnya. Bisa ke tanah
suci berkali-kali dan memiliki rumah yang bagus dan
simpanan yang cukup. Bukankah Rosul mecontohkan hidup
sederhana pak? (Dalam hati wartawan ini, sebelum
menjadi Rosul, beliau adalah pedagang yang kaya raya.
Kekayaannya tentu saja diperoleh dengan cara halal.
Dan kekayaan tersebut dihabiskan untuk memperjuangkan
agama yang benar. Setelah menaklukkan dataran
Arabiapun beliau tetap hidup dengan sangat sederhana).

KS2:
Saya kan manusia biasa mas, bukan Nabi. Lagi pula saya
sudah sebutkan tadi saya menyumbangkan kekayaan saya
untuk urusan akhirat. Mungkin sekitar 30% kekayaan
saya, saya sumbangkan. Coba mana ada yang dermawan
seperti saya?

Wartawan:
Menurut bapak seandainya boleh memilih lebih baik
bapak jadi pengusaha jujur tapi hidupnya sangat
sederhana atau seperti sekarang kaya raya?

KS2:
Pertanyaannya kok aneh. Ya udah jelas saya milih
seperti sekarang. Kalau saya seperti dulu mana bisa
saya nyumbang kemana-mana?

Wartawan:
Tapi pak, kan harta bapak diperoleh dengan tidak
syarÃÊ. Bukankah kalau bapak menyumbangkan semua harta
bapak tetap aja bapak salah karena tujuan tidak
menghalalkan cara. Selain itu bukankah masyarakat umum
dirugikan karena uang yang dikorupsi seharusnya bisa
untuk membuat jalan, rumah sakit, sekolah dsb?

KS2:
Wah sampeyan bikin saya pusing. Hidup di dunia ini
mesti kompromi mas. Mana ada orang yang suci. Saya
punya teman pegawai negeri yang jujur. Dia hidupnya
susah, suatu saat istrinya masuk rumah sakit karena
kanker, ya saya kasih bantuan. Biaya pengobatan saya
tanggung semua. Saya bilang ke teman saya ini, udahlah
nggak usah dipikirkan, pokoknya istrimu dirawat dengan
baik. Ada juga teman saya yang lain yang profesinya
juga pengusaha seperti saya tapi orangnya maunya lurus
aja. Suatu saat dia perlu dana untuk mengerjakan
proyeknya, ya saya kasih, tanpa bunga lho!

Wartawan:
Iya ya pak. Tapi mohon maaf pak, apakah menurut bapak
lebih mulia jadi pengusaha jujur tapi biasa aja atau
pengusaha kaya yang berkolusi tapi bisa nyumbang sana
sini?

KS2:
Saya tidak tahu. Tapi saya rasa saya kan lebih berguna
buat agama dan umat saya karena saya bisa menyumbang
besar untuk agama dan umat saya tersebut.

Wartawan:
Sekali lagi maaf pak, saya cuma ingin tahu, apakah
sebenarnya bapak lebih takut miskin atau lebih takut
dengan Tuhan bapak?

KS2:
Ya lebih takut dengan Tuhan saya dong.

Wartawan:
Berarti bapak lebih takut dosa berbuat korupsi
daripada takut miskin?

KS2:
Wah saya rasa itu bukan trade off seperti itu. Anda
ini seolah-olah membuat kedua hal ini jadi pilihan
yang sulit dihindari.

Wartawan:
Menurut saya bapak lebih takut hidup miskin daripada
takut Tuhan. Bapak menomorduakan Tuhan.

KS2:
Saya tidak setuju dengan pendapat sampeyan. Saya tidak
merasa seperti itu. Saya juga sering jiarah ke tanah
suci. Itu bukti saya taat beribadah.

Sang wartwan kehabisan kata-kata. Sang KS2 terus
melakukan aksinya dan masyarakat tetap menghormati
orang ini. Sebagai pengusaha beliau memiliki mobil
mewah yang sangat mahal dan rumah yang besar dan indah
tapi juga dia sangat dermawan kepada orang, partai
atau lembaga yang membutuhkan uluran dananya.

Sang wartawan cuma bisa sedih dan berdoa mudah-mudahan
masih ada orang yang jujur dan amanah sehingga Negara
dan umat bisa selamat dunia akhirat.

April 19, 2007

thaksin dan kelas menengah

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 1:17 am

Di Thailand beberapa tahun yang lalu terjadi kudeta
yang dilakukan oleh militer. Kudeta ini merupakan
klimaks dari kemelut politik yang berlarut-larut yang
tidak kunjung selesai. Tapi anehnya rakyat kecil di
pedesaan masih sangat mencintai Thaksin bahkan banyak
yang mengatakan akan memilih lagi partainya Thaksin,
Thai Rak Thai, apabila ada pemilu lagi.

Yang selama ini sangat tidak suka dengan Thaksin
adalah kalangan menengah yang tinggal di perkotaan.
Tapi karena kalangan menengah jumlahnya lebih sedikit
dari kalangan bawah, tentu saja pada pemilu lalu
partai Thaksin kembali menang. Walaupun dibarengi
dengan diboikotnya pemilu oleh partai oposisi.
Pemboikotan ini lebih karena tidak pede bahwa partai
oposisi ini akan dapat memenangkan pemilu.

Kalau dipikir-pikir memang cukup aneh bahwa kelas
menengah dan kelas bawah tidak sependapat dalam hal
kepemimpinan Thaksin. Kalangan menengah berpendapat
bahwa Thaksin korup dan arogan. Kalangan bawah
berpendapat Thaksin telah membawa perbaikan dalam
taraf hidup di kalangan mereka dengan adanya pelayanan
kesehatan yang murah dan pinjaman dengan bunga lunak.

Kelihatannya ada perbedaan pemahaman dan pengalaman
antara kelas menengah dan kelas bawah mengenai
Thaksin. Yang kita tidak jelas apakah memang benar
Thaksin korup. Kalau arogan kelihatannya iya, tapi ini
dari persepsi kelas menengah. Kelihatannya ada
decoupling, kalau mau memakai istilah Peter Drucker,
antara pemahaman kelas bawah dan kelas menengah
mengenai Thaksin di Thailand sana.

Saya ingin membahas perbedaan pemahaman ini untuk
konteks Indonesia. Untuk kasus korupsi kelihatannya
kalangan menengah cukup paham bahwa masalah ini adalah
masalah yang sangat serius di Indonesia. Tapi untuk
kalangan bawah, agak sukar buat kalangan ini untuk
melihat kaitan korupsi dengan kemiskinan,
pengangguran, jeleknya jalan, rendahnya pelayanan
pendidikan dan kesehatan dsb.

Dalam pemilu lalu terlihat ada perbedaan pola pilihan
antara desa dengan kota dan mungkin di antara
masyarakat kota itu sendiri antara yang kelas bawah
dengan kelas menengah. Yang paling aneh di Jakarta,
Partai Keadilan Sejahtera memenangkan, kalau tidak
salah 40% dari suara. Kita tahu, partai ini partai
baru dan pengurusnyapun bukan actor politik kawakan.
Menurut saya di Jakarta, sebagian besar orang memilih
PKS karena PKS memiliki citra partai yang bersih.
Orang sudah bosan dengan semua partai lama yang korup
itu.

Contoh yang paling ekstrim dari perbedaan persepsi ini
adalah di Kolombia dimana Pablo Escobar menjadi
pahlawan rakyat miskin dengan membangun apartemen
gratis untuk kaum miskin. Sedangkan kita tahu bahwa
Escobar adalah gembong narkoba.

Di pemilu gubernur Banten saya rasa akan terjadi pola
yang sama. Daerah perkotaan mungkin PKS akan menang
dan di pedesaan partai status quo akan menang*
(disclaimer: saya bukan pengurus partai PKS maupun
simpatisannya, saya memilih partai ini karena
kelihatannya merupakan partai yang jujur dan amanah.
Tapi apakah PKS masih partai yang bersih, saya tidak
tahu, karena akhir-akhir ini ada berita-berita yang
miring mengenai PKS).

Apa sih yang bisa kita petik dari situasi ini? Kalau
kita lihat relevansinya dengan kita menurut saya
sebagai kelas menengah kita sudah lupa kacang akan
kulitnya. Peribahasa ini paling cocok untuk orang
seperti saya yang berasal dari keluarga susah tapi
sekarang sudah jarang ngobrol dengan orang kelas bawah
dan memberikan masukan-masukan yang berisi ajakan
untuk hidup lurus dan maju.

Kita sebagai minoritas orang Indonesia yang
berpendidikan tinggi seolah-olah hidup di pulau
terpisah dengan masyarakat kebanyakan. Kita asyik
bergaul dengan sesama kita sendiri dan asyik menikmati
nikmatnya hidup.

Mungkin sebagai salah satu sumbangsih kita sebagai
kelas menengah  ada baiknya kita mengadopsi keluarga
kelas bawah untuk kita pengaruhi. Baik mempengaruhi
untuk dapat hidup maju, juga mempengaruhi untuk
mencoblos politisi yang bersih pada pemilu nanti (yang
di Jakarta sebentar lagi ada pemilu gubernur). Jangan
sampai kejadian di Philipina terulang di kita yaitu
terpilihnya Estrada yang nggak jelas kompetensinya
juga senang berjudi dan tidak bisa membedakan hitam
dan putihnya situasi. Juga jangan sampai kejadian di
Thailand terjadi disini yaitu pemimpin yang arogan dan
korup (?) terpilih dan akhirnya digulingkan oleh
militer.

Ada teman seorang ekonom mengatakan bahwa di China,
India, Brazil dan Rusia, kelas menengah tidak berperan
banyak dalam  kemajuan ekonomi Negara-negara tersebut.
Dan yang jadi lokomotif kemajuan ekonomi adalah kelas
elite yang rezekinya menetes ke bawah (trickle down
effect). Kalau faktanya memang begini, ini agak aneh
ya. Karena setahu saya di Negara-negara maju kelas
menengahlah yang menjadi pemicu perubahan social di
masyarakatnya. Kalau memang kemajuan ekonomi China
dllnya adalah seperti ini, kita perlu juga waspada
apakah kemajuan seperti ini akan sustainable dalam
jangka panjang. Selain itu sebelum krisis ekonomi
tahun 1998 bukankah kelas elite yang merupakan
penyebab utama ekonomi berantakan dan memerlukan waktu
sangat lama untuk recover?

Saya tetap yakin kelas menengahlah yang dapat merubah
keadaan ini. Saya, anda dan kita semua yang bersekolah
tinggi bahkan sampai S2 dan S3 di luar negeri yang
mesti berkotor tangan melakukan sesuatu. Sesuatunya
itu apa sih? Saya rasa sebagian besar dari kita sudah
tahu. Mungkin di lain waktu kita bisa bahas
bersama-sama mengenai ini.

April 17, 2007

menjadi orang tua

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 6:33 am

Saya suka membaca buku parenting sejak saya memiliki
anak. Memang saya suka membaca, khususnya tentu saja
membaca mengenai hal-hal yang relevan dengan hidup
yang saya jalani. Salah satu hidup yang harus saya
jalani adalah menjadi ayah dan orang tua. Menjadi ayah
sebagai diri sendiri, menjadi orang tua sebagai
partner bersama nyonya di rumah.

Menjadi orang tua yang sukses bagi yang sudah memiliki
anak idealnya lebih penting daripada jadi eksekutif
sukses, pengusaha sukses, seniman sukses dll. Karena
kalau jadi sukses yang lain-lain tersebut hanya
menyangkut diri sendiri, sedangkan jadi orang tua
sukses menyangkut darah daging kita yang tidak meminta
untuk dilahirkan.

Tapi seringkali, termasuk saya, menjadi orang tua yang
baik adalah prioritas nomor sekian. Kita lebih
terbenam memikirkan karier di kantor dan bisnis atau
kekayaan yang mesti kita kumpulkan. Kalau kita
melayani bos di kantor atau klien bisnis seperti
seolah-olah roh kita dibeli dan bukan dibayar karena
service yang kita berikan, maka di rumah kita
seolah-olah menjadi raja yang harus dilayani dan
dimengerti oleh segenap anggota keluarga termasuk
anak-anak. Padahal anak-anak tidak pada posisi untuk
mengerti kita, ya karena memang anak-anak yang belum
bisa apa-apa dan belum bisa mengerti apa-apa. Ini
bukan berarti memiliki anak hanyalah pekerjaan yang
menyebalkan yang mengharuskan kita selalu menjadi
orang tua yang tegang dan waspada.

Menjadi orang tua bisa juga menjadi pekerjaan yang
sebagian besar waktu yang kita lewatkan menjadi
menyenangkan. Walaupun tentu saja sebagiannya menjadi
hal-hal yang bikin kita senewen. Tapi bukankah dalam
hidup memang begitu. Kebahagian kita dapatkan karena
kita pernah mengalami ketidakbahagiaan. Kesenangan
kita dapatkan karena kita pernah mengalami kesebalan.
Orang yang merasa selalu bahagia justru harus waspada.
Jangan-jangan harus pergi ke psikiater atau sudah
tergantung dengan obat-obatan terlarang.

Kalau prioritas untuk menjadi orang tua yang baik
minimal tidak jauh beda dengan sukses di bagian lain
maka menurut saya adalah wajar kalau kita menyiapkan
diri kita dengan baik. Salah satu caranya adalah
dengan belajar dari orang lain dan atau dari ahlinya.
Belajar bisa dengan bertanya, bertanya kepada teman,
orang tua, mertua atau siapapun yang kita anggap mampu
memberikan pembekalan kepada kita. Belajar yang lebih
gampang buat saya adalah dengan membaca buku-buku yang
sudah banyak diterbitkan, baik yang berbahasa
Indonesia ataupun berbahasa asing. Sekarang malah
sudah ada mailing list yang khusus membahas masalah
anak-anak dan orang tua ini.

Saya sering heran dengan orang tua muda yang
berpendidikan tinggi tapi mendidik anak hanya
berdasarkan insting belaka atau seperti ketika orang
tuanya mendidiknya dulu. Kalau kita nonton acara di
animal planet atau national geographic, fauna pun
mendidik anaknya dengan insting saja. Dan hanya
sebagian kecil anak yang dilahirkannya yang bisa
survive sampai dewasa dan banyak fauna yang akhirnya
musnah dari muka bumi. (Mohon maaf kalau
perbandingannya terlalu kasar). Karena itu, insting
harus dibarengi dengan kemauan belajar dan adaptasi
sehingga anak keturunan kita bisa survive dan
berkontribusi di muka bumi ini.

Selain itu kita tidak bisa mencontoh mentah-mentah
cara orang tua kita mendidik kita, bahkan orang tua
yang telah menghasilkan anak-anak yang sukses
sekalipun, karena jaman saat ini memiliki tantangan
yang agak berbeda dengan jaman orang tua kita dulu.
Jaman ini udah ada internet, handphone, playsation,
majalah dewasa yang lebih bebas dan komik-komik
Jepang. Walaupun memang nilai-nilai dasar yang harus
kita tanamkan adalah sama. Tapi ada nuansa dan teknik
cara mendidik yang agak berbeda yang mesti kita
pelajari dan terapkan.

Anehnya, kalau kita mau belajar menjadi orang tua yang
efektif, maka kita akan semakin menikmati peran kita
sebagai orang tua. Kita akan menunggu saat-saat anak
kita mulai berjalan, mulai bicara, mulai membaca,
mulai melantunkan iqamat sebelum shalat,
mulai bermain monopoli, mulai berman catur dsb. Saya
sangat menikmati bermain halma memakai papan catur
dengan anak saya yang besar dan bercanda dengan anak
yang saya kecil yang tidak pernah bisa berhenti
bicara.

Kita akan tahu bahwa apabila anak kita yang berusia di
bawah lima tahun di tengah malam terbangun lalu
menangis dengan kerasnya, hal itu bukanlah dikarenakan
anak kita ingin menyusahkan kita dan akhirnya kita
memarahinya. Tapi anak ini mengalami apa yang disebut
sebagai night terror yang sering dialami anak-anak
seusia ini. Seyogyanya kita tidak memarahinya tapi
mencoba untuk mengerti dan berempati sehingga
anak-anak akan merasa terlindungi dan pada akhirnya
dapat melewati tahap ini dengan baik.

Kasus lain, anak yang baru mulai bisa bicara sekitar
umur 1,5 tahun sampai tiga tahun paling suka
mengatakan tidak terhadap apapun. Ada teknik yang
dapat kita terapkan untuk menghadapi situasi ini.
Caranya silakan baca buku-buku parenting, karena saya
sudah lupa berhubung anak saya yang terkecil sudah
berumur 7 tahun.

Menjadi orang tua juga adalah sarana pendewasaan diri.
Kita tidak pernah bisa berhenti belajar dalam
berinteraksi dengan anak kita. Seringkali saya merasa
sudah cukup dapat berinteraksi dengan baik dengan anak
saya. Tetapi tidak lama kemudian akan timbul tantangan
baru yang menyebabkan kita menjadi marah tak
terkendali, menjadi cemas atau takut akan masa depan
mereka. Kita tentu saja bisa menganggap hal-hal
seperti itu sebagai hal sepele, tapi kalau kita
membiarkan ini berjalan maka suasana di rumah akan
menjadi suasana yang bisa tiba-tiba meledak menjadi
arena penuh amarah dan penuh ketidakpedulian.

Saya sering melihat keluarga yang sehari-harinya tidak
menganggap penting untuk mempelajari menjadi orang tua
yang baik. Saya rasa keluarga seperti ini sedang
menabung kesulitan bagi anak-anaknya. Yang mau belajar
aja belum tentu anak-anaknya bisa selamat dari ancaman
narkoba.

Menurut saya cara kita berinteraksi dengan anak kita
bisa juga mencerminkan cara kita berinteraksi dengan
anak buah kita di kantor. Kalau anak buah kita bisa
merasa cukup nyaman berinteraksi dalam cara yang terus
terang dengan kita, kemungkinan besar di rumah pun
anak-anak kita akan merasakan hal yang sama. Apalagi
kalau anak kita makin besar dan dewasa. Bos dan orang
tua yang baik bukanlah yang ditakuti tetapi yang
disayangi. Walaupun disayangi bukan karena kita
memanjakan mereka tetapi karena kita adalah atasan
yang bisa menerima pendapat anak buah yang benar tanpa
merasa terancam, yang konsekwen dengan aturan yang
perusahaan dan kita buat, yang memberikan contoh
dengan perbuatan, yang kata-katanya sesuai dengan
perbuatannya, dan yang concern dengan kesejahteraan
anak buah kita.

Marilah kita selalu belajar menjadi orang tua yang
efektif sehingga anak-anak kita akan bisa membawa
negeri ini menjadi Negara yang adil dan sejahtera.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King