The Ethical Mind
Ini adalah judul wawancara Harvard Business Review
dengan psikolog Howard Gardner pada edisi Maret 2007.
Gardner adalah seorang profesor di Harvard Graduate
School of Education.
Menurut Gardner ada 5 minds yang harus dilatih agar
kita bisa maju dan bertahan hiduo di dunia ini baik
sebagai individu, komunitas maupun sebagai human race
secara keseluruhan.
Yang pertama adalah the discipline mind, adalah
kemampuan yang kita peroleh dengan cara yang disiplin
di sekolah. Dengan cara yang tekun kita mendapatkan
keahlian misalnya dalam bidang akuntasi, musik, hukum
dan sebagainya.
Mind yang kedua adalah synthesizing mind, adalah
kemampuan untuk mempelajari banyak hal dari berbagai
sumber kemudian memilih mana yang relevan dan penting.
Mind yang ketiga adalah the creating mind, adalah
kemampuan untuk menghasilkan ide baru, inovasi,
mengambil risiko dan penemuan baru.
Mind yang keempat adalah the respectful mind, yaitu
kemampuan untuk menjalin hubungan dengan manusia yang
lain dengan rasa hormat. Yg terakhir adalah ethical
mind. Kemampuan jni merupakan perluasan dari
respectful mind yaitu respect untuk manusia lain yang
sifatnya lebih abstrak. Seorang yang memiliki ethical
mind akan bertanya kepada dirinya sendiri: "Jika semua
orang dalam profesi saya memiliki mind-set yang sama
dengan saya atau jika semua orang melakukan hal yang
sama seperti yang saya lakukan, akan seperti apa
jadinya dunia".
Apakah perbedaan yang jelas antara respectful mind
dengan ethical mind? Kita biasanya mengasumsikan bahwa
orang yang respectful atau memiliki rasa hormat kepada
manusia lain juga memiliki pandangan yang etis
terhadap manusia lainnya. Kenyataannya ini adalah dua
hal yang berbeda. Menurut Gardner kita bisa respectful
tanpa memahami kenapa demikian; Sebagai anak kecil
kita diajarkan untuk menghormati orang tua karena kita
diajarkan demikian. Sementara itu konsepsi dan
kelakuan etis mensyaratkan adanya pemahaman yang lebih
luas dari sekedar pengalaman pribadi. Apabila kita
sudah bisa mencapai pemahaman etis (ethical mind),
kita akan menjadi pengamat yang imparsial dari
kelompok, organisasi, kemasyarakatan dan dunia. Dan
kita bisa mengorbankan respect kita terhadap orang
lain jika peran kita sebagai warganegara atau karyawan
memanggil kita untuk melakukan damage control untuk
melindungi ide atau institusi yang kita percayai
(susah banget nih nerjemahinnya, saya sarankan bagi
yang tertarik memang lebih baik baca langsung aslinya
di HBR).
Whisle-blowers memperlihatkan ethical mind (kemampuan
etis). (Itu lho Khairiansyah yang orang BPK kasus KPU
Mulyana Kusumah). Banyak orang mungkin melihat bos
kita melakukan sesuatu yang tidak etis, tapi kita
tidak mau melakukan apapun karena kita ingin tetap
bekerja di perusahaan tersebut. Seorang whistle-blower
mundur sejenak dari concern itu dan berpikir tentang
pekerjaannya dalam konteks yang lebih luas dan efek
dari hal tersebut terhadap masyarakat. Dia bertindak
dengan etis walaupun tindakan tersebut menyebabkan
hubungan yang penuh hormat dengan atasannya dan
akhirnya dengan pekerjaanya dan juga hubungan dengan
koleganya menjadi hancur. Dia mampu melakukan hal ini
karena dia lebih memikirkan kepentingan umum daripada
kesejahteraan dan keselamatan dirinya saat itu.
Orientasi etis dimulai di rumah, dimana anak-anak
dapat melihat apa yang dilakukan orang tuanya
sehari-hari. Anak-anak menyerap nilai-nilai religius
dan politik orang tuanya
Pada saat keadaan berjalan normal dan biasa saja,
cukup mudah untuk melakukan sesuatu yang tidak
bertentangan dengan etika. Tapi pada saat keadaan
sukar atau ada godaan dan kesempatan yang menggiurkan,
akan sangat berat untuk melakukan pilihan yang sesuai
dengan standar etika. Misalnya dalam bisnis yang saya
jalani, kontraktor rumah, pada saat saya mendapatkan
potensi keuntungan yang sangat tipis atau bahkan rugi,
maka ada godaan untuk mengurangi spek yang sudah
disepakati. Misalnya besi yang tadinya sesuai standar
menjadi besi banci, cat yang tadinya kualitas terbaik
menjadi kualtias kedua atau ketiga, dan sebagainya.
Selain itu misalnya penegak hukum yang mendapat kasus
dengan terdakwa yang berduit tebal dan sang terdakwa
menawarkan sogokan yang besarnya beratus kali bahkan
beribu kali gajinya perbulan.
Umumnya kita adalah manusia biasa yang seringkali
sukar untuk menghadapi persoalan berat masalah etika
ini sendirian karena itu Gardner menyarankan kita
memiliki orang yang dekat dengan kita yang dapat kita
percaya untuk kita ajak bicara manakala kita
menghadapai pilihan etis yang sukar. Saya sendiri
memiliki sahabat baik yang saya percayai akan
kebersihan hidupnya dari persoalan etis dan memiliki
daya nalar etis (ethical mind) yang mampu membantu
saya mengambil keputusan etika yang sulit.
Sebagai penutup saya kutip apa yang dikatakan oleh
Gardner tentang etika dan dunia kerja: "If you are not
prepared to resign or be fired for what you believe
in, then you are not a worker, let alone a
professional. You are a slave."