imamrasyidi

December 15, 2008

Rumah

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 1:59 am

Tiap hari pulang ke rumah
Tidur di rumah
Mandi di rumah
Makan di rumah
Buang hajat di rumah
Nikmat di rumah
Kita anggap itu biasa aja
Tahukah kita berapa banyak org tdk memiliki rumah?

Ada pemandangan yg tdk bisa saya lupakan sampai hr ini. Waktu saya mula2 berkantor di Sudirman, akhir tahun 1996, di antara jalan Proklamasi sampai jalan Diponegoro saya sering melihat seorang wanita mungkin sekitar usia 45 - 55 tahun (susah menebak usia seseorang manakala hidupnya penuh dgn kemiskinan dan penderitaan), sedang menuntun sepeda yg ukurannya sedang (bukan sepeda laki2 yg tinggi itu) dengan seorang anak perempuan di belakangnya.

Anak ini sekitar umur 8-10 thn. Wajahnya cantik walaupun terlihat mukanya kotor dengan pakaian yg juga kotor dan seadanya. Terlihat dia sangat kelelahan harus mengikuti wanita di depannya yg sesekali memandang ke belakang utk membujuk dan kadang agak terlihat memaksa utk terus berjalan. Anak ini kadang terlihat kesal, merajuk, menangis mungkin kecapean. Wanita di depannya terus saja mengajak berjalan.

Saya tdk tahu apakah wanita di depannya itu ibunya. Saya berasumsi bahwa itu ibunya, walaupun terlihat wajah ibunya tdk memperlihatkan kecantikan yg ada di wajah anak perempuan itu. Wajah ibu ini terlihat keras, tanda sudah tertempa kehidupan jalanan. Mungkin kecantikannya telah hilang tertelan knalpot kendaraan dan panasnya manusia Jakarta.

Di atas biskota waktu itu saya bertanya-tanya, mau kemana mereka berjalan. Sepertinya mereka tdk punya rumah, dimana mereka tidur?

Seringkali di pagi hari saya berangkat ke kantor saya melihat mereka berjalan dgn arah yg sama dr Jl Proklamasi ke arah Diponegoro. Dan terus saya memandang mereka dan berpikir betapa kerasnya hidup.Tapi sy tdk melakukan apapun, hanya memandang dan memandang, seolah-olah itu adalah bagian yg wajar dr pemandangan metropolitan.

Sekitar 4 tahun kemudian saya berkantor lagi di Sudirman. Kali ini saya sudah mengendarai mobil sendiri. Kedua orang perempuan ini masih ada. Mereka masih berjalan dr Proklamasi menuju Diponegoro dgn sepeda dituntun dan sepedanya sama. Terlihat anak perempuan ini masih berwajah cantik. Tapi terlihat sorot matanya sudah layu. Sorot matanya sudah meninggalkan keramaian di sekitarnya. Sorot matanya terlihat ganjil. Ekspresinya terlihat aneh.

Saya cuma berpikir, anak perempuan secantik itu bisakah selamat dr gangguan orang brengsek di kota metropolitan yg kejam? Hati saya kelu membayangkan apa yg terjadi pada anak perempuan cantik itu yg sekarang berusia belasan. Sekali lagi saya tdk berbuat apa2. Tdk turun dari mobil yg saya kendarai dan terus lewat menuju kantor. Hanya memandang dan memandang. Seolah-olah dengan pandangan akan menyelesaikan persoalan ibu dan anaknya tsb.

Kemana pemerintah kita? Apakah mereka sibuk berbagi proyek? Kemana saya? Hilangkah kemanusiaan saya?

Sudah delapan tahun saya tdk lewat jalan Proklamasi itu krn sekarang menempati rumah sendiri di Cibubur. Saya tdk tahu apakah anak perempuan dan ibunya tsb masih berjalan dengan rute yg sama dr Proklamasi menuju Diponegoro. Sungguh ironis, berjalan di Jl Proklamasi dan mereka belum merdeka dan saudara sebangsanya telah merampok hak2 kemerdekaan mereka.

Mudah2an dua perempuan ini terus menghantui saya dan kita agar kita selalu bersyukur dan sedikit berbuat. Semoga kita diberi kesabaran dan ketabahan utk terus berbuat sedikit utk mengurangi kesengsaraan dan kenestapaan di sekeliling kita.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King