thaksin dan kelas menengah
Di Thailand beberapa tahun yang lalu terjadi kudeta
yang dilakukan oleh militer. Kudeta ini merupakan
klimaks dari kemelut politik yang berlarut-larut yang
tidak kunjung selesai. Tapi anehnya rakyat kecil di
pedesaan masih sangat mencintai Thaksin bahkan banyak
yang mengatakan akan memilih lagi partainya Thaksin,
Thai Rak Thai, apabila ada pemilu lagi.
Yang selama ini sangat tidak suka dengan Thaksin
adalah kalangan menengah yang tinggal di perkotaan.
Tapi karena kalangan menengah jumlahnya lebih sedikit
dari kalangan bawah, tentu saja pada pemilu lalu
partai Thaksin kembali menang. Walaupun dibarengi
dengan diboikotnya pemilu oleh partai oposisi.
Pemboikotan ini lebih karena tidak pede bahwa partai
oposisi ini akan dapat memenangkan pemilu.
Kalau dipikir-pikir memang cukup aneh bahwa kelas
menengah dan kelas bawah tidak sependapat dalam hal
kepemimpinan Thaksin. Kalangan menengah berpendapat
bahwa Thaksin korup dan arogan. Kalangan bawah
berpendapat Thaksin telah membawa perbaikan dalam
taraf hidup di kalangan mereka dengan adanya pelayanan
kesehatan yang murah dan pinjaman dengan bunga lunak.
Kelihatannya ada perbedaan pemahaman dan pengalaman
antara kelas menengah dan kelas bawah mengenai
Thaksin. Yang kita tidak jelas apakah memang benar
Thaksin korup. Kalau arogan kelihatannya iya, tapi ini
dari persepsi kelas menengah. Kelihatannya ada
decoupling, kalau mau memakai istilah Peter Drucker,
antara pemahaman kelas bawah dan kelas menengah
mengenai Thaksin di Thailand sana.
Saya ingin membahas perbedaan pemahaman ini untuk
konteks Indonesia. Untuk kasus korupsi kelihatannya
kalangan menengah cukup paham bahwa masalah ini adalah
masalah yang sangat serius di Indonesia. Tapi untuk
kalangan bawah, agak sukar buat kalangan ini untuk
melihat kaitan korupsi dengan kemiskinan,
pengangguran, jeleknya jalan, rendahnya pelayanan
pendidikan dan kesehatan dsb.
Dalam pemilu lalu terlihat ada perbedaan pola pilihan
antara desa dengan kota dan mungkin di antara
masyarakat kota itu sendiri antara yang kelas bawah
dengan kelas menengah. Yang paling aneh di Jakarta,
Partai Keadilan Sejahtera memenangkan, kalau tidak
salah 40% dari suara. Kita tahu, partai ini partai
baru dan pengurusnyapun bukan actor politik kawakan.
Menurut saya di Jakarta, sebagian besar orang memilih
PKS karena PKS memiliki citra partai yang bersih.
Orang sudah bosan dengan semua partai lama yang korup
itu.
Contoh yang paling ekstrim dari perbedaan persepsi ini
adalah di Kolombia dimana Pablo Escobar menjadi
pahlawan rakyat miskin dengan membangun apartemen
gratis untuk kaum miskin. Sedangkan kita tahu bahwa
Escobar adalah gembong narkoba.
Di pemilu gubernur Banten saya rasa akan terjadi pola
yang sama. Daerah perkotaan mungkin PKS akan menang
dan di pedesaan partai status quo akan menang*
(disclaimer: saya bukan pengurus partai PKS maupun
simpatisannya, saya memilih partai ini karena
kelihatannya merupakan partai yang jujur dan amanah.
Tapi apakah PKS masih partai yang bersih, saya tidak
tahu, karena akhir-akhir ini ada berita-berita yang
miring mengenai PKS).
Apa sih yang bisa kita petik dari situasi ini? Kalau
kita lihat relevansinya dengan kita menurut saya
sebagai kelas menengah kita sudah lupa kacang akan
kulitnya. Peribahasa ini paling cocok untuk orang
seperti saya yang berasal dari keluarga susah tapi
sekarang sudah jarang ngobrol dengan orang kelas bawah
dan memberikan masukan-masukan yang berisi ajakan
untuk hidup lurus dan maju.
Kita sebagai minoritas orang Indonesia yang
berpendidikan tinggi seolah-olah hidup di pulau
terpisah dengan masyarakat kebanyakan. Kita asyik
bergaul dengan sesama kita sendiri dan asyik menikmati
nikmatnya hidup.
Mungkin sebagai salah satu sumbangsih kita sebagai
kelas menengah ada baiknya kita mengadopsi keluarga
kelas bawah untuk kita pengaruhi. Baik mempengaruhi
untuk dapat hidup maju, juga mempengaruhi untuk
mencoblos politisi yang bersih pada pemilu nanti (yang
di Jakarta sebentar lagi ada pemilu gubernur). Jangan
sampai kejadian di Philipina terulang di kita yaitu
terpilihnya Estrada yang nggak jelas kompetensinya
juga senang berjudi dan tidak bisa membedakan hitam
dan putihnya situasi. Juga jangan sampai kejadian di
Thailand terjadi disini yaitu pemimpin yang arogan dan
korup (?) terpilih dan akhirnya digulingkan oleh
militer.
Ada teman seorang ekonom mengatakan bahwa di China,
India, Brazil dan Rusia, kelas menengah tidak berperan
banyak dalam kemajuan ekonomi Negara-negara tersebut.
Dan yang jadi lokomotif kemajuan ekonomi adalah kelas
elite yang rezekinya menetes ke bawah (trickle down
effect). Kalau faktanya memang begini, ini agak aneh
ya. Karena setahu saya di Negara-negara maju kelas
menengahlah yang menjadi pemicu perubahan social di
masyarakatnya. Kalau memang kemajuan ekonomi China
dllnya adalah seperti ini, kita perlu juga waspada
apakah kemajuan seperti ini akan sustainable dalam
jangka panjang. Selain itu sebelum krisis ekonomi
tahun 1998 bukankah kelas elite yang merupakan
penyebab utama ekonomi berantakan dan memerlukan waktu
sangat lama untuk recover?
Saya tetap yakin kelas menengahlah yang dapat merubah
keadaan ini. Saya, anda dan kita semua yang bersekolah
tinggi bahkan sampai S2 dan S3 di luar negeri yang
mesti berkotor tangan melakukan sesuatu. Sesuatunya
itu apa sih? Saya rasa sebagian besar dari kita sudah
tahu. Mungkin di lain waktu kita bisa bahas
bersama-sama mengenai ini.