imamrasyidi

December 28, 2007

The Ethical Mind

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 3:50 am

Ini adalah judul wawancara Harvard Business Review
dengan psikolog Howard Gardner pada edisi Maret 2007.
Gardner adalah seorang profesor di Harvard Graduate
School of Education.

Menurut Gardner ada 5 minds yang harus dilatih agar
kita bisa maju dan bertahan hiduo di dunia ini baik
sebagai individu, komunitas maupun sebagai human race
secara keseluruhan.

Yang pertama adalah the discipline mind, adalah
kemampuan yang kita peroleh dengan cara yang disiplin
di sekolah. Dengan cara yang tekun kita mendapatkan
keahlian misalnya dalam bidang akuntasi, musik, hukum
dan sebagainya.

Mind yang kedua adalah synthesizing mind, adalah
kemampuan untuk mempelajari banyak hal dari berbagai
sumber kemudian memilih mana yang relevan dan penting.
Mind yang ketiga adalah the creating mind, adalah
kemampuan untuk menghasilkan ide baru, inovasi,
mengambil risiko dan penemuan baru.

Mind yang keempat adalah the respectful mind, yaitu
kemampuan untuk menjalin hubungan dengan manusia yang
lain dengan rasa hormat. Yg terakhir adalah ethical
mind. Kemampuan jni merupakan perluasan dari
respectful mind yaitu respect untuk manusia lain yang
sifatnya lebih abstrak. Seorang yang memiliki ethical
mind akan bertanya kepada dirinya sendiri: "Jika semua
orang dalam profesi saya memiliki mind-set yang sama
dengan saya atau jika semua orang melakukan hal yang
sama seperti yang saya lakukan, akan seperti apa
jadinya dunia".

Apakah perbedaan yang jelas antara respectful mind
dengan ethical mind? Kita biasanya mengasumsikan bahwa
orang yang respectful atau memiliki rasa hormat kepada
manusia lain juga memiliki pandangan yang etis
terhadap manusia lainnya. Kenyataannya ini adalah dua
hal yang berbeda. Menurut Gardner kita bisa respectful
tanpa memahami kenapa demikian; Sebagai anak kecil
kita diajarkan untuk menghormati orang tua karena kita
diajarkan demikian. Sementara itu konsepsi dan
kelakuan etis mensyaratkan adanya pemahaman yang lebih
luas dari sekedar pengalaman pribadi. Apabila kita
sudah bisa mencapai pemahaman etis (ethical mind),
kita akan menjadi pengamat yang imparsial dari
kelompok, organisasi, kemasyarakatan dan dunia. Dan
kita bisa mengorbankan respect kita terhadap orang
lain jika peran kita sebagai warganegara atau karyawan
memanggil kita untuk melakukan damage control untuk
melindungi ide atau institusi yang kita percayai
(susah banget nih nerjemahinnya, saya sarankan bagi
yang tertarik memang lebih baik baca langsung aslinya
di HBR).

Whisle-blowers memperlihatkan ethical mind (kemampuan
etis). (Itu lho Khairiansyah yang orang BPK kasus KPU
Mulyana Kusumah). Banyak orang mungkin melihat bos
kita melakukan sesuatu yang tidak etis, tapi kita
tidak mau melakukan apapun karena kita ingin tetap
bekerja di perusahaan tersebut. Seorang whistle-blower
mundur sejenak dari concern itu dan berpikir tentang
pekerjaannya dalam konteks yang lebih luas dan efek
dari hal tersebut terhadap masyarakat. Dia bertindak
dengan etis walaupun tindakan tersebut menyebabkan
hubungan yang penuh hormat dengan atasannya dan
akhirnya dengan pekerjaanya dan juga hubungan dengan
koleganya menjadi hancur. Dia mampu melakukan hal ini
karena dia lebih memikirkan kepentingan umum daripada
kesejahteraan dan keselamatan dirinya saat itu.

Orientasi etis dimulai di rumah, dimana anak-anak
dapat melihat apa yang dilakukan orang tuanya
sehari-hari. Anak-anak menyerap nilai-nilai religius
dan politik orang tuanya

Pada saat keadaan berjalan normal dan biasa saja,
cukup mudah untuk melakukan sesuatu yang tidak
bertentangan dengan etika. Tapi pada saat keadaan
sukar atau ada godaan dan kesempatan yang menggiurkan,
akan sangat berat untuk melakukan pilihan yang sesuai
dengan standar etika. Misalnya dalam bisnis yang saya
jalani, kontraktor rumah, pada saat saya mendapatkan
potensi keuntungan yang sangat tipis atau bahkan rugi,
maka ada godaan untuk mengurangi spek yang sudah
disepakati. Misalnya besi yang tadinya sesuai standar
menjadi besi banci, cat yang tadinya kualitas terbaik
menjadi kualtias kedua atau ketiga, dan sebagainya.
Selain itu misalnya penegak hukum yang mendapat kasus
dengan terdakwa yang berduit tebal dan sang terdakwa
menawarkan sogokan yang besarnya beratus kali bahkan
beribu kali gajinya perbulan.

Umumnya kita adalah manusia biasa yang seringkali
sukar untuk menghadapi persoalan berat masalah etika
ini sendirian karena itu Gardner menyarankan kita
memiliki orang yang dekat dengan kita yang dapat kita
percaya untuk kita ajak bicara manakala kita
menghadapai pilihan etis yang sukar. Saya sendiri
memiliki sahabat baik yang saya percayai akan
kebersihan hidupnya dari persoalan etis dan memiliki
daya nalar etis (ethical mind) yang mampu membantu
saya mengambil keputusan etika yang sulit.

Sebagai penutup saya kutip apa yang dikatakan oleh
Gardner tentang etika dan dunia kerja: "If you are not
prepared to resign or be fired for what you believe
in, then you are not a worker, let alone a
professional. You are a slave."

December 24, 2007

never cold call again

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 7:50 am

Judul buku ini langsung menarik perhatian saya ketika
saya datang ke toko buku. Buku ini terjemahan yang
aslinya tentu saja dalam bahasa Inggris tapi judulnya
tetap dipertahankan dalam bahasa Inggris dan tidak
dirubah ke dalam bahasa Indonesia. Mungkin tren saat
ini memang judul buku agar laku memakai bahasa Inggris
bahkan buku-buku yang ditulis dalam bahasa Indonesia.

Tapi pertimbangan lain bisa jadi memang cold call
bahasa baku di kalangan tenaga penjual (salesman),
sehingga kalau diterjemahkan jadi kehilangan maknanya
dan menjadi kurang dikenal.

Bagi yang tidak familiar dengan kata cold call kata
ini artinya adalah panggilan telepon yang dilakukan
tenaga penjual kepada calon klien yang tidak
dikenalnya. Darimana data calon klien diperoleh? Bisa
didapat dari buku telepon atau perusahaan penyedia
data seperti ini.

Kalau orang mendengar kata cold call memang
asosiasinya langsung kepada kegiatan yang membosankan
dan menyebalkan. Bahkan untuk tenaga penjual itu
sendiri.

Saya pernah bekerja di perusahaan dimana cold call
adalah kegiatan yang sudah rutin dan baku dilakukan
sehingga saya cukup tahu seluk beluk cold call ini
walaupun saya sendiri tidak melakukannya secara
langsung karena saya tidak pernah menjadi front line
salesman.

Saya tidak menyukai cold call karena biasanya orang
yang kita telepon akan merasa terganggu dengan telepon
dari orang yang tidak dikenal yang mencoba untuk
menjual sesuatu yang kemungkinan besar tidak
dibutuhkannya. Sementara sang salesman ini harus harus
melakukannya bahkan bisa mencapai 100 cold call dalam
sehari.

Buku ini berguna bukan hanya bagi orang yang bergerak
dalam bidang penjualan tetapi juga bagi pengusaha
kecil seperti saya.

Buku ini dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama
mengargumentasikan bahwa konsep cold call tidak
efektif apalagi dengan adanya kemajuan dalam bidang
informasi dengan lahirnya internet.

Bagian kedua membicarakan konsep self marketing yang
menurut pengarang lebih efektif daripada cold call.
Bagian ketiga dan terakhir membicarakan bagaimana
akhirnya menutup penjualan.

Bagian yang paling saya sukai dari buku ini adalah
bagian yang kedua. Alasannya karena pada bagian
pertama tanpa membaca buku inipun saya memang tidak
menyukai cold call. Bagian ketiga menurut pengalaman
saya bagian yang membahas hal yang lebih mudah untuk
dilakukan yaitu eksekusi penjualan.

Paling susah adalah memasarkan produk atau jasa anda
tanpa cold call tentunya. Dan yang menyenangkan buat
saya adalah ada hal-hal yang sudah saya lakukan yang
direkomendasikan buku ini, misalnya membuat web blog,
seperti yang sekarang anda baca.

Saya juga mendapat ide dari buku ini yaitu untuk
membuat seminar gratis. Hmmm mungkin saya akan
mencobanya. Kelihatannya ide ini cukup masuk akal.

Jadi bagi orang-orang yang bergerak dalam bidang
penjualan, bagi para pemilik usaha kecil bahkan
mungkin bagi para pengambil keputusan, saya
merekomendasikan buku ini untuk dibaca. Selamat
membaca dan semoga sukses.

December 14, 2007

Resensi Buku Business Ethics oleh Dr Erni R. Ernawan

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 7:03 am

Saya tidak mengerti mengapa buku ini diberi judul
dalam bahasa Inggris, padahal isinya jelas-jelas dalam
bahasa Indonesia. Mungkin sudah tren saat ini  dimana
judul buku, judul novel, dan judul film dalam bahasa
Inggris. Mungkin memiliki daya jual lebih tinggi
daripada diberi judul dalam bahasa Indonesia.

Buku ini juga tidak diberi keterangan tentang siapa
pengarangnya. Keterangan tentang pengarang ini
membantu menilai apakah bukunya cukup kredible atau
tidak. Sebagai orang awam, yang paling gampang untuk
mempercayai suatu pendapat kalau yang mengatakan atau
menuliskannya lulusan dari perguruan tinggi yang cukup
dikenal atau pernah mendapat penghargaan dari lembaga
yang kredibel.

Terus terang buku ini agak membosankan, terlalu banyak
yang ingin dibahas dan kurang persuasif dalam
presentasinya. Tapi OKlah masih lebih baik ada buku
yang membahas etika bisnis ini daripada nggak ada sama
sekali. Saya mohon maaf kepada pengarangnya atas
komentar saya yang menyebalkan. Anggap saya saya
adalah Simon, juri American Idol itu lho.

Buku ini mirip ringkasan untuk mahasiswa yang ingin
mengikuti ujian daripada membahas secara menarik dan
berwacana secara mendalam tentang etika bisnis. Jadi
buku ini bukan textbook untuk mahasiswa atau bacaan
populer untuk orang awam, tapi juga bukan karangan
ilmiah untuk para akademisi.

Seingat saya buku-buku textbook untuk mahasiswa (saya
kuliah ekonomi) cukup menarik untuk dibaca dan dengan
bahasa yang cukup mengalir. (Textbook yang kami baca
dulu sebagian besar dalam bahasa Inggris). Apalagi
buku-buku kelas pengantar.

Kalau buku yang diperuntukkan untuk umum biasanya
bahasanya lebih populer lagi dan enak dibaca. Bahkan
jurnal manajemen macam Harvard Business Review sungguh
enak dibaca. Padahal ini adalah jurnal yang cukup
serius.

Buku ini cocok untuk pengantar awal tentang etika
bisnis bagi yang membacanya karena buku ini mencoba
membahas secara general mulai dari pengertian etika
bisnis hingga contoh penerapannya di perusahaan.
Apabila kita tertarik untuk membaca lebih lanjut
tentang topik-topik tertentu dalam etika bisnis di
belakang ini ada daftar pustaka yang berisi buku-buku
yang dapat kita baca lebih lanjut.

Buku ini juga membahas etika bisnis dari perspektif
Islam walaupun sangat teoritis.

Buat saya yang paling relevan sebagai pengusaha lemah
tapi bervisi besar adalah bab terakhir dari buku ini.
Bab terakhir membahas contoh kasus penerapan etika
bisnis di perusahaan.

Bab terakhir ini langsung bisa saya pakai untuk usaha
yang kami jalani yaitu kontraktor rumah tinggal. Sudah
sering kita dengar bahwa pemborong adalah pembohong.
Tentu saja tidak semua kontraktor seperti itu. Seperti
juga tidak semua pegawai pemda melakukan korupsi atau
bahwa semua penegak hukum tidak amanah.

Tapi memang di bisnis yang kami jalani banyak celah
untuk melakukan ketidakjujuran. Hal ini salah satunya
disebabkan adanya moral hazard yaitu tidak semua
informasi yang diketahui kontraktor diketahui juga
oleh pemilik rumah.

Karena itu menurut saya sangatlah baik kalau dari
kecil usaha yang saya jalani mulai sedikit demi
sedikit menerapkan etika bisnis dan tidak menunggunya
sampai usaha menjadi besar karena akan lebih sulit
untuk melaksanakannya. Untuk bisnis kecilpun memang
etika bisnis tentu saja mesti diterapkan tetapi untuk
usaha yang  kecil relatif mudah mengontrol
pelaksanaannya karena skala usahanya yang masih kecil
itu sehingga pemilik bisnis bisa langsung memantaunya.
Apabila usaha makin membesar diperlukan penerapan yang
lebih sistematis untuk memudahkan pemantauannya.

Jadi baik usaha kecil maupun besar, udah selayaknya
kita menerapkan etika bisnis dengan baik.

December 8, 2007

Qurban dan Pengorbanan

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 4:23 am

Sebentar lagi kita akan merayakanhari raya Idul Adha
atau hari raya Qurban. Bagi yang mampu pada hari besar
ini di Indonesia akan menyembelih kambing, domba, sapi
atau kerbau. Dagingnya sebagian besar akan dibagikan
kepada yang tidak mampu.

Perintah Qurban ini dimulai pada Nabi Ibrahim yang
awalnya diminta menyembelih putranya Ismail. Tentu
saja Nabi Ibrahim gundah gulana bukan kepalang. Buat
seorang ayah, lebih baik mengorbankan nyawanya sendiri
daripada nyawa anaknya. Apalagi anak tersebut
merupakan anak kesayangan yang taat kepada orang tua
dan agama.

Pada saat Nabi Ibrahim sudah siap mengunuskan golok
untuk menyembelih Ismail, pada last minute Allah
memerintahkan Nabi Ibrahim mengganti Ismail dengan
seekor kambing. Dimana daging kambing ini dibagikan
kepada fakir miskin.

Menurut saya peristiwa ini sungguh menggambarkan
ketaatan luar biasa penuh dari seorang manusia kepada
Khaliknya. Perintah berkorban melebihi pengorbanan
nyawa sendiri adalah jauh di luar batas ketahanan
manusia biasa. Kecuali tentu saja bagi orang tua sakit
yang mengganggap anak hanya beban belaka.

Ketaatan kepada Sang Pencipta ini juga menemukan
bentuk yang relevan dengan manusia sebagai mahluk
sosial berupa qurban hewan ternak yang dagingnya
dibagikan kepada fakir miskin.

Hewan qurban ini bukan hewan yang dicemplungkan
hidup-hidup ke kawah gunung berapi, bukan pula hewan
hidup yang dilarung ke tengah laut, atau hewan hidup
yang dilepas ke hutan. Hewan yang diqurbankan adalah
hewan yang sehat yang disembelih dengan cara yang
efisien (agar sang hewan tidak sakit berkepanjangan),
dan dagingnya bukan untuk didiamkan mubazir, atau
ditaruh di tengah lapang agar dimakan burung bangkai
atau dikubur disuatu tempat yang dianggap angker, atau
dimasak dan dijadikan sesaji yang berakhir mubazir
atau dimasak dan dimakan dalam pesta sesama anggota
keluarga.

Daging hewan qurban ini sebagian besar dibagikan untuk
mereka yang kekurangan dan tidak bisa mengkonsumsi
makanan yang tidak terjangkau oleh kaum miskin.

Jadi tafsiran bebas saya dari peristiwa qurban ini
adalah bahwa peristiwa ini menggambarkan ketaatan
penuh kepada Sang Pencipta yang menemukan dimensi
kemanusiaaannya dalam bentuk pengorbanan untuk umat
manusia lainnya terutama kaum niskin dan tertindas.

Apabila ketaatan kepada Sang Pencipta tidak
menyebabkan perilaku yang positif bagi kemanusiaan
maka ada hal yang terputus dalam tindakan kita dari
ajaran dasar agama. Apalagi ada yang memperlihatkan
perilaku sangat agamis tetapi menganiaya hak orang
lain dengan mengambil yang bukan haknya. Saya tidak
mengerti dimana yang salah dari situasi ini. Apakah
orang ini mengganggap ketaatan kepada Tuhan tidak
berkaitan dengan kelakuannya sebagai mahluk sosial?
Atauakan yang lebih parah lagi adalah bahwa ketaatan
kepada Tuhan hanyalah bungkus untuk mencapai
kenikmatan duniawi dan atau melampiaskan nafsu
kekuasaan.

Peristiwa qurban ini seyogyanya mengilhami kita untuk
menjadi militan dalam menjalankan hidup sebagai
khalifah di bumi. Yang diminta dari kita bukanlah
nyawa kita atau bahkan nyawa anak kita. Yang diminta
adalah sebagian kekayaan kita baik yang berupa materi,
waktu atau perhatian untuk dialokasikan bagi mereka
yang tertindas dan kurang beruntung. Dan bukan
sebaliknya mengambil dari hak yang tertindas dan
beruntung seperti menyunat uang rakyat yang
diperuntukkan bagi pendidikan, kesehatan atau
infrastruktur sosial lainnya seperti listrik dan
jalan.

Peristiwa qurban juga mengajarkan kita untuk hanging
tough menghadapi godaan distraction dunia dan stick
dengan tujuan kita sebagai khalifah di bumi. Nabi
Ibrahim mengalami tekanan luar biasa dengan diminta
untuk mengorbankan anaknya. Sedangkan kita hanya
diminta untuk tidak berbuat yang merugikan orang lain
dan menyisihkan sebagian dari yang dikaruniakan kepada
kita untuk kemaslahatan umat manusia.

Militansi seperti inilah yang dimiliki oleh umat
generasi awal sehingga ketidakcintaannya kepada dunia
malah menjadikannya umat yang prestisius dan menjadi
super power dunia saat itu.

Saat ini ketaatan agama kita seringkali dikalahkan
oleh nafsu dan mempertuhankan materi. Sehingga tidak
heran cara apapun boleh dipakai selama bisa
meningkatkan kenikmatan duniawi dan ketaatan kepada
Tuhan hanyalah derivasi belaka. Karena itu banyak
kejadian koruptor bisa bolak-balik naik haji dan
bolak-balik korupsi.

Maka dengan ini marilah kita menghayati semangat
qurban agar paripurna peran kita sebagai mahluk yang
diturunkan ke muka bumi. Amiiiiin

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King