imamrasyidi

January 17, 2008

Pembantu, PRT, Asisten, Babu dan Bedinde

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 5:42 am

Seringkali kalau saya mengucapkan atau menulis kata
pembantu saya merasa risih dan tidak nyaman.
Seolah-olah saya ini orang yang jauh lebih tinggi
derajatnya dan lebih mulia.

Seingat saya dulu kata pembantu dipakai karena kata
Babu yang terkesan merendahkan, kampungan dan tidak
elok. Akhirnya orang menggantinya dengan kata Pembantu
dan PRT. Tapi saat ini ada beberapa orang yang saya
kenal yang menggunakan kata asisten untuk pembantu di
rumahnya. Mungkin memang benar bahwa mereka tidak
diperlakukan seperti pembantu di rumah-rumah
kebanyakan orang. Mungkin juga kata ini hanya
eufemisme atas kata pembantu yang berkonotasi sama
dengan kata Babu dulu itu.

Akhirnya mungkin kata asisten bisa jadi tren dan
menggantikan kata pembantu di masyarakat dan balik
lagi kata ini akan berubah. Kenapa siklus ini terus
terjadi.

Kemungkinan pertama, bisa jadi memang perlakuan
terhadap pembantu ini makin membaik sehingga kata
sebutannya dipakai yang lebih manusiawi. Sejak dulu
disebut Bedinde dan Babu sampai sekarang jadi asisten
mungkin ada perubahan perlakuan dari majikan. Kalau
dulu mungkin pembantu disuruh kerja 24/7, sekarang ada
pembantu yang pulang hari. Kalau dulu pembantu diberi
kamar cuma pas untuk tidur, sekarang mungkin kamar
tidur mereka lebih manusiawi. Kalau dulu makanan yang
mereka makan lain dengan yang dimakan majikannya,
sekarang mungkin makanannya sama.

Kemungkinan kedua, orang cuma mencari kata yang lebih
baik. Perubahan kata pembantu menjadi kata yang lebih
baik tidak akan bermakna kalau perlakuan terhadap
pembantu sama saja. Jadi karena perlakuannya tetap
aja, maka kata baru itu cuma bertahan sesaat. Mana
dari dua kemungkinan ini yang lebih sesuai keadaan
sebenarnya. Silakan anda nilai sendiri.

Mungkin memang benar kita jauh lebih pintar, lebih
berharta, lebih cantik atau lebih ganteng (orang
berduit pasti mampu merawat diri, walaupun mungkin
waktu lahir sang pembantu lebih cantik dan ganteng
dari majikannya), tapi siapa yang bisa memilih untuk
jadi anaknya pak Ujang dan Bu Inem bukan jadi anak Pak
Harto atau Titiek Puspa. Siapa yang bisa memilih untuk
lahir di daerah yang tandus dan kekurangan yodium
sehingga IQnya nggak sampe 100 dan bukan lahir di
daerah tandus juga tapi banyak minyak dan minyaknya
punya ortu sendiri lagi.

Jadi jangan belagu (kata orang Betawi) dulu. Apa tidak
mungkin kita bisa hidup nikmat karena beruntung aja?
Beruntung punya otak encer, beruntung pandai gaul,
beruntung lahir dari keluarga yang berkelebihan,
beruntung berwajah rupawan, beruntung punya mertua
kaya, beruntung ketemu network yang tepat, beruntung
diberi bakat yang laku dijual dsb. Memang sih mungkin
kita juga pekerja keras, tapi akankah kita sesukses
dan senikmat ini kalau tidak diberi keberuntungan oleh
yang Maha Kuasa?

Tuhan Maha Adil, saya kira tiap orang akan diminta
pertanggungjawaban sesuai dengan endowment yang
diberikan kepada masing-masing. Tapi ini cuma
tebak-tebakan saya aja. Untuk gampangnya agar kita
lebih berempati pada masyarakat kelas bawah ini, coba
anda bayangkan seandainya anda lahir dengan keadaan
yang sama dengan mereka lahir dan kemudian pada
perjalanan hidup anda tidak diberi keberuntungan
seperti yang anda dapatkan. Bisa nggak hidup nikmat
seperti sekarang?

Karena itu, marilah kita sayangi para asisten ini
dengan lebih baik (jangan berpikir yang aneh-aneh ya
para Bapak, kan kepada yang lemah kita harus
menyayangi)

Selamat Tahun Baru. Semoga tahun ini kita mampu lebih
bersyukur dan menikmati setiap detik dan setiap rezki
yang diberikan. Semoga tahun ini kita diberi
keberanian untuk merubah yang bisa kita rubah dan
diberi kesabaran untuk menerima apa yang tidak bisa
kita rubah. Semoga kita lebih berguna untuk masyarakat
di sekeliling kita. Amiiiin

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King