imamrasyidi

January 5, 2009

Anak

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 2:23 am

Saya ingin meniru para ibu yang bercerita tentang anak-anaknya. Sekali-sekali boleh juga menampakkan sisi lembut dari seorang laki-laki dan menyenangkan ibu-ibu yang menjadi teman-teman saya. Selain juga saya punya hutang ke teman baik saya pak Zulfikar utk ngomong ttg parenting. Karena saya membaca buku parenting bukan krn ingin jadi ahli parenting tapi karena terpaksa sebagai tanggung jawab seorang bapak maka saya tdk akan dan tdk bisa bicara teori. Jadi saya ceritain aja bagaimana saya sehari-hari sebagai bapak yg memperoleh sedikit bekal dr membaca dan menonton atau bertanya ttg parenting dr para ahlinya. Walaupun demikian sejauh ini saya merasa saya jauh dr seorang bapak yg ideal.

Anak saya dua orang dan dua-duanya laki-laki. Yang besar sekarang kelas satu di Madrasah Tsanawiyah Negeri sekitar lima kilometer dari tempat kami tinggal dan yang kecil masih kelas empat SD di sekolah Islam terpadu yang tidak terkenal dan berlokasi di gang kecil dan dekat pasar tradisional tidak jauh dari rumah kami. Dulunya malah gang kecil ini becek (dan memang di mulut gang jadi pangkalan ojek, he he he ….) kalau musim hujan. Sekarang sudah lebih baik, sudah diaspal. Mungkin karena mau pemilu.

Dua orang anak saya ini memiliki karakter yang sungguh kontras. Yang kecil senang bicara dan bercanda. Ada-ada aja yang diucapkannya, seperti misalnya kalau dia rada sebal dengan saya, maka dia akan bilang Ayah kalau ditambah P jadi Payah. Saya tidak marah karena itu memang cara anak saya yang kecil untuk meledek saya. Apabila kami berdua di mobil karena suatu keperluan, maka dia akan bercerita, bertanya, mengajak ngobrol, pokoknya keluar bunyi-bunyian dari mulutnya yang tidak pernah berhenti keluar suara. Kecuali dia sudah kecapaian dan tertidur di mobil maka saya akan bisa menikmati musik dengan lebih tenang.

Kakaknya sungguh berbeda. Dia lebih pendiam, tidak begitu suka bercanda dan rada pemarah. Sebenarnya anak saya yang besar ini menuruni karakter saya yang tidak begitu banyak diketahui orang. Bahkan kata orang wajah kami sedemikian mirip sehinga seringkali orang bilang anak saya yang besar ini fotocopy bapaknya. Kalau kami berdua di mobil, saya akan mencoba mengajaknya mengobrol. Dan obrolan itu menjadi lebih mirip kuis di TV yang hanya dijawab ya dan tidak. Dia tidak akan bercerita cukup panjang. Lagi-lagi ini mirip saya. Saya tidak begitu suka bercerita panjang lebar begitu saja. Tapi anehnya di milis ini malah saya rajin bercerita. Mungkin karena saya tidak punya aktivitas luang yang lain yang lebih berguna (untuk saya) dan murah dibandingkan dengan nulis disini. Sebenarnya mungkin yang lebih tepat bukannya saya tidak suka cerita panjang lebar, momentnya aja yang tidak tepat.

Berdua dengan anak saya yang kecil memang lebih fun, banyak tertawa dan komukasi lebih berlangsung dua arah. Berdua dengan yang kecil rasanya saya rileks dan terhibur. Dengan yang besar, lebih banyak kami saling berdiam diri. Ini mirip dua sahabat atau cucu dengan kakeknya yang sedang memancing di danau. Tanpa kata tapi penuh makna (caileee, saya lagi belajar story telling nih). Walaupun kami saling berdiam diri, saya sungguh merasakan kebutuhan dan harapan anak saya terhadap bapaknya sebagai seorang yang dia bisa jadikan contoh, seorang yang diharapkan memberikan bekal dalam hidup, seorang yang diharapkan menciptakan stabilitas kehidupan sehari-hari dan seorang yang disayanginya. Anak saya yang besar tidak pandai mengungkapkan rasa yang ada dihatinya dengan jelas dan terang. Tapi saya sungguh sadar akan betapa dia membutuhkan bapaknya ini. Istri saya selalu bilang apabila saya agak telat pulang, maka si sulung akan berkali-kali menanyakan saya ke ibunya, walaupun dia tidak berani menelpon langsung, entah apa sebabnya.  Sementara kalau yang kecil, tidak pernah melakukan ini. Dia seperti biasa akan cuek bebek saja.

Si kecil memang tidak terlalu perhatian dan sangat cuek. Walaupun anak saya ini senang bicara, anehnya temannya tidak banyak. Waktu masih kelas 1 dan 2, dia malah hanya mampu mengingat beberapa orang saja dari kira-kira 25 orang temannya di kelas. Sementara si sulung memiliki banyak teman, baik teman sekelasnya sendiri, teman seangkatannya, teman adik kelasnya dan teman kakak kelas. Mulanya saya bingung dengan fenomena ini, tapi lama kelamaan saya menjadi terbiasa dan tidak lagi bertanya-tanya.

Si kecil berhobi menonton TV, berkomputer, kadang-kadang membaca dan di rumah seharian. Dia akan betah di rumah seharian. Kadang-kadang ada anak tetangga yang mengajaknya bermain dan memanggil-manggil namanya. Dia cuek aja. Seolah-olah itu suara motor atau mobil lewat. Istri saya sering sebal melihat ini. Anak saya yang kecil ini memang tidak begitu suka bermain outdoor dengan teman-teman sebayanya, sampai-sampai dalam skedul harian anak saya yang kecil ini istri saya membuatkan item "bermain dengan teman".

Memang kami membuat skedul harian untuk anak-anak kami. Skedul ini berisi misalnya bangun pagi jam sekian tanpa dibangunkan. Mandi jam sekian, siap berangkat sekolah jam sekian dst. Skedul ini menentukan uang saku yang akan diperoleh anak kami. Di skedul ini ada poin-poin yang diterjemahkan menjadi uang saku harian. Sedari kecil kami memang membiasakan anak-anak untuk diberi uang saku. Uang saku ini bukan untuk makan di kantin atau jajan, karena untuk itu kami sudah menyediakan tersendiri dimana istri saya seringkali masak untuk mereka bawa ke sekolah. Uang saku ini untuk mereka belikan apa yang mereka mau, terutama mainan. Dengan cara ini kami tidak terlalu pusing dengan permintaan dari anak kami untuk minta dibelikan mainan sekaligus kami juga melatih mereka untuk bisa memiliki control terhadap apa yang mereka inginkan. Seringkali mereka menabung beberapa lama agar bisa membeli mainan yang mereka suka. Mereka juga akan selalu melihat-lihat harga mainan itu dan membandingkannya juga mungkin sambil mengira-ngira berapa lama lagi bisa terbeli mainan yang mereka suka.

Dalam hidup tentu ada masa-masa dimana saya berharap anak saya berlaku lebih baik, walaupun ada juga masa-masa dimana saya harap saya bisa menjadi bapak yang lebih baik. Anak saya yang besar seringkali sangat demanding. Misalnya kita sudah berjanji untuk pergi ke suatu tempat, apabila saat itu kami berhalangan maka ia akan goes ballistic dan terutama akan kasar terhadap ibunya. Saya sungguh tidak sanggup mendengar istri saya bertengkar dengan si sulung. Di masa lalu saya akan datang dan berteriak lebih keras dari anak saya. Dan biasanya cara ini berhasil. Tapi saya merasa cara ini tidaklah mendidik. Ini cuma menciptakan bibit-bibit kekerasan di rumah tangga kami.

Sebenarnya anak seringkali meniru tindakan orang dewasa yang ada di sekitarnya sehari-hari. Dan saya sadar bahwa saya sering berbicara kasar dengan nyonya apabila kami tidak sepaham, sehingga tidaklah aneh anak kami meniru kebiasaan buruk bapaknya.

Si kecil secara umum lebih lembut dari kakaknya tapi di sisi lain dia terlalu cengeng. Kalau dia lupa menaruh pinsil yg harus dia bawa ke sekolah maka dia akan dengan mudah menangis. Kalau diganggu kakaknya maka lagi-lagi dia akan begitu saja menangis tanpa berusaha utk mempertahankan diri, walaupun dengan semakin besar usia anak-anak saya ini, keadaan ini makin berkurang. Seringkali juga kalau disuruh melakukan sesuatu maka dia akan bilang kok disuruh terus? Padahal nggak juga. Emang rada males aja. Yah begitulah seorang manusia. Tidak ada yang sempurna sesuai dengan yang kita inginkan.

Dari kejadian-kejadian ini maka sekarang saya sekali-sekali mengajak anak saya makan berdua saja. Pada saat itu maka saya akan menyebutkan apa yang saya harapkan dari anak saya dan mengingatkan mereka untuk tidak berbuat hal-hal seperti kejadian yang lalu itu. Saat ini saya belum berhasil membuat acara makan berdua ini menjadi acara yang lebih produktif dan mengenai sasaran karena seringkali anak saya lebih banyak manggut-manggut daripada paham dengan apa yang saya maksudkan. Inilah tugas ortu, mungkin seumur hidup kita akan terus belajar menjadi ortu, sama seperti ortu kita yang seumur hidup mereka mengingatkan kita agar mengarungi hidup ini dengan benar.

Wassalam

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King