imamrasyidi

September 9, 2008

Obama: Berharap dengan Berkorban (3)

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 2:04 am

Di bagian ini saya ingin mencantumkan kutipan dr buku Obama yg saya suka: …., a tradition based on the simple idea that we have a stake in one another, and then what binds us together is greater than what drives us apart, and that if enough people believe in the truth of that proposition and act on it, then we might not solve every problem, but we can get something meaningful done. (hal 4)

Bahkan di USA sangat jarang seorang politisi yang mampu berorasi dgn baik sekaligus menulis dgn baik dan saya rasa Obama masuk kategori ini. Kutipan di atas adalah salah satu contoh yg membuktikan kepiawaianya mengolah kata. Disini jelas juga akan kepekaannya untuk mengajak orang memecahkan problem bersama dan bukan mencari perbedaan yg memang sudah pasti ada.

Kalau membaca apa yg dilakukan oleh Obama dalam rangka menjadi politisi yg baik, saya merasa menjadi politisi adalah pekerjaan yg sangat melelahkan. Obama melakukan apa yg cukup umum dilakukan oleh seorang politisi di USA, terutama politisi yg tidak bermodal banyak uang tapi bermodal banyak kemauan, yaitu berkunjung kepada konstituennya dari desa ke desa, kota ke kota dan dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya.

Saya tidak tahu apakah hal ini dilakukan juga oleh para politisi di Indonesia. Yang pasti tidak pernah saya diajak oleh seorang politisi yg datang ke rumah saya atau tiba2 diajak bicara ttg program seorang politisi.  Politisi di Indonesia adalah politisi ningrat yg lebih banyak pasang spanduk, iklan di TV, dan pawai kendaraan.

Ada juga politisi yg lebih suka bagi2 kaos, sembako, dan duit. Padahal di negara maju politisi justru minta sumbangan dr konsituennya. Tentu saja kita tidak mungkin meminta sumbangan duit dr rakyat yg beli sembako aja susah. Ya mesti kretif sedikit lah. Mintalah sumbangan dr kelas menengah yg cukup terdidik dan uang ini bisa utk membuat kaos, spanduk dsb. Ya memang minta sumbangan dr kelas menengah udah pasti susah. Tapi mesti dimulai. Bilang kepada mereka (dan saya yg kelas menengah bawah) bahwa anda yg politisi sudah menyumbangkan hidup anda utk memperjuangkan keadilan dan kemakmuran bersama maka wajar apabila para kelas menengah ini memberikan sumbangan materi sebagai bentuk sumbangsih minimal sebagai kelas menengah. Tentu saja anda juga mesti mampu menjelaskan dgn baik apa program dan rencana anda sebagai politisi sehingga mereka mau secara sukarela menyumbang.

Ada politisi yg mengeluarkan duit sendiri utk urusan ini atau mungkin meminta sponsor dr pengusaha rekanan pemerintah utk membiaya proses pencalegan ini. Kalau ikhlas dan tidak ada harapan akan pengembalian investasi tentu saja ini sangat mulia tapi rasanya kebanyakan tidak spt ini. Sehingga tidak heran setelah politisi ini terpilih, maka dia mesti mengumpulkan kekayaan untuk mengembalikan investasi yg telah ditanamkan.

Pada waktu Obama mendengarkan keluhan konstituennya maka yg didapat adalah keinginan sederhana untuk memperoleh pekerjaan yg layak, bahwa anak mereka ingin mendapatkan pendidikan yg cukup utk mengarungi masa dewasa, bahwa mereka ingin aman dr kriminalitas. Saya rasa tema ini tidak akan jauh beda dgn Indonesia yaitu misalnya murahnya sembako, murahnya pendidikan, mudahnya mendapatkan pekerjaan, dan terjangkaunya biaya kesehatan. Bedanya mungkin di Indonesia, rakyat kecil sukar melihat kaitan fungsi seorang politisi dgn nasib mereka sehari-hari. Di mata rakyat kecil di Indonesia, yg diharapkan dr seorang politisi bisa jadi adalah sawerannya atau kaosnya. Dan tentu saja politisi yg oportunis tinggal berhitung seberapa besar dana yg dia keluarkan dan seberapa besar dana yg akan dia dapatkan seandainya terpilih.

Mungkin jarang sekali politisi kita yg mencoba mengambil posisi jangka panjang utk mendidik konstituen dan mencoba kreatif dengan mengajak masyarakat berdialog tentang apa yg akan dia perbuat apabila terpilih. Selama ini yg ada bukanlah dialog tapi janji-janji surga yg tidak jelas dasarnya. Dan saya rasa rakyatpun tahu bahwa itu cuma janji doang sehingga akhirnya mereka juga mengambil posisi “what’s in it for me now”.

Pada saat tulisan ini dibuat saya terkejut membaca di media bahwa akhirnya Obama memilih Senator Biden utk menjadi calon wakil presidennya. Senator Biden ini sebelumnya pernah menyindir Obama yg sedikit berbau rasis. Senator Biden dipilih Obama berkaitan dgn pengalamannya di senat sebagai ketua komite luar negeri. Mungkin Obama mengharapkan dgn memilih Biden maka kelemahan Obama dlm urusan luar negeri bisa tertutupi. Pemilihan Biden ini sungguh semakin menunjukkan bahwa Obama lebih memilih utk memenangkan ide2nya dibanding meng-entertain egonya. Sungguh suatu sikap kenegarawan yg patut ditiru.

Saya agak kesulitan meneruskan memberikan komentar buku Obama ini. Pada halaman 11 – 15 saya inginkan mengetik ulang seperti aslinya sebagian besar isinya di beberapa halaman tsb. Ini dikarenakan isinya benar2 layak utk dikutip. Dan bukan hanya sedikit dan beberapa kalimat saja tapi sebagian besar isinya. Tapi baiklah saya mencoba meneruskan

Pada bagian ini pada dasarnya Obama mengajak rakyat Amerika utk kembali mengingat nilai2 dasar yg mempersatukan bangsa Amerika. Menurut Obama nilai2 ini masih bersemayam di benak rakyat Amerika. Nilai2 ini yg telah menginspirasi bangsa Amerika utk mau berkorban dan berbakti untuk negara. Obama menyadari bahwa saat ini berbicara dengan idealis spt itu bisa kedengaran basi krn seringkali akhirnya orang2 berkata-kata idealis hanya sekedar utk memberi bumbu thd kehausan akan kekuasaan atau hanya sebagai cara agar masyarakat tidak terlalu banyak menuntut akan haknya sebagai warga negara.

Obama merasa bahwa bahwa debat ttg kebijakan public saat ini di USA tidaklah mencerminkan perdebatan yg jujur, dgn logika yg ketat (rigor) dan dgn akal sehat. Dia merasa bahwa tantangan yg paling penting tidak diperdulikan dalam perdebatan tsb dan apabila ini tidak dihentikan maka generasi sekarang akan mewariskan keadaan yg lebih buruk dr apa yg didapatkan oleh generasi sekarang.

Saya rasa hal2 ini cukup relevan dgn situasi kita di Indonesia. Di Indonesia hampir tidak ada perdebatan public yg persuasive. Yg ada adalah cuma adu image ttg parpol atau calon kepala daerah atau caleg. Dalam tiap kampanye yg adalah ada cuma adu keras bersuara bahwa dirinyalah yg paling concern dgn kemiskinan, pengangguran, pendidikan dll. Saat ini penggunaan iklan televisi yg mirip iklan produk rokok di bulan puasa mulai dilancarkan oleh parpol dan derivatnya. Tapi iklan ini minim wacana dan maksimal pencitraan. Sehingga yg dijual cuma spt iklan produk yg menjanjikan gaya hidup tertentu bagi yg membeli barang yg diiklankan. Dgn cara ini saya rasa demokrasi tidak berkembang dengan baik. Dgn cara ini yg coba dikembangkan cuma bumbu demokrasinya dan bukan esensi dr demokrasi itu sendiri.

Walaupun begitu saya masih optimis dgn keadaan. Ada harapan2 dr daerah yg kepala daerahnya bisa membenahi daerahnya dgn baik. Saya harap apabila di skala nasional belum terlihat kepemimpinan yg bisa kreatif mengajak secara persuasive kepada public maka di daerah mungkin pada pemilu 2014 akan timbul pemimpin2 baru skala nasional yg berasal dr daerah yg bisa berwacana dgn baik dan berargumentasi dgn ketat dan dgn kehidupan sehari-harinya yg mencerminkan sikap pengorbanan.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King