imamrasyidi

January 29, 2009

Fokus (Lagi)

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 7:47 am

Karena ada request utk membuat artikel ttg fokus yg bisa lebih memperjelas maksudnya, maka sy membuat sequel dr artikel terdahulu. Sy bukan ahli personal development atau management sehingga artikel ini berdasar hanya dr bacaan sy yg terbatas dgn contoh dr pengalaman sehari-hari sy dan org2 yg bergaul dgn sy. Tapi terlepas dr itu mudah2an artikel ini bisa menjadi urun rembug dr saya utk teman2 yg membacanya.

Fokus memang topic yg menurut saya cukup sukar utk dibahas. Bos saya dulu, seorang bule Kanada yg pandai dan telah menjadi guru terbaik saya dalam general management, juga tdk cukup tegas dan jelas waktu meminta kita utk focus. Saya merasakan getar2 ketidakyakinan dalam nada suaranya, walaupun dia berupaya (spt bos umumnya) utk terlihat yakin dgn apa yg diucapkannya.

Sebenarnya utk membuat artikel fokus yg lebih serius sy mestinya riset kecil2an dulu dgn melihat artikel2 di majalah Harvard Business Review yg membahas topik ini. Eh ternyata saat ini pas waktu berlangganan sy habis dan belum sempat diperpanjang. Jadi artikel ini bener2 apa yg ada di kepala sy saat ini. Jadi anggap saja ini adalah obrolan yg santai tapi sedikit serius.

Memang fokus tdk datang dr langit begitu saja, mesti ada konteks yg melatarbelakanginya. Orang berfokus mesti jelas, fokus mau ngapain. Apa yg mau kita fokuskan? Berarti ini ada hubungannya dengan apa yg mau kita lakukan dgn hidup kita, pekerjaan kita, bisnis kita dll. Ini mungkin istilahnya kita mesti memiliki visi. Atau kalau visi kejauhan kita sebut aja target atau tujuan tertentu.

Kalau kita tdk meluangkan waktu utk memikirkan target atau visi ini maka kita akan berada pada situasi dimana hidup atau bisnis kita dibentuk semata-mata oleh apa yg lewat di depan mata. This is not necessarily bad. Ada yg hidupnya bermoto bagaikan air mengalir. Saya lihat org yg bermoto spt ini hidupnya juga bahagia.

Tapi moto spt ini tdk cocok buat saya. Sy ingin ikut sedikit lebih berperan dalam menentukan apa yg terjadi di seputar saya. Saya ingin menantang diri saya sendiri utk bisa mengeluarkan daya tahan dan kemampuan saya utk sedikit berkontribusi bagi sekeliling saya. Rasanya saya menyia-nyiakan karunia Yg Maha Kuasa kalau sy tdk berusaha yg terbaik yg sy mampu dan meninggalkan sedikit jejak dan manfaat bagi orang lain sekarang dan di masa depan.

Jadi coba kita renungkan ttg apa yg kita mau dr pekerjaan, profesi atau bisnis saat ini. Apakah anda merasa bahagia? Apakah anda merasa memperoleh kepuasan dr yg anda lakukan saat ini? Apakah anda sudah berinvestasi utk kebahagian di masa depan? Apakah anda sudah mengeluarkan seluruh kemampuan terbaik anda dalam menekuni pekerjaan atau bisnis anda saat ini? Apakah anda bisa melakukan sesuatu agar terlepas dr rutinitas sehari-hari?

Kalau kita sudah bisa menjawab pertanyaan ttg visi ini maka masalah fokus menjadi lebih gampang. Kalau masalah ini tdk terjawab dgn baik maka apa yg kita lakukan menjadi tdk konsisten, prioritas menjadi membingungkan dan banyak persoalan yg tdk tertangani dgn baik dan tuntas.

Kalau visi anda adalah menjadi karyawan yg baik maka segala kemampuan anda dicurahkan utk itu. Maka anda akan fokus memikirkan dan mengerjakan hal2 yg menyangkut menjadi karyawan yg baik. Kalau ada yg menawari anda utk ngobyek yg bisa mengganggu tujuan ini maka anda akan menolak. Kalau ada teman2 anda yg mengajak clubbing sampai larut malam tiap hari maka anda akan menolaknya dan mungkin mau kalau diajak di waktu week end. Saya rasa ini contoh yg sederhana.

Selain masalah visi kita juga harus fokus krn adanya masalah kelangkaan dan keterbatasan. Pertama, karena bakat manusia biasanya terbatas. Kedua, daya pikir dan kemampuan manusia jg terbatas. Ketiga, sumber daya juga ada batasnya.

Marilah kita mulai dr yg pertama. Udah jelas jarang sekali manusia yg memiliki beberapa bakat hebat sekaligus. Clinton mungkin pandai main saxophone tapi dia tdk menjadi seniman jazz yg mumpuni pd saat bersamaan. SBY mungkin bisa main gitar, tapi kita tahu permainannya tdk sebaik Ireng Maulana. Dedi Mizwar memang aktor yg hebat, tapi menurut saya lebih baik tdk usah menyanyi. Demikian juga Indra Lesmana, saya sangat menyukai permainan swingnya, tapi rasanya mungkin suaranya lebih bagus saya (kalo sy pakai topi capio dan lipsync Tompi). Jadi kita mesti memilih dan berfokus pada bidang yg akan menyebabkan kita menjadi terbaik dan pada bidang lainnya yg kita juga sukai kita hanya jadikan hobi.

Kedua, daya pikir dan kemampuan manusia terbatas. Sangat jarang org yg otaknya sedemikian canggih dalam multi tasking dan dapat menyelesaikan beberapa persoalan yg susah sekaligus. Org ini jg memiliki kemampuan mental yg canggih krn mampu menerima beberapa problem yg meruntuhkan mental secara bersamaan. Dalam menekuni bisnis yg sy geluti seringkali sy mengalami tekanan mental yg cukup berat manakala ada problem pada rumah yg kami bangun. Problem dalam bidang kontraktor rumah sedemikian banyak dan overwhelming sehingga saat ini tdk ada kontraktor rumah individual (bukan order dr developer) yg bisa besar dan menasional. Seringkali kami diminta bekerja sama utk membangun suatu tanah kosong dan kami yg jadi developernya. Kita selalu menolak proposal ini krn kami merasa problem di usaha pemborong rumah sudah dan masih sedemikian banyak dan akan lebih bikin pusing lagi kalau ditambah dgn problem menjadi developer dimana kami belum memiliki pengalaman.

Ketiga, sumber daya juga ada batasnya. Kita mesti fokus krn seringkali sumberdaya yg kita memiliki tdk banyak. Org yg banyak uang bisa saja memiliki beberapa bisnis baru secara bersamaan krn dia memiliki dana utk membiayai operasinya. Tetapi bahkan org yg uangnya banyak bisa habis kekayaannya utk menutup kerugian dr bisnis baru yg digelutinya. Ini terjadi pada kasus Bank Summa yg menyebabkan William Suryajaya menjual Astra utk menutup hutang krn kerugian pada Bank Summa.

Kalau kita sudah yakin bahwa kita mesti fokus, maka pertanyaan berikutnya adalah seberapa fokus? Teman saya yg berbisnis program komputer menganggap bahwa kalau dia mencoba membuat software utk UKM maka dia merasa masih fokus, tapi saya merasa kurang fokus. Sy sarankan dia utk tetap menangani sistem utk apartment dan mall saja.

Menurut saya tingkat kefokusan yg akan kita laksanakan tergantung bakat, kemampuan dan kesempatan yg ada. Ada org yg senang utk menjadi superspesialis atau ada juga yg senangnya hanya melayani segmen tertentu dr pasar yg ada saja. Ada dokter spesialis saraf anak atau superspesialis lainnya dalam bidang kedokteran. Ada juga disainer yg benar2 hanya memikirkan seni pakaian saja dan tdk terlalu peduli dgn harga, kepraktisan atau kerumitan membuatnya. Ini jelas berhubungan dgn bakat dan kemampuan krn tdk semua dokter mau cape2 sekolah terus menerus atau utk membuat pakaian yg menjadi seni dan trendsetter diperlukan disainer yg benar2 berbakat.

Ada dokter yg ternyata lebih senang mengatur dokter lainnya dan mengatur rumah sakit sehingga malah mengambil sekolah lagi dalam bidang manajemen rumah sakit drpd mengambil spesialis. Ada disainer yg lebih suka memproduksi pakaian massal drpd memproduksi pakaian sangat indah tapi hanya dibuat satu buah saja.

Di lain pihak tingkat kefokusan juga tergantung dr kesempatan yg ada di pasar. Utk kasus teman sy jelas dia sudah mendapatkan niche market yg bisa dilayaninya dgn sangat baik dan dia merupakan pemimpin pasar. Kalau dia bergerak membuat program lain maka dia akan mengeluarkan waktu, tenaga, dan biaya belajar yg tdk sedikit. Itupun belum tentu dia bisa menjadi yg terbaik di bidang baru tsb. Sementara kalau dia tetep berfokus di apartment dan mall maka dia bisa mengembangkan pasarnya ke arah sistem yg lebih murah utk developer yg lbh kecil atau bisa juga mempercanggih sistemnya sehingga bisa menjadi nomor satu bidangnya bahkan meluaskan pasarnya ke luar negeri.

Tentu saja saya tahu bahwa orang memerlukan waktu utk mencari bidang yg ingin difokuskan. Sebelum bergerak di bidang pemborong rumah saya mencoba bidang2 lainnya dan menurut perkiraan sy bidang kontraktor rumah cukup potensial utk sy jadikan bisnis yg bisa berkembang.

Saya jg tahu bahwa kita harus terus menguji apakah pekerjaan, usaha atau bidang yg kita geluti benar2 berharga utk difokuskan. Di thn2 awal sy bergerak di usaha kontraktor rumah, apabila ada problem yg menimpa baik tdk adanya order atau problem di lapangan dan atau dgn klien, biasanya akan berujung pada pertanyaan mengenai usaha yg sy geluti. Apakah usaha kami ini memiliki potensi utk dikembangkan, apakah problem yg sedemikian banyak bisa kami perbaiki sebelum nama kami menjadi sangat buruk dan kami kehabisan goodwill krn persoalan yg sedemikian banyak. Pada akhirnya krn upaya marketing kami membuahkan hasil, saat ini banyak klien yg datang sendiri krn melihat website kami di internet, dr pemberitaan di media massa atau referensi dr klien kami sebelumnya. Selain itu persolan2 mendasar lambat laun bisa kami perbaiki walaupun masih banyak persoalan dan tantangan yg menunggu utk diselesaikan. Dari awal kami tahu bahwa justru krn problem yg sedemikian banyak
itu dan belum ada kontraktor rumah yg mampu memperbaikinya secara sistematis maka potensi apabila kami mampu menyelesaikan sangat luar biasa besar rewardnya.

Teman saya bilang fokus ada harganya. Dia tahu hidup saya sebelum berfokus menjadi pemborong rumah dan juga tahu setelah menjadi pemborong rumah. Seringkali fokus memang memerlukan pengorbanan jangka pendek yg akan terbayar dalam jangka menengah atau panjang. Pada saat bisnis sy masih awal2 dgn penghasilan tdk jelas dan pernah rugi pula, ada tawaran2 utk kembali bekerja di pasar modal dgn prospek gaji dan fasilitas yg mungkin jauh lebih baik drpd keadaan ekonomi yg sy alami saat itu (bahkan mungkin saat ini). Tawaran2 itu dgn sopan sy tolak. Memang ini bukan keputusan yg mudah, memerlukan perenungan yg cukup intens utk memutuskan hal ini. Mudah2an apa yg telah sy putuskan membawa kebaikan bagi diri sy sendiri dan org2 yg sy kasihi yg terkena dampak dr keputusan sy tsb.

Dengan fokus bukan berarti bahwa target kita adalah menjadi presiden, menjadi org paling terkenal di negeri ini, menjadi paling pandai, paling kaya dll. Tdk semua org memiliki bakat dan nasib utk menjadi org paling2 tsb, tapi hampir semua org memiliki kemampuan tertentu yg apabila dioptimalkan hidupnya akan menjadi lebih berarti, lebih membahagiakan, lebih sukses atau lebih bermanfaat bagi org lain.

Hidup memang kompleks. Banyak hal yg mesti dipertimbangkan dan seringkali waktu dan keadaan bisa merubah pendapat kita ttg suatu hal. Tapi menurut saya, pikirkanlah apa yg penting dan atau membuat anda bahagia dalam hidup ini, selain itu juga jgn sampai setelah tua anda melihat ke belakang dan anda menyesal tdk melakukan suatu hal.

Tentu saja bisa terjadi org yg seumur hidupnya fokus tapi tdk memperoleh kesuksesan manakala masih hidup tetapi namanya mashur setelah dia meninggal seperti ada beberapa pelukis terkenal yg mati dlm kemiskinan tetapi kemudian harga lukisannya mencetak rekor dalam hal termahal harganya. Atau bahkan ada yg lebih mengenaskan yaitu benar2 tdk sukses baik ketika hidup ataupun setelah meninggal (ini tdk bicara ttg akhirat). Risiko ini memang ada. Justru krn itu maka sungguh berani org yg mengambil risiko ini dan menurut sy matinya tidaklah sia2 sama spt org2 yg mencoba utk terbang dan dia sempet melayang terus jatuh menimpa batu. Berikutnya org lain akan belajar dr kesalahan yg dilakuan org yg naas tsb.

Utk mengurangi kegagalan tentu saja kita mesti belajar ttg fokus dr org2 yg sudah sukses atau selalu berusaha keras utk belajar tiada henti agar fokus yg kita lakukan menjadi berdaya dan berhasil guna.

Selamat BerFokus

Fokus

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 7:45 am

Kata ini kelihatannya mudah dipahami tapi kita tahu sukar utk dikerjakan. Selain dorongan manusia pada umumnya utk mendapatkan semuanya sekaligus juga krn seringkali kita tdk yakin dgn artinya.

Marilah saya beri contoh, teman saya pengusaha program computer sebelumnya juga membuat majalah remaja, bisnis dgn teman2 yg lain dalam bidang apapun yg kelihatannya menarik. Dari dulu saya bilang lebih baik dia focus saja ke bisnis program komputernya. Dia selalu beralasan bahwa bisnis2 yg lainnya tsb memiliki potensi tinggi. Tapi terbukti yg telah memberikan penghidupan yg layak utk teman ini adalah bisnis program komputernya. Saya tdk pernah bosan utk bilang kpd dia utk focus, bahkan ketika saya masih bekerja dan belum berwiraswasta.

Akhirnya dia sadari bahwa yg saya nasehatkan memang benar. Berkali-kali bisnisnya yg lain-lain hanya membuat kantongnya bolong. Akhirnya dia sekarang hanya berbisnis program computer. Dari sini persoalan belum selesai. Dia bilang berkali-kali dia mengerjakan program computer utk perusahaan property terutama apartment dan mall dan akhirnya dia menjadi perusahaan no2 di di bidang system utk apartment dan mall sedangkan yg no1 adalah perusahaan asing yg berasal dr Malaysia.

Suatu hr dia menelepon sy dan mengajak berbincang-bincang spt biasa kita lakukan apabila sudah lama akan saling menelpon. Dia bilang bisnis system utk apartment dan mallnya menurun drastic krn dampak krisis di Amerika dan dia sedang memikirkan utk masuk membuat software akunting utk perusahaan UKM. Saya bilang sebaiknya dia pertimbangkan masak-masak. Setahu saya sudah banyak perusahaan software spt ini di pasaran. Dia harus bisa memberikan value proposition yg meyakinkan utk membuat perusahaan2 UKM beralih ke software yg dia buat atau perusahaan2 UKM yg belum memiliki software utk memilih produk yg dia buat. Sepertinya pertanyaan sy tdk bisa dia jawab dgn baik dan akhirnya sy sarankan utk tetap hanya focus di system utk apartment dan mall. Kondisi sekarang harus disiasati dgn baik, mungkin dgn mengurangi jam kerja atau kalau perlu dirumahkan sementara dan digaji pokok saja atau digaji spt biasa krn pegawainya bisa kabur, yah berarti dia mesti merelakan
utk menyuntik dana ke usahanya dan sy kira dia mampu krn sptnya asetnya cukup banyak dr hasil usaha program komputernya ini.

Dia sptnya panic dgn situasi yg dihadapinya seolah-olah krisis yg dialami oleh sector yg digeluti akan berlangsung seumur hidupnya. Seringkali emosi manusia menyebabkan apa yg dihadapinya saat ini baik buruk ataupun menyenangkan akan berlangsung terus tanpa berakhir. Ini menyebabkan tindakan yg kita ambil menjadi ngawur, tdk terarah dan berjangka pendek.

Saya tdk tahu saat ini apa dia meneruskan apa yg dikatakan kpd saya utk membuat software UKM atau malah membuat software lainnya. Sebagai teman saya akan menahan diri utk tdk sok tahu apalagi memaksa walaupun kadang2 kita menjadi gregetan dan rada sewot. Apabila saya ngotot situsasinya malah menjadi tdk produktif dan malah teman sy akan menjadi defensive dan hubungan menjadi agak terganggu. Saya belajar utk sabar dan pasrah saja. Sungguh tdk enak kalau kita bisa prediksikan bahwa teman kita akan menderita rugi tapi kita tdk bisa berbuat apa2 dan malah teman ini menyalahkan kita. Dalam hidup memang banyak yg tdk bisa kita kendalikan.

Menghadapi keadaan spt ini biasanya sy akan bersikap menghindar dulu utk membicarakan hal2 yg menyangkut perbedaan pendapat ttg bisnis yg digeluti teman saya ini. Biasanya memang sy akan menetralkan suasana dulu dan menunggu saja. Apabila perasaan sudah bisa kita kendalikan maka biasanya saya tdk akan menyinggung bisnis teman saya ini dan hanya membicarkan yg umum2 saja. Dan akhirnya temen saya ini akan kembali membicarakan bisnisnya dgn saya. Maka saya mulai lagi melatih kesabaran sy mendengarkan apa yg dikemukakannya  sampai suatu titik saya bosan dan bilang pendapat saya tdk berubah, apabila dia tetep mencari justifikasi dr saya maka saya akan berusaha sopan dan mungkin terdengar bosan dan berusaha mencari pembicaraan lain dan akhirnya pembicaraan akan berakhir dgn antiklimaks tapi persahabatan tetap in tact.

Ada beberapa teman yg sering berdiskusi dgn saya tentang bisnis mereka dan kebanyakan saya merasa mereka tdk focus dgn apa yg dikerjakannya. Saya sering berpikir mungkin orang tdk mendengar apa yg saya katakan krn saya sendiri belum sukses menjadi pengusaha walaupun saat ini saya merasa telah on track dgn apa yg saya lakukan dan jelas ada perbaikan dalam bisnis yg saya geluti. Tapi memang ukuran2 kesuksesan yg umum belum saya dapatkan malah bisa dikatakan apabila dibandingkan dgn penghasilan saya tujuh tahun lalu sebagai pegawai, maka penghasilan saya saat ini masih agak jauh dibawahnya. Dan saya prediksikan bahwa dalam lima sampai 10 tahun kemuka usaha kami tdk akan mengalami pertumbuhan dahsyat krn kami hampir2 menciptakan system dr nol dan juga tdk bisa mencontoh dr perusahaan sejenis yg hampir tdk ada. Baru setelah itu dimana system sudah in place maka pertumbuhan usaha kami akan benar2 melejit, insya Allah. Dan pada saat itu teman2 sy ini
kemungkinan sudah agak terlambat menyadari kekeliruannya (yakin amat ya?, menurut saya keyakinan membuat hidup menjadi terarah, konsisten, tabah dan sabar. Kalau nggak berhasil juga, pasrahkan aja sama Yang Kuasa, jadi orang beragama memang lebih mudah menjalani hidup).

Fokus memang menjadi kata2 yg sering diungkapkan tetapi manakala kita mau melaksanakannya maka akan timbul persoalan dgn interpretasinya bahkan bagi orang yg ingin dgn disiplin utk melaksanakannya. Seperti teman saya ini, dia bilang akhirnya dia mau focus saja di bisnis program computer, Yg menjadi persoalan adalah seberapa focus? Apakah dengan mengerjakan program UKM masih dianggap focus, toh masih di bisnis program computer. Apakah dengan mengerjakan program UKM ini menjadi tdk focus krn dia telah mendapatkan niche market program apartment dan mall.

Saya berpendapat dia seharusnya focus hanya mengerjakan program apartment dan mall krn dia telah menjadi no.2. Kalaupun dia mau menaikkan omzetnya, jadilah no1 dan bukan hanya no2. Bisa juga dengan menambah fitur programnya sehingga dia bisa menaikkan harga jualnya. Yg lainnya bisa juga dengan membuat versi murahnya utk developer dan mall yg kecil2. Bisa juga masuk ke developer perumahan dll. Dengan cara ini dia menjadi tdk terkalahkan di bidang ini. Kalau sudah spt ini maka dia bisa masuk ke Negara asing dan menjadi perusahaan regional dan mungkin di usia teman saya 80 tahun (kalau masih bernafas) perusahaanya bisa menjadi perusahaan global dan masuk Fortune 500. Inilah focus yg sy maksudkan.

Sebenarnya focus bisa diterapkan juga dalam hidup sehari-hari, Tapi saya persilakan anda menafsirkannya sendiri krn ini menyangkut suatu hal yg mungkin lebih kompleks dan kalau saya bicarakan ini jangan2 saya tdk menjadi teman anda lagi, padahal teman adalah harta saya yg sangat berharga. Bagaimana dgn anda, apakah saya ada harganya di mata anda?

January 20, 2009

Bang Fadjroel dan Strategi Capres

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 7:29 am

Saya merasa bang Fadjroel ini punya niat baik, sehingga saya merasa perlu memberikan saran tentang strategi untuk meraih kursi No1 itu. Tentu ini bukan expert opinion, tapi anggap aja pendapat dari seorang rakyat yang merasa empati dengan seseorang yang sepertinya punya niat baik bagi bangsa ini.

Banyak orang Indonesia yang tadinya demikian kagum dengan Obama sepertinya kecewa dan kalau belum mungkin akan kecewa dengan policynya Obama yang keliatannya tidak akan jauh berbeda dengan presiden2 sebelumnya tentang Israel-Palestina. Sebenarnya saya sudah menduga hal seperti ini akan kejadian. Pada waktu Obama muncul ke permukaan dan kemudian terpilih jadi presiden USA, banyak orang Indonesia ecstasy dengan peristiwa ini. Banyak orang merasa pengalaman Obama hidup di Indonesia akan banyak mempengaruhi kebijakan luar negerinya terhadap Indonesia dan negara2 muslim pada umumnya. Saya merasa harapan ini terlalu berlebihan.

Biar bagaimanapun Obama adalah presiden USA dan Indonesia bukanlah negara bagiannya. Tentu saja pengalamannya tinggal di Indonesia akan membekas pada diri Obama. Tetapi berharap bahwa pengalaman itu akan jadi faktor penting dalam penyusunan kebijakan luar negerinya adalah berlebihan menurut saya. Mungkin karena pernah tinggal disini maka kerjasama Indonesia USA akan lebih besar tapi berharap lebih dari itu saya rasa tidaklah realistis.

Bukan berarti Obama tidak memiliki relevansi dengan situasi di Indonesia. Saya adalah salah satu penggemar Obama. Saya merasa justru Obama bisa jadi inspirasi bagi para politisi di Indonesia. Seandainyapun Obama tidak pernah tinggal di Indonesia, ayahnya bukan muslim Kenya dan kulitnya tidak hitam, saya tetap merasa fenomena Obama tetep menarik untuk dijadikan inspirasi. Seandainya Obama adalah berasal dari orang kulit putih kebanyakan di Amerika maka saya pikir dia akan tetap jadi presiden. Saya lihat dia lebih cakap bahkan dibandingkan dengan Bill Clinton. Ditambah pula dia bebas dari skandal seks. Sehingga rasanya kalau Obama putih ini menerbitkan biografi judulnya tidak akn diplesetkan jadi My Lie dan Jay Leno dan komedian lainnya tidak akan menjadikannya bulan2an lelucon mereka.

Obama yang kulit hitam bisa memahami persoalan yang dihadapi para pekerja kulit putih sama dengan Bill Clinton bisa diterima oleh orang kulit hitam sehingga Clinton sering disebut sbg presiden kulit hitam pertama. Obama mampu memahami penderitaan mayoritas kulit putih tanpa menjadi aneh dan mengorbankan kaumnya sendiri. Obama yang liberal dapat diterima kaum konservatif mayoritas moderat tanpa menjadi munafik dan seperti para politisi umumnya.

Kemampuan inilah yang saya harapkan dimiliki oleh para capres muda kita. Saya paham bahwa Bang Fadjroel adalah pejuang HAM, kesetaraan hak, menolak impunitas dan alergi dengan kesewenang-wenangan. Tapi jg harus disadari bahwa mayoritas rakyat adalah pragmatis. Rakyat butuh sembako murah, pekerjaan yang layak, pendidikan gratis, kesehatan terjangkau dan harapan akan masa depan. Dan mereka butuh saat ini juga. Saat ini juga.

Saya paham dalam jangka panjang keadilan yang tidak ditegakkan menyebabkan Indonesia akan jadi negara banana republic terus menerus tapi mengabaikan kebutuhan jangka pendek juga tidaklah realistis. Seorang pemimpin harus mampu menjaga keseimbangan jangka pendek dan jangka panjang ini dengan baik. Pemimpin yang terus menerus bicara jangka panjang akan seperti Bung Karno dan pemimpin yang terus menerus sibuk dengan jangka pendek akan seperti Pak Harto. Saat ini kita butuh pemimpin yang mampu berkomunikasi dengan rakyat secara efektif sekaligus mampu jadi CEO Fortune 500 yang mesti memikirkan reaksi para analis Wallstreet.

Saya berulang-ulang baca buku Audacity of Hope dan saya kagum dengan kemampuan Obama mengkomunikasikan idealismenya dengan persuasif. Obama mampu berterus terang bahwa dia tidak anti aborsi tapi juga mampu memahami kekhawatiran para pendukung anti aborsi. Dia bisa mencari solusi persoalan ini dengan mengatakan marilah kita pertama-tama memikirkan bagaimana agar aborsi ini tidak terjadi. Dia mengajak orang berpikir untuk memecahkan masalah ini bukan dengan mempertentangkan pandangan ideologi tetapi dengan membuat persoalan aborsi ini menjadi persoalan kemasayaarakatan yang perlu dipecahkan bersama. Saya sendiri anti aborsi tetapi saya terbujuk oleh argumennya Obama.

Untuk kasus Bang Fadjroel misalnya jgnlah mencecar SBY dengan kasus PDI secara vulgar. Ini hanya akan mengalienasi penggemar SBY yang menurut survey cukup banyak. Bukan berarti bahwa SBY tidak memiliki dosa dalam kasus ini (yang saya nggak tau persisnya tetapi secara strategi ini bukanlah tindakan yang menguntungkan), karena buat masyarakat ada masalah yang lebih urgen untuk diperhatikan. Kecuali memang niat Bang Fadjroel cuma ingin mengurangi perolehan suara SBY dan bukan untuk menjadi capres yang layak untuk diperhitungkan.

Lain halnya memang dengan mencecar SBY seperti itu bisa merubah suara secara signifikan atau Bang Fadjroel bisa menemukan cara yang lebih kreatif, elegan dan taktis untuk mengajak rakyat memberikan penialain buruk dengan kasus itu. Tapi lagi2 saya khawatir rakyat lebih pusing dengan urusan perut dibandingkan masalah seperti itu. Sejarah membuktikan bahkan kasus yang lebih berat dari itu bisa tidak terdengar karena rakyat lbh perhatian dengan persoalan2 jangka pendek.

Yang lainnya contoh dari Obama adalah masalah ideologi kepartaian. Dia mengajak orang untuk tidak terpaku dengan perbedaan partai republik dan demokrat tapi mengajak orang untuk lebih memikirkan solusi terhadap masalah bangsa. Dia mengajak orang untuk menilai para capres dari solusi yang mereka tawarkan bukan semata-mata dari ideologi tradisional yang dianut.

Pada saat seperti sekarang memang sepertinya semua capres peduli dengan masalah rakyat tapi saya merasa bahasa yang dipakai adalah seperti bahasa seorang ayah yang nggak belajar parenting bicara dengan anaknya yang masih kecil. Sang ayah bilang, jgn nakal ya, belajar yang baik, menabung, shalat yang rajin, dan lain-lain. Si anak akan manggut2. Si ayah berpikir persoalan selesai. Padahal sebenarnya si anak tidak terlalu paham dengan larangan dan kewajiban yang ditetapkan bapaknya. Ini dikarenakan sang ayah tidak paham atau tidak belajar memahami cara berpikir seorang anak.

Demikian juga dengan para capres kita yang banyak memakai bahasa yang kurang kreatif, dengan argumen yang miskin imajinasi, tidak paham cara berpikir masayaarakat umum dan seperti orang yang bener sendiri dan malas mengajak orang berpikir sebagai satu bangsa kesatuan. (He3x saya kok kayak lebih pintar dari para capres nih, terserahlah, rakyat kan memang mesti didengarkan). Akhirnya sampai sejauh ini tidak ada capres yang meyakinkan bisa mempersatukan bangsa untuk memecahkan problem bersama dan mengesampingkan perbedaan2 karena adanya persamaan problem.

Buat saya problem yang menjadi prioritas utama untuk diselesaikan adalah masalah korupsi, tetapi buat rakyat banyak problem yang lebih urgen adalah sembako murah, pekerjaan dan hal2 seperti saya sebuntukan di atas. SBY mengangkat tema ini dalam kampanyenya. Sebagai kelas menengah terbeli hati saya dengan tema ini, selain juga SBY telah terbukti cukup keras (walaupun saya ingin lebih keras lagi) terhadap korupsi salah satunya dengan tetep memenjarakan besannya sendiri. Tetapi saya pikir PDIP membaca pikiran rakyat dengan tema sembako murah. Saya khawatir strategi PDIP punya peluang berhasil membujuk rakyat banyak.

Saya harap SBY tidak begitu saja beralih tema kampanye dan mengorbankan kelas menengah yang berharap tindakan terhadap KKN lebih diperkeras, dengan cara berusaha mengkaitkan dampak korupsi terhadap kehidupan masayaarakat umum. Dengan berkurangnya korupsi, sembako bisa murah, infrastruktur lebih baik dan pekerjaan lebih mudah didapat karena iklim berusaha yang lebih sehat. Reasoning yang seperti inilah yang seharusnya diketengahkan sehingga baik rakyat kebanyakan akan terbeli hatinya dan kelas menengah terbujuk nuraninya.

Salah satu yang berhasil berkomunikasi dengan rakyat adalah Prabowo dengan Gerindranya. Prabowo mampu memahami problem rakyat dan mengkomunikasikannya dengan efektif. Sayangnya beliau tidak bicara masalah korupsi dengan terang sehingga saya sebagai kelas menengah menganggap prioritasnya tidak sesuai dengan persoalan sesungguhnya di Indonesia.

Tidak semua capres seberuntung George Bush yang cuma mendpt angin karena Clinton yang dekaden dan John Kerry yang kurang meyakinkan dengan mood rakyat Amerika yang bersiklus ke konservatifme. Tidak semua orang seberuntung Bush ini.

Obama adalah contoh dari perpaduan kreatifitas, disiplin, ketenangan, kerja keras, niat baik dan sisanya tinggal berharap keberuntungan tidak sedemikian kejam. Inilah yang saya harap ditiru oleh para capres muda kita dari kasus Obama di USA. Buatlah diri anda2 para capres muda relevan dengan kondisi masayaarkat. Pada akhirnya idealisme anda akan bisa dijalankan dan kemudian sejarah akan mencatat anda2 sebagai presiden yang telah menaikkan peradaban bangsa ini.

January 5, 2009

Anak

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 2:23 am

Saya ingin meniru para ibu yang bercerita tentang anak-anaknya. Sekali-sekali boleh juga menampakkan sisi lembut dari seorang laki-laki dan menyenangkan ibu-ibu yang menjadi teman-teman saya. Selain juga saya punya hutang ke teman baik saya pak Zulfikar utk ngomong ttg parenting. Karena saya membaca buku parenting bukan krn ingin jadi ahli parenting tapi karena terpaksa sebagai tanggung jawab seorang bapak maka saya tdk akan dan tdk bisa bicara teori. Jadi saya ceritain aja bagaimana saya sehari-hari sebagai bapak yg memperoleh sedikit bekal dr membaca dan menonton atau bertanya ttg parenting dr para ahlinya. Walaupun demikian sejauh ini saya merasa saya jauh dr seorang bapak yg ideal.

Anak saya dua orang dan dua-duanya laki-laki. Yang besar sekarang kelas satu di Madrasah Tsanawiyah Negeri sekitar lima kilometer dari tempat kami tinggal dan yang kecil masih kelas empat SD di sekolah Islam terpadu yang tidak terkenal dan berlokasi di gang kecil dan dekat pasar tradisional tidak jauh dari rumah kami. Dulunya malah gang kecil ini becek (dan memang di mulut gang jadi pangkalan ojek, he he he ….) kalau musim hujan. Sekarang sudah lebih baik, sudah diaspal. Mungkin karena mau pemilu.

Dua orang anak saya ini memiliki karakter yang sungguh kontras. Yang kecil senang bicara dan bercanda. Ada-ada aja yang diucapkannya, seperti misalnya kalau dia rada sebal dengan saya, maka dia akan bilang Ayah kalau ditambah P jadi Payah. Saya tidak marah karena itu memang cara anak saya yang kecil untuk meledek saya. Apabila kami berdua di mobil karena suatu keperluan, maka dia akan bercerita, bertanya, mengajak ngobrol, pokoknya keluar bunyi-bunyian dari mulutnya yang tidak pernah berhenti keluar suara. Kecuali dia sudah kecapaian dan tertidur di mobil maka saya akan bisa menikmati musik dengan lebih tenang.

Kakaknya sungguh berbeda. Dia lebih pendiam, tidak begitu suka bercanda dan rada pemarah. Sebenarnya anak saya yang besar ini menuruni karakter saya yang tidak begitu banyak diketahui orang. Bahkan kata orang wajah kami sedemikian mirip sehinga seringkali orang bilang anak saya yang besar ini fotocopy bapaknya. Kalau kami berdua di mobil, saya akan mencoba mengajaknya mengobrol. Dan obrolan itu menjadi lebih mirip kuis di TV yang hanya dijawab ya dan tidak. Dia tidak akan bercerita cukup panjang. Lagi-lagi ini mirip saya. Saya tidak begitu suka bercerita panjang lebar begitu saja. Tapi anehnya di milis ini malah saya rajin bercerita. Mungkin karena saya tidak punya aktivitas luang yang lain yang lebih berguna (untuk saya) dan murah dibandingkan dengan nulis disini. Sebenarnya mungkin yang lebih tepat bukannya saya tidak suka cerita panjang lebar, momentnya aja yang tidak tepat.

Berdua dengan anak saya yang kecil memang lebih fun, banyak tertawa dan komukasi lebih berlangsung dua arah. Berdua dengan yang kecil rasanya saya rileks dan terhibur. Dengan yang besar, lebih banyak kami saling berdiam diri. Ini mirip dua sahabat atau cucu dengan kakeknya yang sedang memancing di danau. Tanpa kata tapi penuh makna (caileee, saya lagi belajar story telling nih). Walaupun kami saling berdiam diri, saya sungguh merasakan kebutuhan dan harapan anak saya terhadap bapaknya sebagai seorang yang dia bisa jadikan contoh, seorang yang diharapkan memberikan bekal dalam hidup, seorang yang diharapkan menciptakan stabilitas kehidupan sehari-hari dan seorang yang disayanginya. Anak saya yang besar tidak pandai mengungkapkan rasa yang ada dihatinya dengan jelas dan terang. Tapi saya sungguh sadar akan betapa dia membutuhkan bapaknya ini. Istri saya selalu bilang apabila saya agak telat pulang, maka si sulung akan berkali-kali menanyakan saya ke ibunya, walaupun dia tidak berani menelpon langsung, entah apa sebabnya.  Sementara kalau yang kecil, tidak pernah melakukan ini. Dia seperti biasa akan cuek bebek saja.

Si kecil memang tidak terlalu perhatian dan sangat cuek. Walaupun anak saya ini senang bicara, anehnya temannya tidak banyak. Waktu masih kelas 1 dan 2, dia malah hanya mampu mengingat beberapa orang saja dari kira-kira 25 orang temannya di kelas. Sementara si sulung memiliki banyak teman, baik teman sekelasnya sendiri, teman seangkatannya, teman adik kelasnya dan teman kakak kelas. Mulanya saya bingung dengan fenomena ini, tapi lama kelamaan saya menjadi terbiasa dan tidak lagi bertanya-tanya.

Si kecil berhobi menonton TV, berkomputer, kadang-kadang membaca dan di rumah seharian. Dia akan betah di rumah seharian. Kadang-kadang ada anak tetangga yang mengajaknya bermain dan memanggil-manggil namanya. Dia cuek aja. Seolah-olah itu suara motor atau mobil lewat. Istri saya sering sebal melihat ini. Anak saya yang kecil ini memang tidak begitu suka bermain outdoor dengan teman-teman sebayanya, sampai-sampai dalam skedul harian anak saya yang kecil ini istri saya membuatkan item "bermain dengan teman".

Memang kami membuat skedul harian untuk anak-anak kami. Skedul ini berisi misalnya bangun pagi jam sekian tanpa dibangunkan. Mandi jam sekian, siap berangkat sekolah jam sekian dst. Skedul ini menentukan uang saku yang akan diperoleh anak kami. Di skedul ini ada poin-poin yang diterjemahkan menjadi uang saku harian. Sedari kecil kami memang membiasakan anak-anak untuk diberi uang saku. Uang saku ini bukan untuk makan di kantin atau jajan, karena untuk itu kami sudah menyediakan tersendiri dimana istri saya seringkali masak untuk mereka bawa ke sekolah. Uang saku ini untuk mereka belikan apa yang mereka mau, terutama mainan. Dengan cara ini kami tidak terlalu pusing dengan permintaan dari anak kami untuk minta dibelikan mainan sekaligus kami juga melatih mereka untuk bisa memiliki control terhadap apa yang mereka inginkan. Seringkali mereka menabung beberapa lama agar bisa membeli mainan yang mereka suka. Mereka juga akan selalu melihat-lihat harga mainan itu dan membandingkannya juga mungkin sambil mengira-ngira berapa lama lagi bisa terbeli mainan yang mereka suka.

Dalam hidup tentu ada masa-masa dimana saya berharap anak saya berlaku lebih baik, walaupun ada juga masa-masa dimana saya harap saya bisa menjadi bapak yang lebih baik. Anak saya yang besar seringkali sangat demanding. Misalnya kita sudah berjanji untuk pergi ke suatu tempat, apabila saat itu kami berhalangan maka ia akan goes ballistic dan terutama akan kasar terhadap ibunya. Saya sungguh tidak sanggup mendengar istri saya bertengkar dengan si sulung. Di masa lalu saya akan datang dan berteriak lebih keras dari anak saya. Dan biasanya cara ini berhasil. Tapi saya merasa cara ini tidaklah mendidik. Ini cuma menciptakan bibit-bibit kekerasan di rumah tangga kami.

Sebenarnya anak seringkali meniru tindakan orang dewasa yang ada di sekitarnya sehari-hari. Dan saya sadar bahwa saya sering berbicara kasar dengan nyonya apabila kami tidak sepaham, sehingga tidaklah aneh anak kami meniru kebiasaan buruk bapaknya.

Si kecil secara umum lebih lembut dari kakaknya tapi di sisi lain dia terlalu cengeng. Kalau dia lupa menaruh pinsil yg harus dia bawa ke sekolah maka dia akan dengan mudah menangis. Kalau diganggu kakaknya maka lagi-lagi dia akan begitu saja menangis tanpa berusaha utk mempertahankan diri, walaupun dengan semakin besar usia anak-anak saya ini, keadaan ini makin berkurang. Seringkali juga kalau disuruh melakukan sesuatu maka dia akan bilang kok disuruh terus? Padahal nggak juga. Emang rada males aja. Yah begitulah seorang manusia. Tidak ada yang sempurna sesuai dengan yang kita inginkan.

Dari kejadian-kejadian ini maka sekarang saya sekali-sekali mengajak anak saya makan berdua saja. Pada saat itu maka saya akan menyebutkan apa yang saya harapkan dari anak saya dan mengingatkan mereka untuk tidak berbuat hal-hal seperti kejadian yang lalu itu. Saat ini saya belum berhasil membuat acara makan berdua ini menjadi acara yang lebih produktif dan mengenai sasaran karena seringkali anak saya lebih banyak manggut-manggut daripada paham dengan apa yang saya maksudkan. Inilah tugas ortu, mungkin seumur hidup kita akan terus belajar menjadi ortu, sama seperti ortu kita yang seumur hidup mereka mengingatkan kita agar mengarungi hidup ini dengan benar.

Wassalam

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King