imamrasyidi

May 22, 2008

masak

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 8:04 am

Saat ini banyak acara masak dan kuliner disiarkan stasiun TV. Saya juga kadang-kadang suka nonton acara masak ini. Tapi saya paling suka nonton acara masak yang dibawakan oleh Jamie Oliver. Itu lho yang ada di TV berlangganan.

Entah mengapa cara membawakan acaranya sungguh menarik. Seolah-olah laki-lakipun tetep manly dan mungkin sexy kalau bisa memasak dan menghidangkannya untuk keluarganya, teman-temannya, teman-teman sekolah anaknya, para petugas pemadam kebakaran bahkan orang yang tidak dikenalnya. Rasanya saya ingin seperti si Jamie ini. Selain itu masakan yang dibuatnya terlihat enak, dengan sajian menarik tapi tidak berlebihan. Istri saya mungkin heran melihat saya menonton acara masak si Jamie ini dari awal hingga akhir.

Sayangnya saya lebih suka nonton daripada mempraktekkan apa yang saya tonton. Memang mungkin orang berbakat menyebabkan melakukan sesuatu kelihatan lebih mudah dari yang sebenarnya. Atau memang saya banyak maunya tapi juga lebih banyak lagi malesnya.

Saat ini dengan kesibukan rumah tangga yang sedemikian tinggi, peran ibu dalam hal masak memasak ini kelihatan menurun. Banyak ibu yang bekerja di luar rumah bahkan sekarang banyak perempuan yang memiliki penghasilan lebih tinggi dari suaminya dan menyumbang ke kas keluarga mungkin juga lebih tinggi dari suaminya.

Dengan demikian peran masak ditransfer ke pembantu atau rumah makan. Tentu saja ini tidak masalah. Malah dari sisi produktivitas per se bisa jadi ini lebih baik. Karena kalau sang ibu yang lawyer, dengan dua anak dan seorang suami, masak di rumah selama satu jam paling banter menghasilkan nilai tambah Rp50rb - Rp200 rb. (Itupun tidak masuk perhitungan PDB). Sementara ibu ini kalau praktek di kantor mungkin jauh lebih besar dari itu.

Tapi yang mungkin dilupakan adalah bahwa dengan memasak, seorang ibu (atau sekali-sekali bapak) telah membentuk pilihan rasa kepada anak-anaknya. Kalau sang ibu memasak untuk anaknya maka kemungkinan besar sang anak akan menggemari apa yang ibunya sediakan di rumah. Dan ini akan berlangsung selama seumur hidup anaknya. Dengan demikian sang ibu bukan hanya mewariskan gen di tubuhnya tetapi juga meninggalkan jejak dalam lidah sang anak.

Selain itu, orang tua yang memasak untuk anaknya telah memilihkan untuk anak-anaknya makanan yang sehat bagi tubuh sang anak. Bukan hanya mie instan, makanan dengan bahan pengawet, MSG, pewarna buatan dan kadang-kadang unsur tidak halal dalam bahan-bahan yang dibeli.

Tentu saja bagi ortu yang sibuk bekerja tidak realistis untuk memasak untuk anaknya tiap hari. Mungkin hanya sekali sehari di pagi hari atau malam hari atau sekali dalam beberapa hari atau sekali dalam seminggu. Bisa juga memasak merupakan rekreasi keluarga dimana semua anggota keluarga terlibat. Kalau saya sih paling banter cuma jadi asisten nyonya, mengulek cabe atau mengiris bawang atau cuma memetik cabe, daun kemangi atau jahe dll (yang ditanam istri saya, saya cuma bantu menyirami sekali-sekali) yang tersedia di halaman rumah kami yang cuma secuil itu.

Dulu saya sering bingung dengan ibu saya yang selalu terlihat rindu dengan anak-anaknya. Setelah saya punya anak saya baru paham apa yang ibu saya rasakan. Memang seringkali kita tidak mengerti apa yang diberitahu ortu kita, seberapapun menerangkannya, karena ini tidak menyangkut logika tetapi rasa yang tidak kita pahami sebelum kita mengalaminya.

Karena ibu saya memang ibu rumah tangga maka tentu saja beliau memasak untuk anak-anaknya. Dan you know what, apabila saya datang ke rumah ortu saya dan ibu saya menyediakan masakan untuk kami, saya akan makan dengan lahap. Saya tidak menyadari hal ini sampai istri saya agak nyindir sedikit dengan mengatakan bahwa saya makannya lahap banget. Hmmmm, akhirnya nyonya saya jadi belajar masakan sunda yang saya sukai tanpa saya suruh. Padahal dia orang padang yang tidak pernah makan oncom sebelumnya. Tentu saja saya juga jadi lebih menggemari masakan padang daripada sebelumnya karena nyonya saya ini.

Masakan ini juga bisa jadi senjata ortu yang rindu dengan anak atau cucunya dengan mengatakan bahwa kebetulan ada makanan yang disukai anaknya tersebut tanpa perlu dengan terus terang meminta cucunya segera diantar ke rumah sang nenek. Kalau sekarang mungkin ortu macam ortu saya akan bilang: "Besok datang ya ke rumah, kebetulan ibu akan masak semur jengkol dan sambel goreng pete kesukaanmu."

Kalau nanti mungkin kita akan bicara ke anak kita seperti ini: "Besok datang ya ke rumah, ibu akan belikan ayam goreng paman kolonel dan burger badut duduk kesukaanmu."

Setelah anda baca tulisan ini jangan sampe juga anda jadi terpaksa untuk masak untuk orang terkasih di rumah. Kata istri saya masakan akan terasa enak apabila dimasak dengan cinta. Jadi masaklah dengan cinta, maka makanan akan terasa lezat, menyehatkan dan menjadi bahan bakar bagi anggota keluarga untuk berkarya di bumi Allah yang luas ini.

3 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://imamrasyidi.blogsome.com/2008/05/22/masak/trackback/

  1. Wah, jadi kepengen ngeprint artikel ini biar dibaca istri. Memang tidak ada masakan yang lebih enak daripada masakan yang dibumbui rasa cinta.

    Comment by hendro — July 24, 2008 @ 6:08 am

  2. Mantabbb Bung….. Tambuah Ciek
    apa kabar… salam dari Bung Ipam Harvard (yang bukan rasyidi juga.. hehe)

    Comment by ijal bukan rasyidi — August 7, 2008 @ 1:43 am

  3. Apa kabar lo? Gw telpon kagak nyambung2. Kalo ganti no HP ya pengumuman kek. No HP ganti apa krn dikejar-kejar penggemar

    Comment by Administrator — August 7, 2008 @ 7:25 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King