imamrasyidi

August 19, 2008

Obama: Berharap dengan Berkorban (2)

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 4:59 am

Buku ini sudah lama beredar dan spt biasa versi hardcovernya dulu. Saat ini beli buku dengan versi hardcover rasanya buat saya terlalu mewah. Selain juga awalnya saya tidak terlalu tertarik baca buku ini karena sudah banyak dibicarakan orang. Biasanya saya tidak terlalu tertarik membaca buku yg popular dibaca orang. Rasanya seperti nonton film bisokop yg sebagian ceritanya sudah kita ketahui termasuk juga endingnya. Kecuali tentu saja kalau yang main De Niro dan Dustin Hoffman. Rasanya menonton acting mereka saja merupakan hiburan tersendiri buat saya. Bahkan sering tidak sadar saya pernah menyewa film2 oleh dua actor ini berkali-kali padahal saya sudah menonton film itu sebelumnya. Dan biasanya istri saya yg lebih aware tentang ini dibanding saya, padahal istri saya bukanlah penggemar dua actor ini.

Saya sudah baca buku ttg Obama sebelumnya. Satu dikarang oleh orang Indonesia (tadinya saya kira ini buku terjemahan). Satu lagi dalam bahasa Inggris. Saya juga sudah mengintip di toko buku, buku karangan Obama tentang kehidupannya dari kecil sampai usia muda, yang saya merasa tidak terlalu istimewa sehingga saya tidak tertarik membelinya.

Saya juga baca di koran tulisan2 ttg Obama yg dibuat oleh wartawan Kompas Budiarto Shambazy. Selain juga belakangan Bill Liddle ikut menulis yg menurut saya memang lebih menarik dr sisi pengetahuan politik drpd yg ditulis pak Budi ini.

Saat ini saya relatif memiliki kemampuan lagi untuk membeli buku dibanding beberapa tahun terakhir. Dulu saat saya masih sebagai pegawai, membeli buku adalah kebutuhan, karena saya memang nggak betah kalau nggak ada yang dibaca. Dan pada waktu saya bekerja di perusahaan asing, tiap bulan saya membeli buku dari amazon. Walaupun sedang boke tentu saja hobi tidak bisa menghilang begitu saja tetapi terpaksa beras dan sekolah anak lebih penting drpd hobi membaca.

Saya memang underestimate thd Obama ini. Saya sudah membaca biographi Bill Clinton sebelumnya, yg tebalnya lebih dr dua kali lipat buku karangan Obama ini. Bill Clinton saya rasa merupakan presiden yg bukan hanya politisi yg jago tetapi juga seorang yg memiliki intelektualitas yg sejajar dengan dosen2 di perguruan tinggi terkenal di USA. Saya juga memiliki pandangan yg sama ttg Tony Blair. Walaupun kalau kita pernah tinggal di Inggris, kita akan tau bahwa banyak orang yg jauh lebih pintar dr Mr Blair ini.

Saya pikir Obama tidaklah lebih pintar dr Clinton. Ternyata saya salah. Bisa jadi Obama sedikit lebih pintar dr Clinton. (Paling tidak saya merasa banyak belajar dr Obama dibandingkan dr baca bukunya Clinton, walaupun bisa juga krn Clinton menulis biographi sedangkan Obama menulis pandangan politiknya).

Selain itu Obama mesti punya kelebihan dibanding Clinton, kalau tidak bakalan susah dia menjadi calon presiden dr Demokrat dengan warna kulitnya, namanya yg mirip Osama dan ayahnya yg muslim ateis dan Obama sendiri pernah tinggal di Indonesia pula. Clinton dan Obama memiliki bakat pidato yg hebat. Dua2nya dikenal sebagai orator ulung dengan argumen yg persuasive dan compassionate thd rakyat lemah.

Dua orang ini sebenarnya compromise builder yg cakap. Kalau tidak akan susah meyakinkan rakyat Amerika yg terbelah diantara konservatif dan liberal dan sebenarnya yg paling banyak adalah diantara keduanya. Jadi siapapun dan dari partai apapun calon presiden berasal maka dia harus bisa berada pada spectrum tengah ide politik rakyat Amerika. Kecuali pada kondisi tidak biasa dimana yg berkuasa adalah politisi dr ektrim konservatif.

Tadinya saya menjagokan Hillary Clinton yg juga cerdas spt suaminya tetapi dengan karakter yg bertolak belakang dgn Bill Clinton. Hillary adalah seorang yg serius dan keras. Rupanya tanpa saya sadari sedemikian terkesan dgn Bill Clinton sehingga saya ingin Hillarylah yg menjadi presiden berikutnya. Tadinya saya bertanya-tanya apakah karena saya rasis sehingga lebih menyukai Hillary dibanding Obama. Tapi saya pikir saya menyukai Oprah, Bill Cosby, mantan menlu Amerika yg juga kulitnya hitam yg juga mantan kastaf militer yaitu Collin Powell dan juga menlu yg sekarang Ms Condoleza Rice.

Barulah belakangan saya sadar bahwa saya cukup kagum dgn Bill Clinton yg menurut saya menampilkan Amerika yg lebih bersahabat. Walaupun saya tetep kesel dgn mantan penasihat militernya (saya lupa namanya) yg pernah memberikan konperensi pers yg sedikit menyinggung kondisi Indonesia waktu Presiden Suharto jatuh dr kepresidenan dengan nada yg sptnya condescending.

Dari setelah baca bukunya Obama, saya jadi merasa dia memang mampu jadi presiden USA. Seandainyapun Obama tidak sampai jadi presiden, maka sampai tahap pencalonan dari democrat saja sudah merupakan prestasi untuk orang kulit berwarna yg tadinya paling banter cuma sampe pencalonan rame2.

Apabila diperbandingkan, Obama saya pikir, pemahamannya ttg rakyat kecil lebih karena kecerdasan pemahamannya thd human nature dibandingkan sifat compassionatenya. Sedangkan utk Clinton, saya rasa compassionatenya lebih drpd kecerdasannya thd persoalan rakyat kecil ini. Walaupun bedanya sangat tipis, krn dua orang ini bukanlah berasal dr kelas atas di USA sana. Clinton beribu seorang juru rawat. Obama malah pernah tinggal di Jakarta dan merasakan main2 di jalan di Jakarta.

Saya harap Obama terpilih. Ini merupakan tonggak baru dalam sejarah presidensi USA. Negara2 berkembang dan negara muslim saya rasa akan lebih baik kalau presidennya Obama disbanding dgn McCain yg konservatif dan biasanya main hantam aja.

August 12, 2008

an inquiry into the nature of justice: an amateur perspective

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 3:21 am

Ini judulnya memang gaya2an aja. Supaya keren gitu. Walaupun saya gak tau bener apa nggak Inggrisnya. Sekali2 nostalgia, walaupun sekarang profesi pemborong bangunan, dulu sih sempet ngerasain jadi peneliti dan dosen. Siapa tau kalau ada istilah philosopher king, bisa juga ada istilah philosopher contractor.

Apa sih keadilan itu? Apakah adil kalau saya lahir dr keluarga susah sementara ada orang lain lahir sebagai pangeran di Arab sana atau lahir sebagai anaknya Bush yg bisa gampang masuk Harvard? Ataukah adil kalau teman kecil saya di kampung sekarang cuma jadi sopir, pegawai pabrik dan pengangguran sementara saya bisa sekolah sampe ke negri dongeng dan bisa sempet kerja di perusahaan asing? Walaupun ada juga sebagian kecil temen sy di kampung yg jadi juragan.

Saya tidak akan mempersoalkan keadilan macam ini karena ini adalah domainnya Tuhan. Walaupun di barat sana persoalan genetic engineering mulai jadi polemik hangat. Apakah etis utk memproduksi manusia dimana gen2 yg jeleknya dibuang? Kalaupun genetic engineering dan cloning dibolehkan saya tetep merasa belum tentu gen yg unggul bisa tetep berprestasi unggul dgn situasi lingkungan yg berbeda.

Keadilan jenis berikutnya adalah keadilan yg menyangkut pertanyaan tentang pembagian sumber daya. Misalnya apakah yg disebut adil adalah bahwa manusia hanya diberi imbalan yg sama regardless apa yg diproduksi atau kata lainnya sama rata begitu saja.

Keadilan spt ini kedengarannya sangat idealis. Ini sudah dilakukan negara2 komunis. Yang menjadi persoalan adalah bahwa orang2 yg memiliki potensi menggerakkan pertumbuhan ekonomi menjadi tidak memiliki insentif utk memproduksi lebih banyak. Akhirnya secara umum etos kerja orang menjadi turun karena seberapa tinggipun hasil kerja yg dicapai, imbalannya akan sama dgn yg kerjanya malas2an atau produktivitasnya rendah.

Dengan demikian keadilan spt ini indah secara teoritas tetapi tidak praktis utk diterapkan. Keadilan spt ini mungkin telah diterapkan pada masyarakat prasejarah dimana komunalisme adalah norma masyarakat.

Keadilan lainnya adalah keadilan berdasarkan keturunan. Keadilan spt ini adalah keadilan sesuai dengan kasta. Kalau anda lahir dr kasta pekerja maka anda juga akan menjadi pekerja sama dgn ortu anda. Kalau anda lahir dr kasta pedagang maka anda juga akan jadi pedagang.

Persoalan disini adalah bahwa ternyata bakat ortu tidak serta merta turun begitu saja. Anak Einstein tidak melahirkan Einstein baru. Tapi bisa saja lahir dr orang Jepang, Cina bahkan satu saat dr Indonesia.

Warren Buffet tidak serta merta memiliki anak yg memiliki kemampuan spt beliau. Demikian juga dgn Sukarno, Gandhi, Abraham Lincoln dll. Dengan demikian keadilan tanpa koreksi spt ini hanya akan menciptakan masyarakat status quo yg tidak menaikkan kesejahteraan bersama.

Karena itu sesuai dgn bukti saat ini bahwa keadilan yg bisa membawa kepada kemajuan bersama adalah keadilan dimana orang benar2 diberi imbalan sesuai dgn produktivitas dan kelangkaan dr hasil kerjanya. Keadilan inilah yg dianut negara2 maju saat ini. Keadilan spt ini sungguh tidak idealis krn keadilan spt ini benar2 didorong oleh motif ekonomi dan bukan dr sisi keindahan etika.

Keadilan spt ini memungkinan anak seorang miskin menjadi manusia sangat kaya. Keadilan macam ini juga bisa membuat manusia yg lahir dr keluarga yg berpendidikan rendah bisa menjadi ilmuwan tingkat dunia. Keadilan ini bisa membuat anak seorang juru rawat menjadi presiden di USA.

Apakah keadilan spt ini akan terus dianut umat manusia? Don’t be too sure. Kalau kita lihat dari perspektif saat ini, rasanya mustahil keadilan jenis lain akan unggul. Tapi berabad-abad dr sekarang mungkin akan ada keadilan lain yg akan menggantikan keadilan saat ini. Kita harus ingat suatu waktu dalam sejarah manusia keadilan dgn kekuatan otot pernah merajai di muka bumi. Jangan2 saat ini juga masih banyak dipakai. Cuma beda bentuk doang kali.

August 6, 2008

Obama: Berharap dengan Berkorban (1)

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 8:43 am

Rencananya artikel ini akan saya buat berseri karena cukup banyaknya topic menarik yang bisa dibahas dari masalah dan ide yang dikemukana Obama di bukunya audacity of hope.

Audacity of hope kalau tidak salah artinya adalah keberanian untuk berharap. Saya rasa ide berani untuk berharap lebih cocok untuk negara maju spt USA, dimana politisi memang kerjanya menawarkan idenya kepada public ttg idenya yg bisa membawa masyarakat menjadi lebih baik lagi. Saya rasa di Indonesia pekerjaan politisi menjadi lebih sukar. Dengan tekanan masyarakat bahwa politisi harus memberikan sesuatu secara fisik kepada masyarakat pemilihnya, maka mau tidak mau berpolitik adalah masalah investasi yg mesti dikembalikan biayanya. Maka apabila ada seorang yg berniat menjadi politisi tanpa masalah pengembalian biaya ini. Saya rasa ini sungguh politisi yg patut kita coblos. Politisi seperti
inilah yg menyebabkan judul bukunya Obama saya ganti jadi seperti di atas: Berharap dengan Berkorban.

Berkorban karena memang pekerjaan menjadi politisi sungguh menjadi pekerjaan pengabdian. Kalau di negara maju menjadi politisi menjanjikan karir yg baik dengan kehidupan yg layak. Di Indonesia menjadi politisi mungkin bisa jadi malah lebih banyak keluar duit utk mengangon konstituen drpd duit masuk dari gaji. Sementara itu godaan utk korup mungkin sangat besar dgn kekuasaan yg saat ini menjadi sedemikian besar.Jadi kalau jadi politisi yg bener di Indonesia mungkin menghasilkan pahala yg lebih banyak drpd menjadi politisi yg bener di negara maju.

Berharap dengan berkorban juga berarti bahwa kita sebagai kalangan menengah bukan hanya berharap dan akhirnya keadilan dan kemakmuran akan datang dengan sendirinya. Wah itu mah seperti menunggu Godot. Sebagai kalangan menengah yg mesti dilakukan adalah berharap dengan berkorban. Berkorban demi keadilan dan kemakmuran bersama. Berkorban dengan bersama-sama concern thd korupsi, kemiskinan, ketidakadilan, pengangguran dll. Dimana concern ini kita salurkan dengan ikut berbuat mengangkat derajat masyarakat miskin dengan membuat beasiswa utk yatim piatu, membuat lembaga penyaluran kredit utk masyarakat ekonomi lemah, membuat sekolah utk anak miskin, mengajar anak rimba utk membaca dan juga ikut berpolitik dengan niat salah satunya utk membuat decision making di negara ini lebih baik. Itu semua memerlukan pengorbanan dr kita baik pengorbanan waktu, uang, pikiran dan kadang2 perasaan. Apabila tidak ada yg mau berkorban, maka jangan harap ada perubahan yg akan terjadi.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King