Fokus (Lagi)
Karena ada request utk membuat artikel ttg fokus yg bisa lebih memperjelas maksudnya, maka sy membuat sequel dr artikel terdahulu. Sy bukan ahli personal development atau management sehingga artikel ini berdasar hanya dr bacaan sy yg terbatas dgn contoh dr pengalaman sehari-hari sy dan org2 yg bergaul dgn sy. Tapi terlepas dr itu mudah2an artikel ini bisa menjadi urun rembug dr saya utk teman2 yg membacanya.
Fokus memang topic yg menurut saya cukup sukar utk dibahas. Bos saya dulu, seorang bule Kanada yg pandai dan telah menjadi guru terbaik saya dalam general management, juga tdk cukup tegas dan jelas waktu meminta kita utk focus. Saya merasakan getar2 ketidakyakinan dalam nada suaranya, walaupun dia berupaya (spt bos umumnya) utk terlihat yakin dgn apa yg diucapkannya.
Sebenarnya utk membuat artikel fokus yg lebih serius sy mestinya riset kecil2an dulu dgn melihat artikel2 di majalah Harvard Business Review yg membahas topik ini. Eh ternyata saat ini pas waktu berlangganan sy habis dan belum sempat diperpanjang. Jadi artikel ini bener2 apa yg ada di kepala sy saat ini. Jadi anggap saja ini adalah obrolan yg santai tapi sedikit serius.
Memang fokus tdk datang dr langit begitu saja, mesti ada konteks yg melatarbelakanginya. Orang berfokus mesti jelas, fokus mau ngapain. Apa yg mau kita fokuskan? Berarti ini ada hubungannya dengan apa yg mau kita lakukan dgn hidup kita, pekerjaan kita, bisnis kita dll. Ini mungkin istilahnya kita mesti memiliki visi. Atau kalau visi kejauhan kita sebut aja target atau tujuan tertentu.
Kalau kita tdk meluangkan waktu utk memikirkan target atau visi ini maka kita akan berada pada situasi dimana hidup atau bisnis kita dibentuk semata-mata oleh apa yg lewat di depan mata. This is not necessarily bad. Ada yg hidupnya bermoto bagaikan air mengalir. Saya lihat org yg bermoto spt ini hidupnya juga bahagia.
Tapi moto spt ini tdk cocok buat saya. Sy ingin ikut sedikit lebih berperan dalam menentukan apa yg terjadi di seputar saya. Saya ingin menantang diri saya sendiri utk bisa mengeluarkan daya tahan dan kemampuan saya utk sedikit berkontribusi bagi sekeliling saya. Rasanya saya menyia-nyiakan karunia Yg Maha Kuasa kalau sy tdk berusaha yg terbaik yg sy mampu dan meninggalkan sedikit jejak dan manfaat bagi orang lain sekarang dan di masa depan.
Jadi coba kita renungkan ttg apa yg kita mau dr pekerjaan, profesi atau bisnis saat ini. Apakah anda merasa bahagia? Apakah anda merasa memperoleh kepuasan dr yg anda lakukan saat ini? Apakah anda sudah berinvestasi utk kebahagian di masa depan? Apakah anda sudah mengeluarkan seluruh kemampuan terbaik anda dalam menekuni pekerjaan atau bisnis anda saat ini? Apakah anda bisa melakukan sesuatu agar terlepas dr rutinitas sehari-hari?
Kalau kita sudah bisa menjawab pertanyaan ttg visi ini maka masalah fokus menjadi lebih gampang. Kalau masalah ini tdk terjawab dgn baik maka apa yg kita lakukan menjadi tdk konsisten, prioritas menjadi membingungkan dan banyak persoalan yg tdk tertangani dgn baik dan tuntas.
Kalau visi anda adalah menjadi karyawan yg baik maka segala kemampuan anda dicurahkan utk itu. Maka anda akan fokus memikirkan dan mengerjakan hal2 yg menyangkut menjadi karyawan yg baik. Kalau ada yg menawari anda utk ngobyek yg bisa mengganggu tujuan ini maka anda akan menolak. Kalau ada teman2 anda yg mengajak clubbing sampai larut malam tiap hari maka anda akan menolaknya dan mungkin mau kalau diajak di waktu week end. Saya rasa ini contoh yg sederhana.
Selain masalah visi kita juga harus fokus krn adanya masalah kelangkaan dan keterbatasan. Pertama, karena bakat manusia biasanya terbatas. Kedua, daya pikir dan kemampuan manusia jg terbatas. Ketiga, sumber daya juga ada batasnya.
Marilah kita mulai dr yg pertama. Udah jelas jarang sekali manusia yg memiliki beberapa bakat hebat sekaligus. Clinton mungkin pandai main saxophone tapi dia tdk menjadi seniman jazz yg mumpuni pd saat bersamaan. SBY mungkin bisa main gitar, tapi kita tahu permainannya tdk sebaik Ireng Maulana. Dedi Mizwar memang aktor yg hebat, tapi menurut saya lebih baik tdk usah menyanyi. Demikian juga Indra Lesmana, saya sangat menyukai permainan swingnya, tapi rasanya mungkin suaranya lebih bagus saya (kalo sy pakai topi capio dan lipsync Tompi). Jadi kita mesti memilih dan berfokus pada bidang yg akan menyebabkan kita menjadi terbaik dan pada bidang lainnya yg kita juga sukai kita hanya jadikan hobi.
Kedua, daya pikir dan kemampuan manusia terbatas. Sangat jarang org yg otaknya sedemikian canggih dalam multi tasking dan dapat menyelesaikan beberapa persoalan yg susah sekaligus. Org ini jg memiliki kemampuan mental yg canggih krn mampu menerima beberapa problem yg meruntuhkan mental secara bersamaan. Dalam menekuni bisnis yg sy geluti seringkali sy mengalami tekanan mental yg cukup berat manakala ada problem pada rumah yg kami bangun. Problem dalam bidang kontraktor rumah sedemikian banyak dan overwhelming sehingga saat ini tdk ada kontraktor rumah individual (bukan order dr developer) yg bisa besar dan menasional. Seringkali kami diminta bekerja sama utk membangun suatu tanah kosong dan kami yg jadi developernya. Kita selalu menolak proposal ini krn kami merasa problem di usaha pemborong rumah sudah dan masih sedemikian banyak dan akan lebih bikin pusing lagi kalau ditambah dgn problem menjadi developer dimana kami belum memiliki pengalaman.
Ketiga, sumber daya juga ada batasnya. Kita mesti fokus krn seringkali sumberdaya yg kita memiliki tdk banyak. Org yg banyak uang bisa saja memiliki beberapa bisnis baru secara bersamaan krn dia memiliki dana utk membiayai operasinya. Tetapi bahkan org yg uangnya banyak bisa habis kekayaannya utk menutup kerugian dr bisnis baru yg digelutinya. Ini terjadi pada kasus Bank Summa yg menyebabkan William Suryajaya menjual Astra utk menutup hutang krn kerugian pada Bank Summa.
Kalau kita sudah yakin bahwa kita mesti fokus, maka pertanyaan berikutnya adalah seberapa fokus? Teman saya yg berbisnis program komputer menganggap bahwa kalau dia mencoba membuat software utk UKM maka dia merasa masih fokus, tapi saya merasa kurang fokus. Sy sarankan dia utk tetap menangani sistem utk apartment dan mall saja.
Menurut saya tingkat kefokusan yg akan kita laksanakan tergantung bakat, kemampuan dan kesempatan yg ada. Ada org yg senang utk menjadi superspesialis atau ada juga yg senangnya hanya melayani segmen tertentu dr pasar yg ada saja. Ada dokter spesialis saraf anak atau superspesialis lainnya dalam bidang kedokteran. Ada juga disainer yg benar2 hanya memikirkan seni pakaian saja dan tdk terlalu peduli dgn harga, kepraktisan atau kerumitan membuatnya. Ini jelas berhubungan dgn bakat dan kemampuan krn tdk semua dokter mau cape2 sekolah terus menerus atau utk membuat pakaian yg menjadi seni dan trendsetter diperlukan disainer yg benar2 berbakat.
Ada dokter yg ternyata lebih senang mengatur dokter lainnya dan mengatur rumah sakit sehingga malah mengambil sekolah lagi dalam bidang manajemen rumah sakit drpd mengambil spesialis. Ada disainer yg lebih suka memproduksi pakaian massal drpd memproduksi pakaian sangat indah tapi hanya dibuat satu buah saja.
Di lain pihak tingkat kefokusan juga tergantung dr kesempatan yg ada di pasar. Utk kasus teman sy jelas dia sudah mendapatkan niche market yg bisa dilayaninya dgn sangat baik dan dia merupakan pemimpin pasar. Kalau dia bergerak membuat program lain maka dia akan mengeluarkan waktu, tenaga, dan biaya belajar yg tdk sedikit. Itupun belum tentu dia bisa menjadi yg terbaik di bidang baru tsb. Sementara kalau dia tetep berfokus di apartment dan mall maka dia bisa mengembangkan pasarnya ke arah sistem yg lebih murah utk developer yg lbh kecil atau bisa juga mempercanggih sistemnya sehingga bisa menjadi nomor satu bidangnya bahkan meluaskan pasarnya ke luar negeri.
Tentu saja saya tahu bahwa orang memerlukan waktu utk mencari bidang yg ingin difokuskan. Sebelum bergerak di bidang pemborong rumah saya mencoba bidang2 lainnya dan menurut perkiraan sy bidang kontraktor rumah cukup potensial utk sy jadikan bisnis yg bisa berkembang.
Saya jg tahu bahwa kita harus terus menguji apakah pekerjaan, usaha atau bidang yg kita geluti benar2 berharga utk difokuskan. Di thn2 awal sy bergerak di usaha kontraktor rumah, apabila ada problem yg menimpa baik tdk adanya order atau problem di lapangan dan atau dgn klien, biasanya akan berujung pada pertanyaan mengenai usaha yg sy geluti. Apakah usaha kami ini memiliki potensi utk dikembangkan, apakah problem yg sedemikian banyak bisa kami perbaiki sebelum nama kami menjadi sangat buruk dan kami kehabisan goodwill krn persoalan yg sedemikian banyak. Pada akhirnya krn upaya marketing kami membuahkan hasil, saat ini banyak klien yg datang sendiri krn melihat website kami di internet, dr pemberitaan di media massa atau referensi dr klien kami sebelumnya. Selain itu persolan2 mendasar lambat laun bisa kami perbaiki walaupun masih banyak persoalan dan tantangan yg menunggu utk diselesaikan. Dari awal kami tahu bahwa justru krn problem yg sedemikian banyak
itu dan belum ada kontraktor rumah yg mampu memperbaikinya secara sistematis maka potensi apabila kami mampu menyelesaikan sangat luar biasa besar rewardnya.
Teman saya bilang fokus ada harganya. Dia tahu hidup saya sebelum berfokus menjadi pemborong rumah dan juga tahu setelah menjadi pemborong rumah. Seringkali fokus memang memerlukan pengorbanan jangka pendek yg akan terbayar dalam jangka menengah atau panjang. Pada saat bisnis sy masih awal2 dgn penghasilan tdk jelas dan pernah rugi pula, ada tawaran2 utk kembali bekerja di pasar modal dgn prospek gaji dan fasilitas yg mungkin jauh lebih baik drpd keadaan ekonomi yg sy alami saat itu (bahkan mungkin saat ini). Tawaran2 itu dgn sopan sy tolak. Memang ini bukan keputusan yg mudah, memerlukan perenungan yg cukup intens utk memutuskan hal ini. Mudah2an apa yg telah sy putuskan membawa kebaikan bagi diri sy sendiri dan org2 yg sy kasihi yg terkena dampak dr keputusan sy tsb.
Dengan fokus bukan berarti bahwa target kita adalah menjadi presiden, menjadi org paling terkenal di negeri ini, menjadi paling pandai, paling kaya dll. Tdk semua org memiliki bakat dan nasib utk menjadi org paling2 tsb, tapi hampir semua org memiliki kemampuan tertentu yg apabila dioptimalkan hidupnya akan menjadi lebih berarti, lebih membahagiakan, lebih sukses atau lebih bermanfaat bagi org lain.
Hidup memang kompleks. Banyak hal yg mesti dipertimbangkan dan seringkali waktu dan keadaan bisa merubah pendapat kita ttg suatu hal. Tapi menurut saya, pikirkanlah apa yg penting dan atau membuat anda bahagia dalam hidup ini, selain itu juga jgn sampai setelah tua anda melihat ke belakang dan anda menyesal tdk melakukan suatu hal.
Tentu saja bisa terjadi org yg seumur hidupnya fokus tapi tdk memperoleh kesuksesan manakala masih hidup tetapi namanya mashur setelah dia meninggal seperti ada beberapa pelukis terkenal yg mati dlm kemiskinan tetapi kemudian harga lukisannya mencetak rekor dalam hal termahal harganya. Atau bahkan ada yg lebih mengenaskan yaitu benar2 tdk sukses baik ketika hidup ataupun setelah meninggal (ini tdk bicara ttg akhirat). Risiko ini memang ada. Justru krn itu maka sungguh berani org yg mengambil risiko ini dan menurut sy matinya tidaklah sia2 sama spt org2 yg mencoba utk terbang dan dia sempet melayang terus jatuh menimpa batu. Berikutnya org lain akan belajar dr kesalahan yg dilakuan org yg naas tsb.
Utk mengurangi kegagalan tentu saja kita mesti belajar ttg fokus dr org2 yg sudah sukses atau selalu berusaha keras utk belajar tiada henti agar fokus yg kita lakukan menjadi berdaya dan berhasil guna.
Selamat BerFokus