imamrasyidi

July 12, 2008

Resep Merasa Sukses

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 4:26 am

Sukses memang banyak ukurannya. Sukses secara materi, karir, spiritual, kebahagian keluarga dll. Apapun ukuran yg dipakai menurut saya yang penting adalah bahwa kita sendiri merasa bahagia dengan kesuksesan kita. Itu artinya kesuksesan yg diraih memang sesuai dengan yg kita inginkan bukan yg orang lain inginkan. Mungkin orang lain menganggap kita tidak sukses karena kita tidak kaya atau karirnya biasa aja tapi kalau kita bahagia dengan yg kita peroleh dan memang itulah yg telah kita rencanakan semestinyalah kita merasa sukses sehingga judul artikel ini adalah resep merasa sukses. Jadi bukan resep sukses.

Jadi karena judulnya resep merasa sukses maka saya pakai contoh kasus diri saya sendiri aja. Karena saya merasa sukses. Kok belagu amat. Hmmmm. Sebenarnya memang mestinya nggak usah dikeluarin dari pikiran dan perasaan saya. Jadi perasaan seperti ini sebaiknya saya simpan di perut sendiri aja. Tapi kok saya merasa kayaknya mungkin ada sedikit manfaat kalau saya share dgn orang lain. Kalau nggak ada manfaatnya, ya nggak apa-apa. Yg penting niat saya udah dikerjain. Anggap aja melempar manggis, kali2 dapet rambutan kesukaan saya, he he he …….

Saya merasa sukses dan bahagia. Atau mungkin sebenarnya bahagia sehingga akhirnya saya menganggap diri saya sukses. Yang pasti saya telah mengerjakan apa yg saya inginkan sejauh ini dan bahagia dengan hasil yg telah dicapai.

Ini bisa disebut narsis (kata anak sekarang), masa bodo ah. Saya cuma ingin berbagi. Mungkin sedikit pamer (apa sih yg bisa saya pamerkan). Itu juga terserah pandangan yg baca. Pokoknya silakan baca kalo suka. Nggak suka ya delete aja. Piiiis (peace maksudnya).

Inilah resep racikan saya (walaupun tentu saja bagian2nya anda bisa dapat di bacaan2 umum lainnya):

1. Tentukanlah apa yg ingin anda lakukan dalam hidup ini
Waktu saya bekerja saya ingin sekali diberi kewenangan yg lebih dr yg saya dapat saat bekerja tsb. Saya sering merasa saya bisa berbuat lebih banyak apabila diberikan kewenangan lebih dr yg saya miliki saat itu. Bos saya sangat suportif dengan ide2 saya, tapi seringkali birokrasi mementahkan ide2 kita. Walaupun saya betah berada dalam komando bos saya, tapi saya tahu tidak lama lagi saya akan mentok karena kalau kita mau melakukan sesuatu maka kita mesti koordinasi dengan bosnya bos yg di Hong Kong atau di Kanada sana.

Selain itu saya merasa saya mampu membawa perusahaan dimana saya bekerja menjadi perusahaan besar. Dan yang menyedihkannya adalah bahwa kalau perusahaan tsb besar maka yg bertambah kaya adalah orang asing yg memiliki perusahaan tsb. Biar bagaimana baiknya bos kita ada kalanya secara tidak sadar dia bertindak selayaknya orang Barat yang punya pandangan miring ttg orang Indonesia. Saya pernah mengalami hal ini saat dia bercanda dengan temannya yg bule juga dan mungkin dia tidak sadar bahwa saya sesensitif itu terhadap leluconnya.

Akhirnya saya berpikir untuk bekerja pada perusahaan yg pemiliknya orang Indonesia, entah pribumi atau nonpri, Tionghoa atau Melayu. Pokoknya orang Indonesia yg kekayaannya dipakai untuk mensejahterakan masyarakat di bumi pertiwi ini. Ternyata menemukan orang Indonesia yg etika bisnisnya sesuai dengan standar saya tidaklah mudah. Maka terpaksalah saya memutuskan untuk membuka usaha sendiri.

Ternyata usaha sendiri lebih sulit dr yg saya duga. Tapi saya tetep ngotot walopun dengan risiko tabungan saya habis dan malah punya utang. Rumah pertama saya terjual dan hampir2 rumah yg kami tinggali juga terjual. Alhamdulillah itu tidak kejadian.

Saat ini usaha kami mulai stabil dan bisalah kami hidup lebih normal dr sebelumnya. Tapi utk ukuran org lain bisa jadi saya tidak sukses. Tapi saya sangat tahu apa yg saya miliki mungkin tidak dimiliki banyak orang Indonesia. Rumah saya hanya 50/90 yg belum pernah direnovasi sejak kami beli tahun 2001 dulu. Memang kami pernah mengecat rumah, itupun istri saya yg beli cat di toko bangunan dan dia mengerjakannya sendiri dan saya cuma jadi keneknya aja. Yg dicatpun hanya beberapa bagian yg mudah dijangkau saja.

Anehnya saya merasa sukses. Dan bahkan bahagia. Kalau dibandingkan dengan temen2 kuliah saya kemungkinan besar saya bukanlah termasuk org sukses. Malah mungkin saya termasuk yg miskin.

Saya pikir inilah yg ingin saya lakukan dan saya sudah mengerjakannya dan sudah mulai terlihat hasilnya. Teman saya pernah bercanda dgn saya. Pada saat saya sedang parah2nya ekonomi, dia bilang, lo itu udah sukses. Saya kaget. Wah teman ini kok mengolok-olok saya. Dia bilang, kan elo mau jadi pengusaha. Saya jawab iya. Sekarang udah jadi pengusaha kan? Berarti lo udah sukses kan? Bener juga pendapatnya. Terbahak-bahaklah kami berdua. Walaupun ekonomi sulit waktu itu. Saya masih bisa nerima lelucon dr teman baik saya tsb.

Tentu saja ini bukan berarti kalo mau sukses mesti punya usaha sendiri spt saya. Ya udah pasti nggak. Di Harvard Bussines Review bulan Juli 08 ini ada artikel ttg kesuksesan juga. Disitu diceritakan bagaimana seorang equity analyst yg dianggap sukses oleh rekan sejawatnya malah dia sendiri tidak merasa sukses. Setelah dia berkonsultasi dan merubah arah karirnya (walaupun masih bekerja di perusahaan yg sama) akhirnya dia merasa sukses dan bahagia.

2. Realistis dan Fleksibel dgn Cita2 Anda
Seringkali cita2 yg kita tetapkan tidak realistis. Terlalu tinggi atau tidak sesuai dengan bakat dan kesukaan kita. Karena materi merupakan ukuran sukses seseorang maka kita memaksakan diri sekolah dan kerja di bidang yg banyak menghasilkan uang misalnya ekonomi, he he he … Saya milih sekolah ekonomi karena ingin menyenangkan keluarga dan bisa menghasilkan banyak uang. Ternyata setelah saya masuk ekonomi saya baru sadar bahwa saya tidak menyukai pelajaran akuntansi yg saat itu menghasilkan banyak eksekutif dengan gaji tertinggi di Indonesia. Akhirnya balik maning pilih jurusan studi pembangunan krn saya suka dengan pelajarannya yg banyak membahas konsep2 yg lebih abstrak.

Saya juga pernah memiliki cita-cita yang agak memalukan untuk diungkapkan yaitu untuk jadi pemenang Nobel Ekonomi. Saya siap untuk hidup miskin dalam menempuh perjalanan cita2 tsb. Saya sudah bicara dengan istri dan ortu saya ttg ini. Tapi ternyata memang cita2 ini terlalu amat sangat jauh untuk bisa diraih.

Bos saya saat saya masih bekerja sebagai dosen dan peneliti di kampus tidak menyukai aktivitas tidak produktif saya yg tidak jelas juntrungan dan banyak melamun. Mungkin beliau mengira saya melamun jorok, he he he …. Beliau dengan memaksa memberikan pekerjaan administratif yg tidak saya sukai. Akhirnya saya sadar bahwa saya tidak bakalan tahan diperlakukan spt ini. Boro2 menghargai upaya saya utk membuat teori dalam bidang ekonomi. Beliau malah menganggap bahwa saya adalah orang malas yg mesti dipaksa agar produktivitas lembaga penelitian kami lebih tinggi lagi. Dan mungkin sekali pendapatnya benar. Kok cita2 tinggi amat.

Akhirnya saya keluar dan bekerja di perusahaan swasta. Saya kemudian masuk pasar modal. Saat itu saya ingin menjadi fund manager seperti Peter Lynch dan Warren Buffet. Nasib menentukan saya bisa bekerja di perusahaan asset management. Tapi ternyata saya baru sadar saya tidak menyukai pekerjaan membosankan tsb dan memang saya lebih cocok utk bertanggung jawab di bidang marketing dan sales. Di bidang ini saya akui saya merasa sukses. Walaupun kemudian saya mesti mencari pencapaian berikutnya.

Jadi dari pengalaman yg saya alami sebaiknya kita realistis dengan cita2 kita. Memang cita2 boleh digantungkan setinggi langit, tapi kalau langitnya tidak bisa didekati lama2 kita bisa frustasi jadinya.

3. Bahagia dengan Pencapaian2 Kecil
Dalam meraih cita-cita yang tinggi saya merasa kita mesti menikmati pencapaian2 kecil dalam perjalanannya. Waktu saya kerja di perusahaan asset management, dimana saya banyak mendapatkan ilmu baru, saya sungguh senang apabila bisa mengerti konsep2 ttg financial planning keluarga. Tiap saya memahami konsep tertentu saya merasa senang krn semakin dekat saya dgn karir yg saya inginkan.

Saat ini tiap ada kesalahan yg kami temui dan kami bisa menemukan sebagian solusinya maka saya merasa bahwa semakin banyak hal yg kami mengerti dan semakin jelas pemecahan atas problem besar di usaha kami. Saya juga bahagia manakala pertama kali kami bisa memberikan THR dan bonus beberapa kali gaji kepada karyawan kami.

Jangan menunggu untuk merasa sukses sampai anda sudah benar2 berada di puncak. Siapa tau anda tidak akan memiliki umur manakala hal tsb bisa diraih. Atau mungkin problem lain akan menunggu anda saat itu sehingga anda lupa bahwa saat itu adalah saat yg ditunggu-tunggu.

4. Tetap dalam Perspektif dan Carpe Diem
Seringkali karena terlalu fokus dengan pencapaian cita-cita anda. Anda lupa untuk menikmati saat ini, detik ini. Kita mesti bersyukur atas apa yg diberikan olehNya kepada kita. Nikmatilah bahwa kita masih bisa makan dengan enak walaupun cuma tempe doang. Coba kalo udah sakit, makanan mewah spt apapun akan sukar utk kita nikmati.

Pada saat tertentu mungkin anda merasa gagal, kesal dan semuanya tidak berjalan dengan baik. Pada saat itu cobalah untuk tetap dalam perspektif dan lihat betapa masih beruntungnya anda. Memiliki apa yg anda miliki sementara org lain bernafas aja susah.

5. Belajar dan Memperbaiki Diri
Beda antara org sukses dgn tidak sukses adalah bahwa org sukses dan calon sukses selalu mau belajar. Belajar dr kesalahan2 yg dilakukan dan belajar dari orang2 yg sudah sukses.

Kalau kita merasa bahwa kita tidak perlu belajar lagi. Mungkin itu saatnya anda pensiun dan menikmati hidup. Tentu saja kalau mampu. Kalau nggak ya nikmati aja jadi org nggak sukses atau setengah sukses. He he he …..

6. Berbagi dgn Orang2 yg tidak Beruntung
Istri saya bilang bersedekahlah manakala kita sedang lapang dan sempit. Mungkin itu dr hadis. Saya memang tidak bisa semulia itu. Tapi berbagi kepada yg lebih lemah dr kita sungguh merupakan obat dr perasaan sukses dan tidak sukses kita. Dengan berbagi maka kita akan merasa benar2 sukses dan beruntung. Dengan berbagi kita juga akan merasa ternyata banyak yang lebih tidak sukses dibandingkan kita.

7. Sabar dan Berserah Diri
Akhirnya kalau kita sudah melakukan apa yg terbaik untuk meraih kesuksesan dan kesuksesan tidak datang juga, sabar dan pasrahkan diri kita. Paling tidak kita sudah berbuat sebaik mungkin untuk mengoptimalkan hidup kita. Paling tidak kalau kita meninggal dan ternyata kita tidak bisa mencapai apa yg kita inginkan, mungkin kita tidak merasa menyesal karena kita sudah melakukan apa yg mestinya kita lakukan. A man gonna do what a man gonna do. Begitu kata jagoan cowboy John Wayne (kalo nggak salah).

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King