Bu Imam
Istri saya tidak suka apabila ada yg memanggilnya dengan sebutan Bu Imam. Dia sering bercanda dgn saya dan mengatakan bahwa dia bukan ibunya pak Imam. Dia istrinya pak Imam. Maka apabila ada yg memanggilnya dengan sebutan bu Imam, dia akan memperkenalkan dirinya: Nama saya NAP (ini akronim).
Saya bukan tipe pria yg marah dan tersinggung dgn hal2 spt ini. Entah mengapa saya justru merasa senang dgn keberatannya dipanggil Bu Imam. Bahkan ada rasa bangga yg menyelinap. Sy memang ingin istri saya memiliki identitasnya sendiri yg terdiri dr kumpulan sebagai istrinya pak Imam, sebagai anak dr bapak dan ibunya, sebagai orang minang, sebagai dokter gigi yg praktek sore, sebagai ibu dr dua anak yg bertumbuh dgn baik, sebagai ibu2 pengajian dan identitas2 lainnya.
Sepengetahuan saya dalam budaya Islam nama perempuan tidak berubah baik sebelum menikah ataupun sesudah menikah. Seorang wanita akan dipanggil misalnya Wati binti Wawan, Gadis binti Joko dll baik sesudah menikah ataupun sebelum menikah. Kalaupun berubah maka biasanya akan dipanggil sesuai dgn nama anaknya misalnya Ibunya Khalid (anak sy yg besar). Dan laki-lakipun akan dipanggil dengan nama anaknya yg paling besar. Sy ingat di kampung kakek sy dipanggil dengan nama ibu saya jadinya Pak NH (nama ibu saya).
Kalau di Barat perempuan akan mencantumkan nama keluarga suaminya di belakangnya. Saya rasa di timur kebiasaan itu tdk ada. Apalagi dalam budaya Islam spt yg sy sebutkan di atas. Saya pikir ini menunjukkan bahwa wanita sedemikian dihargainya perannya dan bukan hanya sebagai istri seorang laki2. Walaupun kenyataannya saat ini justru di Barat dimana para wanita menempelkan nama kelurga suaminya yg lebih banyak berperan di masyarakat. Saya rasa tidak masalah disini kita meniru kebiasaan penempelan nama keluarga suami itu tapi juga saya berharap ditiru juga yg lebih substansial bahwa wanita memiliki potensi yg sama tingginya di masyarakat.
Di Indonesia kita telah memiliki presiden perempuan. Saat inipun ada beberapa perempuan di kabinet sekarang yg saya kenal yaitu Ibu Sri Mulyani, mantan bos sy dulu, yg terlihat sedemikian kapabel dan sptnya akan makin berperan di masa datang. Ibu Mari Pangestu yg juga terlihat cukup menonjol perannya. Bu Mari dulu pernah menjadi dosen saya mengajar Ekonomi Internasional di tahun kedua kuliah saya. Beliau lebih memilih balik ke Indonesia drpd nongkrong di USA padahal mungkin tidaklah susah bagi doktor ekonomi spt beliau utk mengajar di kampus sana dgn gaji yg mencukupi. Saya ingat sekali pada awal beliau mengajar dia bersusah payah berbicara bahasa Indonesia krn sejak kecil beliau tinggal di luar negeri. Saya juga sangat ingat ketika sy jadi project officer Pembinaan Koperasi Desa, beliau memberikan sumbangan pribadi terbesar yg saya terima. Waktu itu sy senangnya minta ampun.
Saya rasa rakyat Indonesia siap utk menerima presiden Indonesia perempuan. Kalaupun pada pemilu yg lalu bu Megawati tdk jadi presiden saya rasa bukan semata-mata beliau wanita tetapi lebih krn perbedaan pandangan politik dan aspirasi yg tdk tertampung. Rakyat Indonesia saya rasa memilih pemimpinnya bukan krn jenis kelaminnya tapi krn jenis kemampuannya. Kalaupun kelaminnya laki2 tapi kemampuannya tdk mencukupi maka bisa jadi calon pemimpin wanita yg terpilih.
Saya rasa rakyat tahu bahwa kalau kita membatasi perempuan utk menjadi pemimpin maka yg rugi akhirnya masyarakat luas juga. Kalau seorang laki2 yg nggak becus dipaksakan menjadi pemimpin maka secara umum bangsa ini akan rugi. Performance tdk bisa dibantah.
Sy sering mendengar di balik keberhasilan seseorang ada seorang ibu yg tegar, tabah dan berpandangan jauh ke depan. Di keluarga saya sendiri ibu saya adalah figur sentral dalam kemajuan pendidikan keluarga kami. Ibu sayalah yg ngotot bahwa saya mesti kuliah. Bahkan saat inipun ibu saya menjadi ibu bagi banyak orang yg meminta nasihat ttg bagaimana mendidik dan menyekolahkan anaknya. Istilahnya mungkin ibu saya jadi ibu bagi banyak orang di sekitar tempat tinggalnya.
Saya juga memiliki nenek dr pihak ibu yg sangat mandiri, seingat sy nenek hampir tdk pernah tergantung kepada kakek dalam hal keuangan. Nenek sejak muda berdagang. Dan beliau bisa membeli keperluan pribadinya dgn uangnya sendiri. ni berarti wanita tdk kalah dgn pria dalam hal kemandirian, kemampuan utk mempengaruhi lingkungannya, dan menjadi pendorong kesuksesan keluarga. Karena itu wanita yg menjadi pemimpin memiliki kemungkinan sukses yg sama dgn pria.
Di majalah Harvard Business Review dibahas mengenai kesan bahwa sptnya wanita kalah dalam hal visi dibanding pria. Disitu dibahas, berdasarkan penelitian, bahwa kenyataannya tdk begitu. Wanita seringkali menghindari berbicara mengawang-awang krn seringkali berbicara visi bisa meleset menjadi bicara sesuatu yg tdk realistis.
Di koran disebutkan ada sindikat pedagang wanita yg telah banyak memakan korban. Jelas ini merupakan kejahatan yg tdk bisa ditolerir. Pada abad 21 ini masih ada kejadian spt itu sungguh memprihatinkan. Pada abad ke 7 secara fenomenal Islam telah menempatkan wanita pada kedudukan yg terhormat, dimana saat itu wanita layaknya barang yg bisa diwariskan kepada saudara laki2 apabila suaminya meninggal. Pada saat itu juga Islam telah memuliakan wanita dengan memberikan hak waris pada kaum wanita pada masyarakat yg menganggap anak perempuan yg baru lahir patut dibunuh krn hanya akan menambah beban keluarga saja.
Pria mungkin lebih kuat fisiknya, tapi banyak wanita yg lebih kuat mentalnya. Menjadi terminal laki2 manakala sang suami menghadapi masalah. Menjadi penenang, penyemangat, pendorong dan sumber cinta kasih. Kepada para wanita Selamat Hari Kasih Sayang. Kami semua berhutang kepadamu.