IMF, USA atau KPK, DPR, SBY, MJK atau ….?
Pada kesemptan ini saya ingin ikut mendiskusikan
masalah-masalah besar bangsa dan umat kita.
Filosofi saya dalam menghadapi persoalan apapun adalah
dimulai dengan “apa yang bisa saya lakukan untuk
merubah keadaan”, Kita memang bisa memulai dengan
“apa yang orang lain harus lakukan agar keadaan
berubah”. Tapi filosofi yang terakhir bikin saya
lebih stress, karena merubah orang lain lebih susah
daripada merubah diri sendiri dan akhirnya saya jadi
orang yang sewotan. Sementara orang yang harus berubah
cuma bilang “kalau saya nggak mau berubah, so what
gitu looh”.
Paling gampang memang kalau kita menyalahkan pihak
lain atas nasib kita yang memble ini, mulai dari pihak
asing entah IMF, USA, Singapura dsb, sampai bangsa
sendiri seperti hakim, jaksa, polisi, ekonom, Suharto,
DPR, BPK, KPK, SBY, MJK, MLM. dan sebagainya. Mereka
mungkin lebih bersalah daripada kita atas keruwetan
bangsa dan umat di Indonesia, tetapi kalau kita cuma
berhenti sampai disini mungkin sampai cucu kita
bercucu lagi Indonesia akan tetap juara dalam lomba
korupsi di dunia yang fana ini. Seperti Willem Dafoe
bilang dalam film Missisipi Burning “kita semua
bersalah karena membiarkan semua itu terjadi”.
Kalau kita runut persoalan bangsa kita mulai dari
ekonomi yang bangkrut, kemiskinan yang akut dan
kronis, keterbelakangan yang susah hilangnya,
ketidakadilan yang merajalela, pada akhirnya akan
bermula dari KKN. Dan siapa yang paling bersalah dari
keadaan ini, ya bangsa kita sendiri. IMF nggak bakalan
datang kalau nggak diundang, Singapura nggak bakalan
beli Indosat kalau nggak diundang atau ada orang
Indonesia sendiri yang mampu menawar lebih tinggi.
Sudah sering kita baca dan dengar bahwa bangsa kita
adalah bangsa paling korup di dunia. Sejak zaman
Suharto perang terhadap korupsi sudah berkali-kali
dicanangkan, sejauh itu pula belum ada perbaikan
terjadi malahan pada masa reformasi ini korupsi makin
merata baik pembagian antar parpol maupun dari sisi
antar daerah dan antar keluarga. Dengan adanya otonomi
daerah maka pusat korupsi bukan lagi di Jakarta tetapi
lebih merata ke seluruh Indonesia.
Sering kita dengar nasehat dari kiai kondang semacam
Aa Gym atau nasehat yang lebih bersifat sufisme.
Setelah kita mendengar atau membaca nasehat itu yang
kita rasakan adalah kesejukan. Tetapi apakah kesejukan
cukup merubah sesuatu. Kalau udara sejuk biasanya jadi
lapar atau ngantuk ingin tidur.
Walaupun saya juga menyukai Aa Gym dan derivatnya
tetapi saya merasa bahwa persoalan korupsi tidak cukup
cuma dikutuk tapi juga harus diconfront. Dalam
menghadapi dunia nyata kita tidak bisa terus menerus
mencari perlindungan dalam tarikat dan sufisme,
walaupun hal ini juga diperlukan untuk keseimbangan
jiwa. Kita akan menjadi umat Budha yang hidup damai
tetapi kehilangan kepemimpinan dalam dunia
sehari-hari. Kita harus punya keberanian untuk
mengatakan “enough is enough and I will do something
about it”.
Mungkin kita harus mawas diri dan berpikir apakah
rizki yang kita terima ini benar-benar bersih dari
menganiaya hak orang lain. Apakah kita tidak mengambil
hak orang lain baik secara langsung maupun tidak
langsung.
Bagi yang bekerja di perusahaan multinasional mungkin
merasa bahwa kita telah melakukan yang terbaik karena
perusahaan seperti ini mempunyai etika bisnis yang
sangat tinggi. Tapi seperti sebuah hadis yang
mengatakan bahwa apabila ada kezaliman kita harus
memakai tangan kita untuk mengkoreksinya, apabila
tidak sanggup pakailah mulut kita apabila tidak
sanggup juga maka kutuklah dalam hati, yang terakhir
ini adalah selemah-lemahnya iman (mohon maaf kalau
salah redaksionalnya).
Walaupun mencari harta dan menjadi kaya mungkin
sesuatu yang dianjurkan tetapi Nabi kita telah
mencontohkan suatu kehidupan yang austere, kehidupan
yang mencintai kebenaran daripada yang lainnya.
Keluarga Nabi adalah keluarga yang selalu melakukan
penghematan untuk dapat menyumbang ke fakir miskin dan
yatim piatu. Nabi sendiri dikatakan hanya memiliki
satu stel pakaian. Teman-teman Beliau sering
menyarankan Beliau untuk memakai pakaian yang lebih
bagus untuk menghadiri acara yang formal, tetapi
Beliau selalu menolaknya. Bayangkan seorang Nabi
sekaligus seorang kepala pemerintahan kehidupan
sehari-harinya seperti ini.
Tentu saja Islam bukan agama yang menolak pencarian
kekayaan, tetapi manakala orang tidak memperdulikan
etika dalam mencari rizki maka banyak orang yang kaya
yang kekayaannya diperoleh dari penderitaan si miskin
dan selanjutnya bangsa ini akan menjadi bangsa paling
miskin dan paling terbelakang di dunia. Sementara itu
kita ketahui umat Islam jaya karena kita menghormati
nilai-nilai dasar agama kita. Kalau Kristen dikenal
sebagai agama cinta kasih, maka Islam dikenal sebagai
agama keadilan social.
Saat ini kita telah menuhankan materi sehingga kita
akan memberikan penghormatan kepada orang yang
memiliki materi yang melimpah walaupun kita tahu
kekayaannya diperoleh dengan cara yang meragukan. Kita
kurang menilai orang berdasarkan kualitasnya sebagai
manusia muslim seutuhnya. Nabi sendiri mengatakan
orang yang paling takwalah yang paling dicintai Tuhan.
Ukuran ketakwaan yang paling sederhana dan paling
mudah dilihat adalah apakah seseorang telah mendzolimi
hak orang lain.
Apabila kita melihat orang miskin di jalan, maka
ingatlah para pelaku KKNlah yang telah mengambil hak
mereka. Seharusnya mereka dapat memperoleh pengobatan
yang lebih baik, pendidikan yang lebih baik, perawatan
sebagai warga negara yang lebih baik dan hak atas
kekayaan alam Indonesia yang jauh lebih besar. Saya
pernah melihat malam-malam sekitar jam 24an seorang
ibu dengan anaknya yang masih balita masing-masing
membawa hasil memulung berupa plastik bekas dsb. Saya
juga pernah melihat orang tua yang hampir buta
berjualan mainan anak-anak sambil berjalan
meraba-raba. Saya juga menyaksikan nenek-nenek yang
sudah sedemikian sepuh yang berjualan peralatan dapur
zaman belum ada aliran listrik dan jualannya nggak
laku.
Memang sukar memberantas korupsi, sayapun masih
memakai calo untuk memperpanjang SIM. Tapi saya
bertekad suatu saat saya benar-benar tidak akan
memakai uang pelican sepeserpun.
Di dalam sejarah bangsa-bangsa tidak ada bangsa yang
maju yang masyarakatnya doyan korupsi. Bangsa yang
sangat miskin dari sisi sumber daya alam bisa menjadi
bangsa yang sangat maju dengan syarat utama tidak ada
korupsi atau korupsi dengan degree yang sangat rendah.
Apabila bangsa kita tidak dapat merubah habit korupsi
ini maka jangan harap anak cucu kita dapat menikmati
martabat yang tinggi diantara bangsa-bangsa lain di
dunia. Bangsa kita akan menjadi bangsa pariah, bangsa
yang menjadi bahan olok-olokan. Padahal Indonesia
memiliki jumlah manusia yang demikian besar dan bagian
terbesarnya adalah beragama Islam.
Bagi mereka yang sering ke luar negeri belakangan ini
saya rasa agak minder dengan predikat WNI. Pernah pada
tahun 2000 saya dikirim ke luar negri, saya akan
menuju Vancouver Kanada tetapi harus transit di San
Fransisco. Karena saya bukan frequent traveler dan
baru kali itu ke Amerika, maka saya tidak mengisi form
yang dibagikan karena saya pikir saya cuma transit.
Apa yang terjadi, saya dimarahi habis-habisan oleh
officer imigrasi seorang Chinese American dan dia
berkata tidak akan pernah Indonesia dibebaskan dalam
pemberian visa. Tentu saja saya sangat tersinggung,
tetapi itulah faktanya.
Mungkin saat ini kita terpaku dalam mencari rizki
sehingga tidak sempat terpikir dengan masalah ini.
Waktu kita tersita memikirkan karir di kantor,
bagaimana membeli rumah besar, mobil yang bagus,
liburan ke luar negri dsb.
Apabila kelas menengah sibuk dengan dirinya sendiri,
mungkin nasib bangsa kita akan seperi India yang
memiliki banyak orang pintar tetapi akhirnya hijrah ke
luar negri sementara orang miskinnya banyak sekali.
Mohon luangkan sedikit waktu kita yang berharga untuk
memikirkan hal ini dan mulailah berbuat sesuatu walau
sekecil apapun untuk merubah hal ini. Janganlah kita
selalu hanya menyalahkan orang lain atas keadaan ini,
entah polisi, hakim, pegawai negri, IMF, USA, CIA,
DPR, BPK, KPK dan singkatan-singkatan lainnya.
Mulailah berbuat sesuatu atau paling tidak
merencanakan untuk berbuat sesuatu.
Maafkan apabila ada yang tersinggung atas kelancangan
saya menulis artikel ini dan maafkan juga atas terlalu
panjangnya artikel ini.
Insya Allah, Allah akan membalas apa yang kita
lakukan. Amin (bukan Rais, soalnya pemilu udah lewat).
Benar sekali Bung Imam…. menurut gue, pencopet lebih “mulia” dibandingkan dengan koruptor.. bila pencopet/perampok hanya menjarah satu-dua korban, maka koruptor menjarah kesejahteraan SELURUH rakyat di negeri ini (tentunya angkanya dikurangi dengan jumlah pelaku korupsi tersebut).. Dana yang semestinya masuk ke kas negara dan kemudian didistribusikan utk kesejahteraan rakyat malah ditilep dan masuk ke kas pribadinya… Tampaknya si koruptor ini — terutama koruptor yang cerdas, tangkas, trengginas (bukan trenggiling!) dan sangat menguasai ilmu hukum dan finance — tidak menyadari atau berlagak tidak menyadari bahwa bila ada ibu/bapak rumah tangga yang bunuh diri (karena kesulitan menghidupi keluarganya), maka penyebabnya/pembunuhnya adalah si koruptor (atau kita-kita yang “membiarkan” koruptor tersebut beraksi? Naudzubillah… ampunilah kami ya Allah)..
Perjuangan melawan koruptor ini sangat berrraaatt (supaya lebih mencekam, coba baca dengan gaya orang Perancis, gaya gue hehe)… berat sekali Bung.. terlebih kalau kita berada pas di lingkungan yang korup ..pada saat kita kalah dan tidak mampu (karena kalah power) dalam melawan tindakan korup tersebut, pada saat itulah kita merasa frustasi n makan hati n terbawa-bawa ke alam mimpi (ehh ternyata dalam mimpi tetap kalah juga..hehehe..gimana dong)…semoga teman-teman dikuatkan Allah dalam memberantas korupsi ini.. Salam
Comment by efrizal — August 7, 2008 @ 3:55 am