imamrasyidi

September 16, 2007

Anak SD dan Globalisadi

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 1:54 pm

Anak saya yang paling besar tahun ini naik ke kelas 6 SD. Karena saya ingin anak saya bisa masuk ke SMP negeri maka saya pikir saya harus membantunya dalam mempersiapkan diri menghadapi ujian SD yang tahun ini katanya akan ada ujian nasional dan tes masuk SMP negeri.

Sebelum ini saya tidak terlalu memperdulikan pelajaran sekolah anak saya kecuali pelajaran bahasa Inggris dan matematika. Pelajaran-pelajaran lainnya selama di raport mereka tidak merah, buat saya tidaklah terlalu mencemaskan. Dan memang alhamdulillah tidak pernah raport kedua anak saya mendapatkan angka merah, ibunyalah yang paling berjasa dalam hal ini. Istri saya akan memeriksa tiap nilai ulangan dan latihan.

Mulai tahun pelajaran ini saya mulai membaca buku-buku IPS anak saya yang kelas 6. Bab pertama dari buku IPS ini adalah globalisasi. Saya terkejut membaca topic globalisasi ini. Kalau mau nilai anak saya bagus di sekolah. Memang mudah. Hapalkan saja definisi dan contoh-contoh globalisasi di buku teks ini. Saya jamin anak saya akan mendapat nilai bagus.

Tapi sayangnya saya tidak bisa membayangkan anak saya jadi robot penghapal, seperti dukun penghapal mantra. Apalagi dalam pelajaran yang seharusnya bisa dipahami secara nalar. Tentu saja ada pelajaran yang memang harus dihapal. Seperti menghapal ayat-ayat al Quran. Dengan bangga saya bisa mengatakan pengetahuan anak saya tentang pelajaran al Quran lebih baik daripada waktu saya seusianya (mungkin juga sekarang, malu ah). Waktu saya seusianya, saya membaca al Quran masih terbata-bata (padahal saya sekolah madrasah di kampung sampai kelas 4 dan diteruskan di Jakarta mengaji kepada ustadz sampai saya SMP). Alhamdulillah anak saya membaca al Quran terutama yang besar sudah seperti membaca surat kabar, walaupun ibunya masih sering mengkoreksi terutama tajwidnya.

Kembali ke globalisasi. Saya mencoba memahami buku teks anak saya tersebut. Pada akhir saya membaca, tetap saya tidak bisa menerangkan dengan baik. Sebagai bapak yang baik, akhirnya saya mencari ke beberapa toko buku tentang globalisasi untuk anak SD ini. Saya tidak menemukan buku yang cocok. Saya coba cari di internet. Juga tidak ketemu. Akhirnya saya menyerah dan membiarkan anak saya dalam keadaan tidak jelas. Dan ternyata memang benar. Ulangan anak saya tentu saja cuma pas-pasan alias cuma dapat 6 saja. Yang paling bagus nilai didapat pada bagian multiple choice. Yang paling jelek tentu saja pada bagian pertanyaan terbuka.

Selama ini ekspektasi terhadap anak saya cukup sederhana, naik kelas, ranking di kelas minimal berada di tengah, tetapi sekali lagi saya mengharapkan nilai matematikanya cukup bagus. Harus saya katakana bahwa meskipun nilai matematika anak saya lumayan baik, sangat jarang saya mengajari mereka dan jarang pula meminta mereka belajar di rumah. Paling-paling ibunya yang rajin ngomel menyuruh mereka belajar dan tentu saja tidak terlalu dituruti. Mungkin karena ayahnya yang lebih ditakuti. Dan melihat ayahnya cuek aja, akhirnya mereka juga lebih asyik nonton TV.

Saya baru turun tangan mengajari anak saya matematika kalau istri saya laporan bahwa nilai matematika anak saya jelek dan nyonya tidak mampu mengajari. Istri saya mengajari matematik seperti dia mengajari bagaimana membuat kue atau menerangkan jalan ke alamat tertentu, dengan bahasa verbal dan penuh keterangan. Kalau ini memang kelebihan dia dan kekurangan saya. Tentu saja anak saya nggak ngerti. Saya tahu yang diperlukan adalah memberikan beberapa contoh penyelesaian soal dan akhirnya anak saya akan mengerti sendiri. Saya bisa tahu seperti ini karena saya mempunyai kecenderungan yang sama. Mungkin gen ini menurun dari saya.

Pembaca yang budiman mungkin bertanya-tanya mengapa saya terobsesi dengan pelajaran matematika ini. Saya cuma berpikir agar anak saya bisa berpikir logis dan rasional. Coba liat pelajaran anak SD yang mana yang bisa membuat mereka seperti ini. Pelajaran lainnya sangat menekankan hapalan dan bukannya pengertian. Tentu saja kita bisa menyalahkan guru-guru di sekolahnya yang nggak kreatif. Bisa juga pemerintah yang juga tidak kapabel (mungkin yang kerja di Diknas) dan kurang perhatian.

Tapi daripada pusing seperti itu dan tidak ada penyelesaian. Saya mengambil jalan saya sendiri yaitu saya perkuat bacaan saya tentang parenting. Saya coba terapkan sebisa mungkin ilmu yang didapat dari buku-buku parenting tersebut. Sisanya saya biarkan anak saya melalukan hal-hal yang menurutnya menyenangkan. Mungkin juga saya ingin mengulangi pola saya kecil dulu yang tidak pernah diminta belajar dan waktu saya habiskan bermain di sawah mencari ikan, naik kerbau, atau mandi di rawa. Tetapi sayangnya anak saya lebih senang nonton TV, nonton cartoon network. Walaupun efek sampingnya bahasa Inggris mereka jadi bagus dan anak saya yang besar pernah juara scrabble Inggris antar SD Islam Terpadu.

Kembali lagi ke globalisasi. Untuk kasus ini saya pikir para orang tua mungkin mencari solusi mempermudah anak-anak SD memahami pelajarannya dengan membuat kartun atau komik-komik tentang pelajaran mereka di sekolah. Buat orang tua yang profesinya pendidik mungkin bisa berkolaborasi dengan kartunis membuat kartun-kartun yang mudah dipahami anak. Seperti saat ini ada komik tentang Stephen Hawking, Einstein, Newton, Darwin dsb. Komik-komik ini bahkan untuk orang dewasa.

Buat para orang tua yang berprofesi sebagai penerbit, ini adalah peluang baru. Bahkan bisa juga dibuatkan acara TV yang berkaitan dengan ini.

Jangan biarkan anak-anak kita menjadi anak-anak yang tidak kreatif, penghapal sejati dan tidak kritis. Saya yakin anak-anak kita memiliki potensi yang sama dengan anak-anak di Negara maju. Saya juga yakin anak-anak kita akan ada yang bisa meraih hadiah Nobel. Tentu saja bukan dengan cara menghapal rumus, karena kalau mau dapat hadiah Nobel ya mesti bikin rumus sendiri.

6 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://imamrasyidi.blogsome.com/2007/09/16/anak-sd-dan-globalisadi/trackback/

  1. Jelek amat analisisnya.

    Comment by joran — October 8, 2007 @ 2:43 am

  2. aku suka

    Comment by aan — November 9, 2008 @ 11:53 am

  3. nah.begini donx.cara lain untuk membuatanak br-F1xr logis adalah menjauhkan anak dari acara sulapan.dan jangan mudah percaya pada pengobatan nonmedis diluar kelogisan.mizznyadukun ponar1

    Comment by Nabilla eda y — February 20, 2009 @ 5:27 am

  4. ini bagus untuk memotivasi para orang tua agar bisa membimbing anak2 yg positif untuk memahami arti globalisasi

    Comment by winda — May 15, 2009 @ 1:18 pm

  5. lum ada

    Comment by anjul — August 5, 2009 @ 2:36 am

  6. menyukai kerna untuk perkembangan anak

    Comment by anjul — August 5, 2009 @ 2:38 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King