Bang Fadjroel dan Strategi Capres
Saya merasa bang Fadjroel ini punya niat baik, sehingga saya merasa perlu memberikan saran tentang strategi untuk meraih kursi No1 itu. Tentu ini bukan expert opinion, tapi anggap aja pendapat dari seorang rakyat yang merasa empati dengan seseorang yang sepertinya punya niat baik bagi bangsa ini.
Banyak orang Indonesia yang tadinya demikian kagum dengan Obama sepertinya kecewa dan kalau belum mungkin akan kecewa dengan policynya Obama yang keliatannya tidak akan jauh berbeda dengan presiden2 sebelumnya tentang Israel-Palestina. Sebenarnya saya sudah menduga hal seperti ini akan kejadian. Pada waktu Obama muncul ke permukaan dan kemudian terpilih jadi presiden USA, banyak orang Indonesia ecstasy dengan peristiwa ini. Banyak orang merasa pengalaman Obama hidup di Indonesia akan banyak mempengaruhi kebijakan luar negerinya terhadap Indonesia dan negara2 muslim pada umumnya. Saya merasa harapan ini terlalu berlebihan.
Biar bagaimanapun Obama adalah presiden USA dan Indonesia bukanlah negara bagiannya. Tentu saja pengalamannya tinggal di Indonesia akan membekas pada diri Obama. Tetapi berharap bahwa pengalaman itu akan jadi faktor penting dalam penyusunan kebijakan luar negerinya adalah berlebihan menurut saya. Mungkin karena pernah tinggal disini maka kerjasama Indonesia USA akan lebih besar tapi berharap lebih dari itu saya rasa tidaklah realistis.
Bukan berarti Obama tidak memiliki relevansi dengan situasi di Indonesia. Saya adalah salah satu penggemar Obama. Saya merasa justru Obama bisa jadi inspirasi bagi para politisi di Indonesia. Seandainyapun Obama tidak pernah tinggal di Indonesia, ayahnya bukan muslim Kenya dan kulitnya tidak hitam, saya tetap merasa fenomena Obama tetep menarik untuk dijadikan inspirasi. Seandainya Obama adalah berasal dari orang kulit putih kebanyakan di Amerika maka saya pikir dia akan tetap jadi presiden. Saya lihat dia lebih cakap bahkan dibandingkan dengan Bill Clinton. Ditambah pula dia bebas dari skandal seks. Sehingga rasanya kalau Obama putih ini menerbitkan biografi judulnya tidak akn diplesetkan jadi My Lie dan Jay Leno dan komedian lainnya tidak akan menjadikannya bulan2an lelucon mereka.
Obama yang kulit hitam bisa memahami persoalan yang dihadapi para pekerja kulit putih sama dengan Bill Clinton bisa diterima oleh orang kulit hitam sehingga Clinton sering disebut sbg presiden kulit hitam pertama. Obama mampu memahami penderitaan mayoritas kulit putih tanpa menjadi aneh dan mengorbankan kaumnya sendiri. Obama yang liberal dapat diterima kaum konservatif mayoritas moderat tanpa menjadi munafik dan seperti para politisi umumnya.
Kemampuan inilah yang saya harapkan dimiliki oleh para capres muda kita. Saya paham bahwa Bang Fadjroel adalah pejuang HAM, kesetaraan hak, menolak impunitas dan alergi dengan kesewenang-wenangan. Tapi jg harus disadari bahwa mayoritas rakyat adalah pragmatis. Rakyat butuh sembako murah, pekerjaan yang layak, pendidikan gratis, kesehatan terjangkau dan harapan akan masa depan. Dan mereka butuh saat ini juga. Saat ini juga.
Saya paham dalam jangka panjang keadilan yang tidak ditegakkan menyebabkan Indonesia akan jadi negara banana republic terus menerus tapi mengabaikan kebutuhan jangka pendek juga tidaklah realistis. Seorang pemimpin harus mampu menjaga keseimbangan jangka pendek dan jangka panjang ini dengan baik. Pemimpin yang terus menerus bicara jangka panjang akan seperti Bung Karno dan pemimpin yang terus menerus sibuk dengan jangka pendek akan seperti Pak Harto. Saat ini kita butuh pemimpin yang mampu berkomunikasi dengan rakyat secara efektif sekaligus mampu jadi CEO Fortune 500 yang mesti memikirkan reaksi para analis Wallstreet.
Saya berulang-ulang baca buku Audacity of Hope dan saya kagum dengan kemampuan Obama mengkomunikasikan idealismenya dengan persuasif. Obama mampu berterus terang bahwa dia tidak anti aborsi tapi juga mampu memahami kekhawatiran para pendukung anti aborsi. Dia bisa mencari solusi persoalan ini dengan mengatakan marilah kita pertama-tama memikirkan bagaimana agar aborsi ini tidak terjadi. Dia mengajak orang berpikir untuk memecahkan masalah ini bukan dengan mempertentangkan pandangan ideologi tetapi dengan membuat persoalan aborsi ini menjadi persoalan kemasayaarakatan yang perlu dipecahkan bersama. Saya sendiri anti aborsi tetapi saya terbujuk oleh argumennya Obama.
Untuk kasus Bang Fadjroel misalnya jgnlah mencecar SBY dengan kasus PDI secara vulgar. Ini hanya akan mengalienasi penggemar SBY yang menurut survey cukup banyak. Bukan berarti bahwa SBY tidak memiliki dosa dalam kasus ini (yang saya nggak tau persisnya tetapi secara strategi ini bukanlah tindakan yang menguntungkan), karena buat masyarakat ada masalah yang lebih urgen untuk diperhatikan. Kecuali memang niat Bang Fadjroel cuma ingin mengurangi perolehan suara SBY dan bukan untuk menjadi capres yang layak untuk diperhitungkan.
Lain halnya memang dengan mencecar SBY seperti itu bisa merubah suara secara signifikan atau Bang Fadjroel bisa menemukan cara yang lebih kreatif, elegan dan taktis untuk mengajak rakyat memberikan penialain buruk dengan kasus itu. Tapi lagi2 saya khawatir rakyat lebih pusing dengan urusan perut dibandingkan masalah seperti itu. Sejarah membuktikan bahkan kasus yang lebih berat dari itu bisa tidak terdengar karena rakyat lbh perhatian dengan persoalan2 jangka pendek.
Yang lainnya contoh dari Obama adalah masalah ideologi kepartaian. Dia mengajak orang untuk tidak terpaku dengan perbedaan partai republik dan demokrat tapi mengajak orang untuk lebih memikirkan solusi terhadap masalah bangsa. Dia mengajak orang untuk menilai para capres dari solusi yang mereka tawarkan bukan semata-mata dari ideologi tradisional yang dianut.
Pada saat seperti sekarang memang sepertinya semua capres peduli dengan masalah rakyat tapi saya merasa bahasa yang dipakai adalah seperti bahasa seorang ayah yang nggak belajar parenting bicara dengan anaknya yang masih kecil. Sang ayah bilang, jgn nakal ya, belajar yang baik, menabung, shalat yang rajin, dan lain-lain. Si anak akan manggut2. Si ayah berpikir persoalan selesai. Padahal sebenarnya si anak tidak terlalu paham dengan larangan dan kewajiban yang ditetapkan bapaknya. Ini dikarenakan sang ayah tidak paham atau tidak belajar memahami cara berpikir seorang anak.
Demikian juga dengan para capres kita yang banyak memakai bahasa yang kurang kreatif, dengan argumen yang miskin imajinasi, tidak paham cara berpikir masayaarakat umum dan seperti orang yang bener sendiri dan malas mengajak orang berpikir sebagai satu bangsa kesatuan. (He3x saya kok kayak lebih pintar dari para capres nih, terserahlah, rakyat kan memang mesti didengarkan). Akhirnya sampai sejauh ini tidak ada capres yang meyakinkan bisa mempersatukan bangsa untuk memecahkan problem bersama dan mengesampingkan perbedaan2 karena adanya persamaan problem.
Buat saya problem yang menjadi prioritas utama untuk diselesaikan adalah masalah korupsi, tetapi buat rakyat banyak problem yang lebih urgen adalah sembako murah, pekerjaan dan hal2 seperti saya sebuntukan di atas. SBY mengangkat tema ini dalam kampanyenya. Sebagai kelas menengah terbeli hati saya dengan tema ini, selain juga SBY telah terbukti cukup keras (walaupun saya ingin lebih keras lagi) terhadap korupsi salah satunya dengan tetep memenjarakan besannya sendiri. Tetapi saya pikir PDIP membaca pikiran rakyat dengan tema sembako murah. Saya khawatir strategi PDIP punya peluang berhasil membujuk rakyat banyak.
Saya harap SBY tidak begitu saja beralih tema kampanye dan mengorbankan kelas menengah yang berharap tindakan terhadap KKN lebih diperkeras, dengan cara berusaha mengkaitkan dampak korupsi terhadap kehidupan masayaarakat umum. Dengan berkurangnya korupsi, sembako bisa murah, infrastruktur lebih baik dan pekerjaan lebih mudah didapat karena iklim berusaha yang lebih sehat. Reasoning yang seperti inilah yang seharusnya diketengahkan sehingga baik rakyat kebanyakan akan terbeli hatinya dan kelas menengah terbujuk nuraninya.
Salah satu yang berhasil berkomunikasi dengan rakyat adalah Prabowo dengan Gerindranya. Prabowo mampu memahami problem rakyat dan mengkomunikasikannya dengan efektif. Sayangnya beliau tidak bicara masalah korupsi dengan terang sehingga saya sebagai kelas menengah menganggap prioritasnya tidak sesuai dengan persoalan sesungguhnya di Indonesia.
Tidak semua capres seberuntung George Bush yang cuma mendpt angin karena Clinton yang dekaden dan John Kerry yang kurang meyakinkan dengan mood rakyat Amerika yang bersiklus ke konservatifme. Tidak semua orang seberuntung Bush ini.
Obama adalah contoh dari perpaduan kreatifitas, disiplin, ketenangan, kerja keras, niat baik dan sisanya tinggal berharap keberuntungan tidak sedemikian kejam. Inilah yang saya harap ditiru oleh para capres muda kita dari kasus Obama di USA. Buatlah diri anda2 para capres muda relevan dengan kondisi masayaarkat. Pada akhirnya idealisme anda akan bisa dijalankan dan kemudian sejarah akan mencatat anda2 sebagai presiden yang telah menaikkan peradaban bangsa ini.