Obama: Berharap dengan Berkorban (4)
“ ……I had clung to the notion that politics could be different, and that the voters wanted something different that they were tired of distortion, name-calling, and sound bite solutions to complicated problems; that if I could reach those voters directly, frame the issues as I felt them, explain the choices in as truthful a fashion as I knew how, then the people’s instincts for fair play and common sense would bring them around. If enough of us took that risk, I thought, not only the country’s politics but the country’s policies would change for the better.”
Seorang yg memiliki idealisme seringkali kelihatan dan menjadi naïf. Dan kenaifan ini menjadi frustasi yg bisa berbahaya bagi kesehatan jiwa dan masyarakat apabila sang idealis ini tidak bisa menghadapi dunia yg kejam ini. Untuk menjadi idealis yg tidak mudah frustasi memang mesti diimbangi dengan penerimaan akan fakta yg ada di dunia ini dan kesabaran bahwa hasilnya tidak langsung dinikmati dan juga sadar bahwa kita seorang manusia yg kecil dimana dunia akan tetap berputar tanpa kehadiran kita.
Obama adalah seorang idealis yg juga naïf tapi bisa menghadapi realitas. Idealis jenis ini sadar bahwa dunia masih bisa tetap exist krn adanya nilai2 kebaikan yg telah dilakukan orang2 terdahulu dan akan tetap exist kalau nilai2 kebaikan memiliki skor yg lebih tinggi dr kejahatan. Dalam jangka pendek kejahatan bisa lebih unggul tapi dalam jangka panjang skor kebaikan mesti lebih unggul karena kalau tidak umat manusia akan lenyap dr muka bumi atau tidak berkembang spt sekarang dan masih menjadi manusia yg sama spt beberapa ribu thn yg lalu.
Seorang idealis yg sukses adalah seorang idealis yg juga memahami kompleksitas permasalahan dan kenyataan bahwa dunia seringkali kejam. Anda tidak bisa mengandalkan hanya kejujuran di dunia yg kejam ini tapi juga dibarengi dengan kemauan untuk belajar, adaptasi dan menerima fakta bahwa kita tidak bisa mengontrol apa yg orang lain lakukan dan hanya kitalah yang mesti mengontrol apa yg kita lakukan.
Seorang idealis juga mesti memiliki idola atau paling tidak referensi dari orang idealis terdahulu dan atau sekarang sehingga dia bisa belajar apa yg org2 hebat ini lakukan menghadapi situasi yg mirip di masa lalu. Ini sangat berguna agar dia tahu bahwa orang lain juga pernah menghadapi situasi yh mirip dan mungkin org2 masa lalu malah jauh lebih sukar masalah yg dihadapinya.
“…. what’s troubling is the gap between the magnitude of our challenges and the smallness of our politics – the ease with which we are distracted by the petty and trivial, our chronic avoidance of tough decisions, our seeming inability to build a working consensus to tackle any big problem.” (hal 28).
Saya rasa politisi yg idealis di Indonesia menghadapi tantangan yg agak lain seperti apa yg ditulis Obama di atas dalam kehidupan politiknya. Politisi di Indonesia memiliki tantangan yg lebih sukar, dan mungkin menghasilkan pahala yg lebih banyak. Politisi di Indonesia mesti mampu berfikir canggih tetapi juga mampu menterjemahkannya ke dalam bahasa yg sederhana yg bisa dipahami rakyat biasa. Selain juga bahwa kehidupan yg memerlukan pengorbanan lebih banyak dibandingkan profesi politisi di negara2 yg sudah maju.
Untuk membangun konsensus di Indonesia mungkin jauh lebih sukar dengan partai yg sedemikian banyak dan persoalan yg sedemikian kompleks. Seorang politisi yg mencoba membangun konsensus dengan sesama politisi bisa menyebabkan seorang politisi idealis menjadi politisi yg menjual dirinya kepada permainan para politisi yang tidak jelas itikadnya. Karena itu seorang politisi yg idealis mesti mampu menyandera para politisi ini dengan membuat rakyat menyukainya seperti menyukai selebriti. Ini juga terlihat dr bagaimana public Amerika menyukai Clinton dan Obama.
Sukarno merupakan contoh seorang politisi yg piawai berkomunikasi dengan rakyat. Saat ini kita memerlukan politisi yg mampu berorasi dengan baik, tidak usah sehebat Sukarno, tapi sekaligus mampu berwacana dengan baik dengan lawan politik dan pers yg bebas dan masyarakat kelas menengah yg semakin terpelajar.
“A government that truly represents these Americans – that truly serves these Americans – will require a different kind of politics. That politics will need to reflect our lives as they are actually lived. It won’t be prepackaged, ready to pull off the shelf. It will have to be constructed from the best of our traditions and will have to account for the darker aspects of our past. We will need to understand just how we got to this place, this land of warring factions and tribal hatreds. And we will need to remind ourselves, despite all our differences, just how much we share: common hopes, common dreams, a bond that will not break.” Hal (31)
Pertanyaan untuk kita, apakah kita memiliki common hopes dan common dreams? Seorang politisi yg akan naik kelas menjadi negarawan mesti bisa merumuskan apakah common hopes dan common dreams ini utk rakyat Indonesia. Apakah rakyat Papua dan Aceh memiliki harapan dan mimpi yg sama dengan rakyat di Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, NTT, Maluku dll? Apakah seorang Muslim, seorang Kristen, Budha, Hindu di Indonesia memiliki harapan yg sama? Kalaupun tidak sama bisakah dicari poin2 persamaannya dan dicari kompromi atas hal2 yg berbeda tsb?
Bagi para martyr yg siap berjuang menjadi politisi maka saya berharap anda2 memperhatikan hal2 seperti di atas agar apa yg anda lakukan menjadi efektif dan pengorbanan anda tidak sia2.