Dr Boediono
Kita yang lulusan FEUI sangat sukar untuk mengagumi ekonomi yang bukan lulusan FEUI dengan berbagai alasan. Alasan pertama, FEUI gudangnya ekonom top yang berpuluh tahun lamanya mensupply teknokrat untuk pemerintahan. Kedua, tentu saja rasa esprit de corps yang tinggi yang sudah diajarkan sejak kita masuk FEUI.
Saya masih ingat waktu saya pendaftaran masuk FEUI saya ditanya oleh seseorang (saya baru tahu belakangan ternyata yang nanya saya bapaknya mentri) siapa ekonom FEUI yang jadi mentri. Wah saya gelagapan, maklum saya sebenarnya lebih tertarik masuk fisika, tapi karena ingin menyenangkan keluarga saya pilih ekonomi. Karena saya pikir kalau masuk ekonomi saya bisa jadi direktur yang duitnya banyak. Kalau masuk fisika nanti paling jadi guru SMA yang gajinya kecil.
Akhirnya saya diberi tahu siapa-siapa aja dosen FEUI yang jadi mentri. Dan tentu saja kebanggaan saya makin lama makin tinggi setelah makin tahu bahwa lulusan FEUI memang banyak yang jadi orang top. Apalagi kita diajarkan lagu sombong yang katanya paling sial jadi mentri. Ditambah pula fakta ada dosen yang warna mobilnya sesuai dengan warna bajunya (bukan dibalik).
Tapi ada satu ekonom yang jadi birokrat yang bukan lulusan FEUI yang saya kagumi yaitu Dr Budiono. Doktor yang satu ini terlihat dari raut mukanya merupakan doctor yang santun, rendah hati, bicaranya tidak condescending dan tidak seolah-olah menggangap ide yang dikemukakan merupakan ide yang sangat brilyan dengan istilah Inggris tingkat tinggi yang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia tapi dikemukakan untuk masyarakat umum yang tidak bisa membedakan even dengan event. Wah saya jadi sangat provokatif nih. Ya, sekali-sekali sewot boleh kan.
Dr Budiono pernah mengemukan pada akhir masa jabatan mentri keuangannya jaman Megawati untuk jajaran pegawai di Departemen Keuangan menjadi teladan yang baik. Untuk hidup sederhana tapi bangga dengan pekerjaannya mengabdi Negara. Ucapan ini kelihatannya biasa-biasa aja tapi menjadi powerful kala diucapkan oleh orang yang hidupnya sesuai dengan yang diucapkannya.
Pada jaman SBY ini saya pernah dengar beliau tidak mau lagi jadi mentri dan ingin istirahat tapi akhirnya terpaksa mau juga saya rasa karena digugah oleh SBY. Orang seperti Pak Budiono tidak tertarik dengan iming-iming jabatan, kekuasaan, popularitas dan materi. Beliau akan mau manakala kita bilang Bapak bisa berdosa kalau tidak mau berkontribusi untuk bangsa sementara sukar mencari orang lain saat ini yang bisa menggantikan peran Bapak.
Orang-orang macam Beliau lebih suka hidup yang tenang, di belakang layar sambil merenung mengenai hal-hal yang menjadi hobinya dan menurutnya penting. Saya bersyukur bahwa masih ada birokrat yang seperti ini sekarang ini. Inilah yang menyejukkan hati di tengah-tengah kekurangsensitivan dari para pejabat di negeri ini.
Mudah-mudahan masih banyak Boediono-Boediono muda yang bisa berkiprah di negeri ini. Amiiin
saya salut kalo ada seorang okonom jd birokrat artinya ya mampu utk menyelamatkan negara dari keterpurukan ekonomi… maju terus bapak demi bangsa dan negara.. (mahasiswa akuntansi unsera)
Comment by awal ramdhan — May 25, 2009 @ 4:53 pm