imamrasyidi

September 22, 2008

Obama: Berharap dengan Berkorban (5)

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 7:57 am

Chapter 2: Values

"So Democratic audiences are often surprised when I tell them that I don’t consider George Bush a bad man, and that I assume he and members of his Administration are trying to do what they think is best for the country.

… No matter how wrongheaded I might consider their policies to be – and no matter how much I might insist that they be held accountable for the result of such policies – I still find it possible, in talking to these men and women, to understand their motives, and to recognize in them values I share."

Sebelum membaca buku Obama ini saya merasa bahwa pertarungan ideologi yg lebih murni hanya pantas dilakukan di negara2 yg sudah mapan demokrasi dan ekonominya. Karena pada saat itu kebutuhan dasar warga negara sudah relative tercukupi.sehingga saat itulah kita bisa lebih rileks memikirkan ideology. Pendapat ini tentu aja tidak dianut sebagian (mungkin besar) orang. Karena pandangan kemakmuran biasanya berjalin berkelindan dengan pandangan ideology seseorang. Bagi yg berpandangan liberal, pemenuhan hak2 asasi manusia seperti berserikat, berkumpul dan berpendapat dan pemilihan pandangan dan gaya hidup (tentu saja yg tidak merugikan manusia lainnya) adalah tujuan dari manusia bernegara. Bagi yg berpandangan konservatif, kemakmuran hanya bisa diraih dengan memeluk ideology keagamaan dan melaksanakannya dengan konsisten dan disiplin.

Adalah sukar menyatukan pemeluk kedua ideology ini dengan baik, walaupun biasanya pemeluk ekstrim kedua ideology ini tidaklah banyak. Tapi mereka adalah pemegang otoritas di masyarakat sehingga kevokalan mereka akan mengalahkan kompromi dan common sense kepentingan bersama.

Saya cukup surprise bahwa Obama mengangat issue ini utk public Amerika. Ini berarti bahwa bahkan di negara maju tetep saja masyarakat umum adalah masyarakat biasa yg memerlukan pekerjaan, pendidikan anak yg baik, kesehatan dan pensiun yg memadai. Dengan demikian apalagi di Indonesia. Di Indonesia pertarungan ideology juga cukup keras sehingga seringkali kita lupa bahwa yg sekarang menjadi prioritas adalah bagaimana masyarakat bisa mendapatkan kebutuhan dasar dengan baik. Akankah datang seorang politisi di Indonesia yg bisa mengatakan kepada public bahwa kita harus berkonsentrasi kepada pemecahan problem kemasyarakatan dengan akal sehat dan bukan dengan judgment normative dengan nuansa ideology yg pekat?

Apakah sekian puluh juta rakyat kita yg miskin akan lebih mementingkan kesempurnaan religiusnya kalau mereka tidak bisa makan? Akankan mereka peduli akan keterlibatan mereka di dalam demokrasi apabila mereka  tidak bisa mendapatkan pekerjaan yg bisa mencukupi utk bisa makan 3 kali sehari? Apakah mereka peduli bahwa kedaulatan negara kita terancam dengan dicaploknya pulau2 terluar oleh negara2 tetangga sementara anak mereka menderita kurang gizi? Apakah mereka peduli dengan perlakukan Amerika terhadap dunia Islam apabila mereka bahkan tidak paham geopolitik dunia krn masyarakat bawah dan anak2nya tidak bisa mengecap pendidikan dengan baik?

Bahkan menjadi politisi yg relevan utk masyarakat banyak sangat berat utk negara maju spt USA. Apalagi di Indonesia. Diperlukan seseorang yg memahami keprihatinan kalangan konservatif, progresivitas kalangan liberal, cara pikir kalangan status quo dan yang lebih penting kenestapaan rakyat banyak untuk memecahkan problem kelangkaan politisi yg relevan ini.

Selain itu dari kutipan Obama di atas juga terlihat bahwa perbedaan ideology seseorang bukan berarti org itu motifnya jahat. Seorang berideologi Amien Rais akan membenci orang yg berideologi Gus Dur dan sebaliknya, seorang berideologi PPP akan sangat hati2 dgn seorang yg berideologi Golkar dan sebaliknya dan seorang berideologi PKS akan sukar melihat bahwa seorang PDIP memiliki motif yg baik dan sebaliknya dst.

Memang mungkin ada partai2 yg memiliki orang korup lebih banyak dr partai lainnya. Pandangan ini sungguh sehat bagi kemaslahatan masyarakat. Tapi penilaian kebaikan seseorang hanya semata-mata dr ideologinya tidaklah realistis. Saya sendiri bergaul dgn teman2 yg memiliki ideology beragam dan pada akhirnya mereka tahu bahwa kalaupun ideology saya berbeda cukup lebar dgn teman tsb toh akhirnya mereka tahu bahwa saya adalah manusia biasa yg memiliki juga rasa keinginan berkontribusi bagi bangsa dan umat yang sama dengan temen2 lainnya.

Dengan pemahaman spt ini maka seorang politisi bisa mencari kesamaan idealisme dr berbagai ideology yg dianut tsb. Dengan demikian maka sang politisi dapat memecahkan problem bersama yaitu kemakmuran yg berkeadilan.

September 16, 2008

Madrasah Tsanawiyah Kelas Jauh

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 7:27 am

Anak saya yg paling besar sekarang sudah sekolah di tingkat SMP. Karena nasib dan tidak ada pilihan yg lebih baik akhirnya masuk MTs negeri. Letaknya di pinggir ibukota, udah gitu kelas jauh pula. Karena itu maka jadi pertanyaan dan kegusaran paman, bibi, uwa dan beberapa saudara lainnya. Tapi tentu saja mereka tidak berani mengungkapkan ke bapaknya, yg keras kepala dan kadang gampang sewot pula.

Sebenarnya memang saya awalnya tidak tertarik anak saya masuk MTs ini, apalagi yg kelas jauh. Tapi anak saya tidak diterima di SMP negeri di Jakarta. Maklum anak saya SDnya di daerah Bekasi. Padahal SMP negeri Jakarta hanya menerima 5% dr luar Jakarta sementara peminat SMPN Jakarta dr luar Jakarta sedemikian bejibun. Dengan demikian hanya yg nilai ujian negara yg benar2 top yg diterima. Sementara anak saya rata2 nilainya kurang sedikit dr 8 saja.

Saya memang underestimate thd persaingan masuk SMP negeri Jakarta ini sehingga saya tidak begitu peduli apakah anak saya belajar di rumah atau nggak. Ibunyalah yg rewel menyuruh belajar. Tapi ya dalam hal ini saya punya punya andil dalam membuat istri saya tidak dituruti anak2 kami.

Sebenarnya istri saya sudah menginginkan anak kami utk masuk MTs. Tentu saja saya menentang keras. Ini terutama karena saya menganggap belajar di MTs terlalu banyak hapalan dan kurang reasoning. Padahal sptnya ilmu fiqih ilmu yg sangat sarat dgn reasoning. Apalagi saya penganut mazhab Dr Jeffrey Lang.Tapi istri saya ngotot dan mengatakan bahwa sbg muslim sungguh penting kita membekali anak2 dgn dasar keislaman yg kuat.

Memang sih saya punya satu pengalaman menarik berkaitan dgn MTs ini. Beberapa thn lalu ada seorang perempuan menanggapi tulisan di blog saya yg mengungkapkan kesan saya ttg buku Dr Jefrrey Lang yg baru selesai saya baca. Perempuan ini memberi komentar yg cukup menarik. Saya menyangka yg menulis komentar ini adalah perempuan yg sudah dewasa dan berpendidikan minimal S1. Ternyata setelah sedikit berkorespondensi perempuan ini adalah anak gadis kecil yg masih sekolah di Tsanawiyah di Ciputat sana. MTs ini sptnya di bawah bimbingan UIN Sayaarif Hidayatullah.

Wah saya bener2 nggak nyangka. Saya bilang saya ingin berkenalan dgn ayahnya. Dia menyanggupi. Setelah itu dia suka menuliskan pengalaman sehari-harinya ke saya. Mungkin krn saya tdk menanggapi dgn cukup baik lama kelamaan korespondensi kami berhenti begitu saja. Apabila mengingat anak ini, saya merasa anak ini akan jadi seseorang kalau dia sudah besar nanti.

Sementara itu pendirian nyonya sedemikian annoying shg saya sering rada sewot. Tapi dia sabar dlm membujuk saya. Saya akhirnya minta diperlihatkan buku textbook MTs tsb (kebetulan anak teman istri saya ada yg masuk MTs). Saya liat kok kayaknya pelajaran umumnya sama aja dgn pelajaran SMP biasa. Artinya kalau anak saya masuk MTs sama aja dgn masuk SMPIT. Dan sebelumnya anak saya saat itu sekolah di SDIT.

Sebenarnya argumen istri ini agak membingungkan saya. Sebelumnya istri saya membujuk saya utk memindahkan anak saya yg besar ke sekolah SD negeri di daerah Jakarta. Dia bilang agar masuk SMP negeri Jakartanya mudah. Sptnya dia terpengaruh oleh beberapa temennya yg memindahkan anak mereka ke SD negeri Jkt dgn alasan tsb.

Saya ngotot tdk mau. Saya bilang nggak dan tidak bisa ditawar. Ini krn menurut saya masa2 SD sebaiknya anak2 dibekali dgn dasar ilmu agama yg bagus. Saya jg dulu mengaji dan sempet sekolah madrasah di kampung. Saya merasa bekal spt itu jadi pondasi yg kokoh utk kehidupan dewasanya kelak.

Apalagi saya jg sangat puas dgn kemampuan baca Quran anak2 saya jauh lebih baik dr waktu seusia mereka. Jg dgn kemampuan bhs Arab bahkan bisa sedikit2 baca hurup gundul. Wah ini jauh di atas ekspektasi saya. Tapi rupanya nyonya berubah pikiran yg saya tdk tau berasal dr mana.

Sebenarnya saya memang mulai luluh waktu melihat pelajaran umum di MTs tidak jauh beda dgn yg di SMP biasa. Apalagi ketika saya mulai datang ke sekolah MTs dimana anak saya sekarang bersekolah. Biasanya urusan sekolah ditangani istri saya tapi saat itu kebetulan nyonya mesti mengurusi adiknya si sulung maka mau tdk mau saya yg mengurusi pendaftaran sekolah kakaknya.

Pertama saya datang ke MTs itu, hati saya tambah lunak. Sekolah ini baru meluluskan satu angkatan saja sehingga gedungnya terlihat masih agak segar. Lapangan olahraganya cukup luas dan ada mushola di dekat pintu gerbang. Sekolah ini dipagari tinggi, sementara di luar pagar masih ada sisa tanah kosong yg cukup luas utk menampung parkiran dalam jumlah cukup banyak.

Saya menyesuaikan diri datang ke sekolah ini dgn memakai baju koko tangan pendek kesukaan yg dibelikan mertua. Ini utk memberi kesan bahwa anak saya pantas masuk MTs ini. Di sekolah saya diterima oleh guru piket yg baik hati dan terlihat eager utk menerima para ortu murid. Beliau menjawab pertanyaan2 saya dgn antusias. Wah saya mulai semakin tertarik nih.

Ada lagi satu momen yg membuat saya semakin jatuh cinta dgn MTs ini. Setelah proses pendaftaran beres, maka beberapa hari kemudian anak saya mesti dites langsung di sekolah ini. Yg mendaftar 600 org sementara yg diterima cuma 150 saja. Pada saat tes tsb, lagi2 nyonya tdk bisa mengantarkan sehingga saya yg mengantarkan. Memang kerjaan spt ini kerjaan ibu2 ya krn mayoritas ya ibu2 yg mengantar.

Selesai tes yg lumayan lama sekitar 2,5 jam saya bertanya ke si sulung apakah dia bisa mengerjakan tesnya dgn baik. Dia bilang bisa. Saya menerima jawaban ini dgn hati2. Krn seringkali teman2nya juga bisa dan malah lebih baik. Dia belum bisa menaksir dgn baik seberapa baik teman2nya bisa menjawab.

Kemudian anak saya bilang tadi kok pertanyaan wawancaranya rada aneh. (Memang saya juga heran kok anaknya diwawancarai, biasanya ortunya yg diwawancara terutama berapa fulus yg bisa diberikan). Kok kakak ditanya pernah dicat rambutnya nggak, pernah liat film porno nggak, pernah merokok nggak Wah denger itu saya merasa inilah sekolah anak saya. Saya merasa aman menyekolahkan anak saya di sekolah ini.

Pada saat pengumuman sekolah SMP negeri Jakarta bener saja anak saya tdk diterima. Ortu temen2 anak saya sibuk mencari gelombang berikutnya. Mereka bergerilya datang langsung ke sekolah incaran. Saya tdk bernafsu sama sekali. Saya menghargai usaha para ortu ini yg menunjukkan betapa mereka mencintai anak2 mereka. Ada yg mengatakan bahwa rasanya berdosa kalau nggak mati2an mencari sekolah terbaik utk masa depan anak mereka.

Saya anteng2 aja. Pertama saya sudah punya sekolah cadangan yg saya suka. Kedua, saya merasa seharusnya saya lebih mati2an mendidik anak saya di rumah drpd blingsatan mencari sekolah terbaik. Walaupun bisa jadi para ortu ini sudah berjihad mendidik anak mereka selama ini di rmh.

Benar saja keesokan hrnya ada pengumuman MTs ini. Anak saya diterima dgn ranking yg cukup baik pula. Langsung kami mendaftar dan tidak ikutan gelombang berikutnya utk masuk SMP negeri. Teman2 istri saya yg sama2 mendaftar ke MTs ini ada yg tidak mendaftar ulang krn mereka masih mau bertarung mencari SMP terbaik. Sekali lagi saya katakan nggak usah ke istri saya, pilihan sudah dijatuhkan ke MTs kelas jauh itu.

Sekarang anak saya sudah beberapa bulan bersekolah di MTs ini. Saya liat semakin lama dia semakin menikmati sekolah barunya. (Mungkin jg krn anak2 perempuan satu dua mulai ada yg mengirim SMS gelap kepadanya, ha3x … Bapaknya aja dulu nggak sehebat itu. Awalnya sy anggap ringan masalah SMS ini tapi lama2 jadi pikiran juga ya. Memang jadi ortu nggak pernah bisa istirahat kali ya. Terutama selama anak2 masih dalam tanggungan kita). Kalau boleh mungkin dia akan bersekolah tiap hari. Sekarang aja hr sabtu yg semestinya libur, dia mengikuti 2 ekstra kurikuler yg waktunya satu pagi dan satunya sore.

Saya harap anak saya bisa jadi ahli sejarah sekelas Arnold Toynbe (dan bisa memainkan jazz swing kesukaan saya) dan dengan latar belakang pendidikan di sekolah dasar dan menengahnya maka dia bisa memberi insight ttg sejarah Islam ini. Terutama sejarah Islam masa Rosul. Saya merasa banyak yg belum digali dgn baik contoh strategi, leadership, internal struggle, decison making dll dr kehidupan Rosul. Saya malah banyak memperoleh pencerahan dr buku sejarah Rosul dr penulis Barat macam Karen Armstrong yg salah satunya menggambarkan Rosul sbg org yg sangat kuat pendirian, fokus dan persuasif dalam perkataan dan perbuatan.

Saya tidak menginginkan anak saya jadi ahli agama yg lebih banyak berceramah drpd memberi contoh dgn perbuatan. Selain di Islam memang katanya tdk dikenal kependetaan dan setiap org bertanggung jawab utk memahami agamanya dgn baik (yg ini saya ngaku bukanlah contoh yg baik utk anak2 saya). Saya merasa di Indonesia terlalu banyak guru agama yg sibuk menasehati org bahkan beriklan segede layar bioskop misbar alias segede layar tancep agar nasehatnya bisa laku. Sementara teladan sangatlah langka.

Saya pikir anak saya tidak akan mampu jadi ahli agama yg konsisten dgn apa yg diceramahkannya dan benar2 bisa mencontoh teladan Nabi dgn cukup baik. Lha bapaknya aja susah utk jadi panutan keluarganya. Kalau anak saya bisa jadi ahli agama spt ini. Wah sungguh jauh di atas harapan saya.

Daripada jadi ahli agama yg hipokrit, lebih baik anak saya jadi Bang Jek. Mantan tukang jagal hewan yg diperankan oleh Dedi Mizwar dalam sinetron Ramadhan Para Pencari Tuhan. Bang Jek memiliki tiga orang murid yg mantan narapidana dan ingin bertobat. Sosok Bang Jek yg mencoba menjadi guru yg baik tetapi sering juga melakukan kesalahan dan bahkan jadi bahan tertawaan murid2nya menurut saya merupakan tokoh yg lebih baik drpd jadi guru agama tersohor tapi lebih sibuk menasehati org drpd memberi teladan dgn perbuatan nyata. Dan anehnya masayarakat sungguh menyukainya. Mungkin ini yg dinamakan budaya instan, dimana apapun bisa jadi tontonan dan hiburan termasuk masalah akherat yg mestinya diperoleh dgn pencapaian seumur hidup.

Saya harap saya bisa memberikan yg cukup baik utk anak saya. Sekali lagi sebenarnya saya lebih concern dgn contoh yg saya berikan sbg bpk. Saya seringkali merasa apa yg saya contohkan tdk cukup baik. Tapi mudah2an ini bisa dimaafkan.

Terima kasih ya Rabb yg telah memberikan kekayaan kepadaku berupa anak2 yg telah menjadi sumber kebahagian, guru kedewasaan dan permata kehidupan.

Obama: Berharap dengan Berkorban (4)

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 2:34 am

“ ……I had clung to the notion that politics could be different, and that the voters wanted something different that they were tired of distortion, name-calling, and sound bite solutions to complicated problems; that if I could reach those voters directly, frame the issues as I felt them, explain the choices in as truthful a fashion as I knew how, then the people’s instincts for fair play and common sense would bring them around. If enough of us took that risk, I thought, not only the country’s politics but the country’s policies would change for the better.”

Seorang yg memiliki idealisme seringkali kelihatan dan menjadi naïf. Dan kenaifan ini menjadi frustasi yg bisa berbahaya bagi kesehatan jiwa dan masyarakat apabila sang idealis ini tidak bisa menghadapi dunia yg kejam ini. Untuk menjadi idealis yg tidak mudah frustasi memang mesti diimbangi dengan penerimaan akan fakta yg ada di dunia ini dan kesabaran bahwa hasilnya tidak langsung dinikmati dan juga sadar bahwa kita seorang manusia yg kecil dimana dunia akan tetap berputar tanpa kehadiran kita.

Obama adalah seorang idealis yg juga naïf tapi bisa menghadapi realitas. Idealis jenis ini sadar bahwa dunia masih bisa tetap exist krn adanya nilai2 kebaikan yg telah dilakukan orang2 terdahulu dan akan tetap exist kalau nilai2 kebaikan memiliki skor yg lebih tinggi dr kejahatan. Dalam jangka pendek kejahatan bisa lebih unggul tapi dalam jangka panjang skor kebaikan mesti lebih unggul karena kalau tidak umat manusia akan lenyap dr muka bumi atau tidak berkembang spt sekarang dan masih menjadi manusia yg sama spt beberapa ribu thn yg lalu.

Seorang idealis yg sukses adalah seorang idealis yg juga memahami kompleksitas permasalahan dan kenyataan bahwa dunia seringkali kejam. Anda tidak bisa mengandalkan hanya kejujuran di dunia yg kejam ini tapi juga dibarengi dengan kemauan untuk belajar, adaptasi dan menerima fakta bahwa kita tidak bisa mengontrol apa yg orang lain lakukan dan hanya kitalah yang mesti mengontrol apa yg kita lakukan.

Seorang idealis juga mesti memiliki idola atau paling tidak referensi dari orang idealis terdahulu dan atau sekarang sehingga dia bisa belajar apa yg org2 hebat ini lakukan menghadapi situasi yg mirip di masa lalu. Ini sangat berguna agar dia tahu bahwa orang lain juga pernah menghadapi situasi yh mirip dan mungkin org2 masa lalu malah jauh lebih sukar masalah yg dihadapinya.

“…. what’s troubling is the gap between the magnitude of our challenges and the smallness of our politics – the ease with which we are distracted by the petty and trivial, our chronic avoidance of tough decisions, our seeming inability to build a working consensus to tackle any big problem.” (hal 28).

Saya rasa politisi yg idealis di Indonesia menghadapi tantangan yg agak lain seperti apa yg ditulis Obama di atas dalam kehidupan politiknya. Politisi di Indonesia memiliki tantangan yg lebih sukar, dan mungkin menghasilkan pahala yg lebih banyak. Politisi di Indonesia mesti mampu berfikir canggih tetapi juga mampu menterjemahkannya ke dalam bahasa yg sederhana yg bisa dipahami rakyat biasa. Selain juga bahwa kehidupan yg memerlukan pengorbanan lebih banyak dibandingkan profesi politisi di negara2 yg sudah maju.

Untuk membangun konsensus di Indonesia mungkin jauh lebih sukar dengan partai yg sedemikian banyak dan persoalan yg sedemikian kompleks. Seorang politisi yg mencoba membangun konsensus dengan sesama politisi bisa menyebabkan seorang politisi idealis menjadi politisi yg menjual dirinya kepada permainan para politisi yang tidak jelas itikadnya. Karena itu seorang politisi yg idealis mesti mampu menyandera para politisi ini dengan membuat rakyat menyukainya seperti menyukai selebriti. Ini juga terlihat dr bagaimana public Amerika menyukai Clinton dan Obama. 

Sukarno merupakan contoh seorang politisi yg piawai berkomunikasi dengan rakyat. Saat ini kita memerlukan politisi yg mampu berorasi dengan baik, tidak usah sehebat Sukarno, tapi sekaligus mampu berwacana dengan baik dengan lawan politik dan pers yg bebas dan masyarakat kelas menengah yg semakin terpelajar.

“A government that truly represents these Americans – that truly serves these Americans – will require a different kind of politics. That politics will need to reflect our lives as they are actually lived. It won’t be prepackaged, ready to pull off the shelf. It will have to be constructed from the best of our traditions and will have to account for the darker aspects of our past. We will need to understand just how we got to this place, this land of warring factions and tribal hatreds. And we will need to remind ourselves, despite all our differences, just how much we share: common hopes, common dreams, a bond that will not break.” Hal (31)

Pertanyaan untuk kita, apakah kita memiliki common hopes dan common dreams? Seorang politisi yg akan naik kelas menjadi negarawan mesti bisa merumuskan apakah common hopes dan common dreams ini utk rakyat Indonesia. Apakah rakyat Papua dan Aceh memiliki harapan dan mimpi yg sama dengan rakyat di Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, NTT, Maluku dll? Apakah seorang Muslim, seorang Kristen, Budha, Hindu di Indonesia memiliki harapan yg sama? Kalaupun tidak sama bisakah dicari poin2 persamaannya dan dicari kompromi atas hal2 yg berbeda tsb?

Bagi para martyr yg siap berjuang menjadi politisi maka saya berharap anda2 memperhatikan hal2 seperti di atas agar apa yg anda lakukan menjadi efektif dan pengorbanan anda tidak sia2.

September 9, 2008

Obama: Berharap dengan Berkorban (3)

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 2:04 am

Di bagian ini saya ingin mencantumkan kutipan dr buku Obama yg saya suka: …., a tradition based on the simple idea that we have a stake in one another, and then what binds us together is greater than what drives us apart, and that if enough people believe in the truth of that proposition and act on it, then we might not solve every problem, but we can get something meaningful done. (hal 4)

Bahkan di USA sangat jarang seorang politisi yang mampu berorasi dgn baik sekaligus menulis dgn baik dan saya rasa Obama masuk kategori ini. Kutipan di atas adalah salah satu contoh yg membuktikan kepiawaianya mengolah kata. Disini jelas juga akan kepekaannya untuk mengajak orang memecahkan problem bersama dan bukan mencari perbedaan yg memang sudah pasti ada.

Kalau membaca apa yg dilakukan oleh Obama dalam rangka menjadi politisi yg baik, saya merasa menjadi politisi adalah pekerjaan yg sangat melelahkan. Obama melakukan apa yg cukup umum dilakukan oleh seorang politisi di USA, terutama politisi yg tidak bermodal banyak uang tapi bermodal banyak kemauan, yaitu berkunjung kepada konstituennya dari desa ke desa, kota ke kota dan dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya.

Saya tidak tahu apakah hal ini dilakukan juga oleh para politisi di Indonesia. Yang pasti tidak pernah saya diajak oleh seorang politisi yg datang ke rumah saya atau tiba2 diajak bicara ttg program seorang politisi.  Politisi di Indonesia adalah politisi ningrat yg lebih banyak pasang spanduk, iklan di TV, dan pawai kendaraan.

Ada juga politisi yg lebih suka bagi2 kaos, sembako, dan duit. Padahal di negara maju politisi justru minta sumbangan dr konsituennya. Tentu saja kita tidak mungkin meminta sumbangan duit dr rakyat yg beli sembako aja susah. Ya mesti kretif sedikit lah. Mintalah sumbangan dr kelas menengah yg cukup terdidik dan uang ini bisa utk membuat kaos, spanduk dsb. Ya memang minta sumbangan dr kelas menengah udah pasti susah. Tapi mesti dimulai. Bilang kepada mereka (dan saya yg kelas menengah bawah) bahwa anda yg politisi sudah menyumbangkan hidup anda utk memperjuangkan keadilan dan kemakmuran bersama maka wajar apabila para kelas menengah ini memberikan sumbangan materi sebagai bentuk sumbangsih minimal sebagai kelas menengah. Tentu saja anda juga mesti mampu menjelaskan dgn baik apa program dan rencana anda sebagai politisi sehingga mereka mau secara sukarela menyumbang.

Ada politisi yg mengeluarkan duit sendiri utk urusan ini atau mungkin meminta sponsor dr pengusaha rekanan pemerintah utk membiaya proses pencalegan ini. Kalau ikhlas dan tidak ada harapan akan pengembalian investasi tentu saja ini sangat mulia tapi rasanya kebanyakan tidak spt ini. Sehingga tidak heran setelah politisi ini terpilih, maka dia mesti mengumpulkan kekayaan untuk mengembalikan investasi yg telah ditanamkan.

Pada waktu Obama mendengarkan keluhan konstituennya maka yg didapat adalah keinginan sederhana untuk memperoleh pekerjaan yg layak, bahwa anak mereka ingin mendapatkan pendidikan yg cukup utk mengarungi masa dewasa, bahwa mereka ingin aman dr kriminalitas. Saya rasa tema ini tidak akan jauh beda dgn Indonesia yaitu misalnya murahnya sembako, murahnya pendidikan, mudahnya mendapatkan pekerjaan, dan terjangkaunya biaya kesehatan. Bedanya mungkin di Indonesia, rakyat kecil sukar melihat kaitan fungsi seorang politisi dgn nasib mereka sehari-hari. Di mata rakyat kecil di Indonesia, yg diharapkan dr seorang politisi bisa jadi adalah sawerannya atau kaosnya. Dan tentu saja politisi yg oportunis tinggal berhitung seberapa besar dana yg dia keluarkan dan seberapa besar dana yg akan dia dapatkan seandainya terpilih.

Mungkin jarang sekali politisi kita yg mencoba mengambil posisi jangka panjang utk mendidik konstituen dan mencoba kreatif dengan mengajak masyarakat berdialog tentang apa yg akan dia perbuat apabila terpilih. Selama ini yg ada bukanlah dialog tapi janji-janji surga yg tidak jelas dasarnya. Dan saya rasa rakyatpun tahu bahwa itu cuma janji doang sehingga akhirnya mereka juga mengambil posisi “what’s in it for me now”.

Pada saat tulisan ini dibuat saya terkejut membaca di media bahwa akhirnya Obama memilih Senator Biden utk menjadi calon wakil presidennya. Senator Biden ini sebelumnya pernah menyindir Obama yg sedikit berbau rasis. Senator Biden dipilih Obama berkaitan dgn pengalamannya di senat sebagai ketua komite luar negeri. Mungkin Obama mengharapkan dgn memilih Biden maka kelemahan Obama dlm urusan luar negeri bisa tertutupi. Pemilihan Biden ini sungguh semakin menunjukkan bahwa Obama lebih memilih utk memenangkan ide2nya dibanding meng-entertain egonya. Sungguh suatu sikap kenegarawan yg patut ditiru.

Saya agak kesulitan meneruskan memberikan komentar buku Obama ini. Pada halaman 11 – 15 saya inginkan mengetik ulang seperti aslinya sebagian besar isinya di beberapa halaman tsb. Ini dikarenakan isinya benar2 layak utk dikutip. Dan bukan hanya sedikit dan beberapa kalimat saja tapi sebagian besar isinya. Tapi baiklah saya mencoba meneruskan

Pada bagian ini pada dasarnya Obama mengajak rakyat Amerika utk kembali mengingat nilai2 dasar yg mempersatukan bangsa Amerika. Menurut Obama nilai2 ini masih bersemayam di benak rakyat Amerika. Nilai2 ini yg telah menginspirasi bangsa Amerika utk mau berkorban dan berbakti untuk negara. Obama menyadari bahwa saat ini berbicara dengan idealis spt itu bisa kedengaran basi krn seringkali akhirnya orang2 berkata-kata idealis hanya sekedar utk memberi bumbu thd kehausan akan kekuasaan atau hanya sebagai cara agar masyarakat tidak terlalu banyak menuntut akan haknya sebagai warga negara.

Obama merasa bahwa bahwa debat ttg kebijakan public saat ini di USA tidaklah mencerminkan perdebatan yg jujur, dgn logika yg ketat (rigor) dan dgn akal sehat. Dia merasa bahwa tantangan yg paling penting tidak diperdulikan dalam perdebatan tsb dan apabila ini tidak dihentikan maka generasi sekarang akan mewariskan keadaan yg lebih buruk dr apa yg didapatkan oleh generasi sekarang.

Saya rasa hal2 ini cukup relevan dgn situasi kita di Indonesia. Di Indonesia hampir tidak ada perdebatan public yg persuasive. Yg ada adalah cuma adu image ttg parpol atau calon kepala daerah atau caleg. Dalam tiap kampanye yg adalah ada cuma adu keras bersuara bahwa dirinyalah yg paling concern dgn kemiskinan, pengangguran, pendidikan dll. Saat ini penggunaan iklan televisi yg mirip iklan produk rokok di bulan puasa mulai dilancarkan oleh parpol dan derivatnya. Tapi iklan ini minim wacana dan maksimal pencitraan. Sehingga yg dijual cuma spt iklan produk yg menjanjikan gaya hidup tertentu bagi yg membeli barang yg diiklankan. Dgn cara ini saya rasa demokrasi tidak berkembang dengan baik. Dgn cara ini yg coba dikembangkan cuma bumbu demokrasinya dan bukan esensi dr demokrasi itu sendiri.

Walaupun begitu saya masih optimis dgn keadaan. Ada harapan2 dr daerah yg kepala daerahnya bisa membenahi daerahnya dgn baik. Saya harap apabila di skala nasional belum terlihat kepemimpinan yg bisa kreatif mengajak secara persuasive kepada public maka di daerah mungkin pada pemilu 2014 akan timbul pemimpin2 baru skala nasional yg berasal dr daerah yg bisa berwacana dgn baik dan berargumentasi dgn ketat dan dgn kehidupan sehari-harinya yg mencerminkan sikap pengorbanan.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King