imamrasyidi

February 23, 2009

Diplomasi Senyum

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 7:09 am

Hillary Clinton akhirnya datang ke Indonesia. Sejak dia turun dr pesawat dan kapanpun tertangkap kamera televisi, dia terus menebarkan senyum. Saya jadi ingat lebaran Idul Fitri. Dimana seharian kita tersenyum, sampai2 gigi terasa kering dan pipi rasanya mau kram. Tapi mungkin selama perjalanan pesawat dia udah latihan senyum dulu. Atau jgn2 setelah tahu dia ditunjuk oleh Presiden Obama jadi Menlu dia langsung latihan senyum. Mungkin dia tahu, suatu saat dia akan ditugaskan oleh Obama utk akan datang ke Indonesia, tempat Obama menghabiskan sebagian masa kecilnya. Dan pada saat itu, dia sudah siap senyum duaharian terus menerus.

Sebenarnya saya sangat tidak menyangka bahwa Hillary akan senyum terus menerus spt itu. Ini benar2 senyum utk Indonesia. Saya melihat Hillary sebagai org yg serius, dingin, keras dan berhati baja. Sangat kontras dgn suaminya Bill Clinton yg hangat (dan menghangatkan), senang berada di sekitar banyak orang, easy going dan cukup gaul. Walaupun demikian pada saat yg bersamaan Hillary adalah seorang yg tabah, pemaaf, sangat concern dgn kesejahteraan rakyat, dan ternyata bisa tersenyum.

Saya cukup mengagumi Hillary. Sebenarnya sih dari dulu saya mengagumi wanita2 yg cerdas, mandiri dan kuat (bukan fisiknya). Walaupun baru kemudian saya tahu bahwa kagum lain dengan cinta apalagi jodoh. Jodoh lebih dr sekedar kagum bahkan cinta. Jodoh jauh lebih misterius dr cinta apalagi kagum. Jodoh juga tdk bisa di-taken for granted. Jodoh mesti dipupuk, dipelihara, disiangi dan disiram. Kalau kita cukup rajin melakukan hal tsb, maka kemungkinan besar kita akan sering mengalami panen. Dan panen ini bisa jadi modal utk kita berkarya di muka bumi dan berbagi dgn sesama. Ck ck ck, kadang2 Imam bisa juga jadi penasihat perkawinan.

Terakhir dia kesini, sy ingat sekali fotonya dengan posisi berdiri menghadap sungai Ciliwung di dekat Kampung Melayu, sesudah RS Hermina dr arah Cawang ke Salemba. Dia berdiri sambil menghadap sungai dgn mata spt terarah ke rumah2 kumuh di pinggir sungai. Dia spt berpikir keras, tepekur dicampur dgn prihatin dan rasa kemanusiaan. Foto ini terus melekat di kepala saya apabila sy melihat wajah Hillary di layar TV atau media lainnya. Saya rasa pose ini tdk dibuat-buat. Saya percaya dgn ketulusannya. Dari sini saya akan terus mengenang wanita yg keras tapi berhati lembut ini.

Sebenarnya saya mulanya menginginkan Hillary jadi presiden USA, tapi ternyata secara tdk terduga Obama menyeruak ke permukaan dan akhirnya bisa mengalahkannya dalam kompetisi kursi kepresidenan USA. Memang diperlukan org sekelas Obama utk bisa mengalahkan Hillary. Seandainya Obama tdk timbul dan Hillary mesti bertarung dgn McCain, udah pasti sy akan menjagokan Hillary.

Hillary membuktikan bahwa wanita bisa tegas, tegar, bermental baja, mandiri, cerdas, kapabel dan sekaligus berhati lembut dan berperhatian pada kaum yg lemah. Dia mampu memaafkan suaminya yg jelas2 berbohong ttg selingkuhnya dan lebih mementingkan utk melihat ke depan dan mengorbankan perasaannya agar mampu menyumbangkan dirinya utk negaranya. Kualitas spt ini jarang dimiliki oleh baik wanita ataupun pria.

Waktu beberapa hr yg lalu dia di Jakarta, tidak lupa pula dia datang ke daerah kumuh dgn rumah2 beratap dan berdinding seng. Dan lagi2 tdk lupa dia juga menebarkan senyum Indonesianya. Saya sungguh merasa tergugah. Bukan semata-mata oleh senyumnya tapi kepada perhatiannya thd yg lemah dan korban kekerasan. Pada waktu jamuan makan malam di gedung arsip negara saya lihat Suciwati Munir termasuk salah satu yg diundang utk makan malam bersamanya.

Melihat Hillary demikian perhatian thd rakyat lemah dlm tiap kunjungannya ke Indonesia seharusnya kita merasa tergugah utk juga memikirkan nasib saudara2 kita yg lemah. Org asing aja bisa spt itu thd rakyat Indonesia, lha kok kita mikirin saudara kita setahun sekali aja mestinya bisa dong. Kalaupun nggak setahun sekali, ya lima thn sekali. Yaitu dengan memilih wakil2 kita dgn cermat dan penuh perhitungan. Jgn dipilih yg cuma memperkaya diri sendiri dan keluarganya dan rekan2 separtainya. Liat juga track recordnya. Kalau dia sebelum jadi anggota dewan punya mobil aja nggak, setelah jadi anggota dewan mobilnya Jaguar terbaru, ya udah pasti dr mana lagi.

Kita juga mesti mempengaruhi saudara2 kita, teman kita, tetangga kita, supir taksi, satpam di komplek rumah kita. Pokoknya siapapun yg bisa kita pengaruhi. Tentu saja dgn cara yg elegan dan persuasif. Saya sudah coba lakukan ini. Saya tdk mengajak mereka mencoblos org atau partai tertentu. Saya mengajak mereka utk mencoblos siapapun org bener dr partai apapun pilihan mereka. Sejauh ini baru spt itu yg bisa saya lakukan. Tapi paling tidak sy udah mencoba berbuat sesuatu. Saya juga sudah mencoba nyumbang kecil2an ke partai dan caleg yg sptnya bener. Dan sy masih merencanakan utk menyumbang lagi. Jadi dgn cara ini mudah2an keadaan bisa berubah. Kalau bukan kita2 siapa lagi yg akan merubah Indonesia, nggak mungkin ngarepin Hillary Clinton yg, kata org Betawi bilang, sebeduk sekali datang ke Indonesia.

Almarhum Djasa Birawa

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 7:08 am

Ini sekadar kenang2an dr saya terhadap almarhum rekan kita Djasa Birawa.

Saya bukanlah seorang yg sentimental sehingga dalam menghadapi kehilangan seseorang yg cukup banyak berinteraksi dgn saya, tidaklah bisa saya langsung bersedih dan merasa kehilangan. Rasa kehilangan itu lebih terasa manakala saya biasa melakukan sesuatu yg melibatkan interaksi dgn org dimaksud dan kemudian saya baru sadar kebiasaan itu tdk bisa saya lakukan lagi.

Almarhum Djasa sering mengirimkan sms ke saya, dan saya rasa banyak teman2 lain yg juga mendapatkan sms spt ini, yg biasanya berisi nasihat atau pertanyaan atau sekadar menyapa. Sms ini seringkali menyebabkan saya menelpon beliau dan berlangsunglah dialog yg biasanya memakan waktu cukup lama bisa sampai setengah jam bahkan lebih.

Kadang2 saya baru sempat menelpon beliau beberapa waktu kemudian atau sambil saya memikirkan topik yg beliau wacanakan barulah saya menelpon beliau. Hari Rabu sore, saya tiba2 teringat beliau dan rasanya tangan saya hampir bergerak utk menelponnya. Tapi saya kemudian sadar bahwa tadi siangnya saya baru saja ikut menghadiri pemakaman beliau. Saat spt itulah saya baru bisa merasakan ada sesuatu yg hilang dr rutinitas yg biasanya saya lakukan. Ternyata almarhum memang telah menempati salah satu sudut dalam kehidupan saya.

Kalau diliat dr org2 yg sedemikian banyak datang, memang kemungkinan besar beliau telah mewarnai kehidupan banyak orang. Dari yg saya dengar, beliau telah mewarnai hidup teman kuliah, teman kerja atau teman pengajiannya. Beliau juga telah mewarnai kehidupan org yg berpendidikan tinggi, rendah atau sedang2 aja. Beliau juga telah mewarnai org yg namanya telah banyak dikenal org atau yg ingin dikenal banyak org dan bahkan org2 yg mungkin sebagian org tdk ingin kenal.

Beliau juga telah mewarnai kehidupan yg berkecukupan dan berkekurangan. Saya sering mendengar bagaimana beliau membantu ustadz2 yg hidupnya sangat sederhana dan teman2nya yg ekonominya berkekurangan baik utk operasional sehari-hari, krn musibah sakit atau anak yg sekolah.

Sifatnya yg egaliter menyebabkan beliau sama dikenalnya baik di kalangan yg sudah mapan, belum mapan dan mungkin yg susah utk mapan. Beliau spt Umar bin Khattab yg bicara ceplas ceplos baik bicara dgn org kebanyakan atau org kesedikitan (yg sedikit jumlahnya tapi banyak barang titipannya).

Sama spt teman2 yg cukup berinteraksi dgn beliau, saya melihat suatu transformasi seorang manusia yg luar biasa. Bahkan setelah beliau wafat, baru saya sadar pelan2 saya berharap lebih dr beliau. Almarhum merupakan pencari ilmu agama yg sungguh menakjubkan. Saya mendengar dahaganya yg sukar dipuaskan dan sptnya tiada hr tanpa mengaji. Tanpa disadari saya telah berharap dengan tingkat ketekunan, kegigihan, investasi waktu dan sumberdaya lainnya spt saat terakhir beliau ada, maka bisa jadi beliau akan menjadi salah seorang yg punya otoritas dalam ilmu agama.

Yg membuat saya berharap adalah bahwa seorang seperti almarhum yg memiliki pengalaman sedemikian banyak di dunia bisnis akan menjadikan beliau seorang ahli agama yg membumi dgn persoalan2 yg dihadapi masyarakat. Selain itu beliau juga berusaha memahami opini atau persepsi dr org2 yg menurutnya relevan dgn persoalan atau topik yg sedang almarhum coba pahami. Dr perbincangan2 terakhir kami, saya makin menyadari bahwa beliau bukan hanya sedang mendalami ilmu agama secara skolastik tetapi juga mencoba memahami konteks suatu permasalahan, persepsi dr para pelaku atau yg menurut beliau org yg relevan dan ilmu dunia secara umum yg berkaitan dgn permasalahan tsb. Apabila sy mengingat ini, saya menjadi excited dgn prediksi saya sendiri. Tapi sungguh Allah Maha Tahu apa yg terbaik bagi kita. Almarhum telah berpulang mendahului kita. Mungkin besok, lusa atau kapan2 waktu yg tak terduga kita akan menyusul. Saya berdoa agar saya bisa mencontoh apa yg telah beliau
teladani. Selamat tinggal kawan. Suatu saat nanti aku berharap bisa bertemu di tempatmu (yg mungkin lebih baik dr tempatku yg seharusnya nanti). Kami akan selalu mengenangmu.

Bu Imam

Filed under: Uncategorized - Administrator @ 7:07 am

Istri saya tidak suka apabila ada yg memanggilnya dengan sebutan Bu Imam. Dia sering bercanda dgn saya dan mengatakan bahwa dia bukan ibunya pak Imam. Dia istrinya pak Imam. Maka apabila ada yg memanggilnya dengan sebutan bu Imam, dia akan memperkenalkan dirinya: Nama saya NAP (ini akronim).

Saya bukan tipe pria yg marah dan tersinggung dgn hal2 spt ini. Entah mengapa saya justru merasa senang dgn keberatannya dipanggil Bu Imam. Bahkan ada rasa bangga yg menyelinap. Sy memang ingin istri saya memiliki identitasnya sendiri yg terdiri dr kumpulan sebagai istrinya pak Imam, sebagai anak dr bapak dan ibunya, sebagai orang minang, sebagai dokter gigi yg praktek sore, sebagai ibu dr dua anak yg bertumbuh dgn baik, sebagai ibu2 pengajian dan identitas2 lainnya.

Sepengetahuan saya dalam budaya Islam nama perempuan tidak berubah baik sebelum menikah ataupun sesudah menikah. Seorang wanita akan dipanggil misalnya Wati binti Wawan, Gadis binti Joko dll baik sesudah menikah ataupun sebelum menikah. Kalaupun berubah maka biasanya akan dipanggil sesuai dgn nama anaknya misalnya Ibunya Khalid (anak sy yg besar). Dan laki-lakipun akan dipanggil dengan nama anaknya yg paling besar. Sy ingat di kampung kakek sy dipanggil dengan nama ibu saya jadinya Pak NH (nama ibu saya).

Kalau di Barat perempuan akan mencantumkan nama keluarga suaminya di belakangnya. Saya rasa di timur kebiasaan itu tdk ada. Apalagi dalam budaya Islam spt yg sy sebutkan di atas. Saya pikir ini menunjukkan bahwa wanita sedemikian dihargainya perannya dan bukan hanya sebagai istri seorang laki2. Walaupun kenyataannya saat ini justru di Barat dimana para wanita menempelkan nama kelurga suaminya yg lebih banyak berperan di masyarakat. Saya rasa tidak masalah disini kita meniru kebiasaan penempelan nama keluarga suami itu tapi juga saya berharap ditiru juga yg lebih substansial bahwa wanita memiliki potensi yg sama tingginya di masyarakat.

Di Indonesia kita telah memiliki presiden perempuan. Saat inipun ada beberapa perempuan di kabinet sekarang yg saya kenal yaitu Ibu Sri Mulyani, mantan bos sy dulu, yg terlihat sedemikian kapabel dan sptnya akan makin berperan di masa datang. Ibu Mari Pangestu yg juga terlihat cukup menonjol perannya. Bu Mari dulu pernah menjadi dosen saya mengajar Ekonomi Internasional di tahun kedua kuliah saya. Beliau lebih memilih balik ke Indonesia drpd nongkrong di USA padahal mungkin tidaklah susah bagi doktor ekonomi spt beliau utk mengajar di kampus sana dgn gaji yg mencukupi. Saya ingat sekali pada awal beliau mengajar dia bersusah payah berbicara bahasa Indonesia krn sejak kecil beliau tinggal di luar negeri. Saya juga sangat ingat ketika sy jadi project officer Pembinaan Koperasi Desa, beliau memberikan sumbangan pribadi terbesar yg saya terima. Waktu itu sy senangnya minta ampun.

Saya rasa rakyat Indonesia siap utk menerima presiden Indonesia perempuan. Kalaupun pada pemilu yg lalu bu Megawati tdk jadi presiden saya rasa bukan semata-mata beliau wanita tetapi lebih krn perbedaan pandangan politik dan aspirasi yg tdk tertampung. Rakyat Indonesia saya rasa memilih pemimpinnya bukan krn jenis kelaminnya tapi krn jenis kemampuannya. Kalaupun kelaminnya laki2 tapi kemampuannya tdk mencukupi maka bisa jadi calon pemimpin wanita yg terpilih. 

Saya rasa rakyat tahu bahwa kalau kita membatasi perempuan utk menjadi pemimpin maka yg rugi akhirnya masyarakat luas juga. Kalau seorang laki2 yg nggak becus dipaksakan menjadi pemimpin maka secara umum bangsa ini akan rugi. Performance tdk bisa dibantah.

Sy sering mendengar di balik keberhasilan seseorang ada seorang ibu yg tegar, tabah dan berpandangan jauh ke depan. Di keluarga saya sendiri ibu saya adalah figur sentral dalam kemajuan pendidikan keluarga kami. Ibu sayalah yg ngotot bahwa saya mesti kuliah. Bahkan saat inipun ibu saya menjadi ibu bagi banyak orang yg meminta nasihat ttg bagaimana mendidik dan menyekolahkan anaknya. Istilahnya mungkin ibu saya jadi ibu bagi banyak orang di sekitar tempat tinggalnya.

Saya juga memiliki nenek dr pihak ibu yg sangat mandiri, seingat sy nenek hampir tdk pernah tergantung kepada kakek dalam hal keuangan. Nenek sejak muda berdagang. Dan beliau bisa membeli keperluan pribadinya dgn uangnya sendiri. ni berarti wanita tdk kalah dgn pria dalam hal kemandirian, kemampuan utk mempengaruhi lingkungannya, dan menjadi pendorong kesuksesan keluarga. Karena itu wanita yg menjadi pemimpin memiliki kemungkinan sukses yg sama dgn pria.

Di majalah Harvard Business Review dibahas mengenai kesan bahwa sptnya wanita kalah dalam hal visi dibanding pria. Disitu dibahas, berdasarkan penelitian, bahwa kenyataannya tdk begitu. Wanita seringkali menghindari berbicara mengawang-awang krn seringkali berbicara visi bisa meleset menjadi bicara sesuatu yg tdk realistis.

Di koran disebutkan ada sindikat pedagang wanita yg telah banyak memakan korban. Jelas ini merupakan kejahatan yg tdk bisa ditolerir. Pada abad 21 ini masih ada kejadian spt itu sungguh memprihatinkan. Pada abad ke 7 secara fenomenal Islam telah menempatkan wanita pada kedudukan yg terhormat, dimana saat itu wanita layaknya barang yg bisa diwariskan kepada saudara laki2 apabila suaminya meninggal. Pada saat itu juga Islam telah memuliakan wanita dengan memberikan hak waris pada kaum wanita pada masyarakat yg menganggap anak perempuan yg baru lahir patut dibunuh krn hanya akan menambah beban keluarga saja.

Pria mungkin lebih kuat fisiknya, tapi banyak wanita yg lebih kuat mentalnya. Menjadi terminal laki2 manakala sang suami menghadapi masalah. Menjadi penenang, penyemangat, pendorong dan sumber cinta kasih. Kepada para wanita Selamat Hari Kasih Sayang. Kami semua berhutang kepadamu.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King