menjadi orang tua
Saya suka membaca buku parenting sejak saya memiliki
anak. Memang saya suka membaca, khususnya tentu saja
membaca mengenai hal-hal yang relevan dengan hidup
yang saya jalani. Salah satu hidup yang harus saya
jalani adalah menjadi ayah dan orang tua. Menjadi ayah
sebagai diri sendiri, menjadi orang tua sebagai
partner bersama nyonya di rumah.
Menjadi orang tua yang sukses bagi yang sudah memiliki
anak idealnya lebih penting daripada jadi eksekutif
sukses, pengusaha sukses, seniman sukses dll. Karena
kalau jadi sukses yang lain-lain tersebut hanya
menyangkut diri sendiri, sedangkan jadi orang tua
sukses menyangkut darah daging kita yang tidak meminta
untuk dilahirkan.
Tapi seringkali, termasuk saya, menjadi orang tua yang
baik adalah prioritas nomor sekian. Kita lebih
terbenam memikirkan karier di kantor dan bisnis atau
kekayaan yang mesti kita kumpulkan. Kalau kita
melayani bos di kantor atau klien bisnis seperti
seolah-olah roh kita dibeli dan bukan dibayar karena
service yang kita berikan, maka di rumah kita
seolah-olah menjadi raja yang harus dilayani dan
dimengerti oleh segenap anggota keluarga termasuk
anak-anak. Padahal anak-anak tidak pada posisi untuk
mengerti kita, ya karena memang anak-anak yang belum
bisa apa-apa dan belum bisa mengerti apa-apa. Ini
bukan berarti memiliki anak hanyalah pekerjaan yang
menyebalkan yang mengharuskan kita selalu menjadi
orang tua yang tegang dan waspada.
Menjadi orang tua bisa juga menjadi pekerjaan yang
sebagian besar waktu yang kita lewatkan menjadi
menyenangkan. Walaupun tentu saja sebagiannya menjadi
hal-hal yang bikin kita senewen. Tapi bukankah dalam
hidup memang begitu. Kebahagian kita dapatkan karena
kita pernah mengalami ketidakbahagiaan. Kesenangan
kita dapatkan karena kita pernah mengalami kesebalan.
Orang yang merasa selalu bahagia justru harus waspada.
Jangan-jangan harus pergi ke psikiater atau sudah
tergantung dengan obat-obatan terlarang.
Kalau prioritas untuk menjadi orang tua yang baik
minimal tidak jauh beda dengan sukses di bagian lain
maka menurut saya adalah wajar kalau kita menyiapkan
diri kita dengan baik. Salah satu caranya adalah
dengan belajar dari orang lain dan atau dari ahlinya.
Belajar bisa dengan bertanya, bertanya kepada teman,
orang tua, mertua atau siapapun yang kita anggap mampu
memberikan pembekalan kepada kita. Belajar yang lebih
gampang buat saya adalah dengan membaca buku-buku yang
sudah banyak diterbitkan, baik yang berbahasa
Indonesia ataupun berbahasa asing. Sekarang malah
sudah ada mailing list yang khusus membahas masalah
anak-anak dan orang tua ini.
Saya sering heran dengan orang tua muda yang
berpendidikan tinggi tapi mendidik anak hanya
berdasarkan insting belaka atau seperti ketika orang
tuanya mendidiknya dulu. Kalau kita nonton acara di
animal planet atau national geographic, fauna pun
mendidik anaknya dengan insting saja. Dan hanya
sebagian kecil anak yang dilahirkannya yang bisa
survive sampai dewasa dan banyak fauna yang akhirnya
musnah dari muka bumi. (Mohon maaf kalau
perbandingannya terlalu kasar). Karena itu, insting
harus dibarengi dengan kemauan belajar dan adaptasi
sehingga anak keturunan kita bisa survive dan
berkontribusi di muka bumi ini.
Selain itu kita tidak bisa mencontoh mentah-mentah
cara orang tua kita mendidik kita, bahkan orang tua
yang telah menghasilkan anak-anak yang sukses
sekalipun, karena jaman saat ini memiliki tantangan
yang agak berbeda dengan jaman orang tua kita dulu.
Jaman ini udah ada internet, handphone, playsation,
majalah dewasa yang lebih bebas dan komik-komik
Jepang. Walaupun memang nilai-nilai dasar yang harus
kita tanamkan adalah sama. Tapi ada nuansa dan teknik
cara mendidik yang agak berbeda yang mesti kita
pelajari dan terapkan.
Anehnya, kalau kita mau belajar menjadi orang tua yang
efektif, maka kita akan semakin menikmati peran kita
sebagai orang tua. Kita akan menunggu saat-saat anak
kita mulai berjalan, mulai bicara, mulai membaca,
mulai melantunkan iqamat sebelum shalat,
mulai bermain monopoli, mulai berman catur dsb. Saya
sangat menikmati bermain halma memakai papan catur
dengan anak saya yang besar dan bercanda dengan anak
yang saya kecil yang tidak pernah bisa berhenti
bicara.
Kita akan tahu bahwa apabila anak kita yang berusia di
bawah lima tahun di tengah malam terbangun lalu
menangis dengan kerasnya, hal itu bukanlah dikarenakan
anak kita ingin menyusahkan kita dan akhirnya kita
memarahinya. Tapi anak ini mengalami apa yang disebut
sebagai night terror yang sering dialami anak-anak
seusia ini. Seyogyanya kita tidak memarahinya tapi
mencoba untuk mengerti dan berempati sehingga
anak-anak akan merasa terlindungi dan pada akhirnya
dapat melewati tahap ini dengan baik.
Kasus lain, anak yang baru mulai bisa bicara sekitar
umur 1,5 tahun sampai tiga tahun paling suka
mengatakan tidak terhadap apapun. Ada teknik yang
dapat kita terapkan untuk menghadapi situasi ini.
Caranya silakan baca buku-buku parenting, karena saya
sudah lupa berhubung anak saya yang terkecil sudah
berumur 7 tahun.
Menjadi orang tua juga adalah sarana pendewasaan diri.
Kita tidak pernah bisa berhenti belajar dalam
berinteraksi dengan anak kita. Seringkali saya merasa
sudah cukup dapat berinteraksi dengan baik dengan anak
saya. Tetapi tidak lama kemudian akan timbul tantangan
baru yang menyebabkan kita menjadi marah tak
terkendali, menjadi cemas atau takut akan masa depan
mereka. Kita tentu saja bisa menganggap hal-hal
seperti itu sebagai hal sepele, tapi kalau kita
membiarkan ini berjalan maka suasana di rumah akan
menjadi suasana yang bisa tiba-tiba meledak menjadi
arena penuh amarah dan penuh ketidakpedulian.
Saya sering melihat keluarga yang sehari-harinya tidak
menganggap penting untuk mempelajari menjadi orang tua
yang baik. Saya rasa keluarga seperti ini sedang
menabung kesulitan bagi anak-anaknya. Yang mau belajar
aja belum tentu anak-anaknya bisa selamat dari ancaman
narkoba.
Menurut saya cara kita berinteraksi dengan anak kita
bisa juga mencerminkan cara kita berinteraksi dengan
anak buah kita di kantor. Kalau anak buah kita bisa
merasa cukup nyaman berinteraksi dalam cara yang terus
terang dengan kita, kemungkinan besar di rumah pun
anak-anak kita akan merasakan hal yang sama. Apalagi
kalau anak kita makin besar dan dewasa. Bos dan orang
tua yang baik bukanlah yang ditakuti tetapi yang
disayangi. Walaupun disayangi bukan karena kita
memanjakan mereka tetapi karena kita adalah atasan
yang bisa menerima pendapat anak buah yang benar tanpa
merasa terancam, yang konsekwen dengan aturan yang
perusahaan dan kita buat, yang memberikan contoh
dengan perbuatan, yang kata-katanya sesuai dengan
perbuatannya, dan yang concern dengan kesejahteraan
anak buah kita.
Marilah kita selalu belajar menjadi orang tua yang
efektif sehingga anak-anak kita akan bisa membawa
negeri ini menjadi Negara yang adil dan sejahtera.