imamrasyidi

December 22, 2008

Mr Thomas Cook

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 3:05 am

Sekolah ke luar negeri adalah suatu hal yg tdk terbayangkan buat saya, istilahnya beyond my wildest dream. Sebagai orang yg berasal dr rakyat jelata, menjadi sarjana aja sudah merupakan prestasi yg patut disyukuri.

Singkat cerita akhirnya krn saya asisten dosen, maka sekolah keluar negeri cuma masalah urut kacang aja. Akhirnya datanglah kesempatan itu. Saya dapat beasiswa belajar ke Inggris dr pemerintah Inggris. Saya sebenarnya lebih memilih ke Amerika tapi saya pikir toh bahasanya masih bahasa Inggris juga kan?
Beasiswa ini cuma setahun. Teman2 saya menyarankan mengambil ekonomi publik, ekonomi internasional dan bahkan ada teman seangkatan yg mengambil MBA. Saya ingin banget memperdalam general economic equlibrium dan topology agar saya bisa membuktikan apa yg telah lama nongkrong di kepala bahwa ekonomi tanpa bunga adalah sistem yg optimal. Dan menurut saya yg cocok dgn angan2 saya ini adalah dengan mengambil jurusan economics. Ya, economics saja.

Sayangnya ekonomi murni ini mensyaratkan diambil dalam 2 tahun. Kalo cuma setahun saya cuma bisa mengambil diploma ekonomi yaitu semacam matrikulasi agar bisa mengambil master economics. Alasannya kemampuan saya dalam bidang teori dan kuantitatif dipertanyakan krn saya dr negara berkembang, sehingga tdk bisa langsung mengambil master dalam ekonomi murni dalam satu tahun kuliah.

Kolega saya menyarankan saya mengambil ekonomi terapan saja krn itu berarti saya tdk mendapat gelar apa2 dgn mengambil diploma ekonomi. Udah jauh2 sekolah ke luar negeri pulangnya nggak nambah gelar apa2. Saya nggak peduli. Sptnya saya dianggap aneh. Menurut saya sih saya nggak terlalu aneh apabila dibandingkan dgn orang yg naik gunung tinggi cuma utk menaruh bendera, atau peneliti gorila yg hidupnya akhirnya mirip gorila agar oleh para gorila dianggap sebagai sebangsanya, atau orang yg keliling jawa dgn berjalan mundur, atau orang yg nyetir dgn mata tertutup.

Jadilah saya akhirnya pergi ke Inggris utk mengambil diploma ekonomi. Teman2 saya yg bukan kolega kerja menanyakan apa maksud diploma ekonomi ini. Apakah itu semacam diploma spt sekolah di politeknik? Atau spt sekolah kejuruan sekretaris yg ada diploma 1, 2 dan 3? Saya nggak terlalu berminat menjawabnya. Malah ada temen yg sampe meledek jangan2 nanti pulangnya bukan dapat gelar master of science atau master of arts tapi master kungfu. Begitulah hidup, kadang2 mau idealis malah ditertawakan. Nasiiib nasib.

Tibalah saya utk pergi ke negaranya Lady Di itu. Keluarga besar saya mengantar di Bandara. Sebenarnya ini bukan kepergian pertama saya ke luar negeri. Sebelumnya saya pernah ke Nagoya, Jepang untuk menghadiri undangan konferensi pemuda internasional yg diadakan oleh Tokai Bank alias Bank Tokai (eiit orang Betawi jgn marah dulu, ini bener2 nama bank yg cukup besar di Jepang).

Disana kami diajak ke museum mata uang kepunyaan Tokai Bank. Wah luar biasa koleksinya. Ada mata uang jaman Romawi. Dan bukan hanya satu atau dua keping tapi banyak banget. Luar biasa nih bank, walaupun namanya tdk menarik tapi kekayaannya benar2 cukup menakjubkan.

Kami juga diajak berkunjung ke pabrik mobil toyota. Saya tdk akan lupa situasi di pabrik mobil itu. Bodi mobil digantung spt di pabrik pemotongan ayam yg pernah saya liat pinggiran kota Jakarta. Calon mobil ini bergerak dengan teratur, dimana para pekerja dengan sigap memasukkan mur ke mesin dan bodinya. Tiap pekerja melakukan hal yg sama berulang-ulang dr pagi sampai sore dengan kecepatan yg mengagumkan. Sptnya org2 ini bahkan tdk sempat menarik nafas. Pengalaman ini sangat berguna di lain waktu ketika saya memutuskan usaha sendiri di sektor jasa.

Dari pengalaman ke Jepang ini yang mengherankan dan sedikit menjengkelkan adalah berkali-kali saya diajak bicara bahasa Jepang. Waktu tiba di bandara Tokyo saya mesti datang ke imigrasi, seorang wanita yg cukup menarik menanyai saya memakai bahasa Jepang. Saya bilang saya bukan org Jepang dan tdk bisa bahasa Jepang, saya perlihatkan paspor saya, sori sori dia bilang minta maaf.

Waktu saya sedang jalan2 di pertokoan, ada lagi ibu2 yg sptnya menanyakan alamat ke saya. Lagi2 saya geleng2 kepala, tdk mengerti apa yg dia tanyakan. Setelah balik ke Indonesia, di Bandara Sukarno Hatta ada juga gadis2 Jepang yg bicara bahasa Jepang ke saya. Mungkin dia liat saya turun dr pesawat JAL dan disangkanya saya bisa bahasa Jepun. Mungkin krn tubuh saya yg tdk tinggi dan mata saya yg sayu2 ngantuk sehingga mereka salah mengira.

Tapi dibandingkan ke Jepang, perjalanan pesawat ke Inggris jauh lebih lama dengan perbedaan waktu yg juga lebih banyak yaitu sekitar delapan jam dengan kita di Indonesia lebih dahulu dr Inggris. Selain juga saya lebih lama tinggal disana. Ada rasa excitement yg luber.

Sampai di Bandara Heathrow, saya sudah ditunggu oleh seorang wanita yg kira2 berumur 55-60 tahun. Waktu itu saya belum bisa dengan cukup tepat memperkirakan usia seseorang  di atas 40 tahun. Pokoknya semua orang yg di atas usia itu saya anggap sudah berumur. Ibu ini tipe seorang yg sabar dan perhatian. Sungguh tepat menyambut saya yg orang udik dan banyak bingungnya pergi ke negara Eropa yg telah pernah menjajah negeri kita ini. Ibu ini sabar melayani saya. Saya memang tdk seberuntung Ikal dan Arai yg dijemput oleh Famke Somers (kalo nggak salah) yg cantik dan peragawati itu. Tapi saat itu sungguh merasa beruntung saya dijemput seseorang yg sabar utk melayani saya yg grogi menghadapi Eropa yg modern, canggih tapi sekaligus tua dan penuh sejarah.

Setelah beres urusan dengan ibu ini, saya diminta utk datang ke sudut bandara yg sangat sibuk ini dan cari Thomas Cook. Saya bergegas mencari Mr Thomas Cook ke sudut yg ditunjuk ibu ini. Saya bolak-balik mencari Mr Thomas ini spt ayam kampung mencari makan di kebon. Mondar-mandir, bolak balik, kok nggak ada laki2 dgn name tag Mr Thomas Cook. Setelah sekian lama saya mencari dan tidak ketemu akhirnya saya balik lagi ke ibu ini. Dia terlihat bingung. Akhirnya dia sendiri yg mengantarkan saya ke Thomas Cook. Ooooh ternyata saya diantarkan ke counter travelers cheque Thomas Cook. Saya pikir yg ibu ini maksudkan adalah laki2 dengan nama Mr Thomas Cook. Yaah begitulah cerita yg nggak mutu ini berakhir.

December 15, 2008

Rumah

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 1:59 am

Tiap hari pulang ke rumah
Tidur di rumah
Mandi di rumah
Makan di rumah
Buang hajat di rumah
Nikmat di rumah
Kita anggap itu biasa aja
Tahukah kita berapa banyak org tdk memiliki rumah?

Ada pemandangan yg tdk bisa saya lupakan sampai hr ini. Waktu saya mula2 berkantor di Sudirman, akhir tahun 1996, di antara jalan Proklamasi sampai jalan Diponegoro saya sering melihat seorang wanita mungkin sekitar usia 45 - 55 tahun (susah menebak usia seseorang manakala hidupnya penuh dgn kemiskinan dan penderitaan), sedang menuntun sepeda yg ukurannya sedang (bukan sepeda laki2 yg tinggi itu) dengan seorang anak perempuan di belakangnya.

Anak ini sekitar umur 8-10 thn. Wajahnya cantik walaupun terlihat mukanya kotor dengan pakaian yg juga kotor dan seadanya. Terlihat dia sangat kelelahan harus mengikuti wanita di depannya yg sesekali memandang ke belakang utk membujuk dan kadang agak terlihat memaksa utk terus berjalan. Anak ini kadang terlihat kesal, merajuk, menangis mungkin kecapean. Wanita di depannya terus saja mengajak berjalan.

Saya tdk tahu apakah wanita di depannya itu ibunya. Saya berasumsi bahwa itu ibunya, walaupun terlihat wajah ibunya tdk memperlihatkan kecantikan yg ada di wajah anak perempuan itu. Wajah ibu ini terlihat keras, tanda sudah tertempa kehidupan jalanan. Mungkin kecantikannya telah hilang tertelan knalpot kendaraan dan panasnya manusia Jakarta.

Di atas biskota waktu itu saya bertanya-tanya, mau kemana mereka berjalan. Sepertinya mereka tdk punya rumah, dimana mereka tidur?

Seringkali di pagi hari saya berangkat ke kantor saya melihat mereka berjalan dgn arah yg sama dr Jl Proklamasi ke arah Diponegoro. Dan terus saya memandang mereka dan berpikir betapa kerasnya hidup.Tapi sy tdk melakukan apapun, hanya memandang dan memandang, seolah-olah itu adalah bagian yg wajar dr pemandangan metropolitan.

Sekitar 4 tahun kemudian saya berkantor lagi di Sudirman. Kali ini saya sudah mengendarai mobil sendiri. Kedua orang perempuan ini masih ada. Mereka masih berjalan dr Proklamasi menuju Diponegoro dgn sepeda dituntun dan sepedanya sama. Terlihat anak perempuan ini masih berwajah cantik. Tapi terlihat sorot matanya sudah layu. Sorot matanya sudah meninggalkan keramaian di sekitarnya. Sorot matanya terlihat ganjil. Ekspresinya terlihat aneh.

Saya cuma berpikir, anak perempuan secantik itu bisakah selamat dr gangguan orang brengsek di kota metropolitan yg kejam? Hati saya kelu membayangkan apa yg terjadi pada anak perempuan cantik itu yg sekarang berusia belasan. Sekali lagi saya tdk berbuat apa2. Tdk turun dari mobil yg saya kendarai dan terus lewat menuju kantor. Hanya memandang dan memandang. Seolah-olah dengan pandangan akan menyelesaikan persoalan ibu dan anaknya tsb.

Kemana pemerintah kita? Apakah mereka sibuk berbagi proyek? Kemana saya? Hilangkah kemanusiaan saya?

Sudah delapan tahun saya tdk lewat jalan Proklamasi itu krn sekarang menempati rumah sendiri di Cibubur. Saya tdk tahu apakah anak perempuan dan ibunya tsb masih berjalan dengan rute yg sama dr Proklamasi menuju Diponegoro. Sungguh ironis, berjalan di Jl Proklamasi dan mereka belum merdeka dan saudara sebangsanya telah merampok hak2 kemerdekaan mereka.

Mudah2an dua perempuan ini terus menghantui saya dan kita agar kita selalu bersyukur dan sedikit berbuat. Semoga kita diberi kesabaran dan ketabahan utk terus berbuat sedikit utk mengurangi kesengsaraan dan kenestapaan di sekeliling kita.

December 3, 2008

Dia dan Aku

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 9:40 am

Di atas adalah judul buku yg ditulis oleh Dr Daoed Joesoef. Tulisan ini adalah ulasan dr buku tsb.

Banyak pandangan sy yg berubah ttg beberapa tokoh nasional setelah membaca buku ini. Tapi hanya satu kesan sy yg tidak berubah yaitu bahwa pak Daoed memang orangnya kaku. Selain itu kesan berikutnya setelah selesai membaca buku ini jadi bertambah yaitu terlalu Sorbonne dan menggurui. Menggurui bukan hanya kepada muridnya tetapi bahkan kepada gurunya sendiri dan kepada bosnya bos yaitu mantan presiden Suharto. Tapi memang pak Daoed juga orang berpendirian, keras kemauan, berintegritas tinggi, berpengetahuan seni, suami dan bapak teladan, dan independen dalam berpikir. Pak Daoed adalah tipe orang yg membosankan tapi bisa diandalkan (boring but dependable).

Awalnya saya tidak tertarik membaca buku ini karena terlalu tebal (hampir 1000 halaman), ditulis oleh pak Daoed Joesoef yg karangannya bukan termasuk yg saya gemari, sementara beliau jg yg memberlakukan NKK BKK yg sangat tidak disukai para aktivis angkatan senior saya dulu. Tapi setelah membaca random sampling beberapa bagian dr buku ini, saya memutuskan bahwa buku ini cukup menarik utk dibaca. Saya rasa memang sebaiknya mantan tokoh nasional menulis buku agar generasi penerus dapat belajar dr pengalaman mereka dan juga utk meluruskan pandangan2 yg tdk benar. Saya merasa pak Daoed dengan jujur menceritakan pengalaman2nya tanpa rekayasa.

Menurut saya bagian yg terbaik dr buku ini adalah dua bab pertama yaitu cerita ttg “Nek Darinah dan Aku” serta “Uak Raiman dan Aku”. Di bagian Nek Darinah dan Uak Raiman itu cerita benar2 sureal. Di bagian Nek Darinah ada bagian2 dimana cerita seolah-olah adalah kejadian spt di tulisan sastra kelas berat (mungkin spt Gulagnya Tolstoy yg saya belum pernah baca krn memang sy bukan penggemar sastra). Yaitu di bagian dimana seorang wanita pribumi yg tinggal di tangsi tentara bentukan Belanda dengan serdadu pribumi mengalami berganti-ganti suami sampai delapan kali.Hal ini dikarenakan kalau seorang serdadu meninggal maka jandanya mesti keluar dari tangsi. Padahal seringkali para wanita ini tidak memiliki siapa2 lagi dan banyak yg berasal dr daerah luar pulau Sumatera. Sungguh suatu kehidupan yg benar2 berat. Alangkah enaknya kehidupan saat ini bagi sebagian masyarakat Indonesia. Rasanya kehidupan spt itu tdk ada lagi saat ini berkat jasa para pejuang kemerdekaan dan pejuang ekonomi yg telah membuat hidup di Indonesia jauh lebih baik.

Pada bagian Nek Darinah ini saya baru tahu asal kata anak kolong utk anak tentara. Selain saya juga teringat masa kecil dimana kakek sering bercerita ttg masa kecil dan masa mudanya. Pak Daoed bercerita bahwa pada umur sekitar 4,5 thn beliau diajak berkelana ke Aceh (Pak Daoed tinggal di Medan) utk menapak tilas oleh ayahnya selama setengah bulan dan menginap di surau, mesjid dan kedai nasi. Sungguh suatu petualangan yg menggetarkan hati utk seorang anak kecil. Selain itu di bagian ini juga diceritakan bahwa ayahnya Pak Daoed adalah seorang anak Aceh yg mempunyai hutang budi kepada orang Jawa yg telah menolongnya setelah semua keluarga beliau dibunuh dalam berbagai pertempuran di Aceh. Kemudian ayahnya Pak Daoed dijadikan anak angkat oleh orang Jawa ini dan diajak pindah ke Jawa dan disekolahkan di pesantren dan belajar ilmu bela diri. Ini juga suatu cerita yg sulit dipercaya apabila yg menceritakan bukan orang seperti Pak Daoed.

Di bab kedua yaitu cerita ttg Uak Raiman juga seperti kita membaca kisah novel dan kemudian dibuat sinetronnya. Di bagian ini diceritakan seorang yg bernama Raiman yg pernah dihukum 17 tahun di Nusakambangan karena membunuh. Menurut pak Daoed, Uak Raiman sebenarnya bukan membunuh tapi membela diri dari orang yg pernah menghamili adiknya dan tidak mau bertanggung jawab.

Suatu pagi Uak Raiman menghadang seorang pemuda yg telah menghamili adiknya dan meminta pertanggungjawaban pemuda ini. Pemuda ini yg merupakan playboy di kampung tsb bukannya berbicara baik2 malah menghunuskan pisau ke Uak Raiman. Akhirnya Uak Raiman yg tdk bersenjata berduel dgn pemuda ini dan akhirnya malah sang pemuda tsb tewas setelah ditendang dadanya dgn kepala membentur keras batu di tanah. Sementara adiknya yg cantik karena malu menghilang tak tentu rimbanya.

Setelah selesai dipenjara Uak Raiman kembali ke kampungnya di Tanjung Jabung, Jambi tetapi ternyata kedua orang tuanya sudah meninggal sehingga Uak Raiman menjadi sebatang kara. Akhirnya dia berlayar ke Singapura dan bekerja sbg kuli bongkar muat. Disini tugasnya adalah mengantarkan barang dr pelabuhan dan mengantarkannya ke alamat rumah tujuan. Di salah satu rumah yg ditujunya tanpa sengaja Uak Raiman melihat adik perempuannya yg dulu hilang dan sudah menjadi istri seorang kulit putih yg kaya raya yg berprofesi sebagai bankir. Untuk cerita lengkapnya silakan baca buku aslinya deh. Cerita ini benar2 unbelievable.

Pak Daoed kelihatannya tdk terlalu menyukai Bung Karno yg dianggapnya lupa diri sehingga mau saja utk dijadikan pemimpin besar seumur hidup. Selain itu juga beliau tdk menyukai Bung Karno yg menurutnya tdk bisa mengekang nafsu seksualnya sehingga memiliki istri banyak. Lain halnya dgn Bung Hatta. Pak Daoed sangat mengagumi Bung Hatta. Beliau panjang lebar menulis ttg diskusinya dgn Bung Hatta mengenai masalah pendidikan. Ini juga bisa dilihat dr panjangnya halaman yg ditulis oleh Pak Daoed ttg interaksinya dgn Bung Hatta yaitu 92 halaman sedangkan dgn Bung Karno cuma 19 halaman. (Saya tahu perbandingan ini nggak ilmiah tapi paling nggak faktanya bener kan?).

Dalam bagian “Pak Mitro dan Aku”, Pak Daoed menceritakan hubungannya dengan gurunya di FEUI yaitu Prof Sumitro Djojohadikusumo (aneh juga ya, nama guru pake huruf u dan muridnya pake hurup oe). Pak Daoed bukan hanya respek thd keintelektualan Pak Mitro tetapi juga atas perbuatannya tidak mencampuradukkan antara pandangan keilmuan yg diembannya sebagai pendidik dengan pendirian politik yg dianutnya sebagai politikus.

Menurut Pak Daoed hanya Pak Mitro yg memanggilnya dengan nama David dan Pak Daoed tidak keberatan dgn panggilan itu. Sedangkan Pak Daoed tetep menyebut pak Mitro dengan nama itu walaupun orang2 yg mengenal dekat Pak Mitro selalu menyebut beliau dengan Pak Cum.

Waktu Pak Daoed ingin melanjutkan sekolah ke Sorbonne seperti mimpinya sejak kecil, petinggi FEUI rupanya tidak menyetujui dan meminta Pak Daoed utk sekolah ke Amerika spt kolega beliau yg lain. Beliau merasa kepergiannya ke Sorbonne dipersulit oleh pimpinan fakultas. Menurut prosedur seharusnya pak Daoed mendapat persetujuan dari Dekan, Rektor baru kemudian ke Mendikbud. Tapi krn dipersulit akhirnya pak Daoed langsung ke menteri dan disetujui.

Di bagian ini pak Daoed bicara panjang lebar ttg ekonomi, filsafat, filsafat ilmu, budaya dll. Terus terang pembahasan pak Daoed terlalu lebar utk bisa saya ikuti. Menurut pak Daoed ilmu ekonomi saja tdk bisa menjawab masalah pembangunan. Mungkin pak Daoed memang lebih tertarik kepada pembangunannya drpd ilmu ekonominya. Pertanyaan dr seorang Daoed Joesoef akan berbunyi: Apa yg pembangunan butuhkan dr ilmu ekonomi? Pertanyaan saya akan berbunyi: Apa yg ilmu ekonomi bisa sumbangkan untuk pembangunan?

Pada bagian Pak Ali (Murtopo) dan Aku, pak Daoed menceritakan interaksi beliau dengan mantan Aspri Presiden Suharto yaitu pak Ali Murtopo. Sebelumnya saya tdk “ngeh” bahwa pak Daoed ada interaksi yg cukup intens dengan Pak Ali Murtopo.

Pak Daoed tdk menyetujui pembangunan saat itu yg terlalu berat ke arah pembangunan ekonomi. Ketidaksetujuan ini beliau ungkapkan kepada Pak Ali Murtopo dan sepertinya beliau berdua sependapat dalam hal ini. Menurut pak Daoed, sepertinya pak Ali mengungkapkan hal ini kepada Presiden Suharto.

Menurut pak Daoed sudah menjadi rahasia umum bahwa pak Ali sering berbeda pendapat dengan para teknokrat yg terlalu menekankan pembangunan ekonomi dan didukung penuh oleh IMF, Bank Dunia serta negara2 Barat. Menurut beliau ini bukan krn pak Ali iri thd kedudukan dan peran teknokrat dan juga bukan utk menggoyang Pak Harto sebagai presiden tetapi justru agar pembangunan Indonesia berada pada jalur yg benar. Pak Ali juga percaya bahwa Pak Harto adalah pemimpin yg bisa diandalkan untuk “menyelamatkan” Indonesia. Pak Ali tidak pernah bosan secara terbuka mengatakan kepada setiap orang untuk betul2 membantu Pak Harto, sehingga banyak orang menganggap bahwa Pak Ali sebagai penjilat atau algojo politik presiden Suharto.

Sepulang dr sekolah di Sorbonne, Pak Daoed diminta oleh teman2nya untuk bergabung dgn CSIS dgn menjadi Ketua Dewan Direktur. Ternyata pak Ali Murtopo dan Pak Sujono Humardani juga sudah bergabung tetapi tdk memegang jabatan formal apapun. Akhirnya atas saran Mendikbud Syarif Thayeb diciptakan kedudukan Ketua Kehormatan utk kedua pendiri tsb.

Pak Ali pernah mengajak Pak Daoed meninjau PT Freeport Indonesia di Papua. Pak Daoed terkejut dan jengkel terhadap pengambil keputusan di negeri ini karena waktu itu (nggak tau sekarang) semua tanah yg digali yg dianggap mengandung tembaga diangkut ke USA dan diolah disana. Bisa jadi tanah itu juga mengandung emas dan logam berharga lainnya.Ternyata Pak Ali juga memiliki concern yg sama.

Pada bagian pak Djono dan Aku, pak Daoed menerangkan beberapa kebijakan yg kontroversial yg dilakukan beliau sebagai Menteri P dan K. Beberapa kebijakan tersebut antara lain adalah kebijkan masuk sekolah pada bulan puasa, kebijakan NKK, kebijakan merubah kalendar kenaikan kelas dari bulan Januari menjadi bulan September, kebijakan melarang ratu-ratuan dan pembuatan himne guru.

Bagian pak Harto dan Aku, ini adalah bagian terpanjang dr isi buku ini. Rasanya bagian ini kalau dipisahkanpun bisa jadi buku tersendiri. Pada tahun 1970, bung Hatta datang ke Paris dimana saat itu pak Daoed sedang bersekolah di Sorbonne sehingga akhirnya bertemu dalam suatu makan siang utk berbincang-bincang. Pembicaraan saat itu berpusat pada peristiwa perubahan dari Orde Lama ke Orde Baru. Dalam kesempatan itu pak Daoed bertanya kepada Bung Hatta siapa sebenarnya Jendral Suharto dan kenapa bukan Jendral Nasution yg ditetapkan MPRS sebagai presiden. Menurut Bung Hatta sebenarnya Pak Harto sudah meminta Pak Nas utk menjadi presiden tetapi pak Nas tidak bersedia. Pak Harto bahkan meminta Bu Tien datang ke Bu Nas utk membujuk suaminya. Tapi tetep pak Nas tdk bersedia. Menurut pak Daoed ini menunjukkan bahwa pak Harto merupakan orang yg bertanggung jawab. Pada saat negara memerlukan beliau tdk mengelak dr tanggung jawab.

Dari buku ini jelas bahwa ide ttg NKK adalah dr Pak Daoed bukan dr Pak Harto. Sebelum membaca buku ini sy menganggap NKK adalah kemauan Pak Harto utk membungkam mahasiswa. Malahan pak Daoed mesti menerangkan ke Pak Harto kenapa diterapkan NKK ini krn pak Harto mulai mendapat keluhan ttg ini. Pak Daoed menerangkan bahwa NKK dimaksudkan agar mahasiswa bisa berkonsentrasi pada pelajaran di kampus agar mereka bisa bersaing dgn kawan segenerasinya di negara lain. NKK ini juga dimaksudkan utk membentuk pribadi ilmiah dan bukan hanya menyibukan diri dgn avonturisme dan romantisme kegiatan politik praktis yg mengatasnamakan kampus.

Dengan pribadi yg kritis dgn landasan ilmu yg kuat maka akan terbentuk masyarakat sipil yg baik di Indonesia. Manakala disebutkan masyarakat sipil, pak Harto agak tersentak dan menatap wajah pak Daoed secara langsung padahal biasanya pak Harto tdk melihat wajah lawan bicaranya ketika berdialog. Pak Harto minta penjelasan pak Daoed ttg ini lebih lanjut. Ini juga bukan kebiasaan pak Harto. Biasanya pak Harto tidak pernah minta penjelasan lebih lanjut dr apa2 yg diuraikan pak Daoed dan langsung memberikan tanggapan. Dengan demikian pak Daoed mesti hati2 krn mungkin saja pak Harto curiga bahwa pak Daoed ingin mengutak atik dwifungsi ABRI yg sedemikian dipercayai oleh Pak Harto. Bahkan kepada mahasiswa pak Daoed tdk mengungkapkan tujuan NKK ini salah satunya utk membentuk masyarakat sipil yg kuat krn menurut beliau kebanyakan mahasiswa bukanlah bangsawan pikiran.

Akhirnya pak Daoed mesti menjelaskan panjang lebar bahwa kata sipil disini bukanlah lawan dr kata militer. Kata sipil berasal dr kata civil. Kata ini selanjutnya berkembang menjadi civilization yg berarti peradaban, dimana kata ini ada di sila kedua pancasila yaitu kemanusiaan yg adil dan beradab.

Pak Daoed panjang lebar menjelaskan alasannya untuk tdk meliburkan sekolah pada bulan Ramadhan. Penjelasan ini melebar kemana-mana termasuk urusan apa pendapat beliau ttg menuntut ilmu sbg muslim, ideologi Islam yg beliau anut, kontribusi ilmuwan muslim di abad pertengahan dll. Saya secara umum setuju dgn pak Daoed berkaitan dgn uraiannya sebagai muslim tsb.

Ide mengenai SD Inpres rupanya juga berasal dr pak Daoed. Beliau sering mengunjungi daerah-daerah terpencil yg sukar dicapai dgn kendaraan roda empat. Tidak jarang beliau adalah menteri yg pertama mengunjungi daerah2 itu. Di daerah terpencil tsb anak2 belajar menulis di atas daun pisang kering dgn lidi sebagai alat tulisnya. Pak Daoed memperlihatkan kepada pak Harto alat tulis ini. Pak Harto terlihat betul2 tercengang melihat ini. Dari sini pak Daoed mengusulkan untuk mendirikan SD kecil dgn dana Inpres dan pak Harto menyetujuinya.

Menurut pak Daoed, pak Harto adalah orang baik hanya dalam perjalanan waktu seorang yg bertanggung jawab cenderung bersikap protektif dan berpandangan menyempit. Ini dikarenakan orang ini menjadi khawatir bahwa apa yg telah dibangunnya dgn susah payah akan menjadi rusak oleh orang2 yg tidak bertanggung jawab. Dia akan menjadi tertutup terhadap ide2 org lain dan berubah dr seorang revolusioner menjadi konservatif.

Menurut pak Daoed Pak Harto bersedia dicalonkan kembali bukan karena dorongan rasa takut kehilangan kekuasaan, tetapi lebih karena kekhawatiran kemunduran pembangunan yg dia mulai sendiri. Pak Harto tidak berusaha untuk membeli orang2 menjadi pendukungnya, tetapi justru para pendukung itulah yg kasak kusuk menggalang kekuatan, karena merekalah yg paling berkepentingan kalau beliau terus memimpin negara.

Pak Daoed sudah berusaha utk mengingatkan Bu Tien untuk waspada terhadap orang2 yg selalu berusaha mendekati anak2nya. Bu Tien mengucapkan terima kasih dan menanyakan kepada Pak Daoed bagaimana pak Daoed bisa melindungi anaknya yg semata wayang dr org2 spt ini. Pak Daoed menjelaskan apa yg beliau dan istrinya lakukan, walaupun di buku ini tdk dijelaskan secara detil apa saja yg telah dilakukan beliau.

Pak Daoed memang pejabat yg patut dicontoh dalam hal keberaniannya memegang amanah publik. Pada waktu itu pak Daoed sudah tahu bahwa sanak saudara pak Harto ada yg mulai aktif berbisnis. Beliau sangat anti dgn KKN sehingga kepada stafnya di P dan K pak Daoed berpesan apabila ada keluarga presiden, pejabat atau pembesar apapun, terutama yg berkiprah di departemen yg beliau pimpin, yg mencoba mengikuti tender untuk diberitahukan kepada pak Daoed. Pak Daoed sendiri yg akan bertindak apabila para stafnya tdk bersedia melakukannya.

Menurut pak Daoed sptnya pak Harto lebih cerdas drpd mahasiswa bahkan para dosen mereka dalam memahami maksud NKK. Para aktivis mahasiswa menggangap kebijakan itu membunuh demokrasi – sebaliknya pak Harto menduga bahwa kebijakan ini akan menumbuhkan unsur2 yg diperlukan bagi kesehatan demokrasi dan sekaligus menghapus alasan keberadaan dwifungsi. Pak Harto menduga dgn tepat maksud diterapkannya NKK oleh pak Daoed. Lama kelamaan ambivalensi pak Harto semakin terlihat jelas. Pak Harto puas bahwa kebijakan ini telah membuat tenang suasana kampus tetapi di pihak lain tidak senang melihat mahasiswa disiapkan menjadi politisi melalui program politik dalam artian konsep.

Pak Daoed tahu bahwa pak Harto tdk bersimpati dgn golongan politikus, walaupun bukan berarti anti demokrasi. Pengalaman beliau selaku anggota ABRI membuatnya merasa bahwa politikus seringkali sibuk bertengkar dgn sesamanya dengan mengatasnamakan rakyat. Kemudian menarik-narik tentara supaya memihak. Akhirnya banyak anggota tentara yg berguguran secara tdk perlu sementara itu para politisi tsb tdk menderita apapun. Inilah alasannya dwifungsi ABRI diperlukan agar pembangunan nasional berjalan lancar.

Menurut pak Daoed, pak Harto sptnya bertindak dipandu oleh instingnya drpd hasil dr suatu strategi. Ini terlihat manakala pak Daoed diajak pak Harto utk napak tilas rute yg dahulu ditempuhnya selagi memimpin perang gerilya melawan Belanda. Pak Harto ingat semua peristiwa kontak senjata lengkap dgn jumlah korban yg terjadi. Dari pertanyaan2 yg diajukan pak Daoed ttg perang tersebut, pak Daoed berkesimpulan bahwa semua kegiatan kemiliteran itu tdk bersendikan perhitungan strategis tetapi hanyalah pertimbangan instingtif, sehingga sptnya rasa yg jadi penuntun dan bukan nalar.

Sekali lagi saya merasa apa yg ditulis oleh pak Daoed adalah apa yg beliau rasakan. Bolehlah kita tidak setuju dgn pendapat, kebijakan dan perbuatan pak Daoed, tapi sepertinya apa2 yg dilakukan pak Daoed dilandasi oleh motivasi yg tulus dan bukan untuk kepentingan pribadinya semata. Terima kasih pak Daoed telah menulis buku ini, semoga buku ini bisa menjadi sumber pahala yg mengalir utk Bapak.

December 2, 2008

cinta

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 2:17 am
Puisi ini utk ibu2 yg suaminya tdk romantis tapi tdk kalah dalam hal mencintai istri dan keluarganya, cuma caranya memang tdk hiruk pikuk.

Aku mencintaimu dgn sederhana
Tanpa bunga dan busa
Tanpa orkestra dan nyanyian surga

Aku mencintaimu dgn biasa
Seorang guru yg senang dgn pekerjaannya
Pangeran Londo menyiangi kebunnya

Aku mencintaimu dgn membosankan
Nasi yg kumakan setiap hari
Udara yg kukenyot setiap waktu

Aku mencintaimu dgn rutin
Lapar yg menyergapku di waktu tertentu
Penantianmu di akhir waktu

Aku mencintaimu tanpa kompleksitas
Tanpa cerita seru budaya metropolitan
Tanpa suspense cerita selingkuhan

Aku mencintaimu dgn datar
Sedatar jalan tol jagorawi
Sedatar globalisasi Thomas L. Friedman

Hidupku tanpamu
Robot tanpa batere
Bolot tanpa pekaknya
Bokir tanpa gitonya

Cintaku adalah …
Merpati pulang ke kandangnya
Seorang anak menyukai bantalnya
Umar Bakri menyukai sepedanya
Donald Trump menyukai jambulnya

Aku ingin keriput bersamamu
Beruban, bongkok, rabun, pekak bersamamu
Walaupun kalau boleh tanpa cerewetmu
He he he ……

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King