Dia dan Aku
Di atas adalah judul buku yg ditulis oleh Dr Daoed Joesoef. Tulisan ini adalah ulasan dr buku tsb.
Banyak pandangan sy yg berubah ttg beberapa tokoh nasional setelah membaca buku ini. Tapi hanya satu kesan sy yg tidak berubah yaitu bahwa pak Daoed memang orangnya kaku. Selain itu kesan berikutnya setelah selesai membaca buku ini jadi bertambah yaitu terlalu Sorbonne dan menggurui. Menggurui bukan hanya kepada muridnya tetapi bahkan kepada gurunya sendiri dan kepada bosnya bos yaitu mantan presiden Suharto. Tapi memang pak Daoed juga orang berpendirian, keras kemauan, berintegritas tinggi, berpengetahuan seni, suami dan bapak teladan, dan independen dalam berpikir. Pak Daoed adalah tipe orang yg membosankan tapi bisa diandalkan (boring but dependable).
Awalnya saya tidak tertarik membaca buku ini karena terlalu tebal (hampir 1000 halaman), ditulis oleh pak Daoed Joesoef yg karangannya bukan termasuk yg saya gemari, sementara beliau jg yg memberlakukan NKK BKK yg sangat tidak disukai para aktivis angkatan senior saya dulu. Tapi setelah membaca random sampling beberapa bagian dr buku ini, saya memutuskan bahwa buku ini cukup menarik utk dibaca. Saya rasa memang sebaiknya mantan tokoh nasional menulis buku agar generasi penerus dapat belajar dr pengalaman mereka dan juga utk meluruskan pandangan2 yg tdk benar. Saya merasa pak Daoed dengan jujur menceritakan pengalaman2nya tanpa rekayasa.
Menurut saya bagian yg terbaik dr buku ini adalah dua bab pertama yaitu cerita ttg “Nek Darinah dan Aku” serta “Uak Raiman dan Aku”. Di bagian Nek Darinah dan Uak Raiman itu cerita benar2 sureal. Di bagian Nek Darinah ada bagian2 dimana cerita seolah-olah adalah kejadian spt di tulisan sastra kelas berat (mungkin spt Gulagnya Tolstoy yg saya belum pernah baca krn memang sy bukan penggemar sastra). Yaitu di bagian dimana seorang wanita pribumi yg tinggal di tangsi tentara bentukan Belanda dengan serdadu pribumi mengalami berganti-ganti suami sampai delapan kali.Hal ini dikarenakan kalau seorang serdadu meninggal maka jandanya mesti keluar dari tangsi. Padahal seringkali para wanita ini tidak memiliki siapa2 lagi dan banyak yg berasal dr daerah luar pulau Sumatera. Sungguh suatu kehidupan yg benar2 berat. Alangkah enaknya kehidupan saat ini bagi sebagian masyarakat Indonesia. Rasanya kehidupan spt itu tdk ada lagi saat ini berkat jasa para pejuang kemerdekaan dan pejuang ekonomi yg telah membuat hidup di Indonesia jauh lebih baik.
Pada bagian Nek Darinah ini saya baru tahu asal kata anak kolong utk anak tentara. Selain saya juga teringat masa kecil dimana kakek sering bercerita ttg masa kecil dan masa mudanya. Pak Daoed bercerita bahwa pada umur sekitar 4,5 thn beliau diajak berkelana ke Aceh (Pak Daoed tinggal di Medan) utk menapak tilas oleh ayahnya selama setengah bulan dan menginap di surau, mesjid dan kedai nasi. Sungguh suatu petualangan yg menggetarkan hati utk seorang anak kecil. Selain itu di bagian ini juga diceritakan bahwa ayahnya Pak Daoed adalah seorang anak Aceh yg mempunyai hutang budi kepada orang Jawa yg telah menolongnya setelah semua keluarga beliau dibunuh dalam berbagai pertempuran di Aceh. Kemudian ayahnya Pak Daoed dijadikan anak angkat oleh orang Jawa ini dan diajak pindah ke Jawa dan disekolahkan di pesantren dan belajar ilmu bela diri. Ini juga suatu cerita yg sulit dipercaya apabila yg menceritakan bukan orang seperti Pak Daoed.
Di bab kedua yaitu cerita ttg Uak Raiman juga seperti kita membaca kisah novel dan kemudian dibuat sinetronnya. Di bagian ini diceritakan seorang yg bernama Raiman yg pernah dihukum 17 tahun di Nusakambangan karena membunuh. Menurut pak Daoed, Uak Raiman sebenarnya bukan membunuh tapi membela diri dari orang yg pernah menghamili adiknya dan tidak mau bertanggung jawab.
Suatu pagi Uak Raiman menghadang seorang pemuda yg telah menghamili adiknya dan meminta pertanggungjawaban pemuda ini. Pemuda ini yg merupakan playboy di kampung tsb bukannya berbicara baik2 malah menghunuskan pisau ke Uak Raiman. Akhirnya Uak Raiman yg tdk bersenjata berduel dgn pemuda ini dan akhirnya malah sang pemuda tsb tewas setelah ditendang dadanya dgn kepala membentur keras batu di tanah. Sementara adiknya yg cantik karena malu menghilang tak tentu rimbanya.
Setelah selesai dipenjara Uak Raiman kembali ke kampungnya di Tanjung Jabung, Jambi tetapi ternyata kedua orang tuanya sudah meninggal sehingga Uak Raiman menjadi sebatang kara. Akhirnya dia berlayar ke Singapura dan bekerja sbg kuli bongkar muat. Disini tugasnya adalah mengantarkan barang dr pelabuhan dan mengantarkannya ke alamat rumah tujuan. Di salah satu rumah yg ditujunya tanpa sengaja Uak Raiman melihat adik perempuannya yg dulu hilang dan sudah menjadi istri seorang kulit putih yg kaya raya yg berprofesi sebagai bankir. Untuk cerita lengkapnya silakan baca buku aslinya deh. Cerita ini benar2 unbelievable.
Pak Daoed kelihatannya tdk terlalu menyukai Bung Karno yg dianggapnya lupa diri sehingga mau saja utk dijadikan pemimpin besar seumur hidup. Selain itu juga beliau tdk menyukai Bung Karno yg menurutnya tdk bisa mengekang nafsu seksualnya sehingga memiliki istri banyak. Lain halnya dgn Bung Hatta. Pak Daoed sangat mengagumi Bung Hatta. Beliau panjang lebar menulis ttg diskusinya dgn Bung Hatta mengenai masalah pendidikan. Ini juga bisa dilihat dr panjangnya halaman yg ditulis oleh Pak Daoed ttg interaksinya dgn Bung Hatta yaitu 92 halaman sedangkan dgn Bung Karno cuma 19 halaman. (Saya tahu perbandingan ini nggak ilmiah tapi paling nggak faktanya bener kan?).
Dalam bagian “Pak Mitro dan Aku”, Pak Daoed menceritakan hubungannya dengan gurunya di FEUI yaitu Prof Sumitro Djojohadikusumo (aneh juga ya, nama guru pake huruf u dan muridnya pake hurup oe). Pak Daoed bukan hanya respek thd keintelektualan Pak Mitro tetapi juga atas perbuatannya tidak mencampuradukkan antara pandangan keilmuan yg diembannya sebagai pendidik dengan pendirian politik yg dianutnya sebagai politikus.
Menurut Pak Daoed hanya Pak Mitro yg memanggilnya dengan nama David dan Pak Daoed tidak keberatan dgn panggilan itu. Sedangkan Pak Daoed tetep menyebut pak Mitro dengan nama itu walaupun orang2 yg mengenal dekat Pak Mitro selalu menyebut beliau dengan Pak Cum.
Waktu Pak Daoed ingin melanjutkan sekolah ke Sorbonne seperti mimpinya sejak kecil, petinggi FEUI rupanya tidak menyetujui dan meminta Pak Daoed utk sekolah ke Amerika spt kolega beliau yg lain. Beliau merasa kepergiannya ke Sorbonne dipersulit oleh pimpinan fakultas. Menurut prosedur seharusnya pak Daoed mendapat persetujuan dari Dekan, Rektor baru kemudian ke Mendikbud. Tapi krn dipersulit akhirnya pak Daoed langsung ke menteri dan disetujui.
Di bagian ini pak Daoed bicara panjang lebar ttg ekonomi, filsafat, filsafat ilmu, budaya dll. Terus terang pembahasan pak Daoed terlalu lebar utk bisa saya ikuti. Menurut pak Daoed ilmu ekonomi saja tdk bisa menjawab masalah pembangunan. Mungkin pak Daoed memang lebih tertarik kepada pembangunannya drpd ilmu ekonominya. Pertanyaan dr seorang Daoed Joesoef akan berbunyi: Apa yg pembangunan butuhkan dr ilmu ekonomi? Pertanyaan saya akan berbunyi: Apa yg ilmu ekonomi bisa sumbangkan untuk pembangunan?
Pada bagian Pak Ali (Murtopo) dan Aku, pak Daoed menceritakan interaksi beliau dengan mantan Aspri Presiden Suharto yaitu pak Ali Murtopo. Sebelumnya saya tdk “ngeh” bahwa pak Daoed ada interaksi yg cukup intens dengan Pak Ali Murtopo.
Pak Daoed tdk menyetujui pembangunan saat itu yg terlalu berat ke arah pembangunan ekonomi. Ketidaksetujuan ini beliau ungkapkan kepada Pak Ali Murtopo dan sepertinya beliau berdua sependapat dalam hal ini. Menurut pak Daoed, sepertinya pak Ali mengungkapkan hal ini kepada Presiden Suharto.
Menurut pak Daoed sudah menjadi rahasia umum bahwa pak Ali sering berbeda pendapat dengan para teknokrat yg terlalu menekankan pembangunan ekonomi dan didukung penuh oleh IMF, Bank Dunia serta negara2 Barat. Menurut beliau ini bukan krn pak Ali iri thd kedudukan dan peran teknokrat dan juga bukan utk menggoyang Pak Harto sebagai presiden tetapi justru agar pembangunan Indonesia berada pada jalur yg benar. Pak Ali juga percaya bahwa Pak Harto adalah pemimpin yg bisa diandalkan untuk “menyelamatkan” Indonesia. Pak Ali tidak pernah bosan secara terbuka mengatakan kepada setiap orang untuk betul2 membantu Pak Harto, sehingga banyak orang menganggap bahwa Pak Ali sebagai penjilat atau algojo politik presiden Suharto.
Sepulang dr sekolah di Sorbonne, Pak Daoed diminta oleh teman2nya untuk bergabung dgn CSIS dgn menjadi Ketua Dewan Direktur. Ternyata pak Ali Murtopo dan Pak Sujono Humardani juga sudah bergabung tetapi tdk memegang jabatan formal apapun. Akhirnya atas saran Mendikbud Syarif Thayeb diciptakan kedudukan Ketua Kehormatan utk kedua pendiri tsb.
Pak Ali pernah mengajak Pak Daoed meninjau PT Freeport Indonesia di Papua. Pak Daoed terkejut dan jengkel terhadap pengambil keputusan di negeri ini karena waktu itu (nggak tau sekarang) semua tanah yg digali yg dianggap mengandung tembaga diangkut ke USA dan diolah disana. Bisa jadi tanah itu juga mengandung emas dan logam berharga lainnya.Ternyata Pak Ali juga memiliki concern yg sama.
Pada bagian pak Djono dan Aku, pak Daoed menerangkan beberapa kebijakan yg kontroversial yg dilakukan beliau sebagai Menteri P dan K. Beberapa kebijakan tersebut antara lain adalah kebijkan masuk sekolah pada bulan puasa, kebijakan NKK, kebijakan merubah kalendar kenaikan kelas dari bulan Januari menjadi bulan September, kebijakan melarang ratu-ratuan dan pembuatan himne guru.
Bagian pak Harto dan Aku, ini adalah bagian terpanjang dr isi buku ini. Rasanya bagian ini kalau dipisahkanpun bisa jadi buku tersendiri. Pada tahun 1970, bung Hatta datang ke Paris dimana saat itu pak Daoed sedang bersekolah di Sorbonne sehingga akhirnya bertemu dalam suatu makan siang utk berbincang-bincang. Pembicaraan saat itu berpusat pada peristiwa perubahan dari Orde Lama ke Orde Baru. Dalam kesempatan itu pak Daoed bertanya kepada Bung Hatta siapa sebenarnya Jendral Suharto dan kenapa bukan Jendral Nasution yg ditetapkan MPRS sebagai presiden. Menurut Bung Hatta sebenarnya Pak Harto sudah meminta Pak Nas utk menjadi presiden tetapi pak Nas tidak bersedia. Pak Harto bahkan meminta Bu Tien datang ke Bu Nas utk membujuk suaminya. Tapi tetep pak Nas tdk bersedia. Menurut pak Daoed ini menunjukkan bahwa pak Harto merupakan orang yg bertanggung jawab. Pada saat negara memerlukan beliau tdk mengelak dr tanggung jawab.
Dari buku ini jelas bahwa ide ttg NKK adalah dr Pak Daoed bukan dr Pak Harto. Sebelum membaca buku ini sy menganggap NKK adalah kemauan Pak Harto utk membungkam mahasiswa. Malahan pak Daoed mesti menerangkan ke Pak Harto kenapa diterapkan NKK ini krn pak Harto mulai mendapat keluhan ttg ini. Pak Daoed menerangkan bahwa NKK dimaksudkan agar mahasiswa bisa berkonsentrasi pada pelajaran di kampus agar mereka bisa bersaing dgn kawan segenerasinya di negara lain. NKK ini juga dimaksudkan utk membentuk pribadi ilmiah dan bukan hanya menyibukan diri dgn avonturisme dan romantisme kegiatan politik praktis yg mengatasnamakan kampus.
Dengan pribadi yg kritis dgn landasan ilmu yg kuat maka akan terbentuk masyarakat sipil yg baik di Indonesia. Manakala disebutkan masyarakat sipil, pak Harto agak tersentak dan menatap wajah pak Daoed secara langsung padahal biasanya pak Harto tdk melihat wajah lawan bicaranya ketika berdialog. Pak Harto minta penjelasan pak Daoed ttg ini lebih lanjut. Ini juga bukan kebiasaan pak Harto. Biasanya pak Harto tidak pernah minta penjelasan lebih lanjut dr apa2 yg diuraikan pak Daoed dan langsung memberikan tanggapan. Dengan demikian pak Daoed mesti hati2 krn mungkin saja pak Harto curiga bahwa pak Daoed ingin mengutak atik dwifungsi ABRI yg sedemikian dipercayai oleh Pak Harto. Bahkan kepada mahasiswa pak Daoed tdk mengungkapkan tujuan NKK ini salah satunya utk membentuk masyarakat sipil yg kuat krn menurut beliau kebanyakan mahasiswa bukanlah bangsawan pikiran.
Akhirnya pak Daoed mesti menjelaskan panjang lebar bahwa kata sipil disini bukanlah lawan dr kata militer. Kata sipil berasal dr kata civil. Kata ini selanjutnya berkembang menjadi civilization yg berarti peradaban, dimana kata ini ada di sila kedua pancasila yaitu kemanusiaan yg adil dan beradab.
Pak Daoed panjang lebar menjelaskan alasannya untuk tdk meliburkan sekolah pada bulan Ramadhan. Penjelasan ini melebar kemana-mana termasuk urusan apa pendapat beliau ttg menuntut ilmu sbg muslim, ideologi Islam yg beliau anut, kontribusi ilmuwan muslim di abad pertengahan dll. Saya secara umum setuju dgn pak Daoed berkaitan dgn uraiannya sebagai muslim tsb.
Ide mengenai SD Inpres rupanya juga berasal dr pak Daoed. Beliau sering mengunjungi daerah-daerah terpencil yg sukar dicapai dgn kendaraan roda empat. Tidak jarang beliau adalah menteri yg pertama mengunjungi daerah2 itu. Di daerah terpencil tsb anak2 belajar menulis di atas daun pisang kering dgn lidi sebagai alat tulisnya. Pak Daoed memperlihatkan kepada pak Harto alat tulis ini. Pak Harto terlihat betul2 tercengang melihat ini. Dari sini pak Daoed mengusulkan untuk mendirikan SD kecil dgn dana Inpres dan pak Harto menyetujuinya.
Menurut pak Daoed, pak Harto adalah orang baik hanya dalam perjalanan waktu seorang yg bertanggung jawab cenderung bersikap protektif dan berpandangan menyempit. Ini dikarenakan orang ini menjadi khawatir bahwa apa yg telah dibangunnya dgn susah payah akan menjadi rusak oleh orang2 yg tidak bertanggung jawab. Dia akan menjadi tertutup terhadap ide2 org lain dan berubah dr seorang revolusioner menjadi konservatif.
Menurut pak Daoed Pak Harto bersedia dicalonkan kembali bukan karena dorongan rasa takut kehilangan kekuasaan, tetapi lebih karena kekhawatiran kemunduran pembangunan yg dia mulai sendiri. Pak Harto tidak berusaha untuk membeli orang2 menjadi pendukungnya, tetapi justru para pendukung itulah yg kasak kusuk menggalang kekuatan, karena merekalah yg paling berkepentingan kalau beliau terus memimpin negara.
Pak Daoed sudah berusaha utk mengingatkan Bu Tien untuk waspada terhadap orang2 yg selalu berusaha mendekati anak2nya. Bu Tien mengucapkan terima kasih dan menanyakan kepada Pak Daoed bagaimana pak Daoed bisa melindungi anaknya yg semata wayang dr org2 spt ini. Pak Daoed menjelaskan apa yg beliau dan istrinya lakukan, walaupun di buku ini tdk dijelaskan secara detil apa saja yg telah dilakukan beliau.
Pak Daoed memang pejabat yg patut dicontoh dalam hal keberaniannya memegang amanah publik. Pada waktu itu pak Daoed sudah tahu bahwa sanak saudara pak Harto ada yg mulai aktif berbisnis. Beliau sangat anti dgn KKN sehingga kepada stafnya di P dan K pak Daoed berpesan apabila ada keluarga presiden, pejabat atau pembesar apapun, terutama yg berkiprah di departemen yg beliau pimpin, yg mencoba mengikuti tender untuk diberitahukan kepada pak Daoed. Pak Daoed sendiri yg akan bertindak apabila para stafnya tdk bersedia melakukannya.
Menurut pak Daoed sptnya pak Harto lebih cerdas drpd mahasiswa bahkan para dosen mereka dalam memahami maksud NKK. Para aktivis mahasiswa menggangap kebijakan itu membunuh demokrasi – sebaliknya pak Harto menduga bahwa kebijakan ini akan menumbuhkan unsur2 yg diperlukan bagi kesehatan demokrasi dan sekaligus menghapus alasan keberadaan dwifungsi. Pak Harto menduga dgn tepat maksud diterapkannya NKK oleh pak Daoed. Lama kelamaan ambivalensi pak Harto semakin terlihat jelas. Pak Harto puas bahwa kebijakan ini telah membuat tenang suasana kampus tetapi di pihak lain tidak senang melihat mahasiswa disiapkan menjadi politisi melalui program politik dalam artian konsep.
Pak Daoed tahu bahwa pak Harto tdk bersimpati dgn golongan politikus, walaupun bukan berarti anti demokrasi. Pengalaman beliau selaku anggota ABRI membuatnya merasa bahwa politikus seringkali sibuk bertengkar dgn sesamanya dengan mengatasnamakan rakyat. Kemudian menarik-narik tentara supaya memihak. Akhirnya banyak anggota tentara yg berguguran secara tdk perlu sementara itu para politisi tsb tdk menderita apapun. Inilah alasannya dwifungsi ABRI diperlukan agar pembangunan nasional berjalan lancar.
Menurut pak Daoed, pak Harto sptnya bertindak dipandu oleh instingnya drpd hasil dr suatu strategi. Ini terlihat manakala pak Daoed diajak pak Harto utk napak tilas rute yg dahulu ditempuhnya selagi memimpin perang gerilya melawan Belanda. Pak Harto ingat semua peristiwa kontak senjata lengkap dgn jumlah korban yg terjadi. Dari pertanyaan2 yg diajukan pak Daoed ttg perang tersebut, pak Daoed berkesimpulan bahwa semua kegiatan kemiliteran itu tdk bersendikan perhitungan strategis tetapi hanyalah pertimbangan instingtif, sehingga sptnya rasa yg jadi penuntun dan bukan nalar.
Sekali lagi saya merasa apa yg ditulis oleh pak Daoed adalah apa yg beliau rasakan. Bolehlah kita tidak setuju dgn pendapat, kebijakan dan perbuatan pak Daoed, tapi sepertinya apa2 yg dilakukan pak Daoed dilandasi oleh motivasi yg tulus dan bukan untuk kepentingan pribadinya semata. Terima kasih pak Daoed telah menulis buku ini, semoga buku ini bisa menjadi sumber pahala yg mengalir utk Bapak.