Obama: Berharap dengan Berkorban (5)
Chapter 2: Values
"So Democratic audiences are often surprised when I tell them that I don’t consider George Bush a bad man, and that I assume he and members of his Administration are trying to do what they think is best for the country.
… No matter how wrongheaded I might consider their policies to be – and no matter how much I might insist that they be held accountable for the result of such policies – I still find it possible, in talking to these men and women, to understand their motives, and to recognize in them values I share."
Sebelum membaca buku Obama ini saya merasa bahwa pertarungan ideologi yg lebih murni hanya pantas dilakukan di negara2 yg sudah mapan demokrasi dan ekonominya. Karena pada saat itu kebutuhan dasar warga negara sudah relative tercukupi.sehingga saat itulah kita bisa lebih rileks memikirkan ideology. Pendapat ini tentu aja tidak dianut sebagian (mungkin besar) orang. Karena pandangan kemakmuran biasanya berjalin berkelindan dengan pandangan ideology seseorang. Bagi yg berpandangan liberal, pemenuhan hak2 asasi manusia seperti berserikat, berkumpul dan berpendapat dan pemilihan pandangan dan gaya hidup (tentu saja yg tidak merugikan manusia lainnya) adalah tujuan dari manusia bernegara. Bagi yg berpandangan konservatif, kemakmuran hanya bisa diraih dengan memeluk ideology keagamaan dan melaksanakannya dengan konsisten dan disiplin.
Adalah sukar menyatukan pemeluk kedua ideology ini dengan baik, walaupun biasanya pemeluk ekstrim kedua ideology ini tidaklah banyak. Tapi mereka adalah pemegang otoritas di masyarakat sehingga kevokalan mereka akan mengalahkan kompromi dan common sense kepentingan bersama.
Saya cukup surprise bahwa Obama mengangat issue ini utk public Amerika. Ini berarti bahwa bahkan di negara maju tetep saja masyarakat umum adalah masyarakat biasa yg memerlukan pekerjaan, pendidikan anak yg baik, kesehatan dan pensiun yg memadai. Dengan demikian apalagi di Indonesia. Di Indonesia pertarungan ideology juga cukup keras sehingga seringkali kita lupa bahwa yg sekarang menjadi prioritas adalah bagaimana masyarakat bisa mendapatkan kebutuhan dasar dengan baik. Akankah datang seorang politisi di Indonesia yg bisa mengatakan kepada public bahwa kita harus berkonsentrasi kepada pemecahan problem kemasyarakatan dengan akal sehat dan bukan dengan judgment normative dengan nuansa ideology yg pekat?
Apakah sekian puluh juta rakyat kita yg miskin akan lebih mementingkan kesempurnaan religiusnya kalau mereka tidak bisa makan? Akankan mereka peduli akan keterlibatan mereka di dalam demokrasi apabila mereka tidak bisa mendapatkan pekerjaan yg bisa mencukupi utk bisa makan 3 kali sehari? Apakah mereka peduli bahwa kedaulatan negara kita terancam dengan dicaploknya pulau2 terluar oleh negara2 tetangga sementara anak mereka menderita kurang gizi? Apakah mereka peduli dengan perlakukan Amerika terhadap dunia Islam apabila mereka bahkan tidak paham geopolitik dunia krn masyarakat bawah dan anak2nya tidak bisa mengecap pendidikan dengan baik?
Bahkan menjadi politisi yg relevan utk masyarakat banyak sangat berat utk negara maju spt USA. Apalagi di Indonesia. Diperlukan seseorang yg memahami keprihatinan kalangan konservatif, progresivitas kalangan liberal, cara pikir kalangan status quo dan yang lebih penting kenestapaan rakyat banyak untuk memecahkan problem kelangkaan politisi yg relevan ini.
Selain itu dari kutipan Obama di atas juga terlihat bahwa perbedaan ideology seseorang bukan berarti org itu motifnya jahat. Seorang berideologi Amien Rais akan membenci orang yg berideologi Gus Dur dan sebaliknya, seorang berideologi PPP akan sangat hati2 dgn seorang yg berideologi Golkar dan sebaliknya dan seorang berideologi PKS akan sukar melihat bahwa seorang PDIP memiliki motif yg baik dan sebaliknya dst.
Memang mungkin ada partai2 yg memiliki orang korup lebih banyak dr partai lainnya. Pandangan ini sungguh sehat bagi kemaslahatan masyarakat. Tapi penilaian kebaikan seseorang hanya semata-mata dr ideologinya tidaklah realistis. Saya sendiri bergaul dgn teman2 yg memiliki ideology beragam dan pada akhirnya mereka tahu bahwa kalaupun ideology saya berbeda cukup lebar dgn teman tsb toh akhirnya mereka tahu bahwa saya adalah manusia biasa yg memiliki juga rasa keinginan berkontribusi bagi bangsa dan umat yang sama dengan temen2 lainnya.
Dengan pemahaman spt ini maka seorang politisi bisa mencari kesamaan idealisme dr berbagai ideology yg dianut tsb. Dengan demikian maka sang politisi dapat memecahkan problem bersama yaitu kemakmuran yg berkeadilan.