imamrasyidi

February 12, 2008

Strategi Pemberdayaan Masyarakat Melalui Koperasi

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 9:32 am

Saat ini saya mendirikan Koperasi Simpan Pinjam
Syariah (KSPS) atau bahasa populernya baitulmal wa
tamwil (BMT) dengan tetangga di perumahan saya
tinggal. Orang seringkali mendirikan lembaga
pembiayaan usaha kecil sama dengan mendirikan bisnis
lainnya yaitu semata-mata ada peluang bisnis di sektor
pembiayaan usaha kecil ini. Tentu saja tidak masalah
dengan niat seperti ini. Sama dengan membuat bisnis
lainnya asalkan tidak melanggar hukum ya sah sah saja.
Memang peluangnya cukup baik apalagi ada sumber dana
murah yag diberikan dari keuntungan BUMN atau ada
kredit program dari departemen koperasi.

Tapi buat saya koperasi UMKM ini adalah juga sarana
untuk memberdayakan orang-orang kecil di lingkungan
sekitar kami tinggal. Memang mesti seimbang antara
motif sosial dan motif bisnis dari koperasi ini.
Karena kalau hanya motif sosial mungkin dananya cepat
habis dan kami tidak bisa secara berkelanjutan membina
para pengusaha lemah ini. Sementara kalau hanya motif
bisnis terus terang saya tidak tertarik ikut
organisasi koperasi UMKM ini. Saya toh sudah punya
usaha sendiri yang walaupun kecil tetapi terus
berkembang.

Dengan dua motif yang harus seimbang ini dan melalui
proses pemikiran dan pengalaman lapangan pada awal
beroperasinya koperasi maka saya berkesimpulan bahwa
strategi perkembangan koperasi kami adalah dengan
menaikkan taraf hidup dan perekonomian anggotanya dan
nasabahnya dan dengan sendirinya koperasi akan
berkembang. Bukan sebaliknya yaitu yang dipikirkan
hanya bagaimana agar dana yang dipinjamkan dapat
kembali dengan hasil yang sudah ditentukan.

Keadaan di lapangan menunjukkan bahwa ada dua golongan
nasabah. Golongan pertama adalah ibu-ibu yang umumnya
sukar diajak berpikir untuk membesar usahanya. Mereka
adalah peminjam yang meminjam just to survive the day
(bener nggak nih Inggrisnya?). Jadi golongan ini
adalah golongan gali lubang tutup hutang.

Golongan kedua adalah golongan yang meinjam untuk
benar-benar menaikkan kapasitas usaha kecil mereka.
Golongan ini jauh lebih sedikit dari golongan pertama
di atas. Mungkin cuma sekitar 1% - 5% saja.

Bagaimana menaikkan taraf hidup golongan pertama. Saya
merasa terlalu abstrak untuk mengatakan kepada ibu-ibu
ini tentang kepuasan pelanggan, pertumbuhan usaha,
marjin usaha, inovasi apalagi blue ocean strategy.
Saya pikir advis yang paling cocok untuk mereka adalah
untuk hidup hemat dan penetapan prioritas pengeluaran
yang baik agar putra-putri mereka dapat bersekolah
dengan baik.

Sebenarnya ibu-ibu ini mengingatkan saya pada ibu saya
yang berjuang keras untuk menyekolahkan anak-anaknya.
Saya ingin sekali mereka paham bahwa mereka dan
putra-putri mereka punya masa depan. Sebagai contoh
saya membuka diri kepada mereka. Saya katakan bahwa
ibu-ibu ini sama dengan ibu saya dulu yang harus
berpikir keras bagaimana esok hari dengan lauk apa
anak-anaknya makan (Mungkin sebagian dari ibu-ibu ini
malah lebih baik ekonominya daripada ibu saya dulu).

Saya juga menceritakan kisah saya di SMA yang tidak
bisa saya lupakan hingga saat ini. Pada saat kelas 3,
kalau tidak salah di SMA kita diadakan study tour ke
Yogya. Ibu saya hendak memaksakan diri berhutang dan
menjual barang-barang yang tidak seberapa yang dia
miliki. Saya tidak tega dan tidak mau menyusahkan
orang tua saya. Saya katakan ke ibu saya bahwa nanti
saya akan ke daerah-daerah di Indonesia bahkan ke Bali
dengan tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Saya
mengatakan ini untuk menghibur ibu saya agar beliau
tidak bersedih melihat anaknya tidak bisa ikut acara
tour itu. Dan kenyataannya beberapa tahun kemudian
saya bukan hanya pergi ke beberapa kota propinsi di
Indonesia bahkan bisa pergi ke beberapa kota besar
dunia dan tentu saja sepeserpun saya tidak
mengeluarkan uang pribadi.

Seandainya saya masih bekerja di perusahaan tsb
mungkin saya masih harus pergi ke kota-kota besar
dunia lainnya walaupun excitementnya sudah rada
menguap malah jadi rutinitas yang sedikit membosankan.
Sekarang sih saya cukup menikmati Ian Wright, Megan
McCormick, Justin Shapiro dan Samantha Brown berkelana
ke tempat-tempat eksotis di dunia melalui layar TV.
(Yah kalau nggak mampu lagi, kita harus bisa menghibur
diri sendiri. Kan mana mungkin pengusaha kelas nano
yang naik mobil yang cocok di udara dingin alias nggak
ada AC, bisa pergi ke LN, ke Bandung aja mesti
diitung-itung dulu).

Dan ternyata akhirnya mereka mulai mau bercerita
tentang keuangan mereka dimana ada seorang ibu yang
memiliki 4 anak yang katanya cuma berpenghasilan
Rp800.000 tapi pengeluarannya Rp2.000.000,-.

Saya katakan kepada mereka bahwa kata kuncinya adalah
hemat dan prioritas pengeluaran yang benar. Teman saya
sesama pengurus koperasi mengatakan bahwa mana mungkin
ibu-ibu ini bisa lebih menghemat lagi. Lha yang ada
aja nggak cukup. Yah mungkin untuk yang benar-benar
dhuafa atau yang miskin secara absolut skemanya
mungkin bukan pinjaman tapi bantuan, infak dll.

Ide hemat ini memang counterintuitive. Tapi saya cukup
tahu bahwa ini adalah solusinya karena saya melihat
orang tua saya dan orang-orang ekonomi lemah lainnya
yang sebenarnya bisa hidup lebih mudah seandainya
mereka mau berpikir mengenai penghematan dengan lebih
serius lagi dan membuat prioritas pengeluaran dengan
lebih baik.

Salah satu contoh misalnya adalah dengan mengurangi
naik angkot apabila jaraknya tidak cukup jauh, apalagi
saat ini ada kampanye 10.000 langkah. Saat ini orang
sedemikian manjanya bahkan yang ekonominya lemah juga
berpenyakit jantung dan darah tinggi. Saya katakan
bahwa seandainya mereka bisa menghemat Rp2.000/hari
maka dalam setahun mereka bisa membeli kambing seharga
Rp720.00. Kalau cukup mampu, kambingnya bisa untuk
kurban dan kalau tidak maka uangnya bisa dibelikan 2
ekor kambing betina muda dan diternakkan (di daerah
saya masih banyak lapangan rumputnya).

Saya bahkan memberi contoh kisah Robinson Crusoe yang
terdampar di pulau tak berpenghuni tapi akhirnya bisa
kembali ke Inggris dengan berhemat dan berinvestasi
secara militan.

Saya meras argumen saya kepada ibu-ibu ini belum cukup
meyakinkan, tapi saya pikir dengan kegigihan dan
kreativitas suatu saat (semoga Tuhan memberi saya
kesabaran) mereka akan terpersuasi.

Untuk golongan kedua yaitu golongan yang memiliki
potensi usaha bisa membesar saya coba menghadirkan
usahawan yang relatif berhasil dalam skala kecil untuk
dijadikan inspirasi bagi mereka yang masih berjuang
keras dari bawah. Saat ini saya baru bisa kasih contoh
seorang bapak yang belasan tahun lalu hanya seprang
sopir dan saat ini memiliki 8 mobil jemputan.

Bagaimana gambar besar dari dua golongan ini? Saya
pikir saya akan memaksa golongan ibu-ibu untuk
menabung di koperasi kami, minimal Rp5.000 setiap kali
mereka sekalian membayar angsuran. Sehingga lama
kelamaan mereka terbiasa untuk menyisihkan sedikit
uang belanja. Sedangkan golongan kedua yang akan
memakai dana dari golongan satu untuk investasi di
usaha mereka. Suatu saat dari golongan kedua akan
timbul pengusaha-pengusaha menengah dimana koperasi
kami memiliki saham di usaha mereka.

Begitulah strategi yang ada di kepala saya. PRnya
masih banyak, karena strategi ini belum tentu diterima
oleh pengurus koperasi kami yang lain. Memang setelah
beberapa lama saya rasa perjuangan di internal
pengurus sendiri sama sukarnya (bahkan mungkin lebih
sukardan menyebalkan) dibanding dengan mengurus
nasabah pengusaha lemah ini. Tapi itulah yang
membedakan visi dan mimpi. Visi memerlukan ketabahan,
kemauan bekerja keras, kreativitas, keseimbangan
jangka pendek dan jangka panjang, ketekunan, kemauan
berkorban, kerendah-hatian, keikhlasan, dan kegigihan.
Sementara mimpi memerlukan kemalasan, procrastination,
kemudahputusasaan, ketidakrealistisan, daydreaming,
pemanjaan ego, kecengengan dan pencarian kambing hitam
(terus terang aja ini semua juga penyakit kronis yang
sudah lama menghinggapi saya).

Semoga saya dan kita semua terbangun dari mimpi dan
gigih dalam mewujudkan visi. Amiiin.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://imamrasyidi.blogsome.com/2008/02/12/strategi-pemberdayaan-masyarakat-melalui-koperasi/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King