Konglomerat oleh Wisnu Broto
KONGLOMERAT 1
Menjadi Konglomerat ! ini mungkin cita-cita anda
seperti juga para pelaku bisnis pada umumnya. Atau
paling tidak, usaha anda selama ini pasti juga dalam
rangka menggapai kesuksesan yang dibuktikan dengan
simbol-simbol mirip para konglomerat; mobil mahal,
rumah mewah, harta banyak.
Role model konglomerat adalah sangat menarik, terutama
dengan pemahaman bahwa mereka sebelumnya berasal dari
kalangan biasa dan ‘tidak berpunya’. Kesamaan latar
belakang ini (rasa ketidak-punyaan) menginspirasi anda
dan sebagian besar pelaku bisnis dengan segala upaya
mendobrak dengan harapan berhasil hingga menjadi kaya
(rasa berkecukupan). Sepertinya, Kaya indentik atau
setidaknya lebih dekat dengan rasa bahagia.
Perlu anda ketahui, wacana konglomerat adalah konsep
yang buruk. Mengapa ? karena konglomerat hanya
memiliki satu muara dari banyak anak sungai. Dalam
konglomerasi, begitu banyak orang hanya bekerja untuk
satu pemilik. Begitu banyak mata kegiatan hanya diatur
oleh satu kepentingan. Begitu banyak harta dan putaran
bisnis hanya dikuasai satu warga negara. Sebuah
kombinasi kekuatan yang rapuh sekaligus berbahaya.
Sekarang, seandainya anda telah menjadi konglomerat
dan memiliki semua yang disebut di atas, apakah anda
mau tetap hidup mati di satu ekosistem ekonomi
(negara) ? TENTU TIDAK, dengan kemampuan anda, pasti
anda akan melakukan transformasi aset dan kekuatan
bisnis ke ekosistem lain yang lebih nyaman atau
menjanjikan. Mungkin secara fisik anda hampir 100%
berada di Indonesia, akan tetapi kekayaan bersih anda
(whealth dari networth) besar kemungkinan berada di
luar negeri. Percayalah ! They are stateless.
Loyalitas konglomerat hanyalah kepada diri dan
keluarganya.
Tunggu dulu !. Anda harus bedakan konglomerat
Indonesia dengan negara lain. Di Indonesia konglomerat
hanya besar dari bisnis ekploitasi sumber daya
Indonesia (alam dan manusia). Kalaupun mereka jago
ekspor, maka yang diekspor kebanyakan adalah bahan
mentah atau produk olahan hasil bumi saja. Beda dengan
konglomerat Korea atau Jepang misalnya, mereka
menciptakan nilai tambah dimana mereka mengimpor bahan
baku besar-besaran dan kemudian mengekspor produk
jadinya ke hampir semua negara yang mungkin mereka
jangkau dengan nilai berlipat-lipat. Masyarakat dunia
tentu tidak asing dengan nama Hyundai, Samsung, LG,
Sanyo, Sony, Honda, Mitsubishi, Toyota, Nissan, dst..
Nah, dari mana konglomerat Indonesia memperoleh
akumulasi harta dan kegiatan ? tentu 100% dari sumber
daya publik Indonesia. Seluruh harta tersebut adalah
hasil putaran bisnis dengan masyarakat dengan
aktivitas utama eksplorasi sumber daya ekonominya
(Sumber Daya Manusia, waktu dan Alam Indonesia). Jadi
singkatnya, kekayaan konglomerat adalah hasil potongan
(‘slice’) dari kekayaan publik [baca; kekayaan anda].
Pada dasarnya, setiap ekosistem ekonomi berjalan
dengan mekanisme ZERO SUM GAME. Ada hak (sumberdaya
alam, waktu, daya beli, tingkat kepuasan) yang
berkurang dan karenanya ada hak yang bertambah di sisi
lain dalam jumlah yang sama. Celakanya, konglomerat
adalah bagian dari yang paling banyak menampung di
sisi hak yang bertambah. Padahal seharusnya, apabila
ada sumber daya alam terkuras, maka itu sebaiknya
adalah Hak yang dinikmati oleh sebanyak-banyaknya
orang (publik) dimana sumber daya tersebut berasal.
Tanpa hal ini, tidak akan pernah tercapai suatu
kesejahteraan bersama dan hilangnya kemiskinan.
Konglomerat adalah kekuatan berbahaya !. Semakin
banyak konglomerat (yang tentu makin menguasai
perekonomian) maka akan semakin rapuh ekonomi sebuah
bangsa. Kenapa ? ya itu tadi, keputusan bias dan
kepentingan golongan akan menonjol dalam menentukan
arah ekonomi dan hajat hidup publik. Kesalahan atau
kehancuran satu konglomerat saja, akan ditanggung
ramai-ramai oleh publik dan bisa jadi dapat
mengguncang ekonomi sebuah negara atau mata rantai
ekonomi banyak orang. Apakah anda masih ingat dengan
BPPN ? Berapa yang harus ditanggung anak cucu kita
dari kegiatan haircut oleh BPPN ?. Dalam rumusan ZERO
SUM GAME, ada haircut berarti juga ada loss di sisi
lain. Siapa yang harus Loss ? baiknya anda renungkan
dan pikirkan sendiri saja jawabannya.
Satu hal lagi bahayanya mereka bagi anda. Konglomerat
sudah terbukti punya kekuatan besar menentukan arah
politik dan proses hukum (cita rasa keadilan). Tentu
saja ini dilakukan untuk kepentingan PRIBADI atau
kelompoknya (yang ujung-ujungnya pribadinya juga).
Stigma kebal hukum konglomerat adalah sumber penyakit
menular yang berbahaya bagi sebuah bangsa. Ini
menimbulkan rasa apatis (ketidak-adilan) bagi anda dan
kita semua hingga yang muncul adalah andapun merasa
bisa mendapatkan kekebalan hukum yang sama (rasa adil
semu). Ini cara tersingkat yang bisa dilakukan untuk
menyeimbangkan rasa (obat nestapa) kita masing-masing.
Sedangkan dalam hal akses dan kemudahan, kekuatan uang
dan politik adalah menjadi senjata andalan utama para
konglomerat. Nah, ini mungkin adalah cikal bakal
merajalelanya korupsi dan kolusi di Indonesia. Semua
ini berawal dari teladan yang buruk.
Sayangnya bagi para politikus (penguasa dan pemimpin),
konglomerat adalah aset berharga. Mereka adalah
sumber kekuatan untuk menggalang dana guna memenangkan
proses politik. Era orde baru adalah contoh model
pengalangan kekuatan konglomerat untuk tujuan politik.
Saking lamanya berkuasa, mereka bahkan bisa menerapkan
proses tanam sejak bibit hingga panen dengan tumbuhan
jenis konglomerat. Ini pemikiran sempit golongan yang
sangat luar biasa dampaknya kini.
Mari kita kembali ke cita-cita anda. Apakah anda pikir
konglomerat hidup bahagia ? Sepertinya kebanyakan dari
mereka TIDAK bahagia. Tidak percaya ? Coba anda
pikirkan ini; harta adalah penjara dimana semua harus
dijaga keutuhannya. Semua harta kekayaan (asset) pasti
ada lawannya, kalau tidak modal, ya kewajiban.
Sedangkan porsi terbesarnya pastilah kewajiban (baca;
hutang). Jadi konglomerat itu adalah pengutang
terbesar di setiap ekosistem ekonomi. Uniknya, mereka
sensitif terhadap kondisi ekonomi, sedikit saja
bergejolak, hutang mereka sudah menjadi masalah. Dan
karena besarnya hutang, mereka sering tidak mampu
membayar dan cenderung menyelesaikan dengan cara
ngemplang. Anda pikir ngemplang itu enak ? rasanya
anda salah besar, ngemplang identik dengan ketakutan.
Karena di negara seperti kita, para politikus dan
penegak hukum pasti akan sangat beringas menekan anda
dan dosa anda tersebut tidak akan pernah dihapus
benar-benar oleh mereka, sampai anda mati.
Kadang-kadang, anda ‘terpaksa’ harus berada di luar
negeri untuk menghindari mereka.
Konglomerat juga terbiasa menetapkan suatu target
pencapaian tinggi untuk setiap urusannya. Dan bila
sudah tercapai, mereka akan menetapkan target kemudian
lebih tinggi lagi. Jadi, mereka sangat terbiasa dengan
rasa tidak puas diri. Rasa tidak puas dan tidak puas
ini pastilah sangat menyiksa mereka karena tidak dapat
mereka hentikan lagi. Apa-apa yang mereka miliki saat
ini tidaklah pernah membuat mereka merasa cukup
apalagi berlebih.
Coba pikirkan penggunaan waktu hidup anda saat ini dan
kedepan. Para konglomerat terpenjara oleh jadwal waktu
dan sederetan urusan yang harus dilakukan. 24 jam
sehari dan 30 hari sebulan adalah jauh dari cukup bagi
mereka. Apakah anda pernah berpikir keras untuk lebih
dari 5 urusan penting yang berbeda satu dengan lainnya
hanya dalam 1 hari ? Pasti melelahkan. Nah, rata-rata
keseharian konglomerat adalah seperti itu. Belum lagi
orang-orang yang bekerja dengan mereka, sedikit saja
melëng maka mereka akan bekerja tidak sesuai dengan
keinginan atau bahkan malah memperkaya dirinya. Apakah
anda bisa tidur nyenyak apabila ada ribuan karyawan
yang harus dibayar gajinya setiap bulan (tidak bisa
terlambat) tanpa memandang naik turunnya kondisi
perusahaan dan ramai-ramai menagih pesangonnya apabila
anda PHK atau pensiunkan ? Percayalah ! Hapiness is a
state of Mind.
Jalan keluar cepat bagi para konglomerat saat ini
untuk masalah mereka adalah melakukan
divestasi-divestasi dan merubah pola hidup mereka dari
business owner menjadi hanya investor saja. Yang
terjadi kemudian adalah akuisisi-akuisisi oleh para
pemodal asing atas bisnis mereka. Bayangkan, kerajaan
bisnis besar dengan kekuatan ekonomi besar untuk
melakukan ‘slice’ atas sumber daya kita dikuasai oleh
asing. Bila ini terjadi, Kapan kita akan sejahtera
bersama ? Jadi, para konglomerat lagi-lagi memilih
keputusan yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak
dengan skala kepentingan SUPER EGO mereka.
Yang paling nista dari segala macam konglomerat
barangkali adalah konglomerat di bidang industri
rokok. Mengapa ? karena mereka akan makin kaya bila
pelanggan mereka makin pendek usianya atau bila
pelanggannya mengeluarkan biaya perawatan kesehatan
makin besar. Apakah rokok memperpendek usia atau
bikin sakit manusia ? wah jawaban yang ini tolong
tanya ke dokter anda saja.
Pertanyaannya kemudian; Apakah kita tidak butuh
konglomerat ?. Hampir pasti TIDAK. Yang dibutuhkan
sebenarnya oleh anda dan kita semua adalah kapasitas
Konglomerasinya. Konglomerasi akan menjadi positif
apabila dimiliki oleh sebanyak-banyaknya publik.
Karena ini akan memiliki daya hidup dan menghidupi
yang luar biasa. Konglomerasi yang demikian adalah
seperti banyak muara dengan banyak anak sungai. Yang
kita butuhkan bersama adalah konglomerat-konglomerat
kecil saja dan tersebar di semua wilayah Indonesia.
Sebab, konglomerat kecil akan menjadi perangsang
kegiatan ekonomi daerah, tanpa dampak buruk yang
dimiliki konglomerat besar. Selain itu, konglomerat
kecil cenderung akan hidup lebih bahagia dibanding
menjadi konglomerat besar.
NAH kesimpulannya sekarang, apakah anda akan tinggal
diam dengan kondisi ini ? apa yang harus kita lakukan
bersama ? Tidak banyak yang bisa kita lakukan. Jalan
keluar yang paling baik adalah dengan memiliki
Regulator dan pemimpin yang memiliki kesadaran akan
kepentingan bersama (warganya), berani serta AMANAH.
Rasanya, untuk mendapatkan pemimpin baru seperti ini
sulit sekali dicapai mengingat kondisi tatanan politik
dan demokrasi kita. Jadi, yang paling cepat dan
sederhana adalah apabila pemimpin yang sekarang
tiba-tiba saja memiliki kesadaran baru dan mau
berubah. Wah, ini sama saja seperti berharap ada petir
di siang bolong. Tapi percayalah, tidak ada yang tidak
mungkin dengan kekuatan doa. Percayalah ! Sebenarnya
pemimpin kita sudah tahu apa-apa yang seharusnya
dilakukan. Tinggal berani atau tidak saja.
Yang paling penting dari semua tulisan ini adalah
bahwa kita harus menata ulang rencana hidup kita mulai
dari meredefinisi cita-cita kita sendiri. Esensi utama
segala bentuk pemikiran adalah upaya mencapai hidup
bahagia, mulailah dari menetapkan cita-cita anda
dengan baik. Anda belum terlambat. Apa saja syarat
hidup bahagia dan bagaimana cara terbaik mencapainya
adalah bersifat pilihan pribadi bagi setiap orang.
Ulasan pada Judul KONGLOMERAT 2 adalah hanya salah
satu pemikiran yang mungkin berguna bagi anda. Kalau
anda punya waktu cukup, silahkan membacanya.
Mudah-mudahan bermanfaat.
Kirimkan alamat email anda kepada kami. Segera kami
akan kirimkan tulisan berjudul KONGLOMERAT 2 khusus
untuk anda. Mohon maaf, kami tidak mempublikasikan
secara umum tulisan tersebut dengan alasan efektifitas
isi dan makna tulisan.
wisnu@flexsindo.com
Wisnu broto
November 2007