imamrasyidi

March 31, 2008

guruku (dosenku)

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 6:12 am

Terpengaruh oleh acara Kick Andy yang menampilkan
penulis Laskar Pelangi dan ibu Muslimah, guru yang
memberikan inspirasi kepada penulis buku ini (saya
lupa nama tepatnya, Andrea Harefa kalau nggak salah
ya?), saya jadi terkenang guru-guru saya waktu di FEUI
duluuuu (sekarang kan angkatan saya udah masuk
angkatan jadul). Di bawah ini sedikit kenangan itu.

Sebagai orang yang berasal dari keluarga sangat
sederhana, menjadi mahasiswa FEUI adalah suatu
pengalaman luar biasa. Tidak terbayang sebelumnya
bahwa FEUI adalah perguruan tinggi yang begitu banyak
menghasilkan menteri berpengaruh bahkan sampai saat
ini. Saat SMA saya cuma ingin jadi direktur (ternyata
gampang, bikin akte perusahaan langsung deh jadi
presiden direktur) dan saya pikir fakultas ekonomi
adalah pabriknya.

Cinta saya sebenarnya di fisika, tapi saya liat masuk
fisika paling banter jadi guru SMA. Sementara saya
ingin menyenangkan orang tua. Jadilah masuk ke pabrik
direktur yang ternyata malah juga produsen menteri.

Setelah tahu FEUI yang hebat ini, orang tua saya jadi
bermimpi anaknya suatu saat jadi menteri. Sementara
itu sampai hari ini saya tidak pernah bercita-cita
jadi bedinde eh pembantu … (siapa hayo?) yang paling
dicita-citakan oleh banyak orang itu (nggak tau besok,
namanya juga manusia.

Selama jadi mahasiswa FEUI, memang banyak orang-orang
terkenal yang menghiasi hari-hari kuliah. Tapi
sebenarnya ada guru-guru yang tidak banyak dikenal
orang luar yang cukup memberikan kesan mendalam pada
saya.

Salah satunya adalah almarhum Bapak Suntoro Isman.
Menurut saya beliau adalah benar-benar seorang guru
sejati yang prioritas utamanya adalah mencerdaskan
muridnya. Buat orang lain mungkin Pak Sun (demikianlah
kami dulu menyapa beliau) bukanlah karakter yang
menarik karena beliau tidak populer di media massa.
Buat saya almarhum adalah guru yang menantang kita
untuk berpikir dan bertanya. Cara mengajarnya
sistematis dan cukup reflektif. Saya pikir saya murid
yang cukup rajin bertanya di kelas karena cara beliau
mengajar yang cukup mengundang.

Suatu saat setelah ujian semester, secara kebetulan
kami berpapasan di jalan sekitar kampus FEUI Salemba.
Beliau bertanya dapat nilai apa saya semester tersebut
pada mata kuliah yang diasuhnya. Saya jawab saya dapat
nilai B. Beliau terkejut dan tidak percaya. Beliau
bilang seharusnya saya dapat nilai A, karena penilaian
akhir bukan hanya dari hasil ujian tapi juga dari
aktivitas di kelas. Saya tersenyum saja tidak tau
harus berkata apa. Secara jujur memang saya tidak
terlalu banyak pusing dengan nilai ujian. Selama lulus
dan tidak terancam DO, saya rasanya udah cukup. Waktu
lebih banyak saya habiskan untuk membaca buku-buku
yang saya suka dan memuaskan keingintahuan saya.

Dan benar saja nilai akhir mata kuliah Ekonomi
Pembangunan saya beliau rubah menjadi A. Tentu saja
bukan ini yang menyebabkan saya terus mengenang
beliau. Tapi sikapnya yang benar-benar concern untuk
membuat mahasiswanya paham akan apa yang beliau
ajarkanlah yang akan saya ingat. Beliau telah
memperlihatkan apa makna guru yang sebenarnya.

Guru (dosen) yang lainnya yang membekas di hati saya
adalah almarhum Bapak Tawang Alun. Beliau saat
mengajar saya sedang menjabat sebagai salah seorang
pimpinan LPEM sekaligus sebagai kepala biro di
Bappenas. Dengan kesibukan yang luar biasa beliau asih
bisa mengajar kami (muridnya saat itu hanya 2 orang,
saya dan seorang teman yang jarang menghadiri kuliah).

Yang membuat saya terkesan adalah sikap rendah hati
dan melayaninya yang luar biasa. Serigkali orang
sekaliber beliau, dengan gelar PhD dari USA dan tugas
yang sedemikian padat, akan memperlakukan mahasiswa
yang datang seperti gangguan yang sedikit menyebalkan.

Tidak demikian dengan Pak Tawang. Hari pertama saya
mengetuk pintu kamar kerjanya (kuliah diadakan di
ruang kerjanya karena mahasiswa cuma dua orang) saya
cukup takjub dapat sambutan diluar kebiasaan. Belaiu
menyapa saya dengan lembut dan berkata: "Ada yang bisa
saya bantu?" Seolah-olah saya adalah tamu yang siap
dilayani oleh beliau.

Kuliah yang diajarkan pak Tawangpun sangat
challenging. Ada bagian-bagian yang tidak bisa saya
lupakan sampai sekarang. Walaupun seringkali hanya
saya yang diajarkan, kualitas kuliah tidak menurun dan
beliau tidak pernah terlihat menganggap remeh murid
dan tugas sebagai dosen yang harus dilaksanakannya.

Setelah perkuliahan selesai dan ujian sudah
dilaksanakan, pak Tawang wafat tanpa sempat memberikan
nilai untuk kami sehingga akhirnya nilai yang
diberikan hanya C saja. Tentu saja saya tidak
menyesali nilai saya. Teladan pak Tawang jauh lebih
berharga dari nilai ujian.

Saya baru tahu belakangan bahwa beliau sudah sakit
parah beberapa lama tapi beliau tidak mau istirahat
karena toh katanya masih bisa bekerja dan beliau tidak
mau dianggap sebagai orang yang sudah meninggal.
Bahkan pak Rektor saat itu (Prof Iman Sujudi) sudah
meminta beliau istirahat tapi tidak diturutinya. Yang
luar biasa adalah selama mengajar kami, beliau sama
sekali tidak memperlihatkan diri sebagai orang yang
sedang sakit parah (dan kami muridnya benar-benar
tidak tahu bahwa beliau sedang sakit parah).
Subhanallah. Saat itu saya cuma berpikir bahwa
orang-orang baik memang mungkin lebih dulu dipanggil
Yang Maha Pencipta.

Saat jenazah beliau dishalatkan saya lihat banyak
menteri yang ikut menshalatkan. Di sekitar saya kalau
tidak salah ada pak Emil Salim dan pak Saleh Afiff dan
beberapa menteri lain yang saya kurang begitu ingat.
Padahal jabatan beliau baru kepala biro yang tidak
langsung melapor ke pak menteri.

Ada juga dosen lain yang cukup mengesankan seperti pak
Thee Kian Wie yang ahli sejarah ekonomi itu. Beliau
adalah ilmuwan yang sangat berdedikasi dengan bidang
yang dikajinya. Almarhum pak Sarjono Jatiman adalah
juga dosen yang menyenangkan. Beliau adalah sosiolog
yang ditugaskan mengajar pengantar sosiologi di FEUI.
Beliau cukup mampu membuat mata kuliah sosiologi
menjadi mata kuliah yang menarik. Dan yang terakhir
adalah Pak Selo Sumarjan. Keluguan dan
kesederhanaannya bisa mengecoh orang yang hanya
menganggap penting urusan penampilan, popularitas dan
kemuliaan duniawi. Beliau adalah sosok ilmuwan yang
sangat rendah hati.

Begitulah pengalaman saya dengan para guru di kampus
kita. Dedikasi, kesabaran dan teladan mereka akan saya
coba terus kenang dan mudah-mudahan apa yang telah
mereka ajarkan akan bisa diteruskan dan semoga amal
baik mereka dapat terus mengalir. Amiiiin.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://imamrasyidi.blogsome.com/2008/03/31/guruku-dosenku/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King