an inquiry into the nature of justice: an amateur perspective
Ini judulnya memang gaya2an aja. Supaya keren gitu. Walaupun saya gak tau bener apa nggak Inggrisnya. Sekali2 nostalgia, walaupun sekarang profesi pemborong bangunan, dulu sih sempet ngerasain jadi peneliti dan dosen. Siapa tau kalau ada istilah philosopher king, bisa juga ada istilah philosopher contractor.
Apa sih keadilan itu? Apakah adil kalau saya lahir dr keluarga susah sementara ada orang lain lahir sebagai pangeran di Arab sana atau lahir sebagai anaknya Bush yg bisa gampang masuk Harvard? Ataukah adil kalau teman kecil saya di kampung sekarang cuma jadi sopir, pegawai pabrik dan pengangguran sementara saya bisa sekolah sampe ke negri dongeng dan bisa sempet kerja di perusahaan asing? Walaupun ada juga sebagian kecil temen sy di kampung yg jadi juragan.
Saya tidak akan mempersoalkan keadilan macam ini karena ini adalah domainnya Tuhan. Walaupun di barat sana persoalan genetic engineering mulai jadi polemik hangat. Apakah etis utk memproduksi manusia dimana gen2 yg jeleknya dibuang? Kalaupun genetic engineering dan cloning dibolehkan saya tetep merasa belum tentu gen yg unggul bisa tetep berprestasi unggul dgn situasi lingkungan yg berbeda.
Keadilan jenis berikutnya adalah keadilan yg menyangkut pertanyaan tentang pembagian sumber daya. Misalnya apakah yg disebut adil adalah bahwa manusia hanya diberi imbalan yg sama regardless apa yg diproduksi atau kata lainnya sama rata begitu saja.
Keadilan spt ini kedengarannya sangat idealis. Ini sudah dilakukan negara2 komunis. Yang menjadi persoalan adalah bahwa orang2 yg memiliki potensi menggerakkan pertumbuhan ekonomi menjadi tidak memiliki insentif utk memproduksi lebih banyak. Akhirnya secara umum etos kerja orang menjadi turun karena seberapa tinggipun hasil kerja yg dicapai, imbalannya akan sama dgn yg kerjanya malas2an atau produktivitasnya rendah.
Dengan demikian keadilan spt ini indah secara teoritas tetapi tidak praktis utk diterapkan. Keadilan spt ini mungkin telah diterapkan pada masyarakat prasejarah dimana komunalisme adalah norma masyarakat.
Keadilan lainnya adalah keadilan berdasarkan keturunan. Keadilan spt ini adalah keadilan sesuai dengan kasta. Kalau anda lahir dr kasta pekerja maka anda juga akan menjadi pekerja sama dgn ortu anda. Kalau anda lahir dr kasta pedagang maka anda juga akan jadi pedagang.
Persoalan disini adalah bahwa ternyata bakat ortu tidak serta merta turun begitu saja. Anak Einstein tidak melahirkan Einstein baru. Tapi bisa saja lahir dr orang Jepang, Cina bahkan satu saat dr Indonesia.
Warren Buffet tidak serta merta memiliki anak yg memiliki kemampuan spt beliau. Demikian juga dgn Sukarno, Gandhi, Abraham Lincoln dll. Dengan demikian keadilan tanpa koreksi spt ini hanya akan menciptakan masyarakat status quo yg tidak menaikkan kesejahteraan bersama.
Karena itu sesuai dgn bukti saat ini bahwa keadilan yg bisa membawa kepada kemajuan bersama adalah keadilan dimana orang benar2 diberi imbalan sesuai dgn produktivitas dan kelangkaan dr hasil kerjanya. Keadilan inilah yg dianut negara2 maju saat ini. Keadilan spt ini sungguh tidak idealis krn keadilan spt ini benar2 didorong oleh motif ekonomi dan bukan dr sisi keindahan etika.
Keadilan spt ini memungkinan anak seorang miskin menjadi manusia sangat kaya. Keadilan macam ini juga bisa membuat manusia yg lahir dr keluarga yg berpendidikan rendah bisa menjadi ilmuwan tingkat dunia. Keadilan ini bisa membuat anak seorang juru rawat menjadi presiden di USA.
Apakah keadilan spt ini akan terus dianut umat manusia? Don’t be too sure. Kalau kita lihat dari perspektif saat ini, rasanya mustahil keadilan jenis lain akan unggul. Tapi berabad-abad dr sekarang mungkin akan ada keadilan lain yg akan menggantikan keadilan saat ini. Kita harus ingat suatu waktu dalam sejarah manusia keadilan dgn kekuatan otot pernah merajai di muka bumi. Jangan2 saat ini juga masih banyak dipakai. Cuma beda bentuk doang kali.