Surf Up
Saya baru aja nonton film kartun dengan anak saya yang
judulnya Surf Up. Film kartun sekarang sungguh
menarik. Walaupun karakternya cuma burung pinguin dan
ayam, karakter ini seolah-olah nyata dan sangat
realistis, sehingga bukan saja anak-anak senang
menontonnya juga orang tua. Walaupun tentu saja
penafsirannya sangat berbeda.
Ceritanya tentang seekor pinguin kecil bernama Cody
Maverick yang berambisi jadi idolanya Big Z yang sudah
almarhum karena kecelakaan pada saat bertanding
surfing.
Suatu saat Cody berduel surfing dengan Tank Evans,
yang dulu bertanding dengan Big Z dan akhirnya Big Z
kecelakaan dan mayatnya tidak ditemukan. Pada
pertandingan ini Cody kalah dari Tank bahkan hampir
tewas tenggelam tapi akhirnya selamat dan ditolong
Lani, seorang gadis lifeguard. Lani membawa Cody ke
seorang pria untuk dirawat dan disembuhkan lukanya.
Terakhir ternyata pria ini adalah pamannya Lani dan
dia adalah Big Z.
Tentu saja Cody kaget bukan kepalang setelah tahu Big
Z idolanya masih hidup. Ternyata Big Z memang sengaja
mengalahkan diri dan terus mengasingkan diri ke daerah
terpencil. Sejak peristiwa tersebut Big Z sudah 10
tahun menghilang dari keramaian.
Cerita ini berakhir tak terduga dengan adanya
pertandingan memperingati 10 tahun tewasnya Big Z
dimana dalam pertandingan ini diikuti oleh Tank Evans,
Cody, Chicken dan para penguin lainnya. Pertandingan
ini malah akhirnya dimenangkan oleh Chicken teman
Cody.
Yang menarik dari cerita ini adalah bahwa Big Z
sengaja mengalahkan diri dari Tank Evans padahal dia
tahu bahwa dia akan menang melawan Tank Evans. Dia
berbuat begitu karena dia tidak menyukai ide kalah
menang dalam pertandingan tersebut. Seandainya dia
menang maka akan ada orang yang kalah dan sedih dengan
kekalahannya.
Ide kalah menang ini sungguh tidak disukainya sehingga
dia memutuskan untuk terlihat seperti kecelakaan dan
kemudian mengasingkan diri. Dia bilang dia tidak suka
dengan ide itu dan dia memilih jalannya sendiri yang
sesuai dengan kemauannya.
Ini sungguh sebuah solusi yang post modern. Big Z
memilih untuk bahagia dan at peace dengan dirinya
sendiri daripada jadi selebriti dan bergelimang dengan
kenikmatan. Dia tidak menyalahkan orang lain untuk
melakukan yang umum dilakukan tapi dia juga ingin
orang lain menghargai keputusannya.
Pelajaran buat saya sendiri adalah bahwa kita tidak
perlu berlomba-lomba dengan orang lain memperebutkan
sesuatu yang dihargai banyak orang tapi lebih penting
untuk berbahagia walaupun dipandang aneh oleh banyak
orang. Yang lebih penting lagi adalah untuk menjadi
bahagia kita tidak perlu menyebabkan orang lain tidak
bahagia apalagi merugikan orang lain. Kalau bisa kita
menjadi bahagia karena bisa membahagiakan orang lain.
Kalaupun kita mau berlomba dan berkompetisi, lebih
baik berkompetisi dengan diri sendiri dan orang lain
hanya jadi ghost racer. Dengan cara ini kita tidak
terlalu sedih kalau kalah karena toh kita sudah
berbuat yang terbaik dan tidak merasa paling top kalau
menang karena toh orang lain juga berjasa telah
menjadi sparring dan perangsang prestasi kita.
Betul nggak Oom (jaman sekarang orang nulisnya cuma
Om, mungkin karena sekarang sudah jarang yang bisa
bahasa Londo Belanda (soalnya ada Londo Inggris, Londo
Jerman dll)) dan Tante?