imamrasyidi

July 23, 2007

A Fish in a Growing Pond

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 7:11 am
Seringkali kita mendengar ada orang yang pindah kerja ke perusahaan kecil atau dia membuat usaha sendiri. Istilahnya katanya lebih baik jadi "a big fish in a small pond" daripada jadi “a small fish in a big pond”. Saya rasa istilah terakhir ini tidak tepat benar karena umumnya orang ingin pindah kerja ke perusahaan kecil yang sedang berkembang sehingga kalau perusahaan ini besar, orang ini bisa jadi orang yang berkontribusi terhadap perkembangan perusahaan. Jadi istilah yang lebih tepat adalah mungkin “a big fish in a growing pond”. Saya tidak tahu apakah istilah ini diction dan tata bahasanya benar atau tidak.

Jarang ada orang yang benar-benar mau pindah kerja dari perusahaan besar ke perusahaan kecil yang selamanya akan menjadi kecil. Di dalam hati mereka tentu berharap perusahaan kecil itu akan besar sehingga orang ini akhirnya akan tetap menjadi “a big fish in a big pond”.

Tapi banyak juga orang yang pindah kerja ini kecele ternyata setelah pindah baru tahu bahwa perusahaan yang dia masuki adalah perusahaan sedang dalam masalah dan menghadapi problem keuangan yang akut sehingga orang ini menjadi “a big fish in a shrinking pond”. Kalau perusahaannya makin lama makin ciut maka akhirnya orang ini akan menjadi “a big fish with no pond” alias nggak punya majikan lagi.

Kalau sudah begini ada yang terus menerus susah dapat kerjaan tapi ada yang back to square one alias kembali jadi “a small fish in a big pond” bahkan ada yang malah menjadi “a smaller fish in whatever pond available”. Karena itu pada saat kita ingin pindah kerja sebaiknya memang kita mempertimbangkan dengan sangat masak apakah tempat kerja kita memang cocok dengan visi kita mengenai hidup yang akan kita jalani. Jangan cuma yang dipertimbangkan gajinya yang besar dan fasilitasnya yang menggiurkan saja.

Kalau sudah terlanjur sekarang pindah kerja dan kok rasanya di tempat baru sungguh tidak menyenangkan, saya rasa you learn your lesson dan mungkin anda tahu apa yang mesti dilakukan. Dunia belum kiamat, saya rasa nasib anda masih jauh lebih baik daripada mayoritas rakyat Indonesia. Pede aja bahwa hari-hari terbaik masih menanti anda dan mungkin juga hari-hari terburuk masih mengintai anda. Yang sekarang jadi masalah besar mungkin di masa depan jadi bahan gurauan. Sama seperti kita dulu masih muda putus atau ditolak pujaan hati sedihnya minta ampun dan sekarang mungkin jadi bahan gurauan. Iya nggak?

July 12, 2007

Donald Trump dan Warren Buffet

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 12:52 pm

Dalam dunia bisnis rasanya tidak ada yang yang tidak mengenal dua orang ini. Donald Trump terkenal sebagai pengusaha real estate dan Warren Buffet terkenal sebagai investor pasar modal yang bertangan dingin.

Di Indonesia, seringkali menjadi pengusaha identik dengan keglamoran. Dengan kendaraan mahal, pakaian yang serba bermerk atau dibuat oleh perancang terkenal dan rumah yang luasnya sebesar lapangan sepak bola.

Citra seperti inilah yang diwakili oleh Donald Trump dengan propertynya yang terkenal yaitu Trump Tower dan Taj Mahal (tentu saja bukan yang di India itu). Kalau di Indonesia Tukul terkenal dengan empat mata dan kembali ke laptopnya. Mr Trump terkenal dengan “the apprentice” dan “you are fired”nya. Ada lagi yang saya ingat dari kedua orang ini yaitu Tukul berambut jigrik seperti landak (anak saya ingin sekali berambut seperti ini waluapun ia tidak pernah nonton empat mata) sedangkan Donald Trump berambut khas dengan jambul menonjol ke depan. Mirip rumah minimalis dengan overstek yang menonjol ke luar yang memerlukan biaya besar untuk membuatnya (namanya juga kontraktor rumah, penampilan orangpun bisa dianalogikan dengan gaya bangunan).

Sebenarnya menjadi pengusaha tidak mesti berpenampilan flamboyant seperti Pak Donald ini. Di sisi lain ada juga pengusaha yang berpenampilan sederhana seperti Warren Buffet. Warren Buffet terkenal dengan kehematannya. Dengan pakaiannya yang biasa dipakai orang biasa, kacamatanya yang murah meriah sampai makanan yang disukainya. Semuanya tidak mencerminkan kekayaannya yang luar biasa.

Bill Gates yang merupakan pengusaha terkaya di dunia juga bukanlah orang yang suka akan kemewahan. Lihatlah caranya berpakaian dengan kacamata yang kegedean dan rambut yang berketombe. Ia memang memiliki rumah yang berharga ratusan juta US$, tapi itu lebih karena obsesinya dengan teknologi. Kita juga mengenal almarhum Sam Walton yang perusahaanya pernah menjadi perusahaan terbesar versi majalah fortune. Mr Walton sampai akhir hayatnya mengendarai mobil truk yang sudah dikendarainya beberapa puluh tahun terakhir, tentu saja tanpa supir pribadi.

Saya cuma ingin mengatakan bahwa menjadi orang sukses dan kaya tidak mesti identik dengan kemewahan dan keglamoran. Itu adalah dua hal yang berbeda. Menjadi kaya tanpa keglamoran malah ada baiknya, yaitu kalau jadi miskin lagi karena bangkrut, mungkin tidak sesakit orang kaya yang berpenampilan bak keluarga raja.

Selain itu bukankah yang lebih penting seberapa besar manfaat kekayaan mereka dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat manusia. Bill Gates yang penampilannya berantakan mungkin sudah menyumbang untuk philantrophy lebih besar dari kekayaan Donald Trump saat ini. Warren Buffett yang sederhana merencanakan akan menyumbangkan 85% kekayaannya, apabila dia meninggal, untuk badan amal.

Selain Donald Trump tentu saja kita mengenal Larry Ellison, Paul Allen dan Lakshmi Mittal yang hidupnya bagai di dunia mimpi. Mereka memiliki rumah sangat-sangat besar dan yacht yang gigantic. Lagi-lagi ini pilihan gaya hidup.

Memang ada industri yang mengharuskan si pengusaha berpenampilan prima seperti industri hiburan dan mungkin industri keuangan. Tapi ada beda antara keharusan yang disebabkan pekerjaan dan gaya hidup yang diinginkan.

Saya tidak bermaksud mengkritik orang yang berpenampilan glamour dan berkilau, itu mah terserah aja. Saya cuma mau mengatakan menjadi kaya tidak mesti identik dengan keglamoran. Itu adalah dua hal yang berbeda.

Dan jangan lupa, yang jauh lebih penting dari penampilan adalah juga isi orangnya dan seberapa jauh orang tersebut berguna buat sesamanya. Betul nggak sih?

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King