imamrasyidi

December 22, 2008

Mr Thomas Cook

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 3:05 am

Sekolah ke luar negeri adalah suatu hal yg tdk terbayangkan buat saya, istilahnya beyond my wildest dream. Sebagai orang yg berasal dr rakyat jelata, menjadi sarjana aja sudah merupakan prestasi yg patut disyukuri.

Singkat cerita akhirnya krn saya asisten dosen, maka sekolah keluar negeri cuma masalah urut kacang aja. Akhirnya datanglah kesempatan itu. Saya dapat beasiswa belajar ke Inggris dr pemerintah Inggris. Saya sebenarnya lebih memilih ke Amerika tapi saya pikir toh bahasanya masih bahasa Inggris juga kan?
Beasiswa ini cuma setahun. Teman2 saya menyarankan mengambil ekonomi publik, ekonomi internasional dan bahkan ada teman seangkatan yg mengambil MBA. Saya ingin banget memperdalam general economic equlibrium dan topology agar saya bisa membuktikan apa yg telah lama nongkrong di kepala bahwa ekonomi tanpa bunga adalah sistem yg optimal. Dan menurut saya yg cocok dgn angan2 saya ini adalah dengan mengambil jurusan economics. Ya, economics saja.

Sayangnya ekonomi murni ini mensyaratkan diambil dalam 2 tahun. Kalo cuma setahun saya cuma bisa mengambil diploma ekonomi yaitu semacam matrikulasi agar bisa mengambil master economics. Alasannya kemampuan saya dalam bidang teori dan kuantitatif dipertanyakan krn saya dr negara berkembang, sehingga tdk bisa langsung mengambil master dalam ekonomi murni dalam satu tahun kuliah.

Kolega saya menyarankan saya mengambil ekonomi terapan saja krn itu berarti saya tdk mendapat gelar apa2 dgn mengambil diploma ekonomi. Udah jauh2 sekolah ke luar negeri pulangnya nggak nambah gelar apa2. Saya nggak peduli. Sptnya saya dianggap aneh. Menurut saya sih saya nggak terlalu aneh apabila dibandingkan dgn orang yg naik gunung tinggi cuma utk menaruh bendera, atau peneliti gorila yg hidupnya akhirnya mirip gorila agar oleh para gorila dianggap sebagai sebangsanya, atau orang yg keliling jawa dgn berjalan mundur, atau orang yg nyetir dgn mata tertutup.

Jadilah saya akhirnya pergi ke Inggris utk mengambil diploma ekonomi. Teman2 saya yg bukan kolega kerja menanyakan apa maksud diploma ekonomi ini. Apakah itu semacam diploma spt sekolah di politeknik? Atau spt sekolah kejuruan sekretaris yg ada diploma 1, 2 dan 3? Saya nggak terlalu berminat menjawabnya. Malah ada temen yg sampe meledek jangan2 nanti pulangnya bukan dapat gelar master of science atau master of arts tapi master kungfu. Begitulah hidup, kadang2 mau idealis malah ditertawakan. Nasiiib nasib.

Tibalah saya utk pergi ke negaranya Lady Di itu. Keluarga besar saya mengantar di Bandara. Sebenarnya ini bukan kepergian pertama saya ke luar negeri. Sebelumnya saya pernah ke Nagoya, Jepang untuk menghadiri undangan konferensi pemuda internasional yg diadakan oleh Tokai Bank alias Bank Tokai (eiit orang Betawi jgn marah dulu, ini bener2 nama bank yg cukup besar di Jepang).

Disana kami diajak ke museum mata uang kepunyaan Tokai Bank. Wah luar biasa koleksinya. Ada mata uang jaman Romawi. Dan bukan hanya satu atau dua keping tapi banyak banget. Luar biasa nih bank, walaupun namanya tdk menarik tapi kekayaannya benar2 cukup menakjubkan.

Kami juga diajak berkunjung ke pabrik mobil toyota. Saya tdk akan lupa situasi di pabrik mobil itu. Bodi mobil digantung spt di pabrik pemotongan ayam yg pernah saya liat pinggiran kota Jakarta. Calon mobil ini bergerak dengan teratur, dimana para pekerja dengan sigap memasukkan mur ke mesin dan bodinya. Tiap pekerja melakukan hal yg sama berulang-ulang dr pagi sampai sore dengan kecepatan yg mengagumkan. Sptnya org2 ini bahkan tdk sempat menarik nafas. Pengalaman ini sangat berguna di lain waktu ketika saya memutuskan usaha sendiri di sektor jasa.

Dari pengalaman ke Jepang ini yang mengherankan dan sedikit menjengkelkan adalah berkali-kali saya diajak bicara bahasa Jepang. Waktu tiba di bandara Tokyo saya mesti datang ke imigrasi, seorang wanita yg cukup menarik menanyai saya memakai bahasa Jepang. Saya bilang saya bukan org Jepang dan tdk bisa bahasa Jepang, saya perlihatkan paspor saya, sori sori dia bilang minta maaf.

Waktu saya sedang jalan2 di pertokoan, ada lagi ibu2 yg sptnya menanyakan alamat ke saya. Lagi2 saya geleng2 kepala, tdk mengerti apa yg dia tanyakan. Setelah balik ke Indonesia, di Bandara Sukarno Hatta ada juga gadis2 Jepang yg bicara bahasa Jepang ke saya. Mungkin dia liat saya turun dr pesawat JAL dan disangkanya saya bisa bahasa Jepun. Mungkin krn tubuh saya yg tdk tinggi dan mata saya yg sayu2 ngantuk sehingga mereka salah mengira.

Tapi dibandingkan ke Jepang, perjalanan pesawat ke Inggris jauh lebih lama dengan perbedaan waktu yg juga lebih banyak yaitu sekitar delapan jam dengan kita di Indonesia lebih dahulu dr Inggris. Selain juga saya lebih lama tinggal disana. Ada rasa excitement yg luber.

Sampai di Bandara Heathrow, saya sudah ditunggu oleh seorang wanita yg kira2 berumur 55-60 tahun. Waktu itu saya belum bisa dengan cukup tepat memperkirakan usia seseorang  di atas 40 tahun. Pokoknya semua orang yg di atas usia itu saya anggap sudah berumur. Ibu ini tipe seorang yg sabar dan perhatian. Sungguh tepat menyambut saya yg orang udik dan banyak bingungnya pergi ke negara Eropa yg telah pernah menjajah negeri kita ini. Ibu ini sabar melayani saya. Saya memang tdk seberuntung Ikal dan Arai yg dijemput oleh Famke Somers (kalo nggak salah) yg cantik dan peragawati itu. Tapi saat itu sungguh merasa beruntung saya dijemput seseorang yg sabar utk melayani saya yg grogi menghadapi Eropa yg modern, canggih tapi sekaligus tua dan penuh sejarah.

Setelah beres urusan dengan ibu ini, saya diminta utk datang ke sudut bandara yg sangat sibuk ini dan cari Thomas Cook. Saya bergegas mencari Mr Thomas Cook ke sudut yg ditunjuk ibu ini. Saya bolak-balik mencari Mr Thomas ini spt ayam kampung mencari makan di kebon. Mondar-mandir, bolak balik, kok nggak ada laki2 dgn name tag Mr Thomas Cook. Setelah sekian lama saya mencari dan tidak ketemu akhirnya saya balik lagi ke ibu ini. Dia terlihat bingung. Akhirnya dia sendiri yg mengantarkan saya ke Thomas Cook. Ooooh ternyata saya diantarkan ke counter travelers cheque Thomas Cook. Saya pikir yg ibu ini maksudkan adalah laki2 dengan nama Mr Thomas Cook. Yaah begitulah cerita yg nggak mutu ini berakhir.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King